My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/38



Dilla duduk manis di sofa menunggu kedatangan Riza. Tak lama Riza pun keluar dari kamar dan berjalan santai menuruni anak tangga.


"Ayo!" ajaknya singkat.


Dilla berjalan mengikuti Riza dari belakang menuju motor sport berwarna merah kesayangan Riza yang terparkir di sudut garasi. Sebuah motor sport pemberian dari kantor penerbitan yang mengontrak Riza. Salah satu bonus karena hasil penjualan novelnya yang meledak di pasaran tahun lalu. Berhubung SIM-A Riza ditilang maka terpaksa Riza mengendarai motor sportnya kali ini.


Riza berhenti dan berbalik menghadap Dilla. Menggerakkan tangannya memakaikan helm di kepala istri kesayangannya itu. Manik mata Dilla memperhatikan gerakan Riza. Dilla sedikit tertegun menatap wajah Riza dari dekat. Memperhatikan setiap inci wajah yang nyaris sempurna itu dalam diam. Dilla terhenyak saat tiba-tiba mata teduh Riza membalas tatapannya.


"Berhenti menatapku seperti itu!" ucapnya singkat.


"Memangnya kenapa?" Dilla menautkan alisnya.


"Kamu mau tahu kenapa?" Riza menaikkan alisnya.


Riza tersenyum memandang Dilla penuh arti. Pandangan mereka beradu. Getaran aneh muncul di dada masing-masing. Hening sesaat. Perlahan Dilla memundurkan langkahnya menjauhi Riza.


"Mas jangan aneh-aneh ya!" ancam Dilla.


"Hahaha. Bukankah aku sudah memperingatkanmu tadi," ucap Riza dengan nada menggoda.


Riza mendekati Dilla perlahan.


"Ingat ya mas, kita sudah buat perjanjian!" ancam Dilla kembali.


Riza semakin mendekat dan mulai membelai wajah Dilla. Dilla bergidik ketakutan menatap Riza. Kemudian,


tak...


Dilla membenturkan helm yang ada di kepalanya tepat mengenai dahi Riza, Riza pun mengaduh kesakitan.


Dahi Riza memerah. Dilla melotot tajam ke arah Riza yang meringis kesakitan memegangi dahinya.


"Kamu ini kenapa?" ucap Riza kesal.


"Makanya jangan macam-macam sama saya. Mas kira karena saya gadis desa, mas bisa mempermainkan saya. Orang kota memang tidak bisa dipercaya," ketus Dilla.


"Hentikan omong kosongmu itu!!"


"Naiklah. Jangan banyak bicara!" ujar Riza.


Riza menaiki motor sambil terus menerus mengusap dahinya. Dilla diam sejenak sebelum ikut menaiki motor Riza. Sesaat kemudian ia naik sambil berpegangan erat pada hoodie Riza.


Brumm...


Tiba-tiba Riza melajukan motornya. Dilla pun tersentak dan refleks memeluk Riza. Motor pun melaju kencang meninggalkan rumah.


Motor yang melaju dengan kecepatan tinggi itu membuat Dilla semakin mengeratkan pelukannya. Jantung Riza pun berdetak tak karuan saat merasakan pelukan erat dari Dilla.


Sepanjang perjalanan, mereka berkendara dalam diam tanpa ada sepatah katapun.


Tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di kost Kiki. Dilla berjalan memasuki pagar sementara Riza menunggu di atas motornya.


Dilla mengetuk pintu kamar kost Kiki berulang kali. Namun, tidak ada sahutan. Salah satu penghuni kost menghampiri Dilla kemudian mengatakan bahwa Kiki baru saja pergi keluar.


Dilla pun berjalan menghampiri Riza yang tampak sedang asyik berbicara di ponselnya. Saat Dilla mendekat, Riza langsung menyudahi pembicaraannya.


"Bagaimana?" tanyanya.


"Kita pulang saja mas. Kiki nya ndak ada di dalam," ujar Dilla.


"Ya sudah, naiklah. Aku akan membawamu berkeliling kota."


Dilla terlihat bahagia. Pasalnya baru pertama kalinya Riza mengajak Dilla berjalan-jalan.


"Bener mas?"


"Hmmm..," balas Riza singkat.


Motor pun kembali melaju dengan kencang menelusuri jalanan ibukota. Dilla memeluk Riza dengan erat dan menyandarkan kepalanya di punggung Riza.


Sejenak Dilla merasakan kehangatan mengalir di dadanya. Kehangatan yang membuatnya merasa aman, nyaman sekaligus tenang.


Sepanjang perjalanan, awan cerah terlihat memayungi ibukota. Dilla mengedarkan pandangannya ke setiap sudut jalanan yang mereka lalui. Jalanan hari ini lumayan sepi dan lengang, tidak ada kemacetan dan kebisingan. Dilla pun dapat dengan leluasa memandangi keindahan ibukota sepuasnya.


Memang sudah sejak lama Dilla ingin berjalan-jalan dan menikmati indahnya kota Jakarta. Saat ini keinginannya itu pun akhirnya terwujud.


Riza menghentikan motornya di depan sebuah taman yang asri dan indah. Mereka berjalan santai memasuki taman.


Dilla tampak bahagia dan tak henti-hentinya tersenyum saat melihat begitu banyaknya bunga berwarna-warni tumbuh menghiasi taman di sekelilingnya.


Riza hanya diam menatap lurus ke depan. Melangkahkan kakinya perlahan. Sesekali ekor mata Riza melirik ke arah Dilla. Mereka hanya saling diam sambil terus melangkah beriringan dengan pikiran mereka masing-masing.


"Dahi mas masih sakit?. Saya minta maaf ya mas." Dilla memulai obrolannya.


"Hmmm..," jawab Riza sambil terus berjalan.


Mereka pun duduk beristirahat di sebuah kursi yang ada di sudut taman. Dilla menarik nafas dalam.


"Akh, segarnya," ucapnya.


"Aku merasa heran, setahuku karakter gadis desa itu lembut, halus, lugu dan polos tapi kenapa kamu begitu kasar?", Riza membuka suara.


Dilla tertawa.


"Setiap aku bicara, kamu pasti menganggap omonganku lelucon," ucap Riza dengan wajah datar.


"Hahahaha. Habis omongan mas lucu, seolah-olah semua gadis desa itu sama. Sejak kecil hidup saya itu sudah sulit mas, makanya saya memutuskan mengubah karakter saya menjadi lebih tegas. Kalau saya masih tetap lembut, halus, lugu dan polos seperti yang mas bilang, orang-orang akan selalu mempermainkan saya."


"Aku tidak pernah merasa mempermainkanmu. Kamu saja yang selalu salah paham padaku," ucap Riza datar.


Dilla menoleh ke arah Riza sekilas.


"Begini. Mas itu biasanya kan pendiam dan jarang berinteraksi dengan orang-orang. Mendadak mas melakukan hal-hal yang tidak biasa pada saya. Bukankah itu aneh."


Riza terdiam sejenak dan tampak berpikir.


"Tidak, mas memang selalu benar. Hahaha," ledek Dilla.


"Dasar bocah ingusan!. Sudahlah. Aku malas mendengar omong kosong mu."


Riza menyudahi obrolan mereka. Mereka pun kembali melangkah beriringan.


Saat berjalan, tanpa sengaja Riza menginjak tali sepatu Dilla. Tubuh Dilla pun oleng ke depan. Dilla jatuh tersungkur ke tanah dengan posisi sangat lucu. Membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arahnya dan tertawa. Wajah Dilla memerah, ia malu bukan kepalang.


Riza bergegas membantu Dilla berdiri. Karena kesal, Dilla menepis tangan Riza dengan kasar. Dilla menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah. Dilla menatap Riza tajam. Sementara Riza membalas tatapan Dilla dengan tampang tak berdosa.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


"Mas pasti sengaja kan menginjak tali sepatu saya?."


Dilla pun menggerutu kesal pada Riza. Omelan demi omelan tak henti-hentinya keluar dari mulut Dilla. Namun, Riza hanya diam sambil tersenyum memperhatikan Dilla yang memarahinya. Membuat Dilla bertambah kesal.


"Sudah selesai marah-marahnya?" tanya Riza santai.


Dilla menatap Riza tajam.


"Orang ini sama sekali tidak meminta maaf." Dilla membatin kesal.


Riza kemudian berlutut dan mengikatkan tali sepatu Dilla yang terlepas.


Setelah itu Riza pun berdiri dan memandang wajah Dilla lembut. Sorot matanya memancarkan kehangatan. Hati Dilla yang tadinya memanas seketika meleleh bagaikan es krim.


"Kenapa setiap dia menatapku rasanya selalu seperti ini?. Aku selalu melupakan kemarahan ku setiap kali melihatnya menatapku dengan tatapan teduh itu. Ada apa denganku?" batin Dilla.


"Ayo kita sarapan. Aku sudah lapar." Suara Riza membuyarkan lamunan Dilla.


Riza mengedarkan pandangannya mencari-cari lokasi nyaman untuk mengisi perut mereka. Sesaat kemudian Riza menarik lengan Dilla menuju ke sebuah warung tenda yang berada di dekat taman. Dilla hanya diam mengikuti langkah Riza.


Mereka memesan dua porsi bubur ayam disana. Tak berapa lama, warung pun ramai pembeli. Keramaian tersebut seketika membuat Riza merasa tidak nyaman.


Riza mulai tidak menikmati sarapannya. Ia duduk diam dan membisu dengan pikiran yang entah berada dimana.


Dilla memperhatikan tingkah Riza. Tampak raut ketidaknyamanan di wajah suaminya itu. Seketika Dilla memegang lengan Riza mencoba mengembalikan kenyamanannya.


Riza menoleh dan terdiam.


"Habisin mas sarapannya. Nanti perut mas sakit." Dilla menatap Riza lembut.


Seketika tatapan itu membuat hati Riza luluh dan rasa nyaman itupun muncul perlahan.


"Riza...!"


Suara seseorang menghentikan adu pandang mereka. Mereka pun menoleh ke arah datangnya suara. Terlihat Andyra mendekat menghampiri mereka. Dilla pun menarik tangannya dari lengan Riza.


"Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini." Andyra tersenyum ke arah Riza.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Riza.


"Aku baik-baik saja."


Dilla hanya diam menyantap bubur ayamnya sambil sesekali melirik ke arah Andyra dan Riza.


"Kenalkan ini istriku." Riza memperkenalkan Dilla pada Andyra.


"Jadi ini istri kesayangan kamu?" ucap Andyra.


Riza mengangguk mengiyakan.


"Hahaha. Istri kesayangan apanya?" batin Dilla sembari menyantap buburnya.


Riza menyikut lengan Dilla seolah menyuruhnya memperkenalkan diri pada Andyra. Dilla pun cepat-cepat mengulurkan tangannya.


"Salam kenal mbak, saya Dilla. Syafadilla Aini," ucap Dilla.


"Hai, aku Andyra Kusuma. Panggil aja Andyra."


Dilla mengangguk sopan menyudahi perkenalannya dengan Andyra.


"Akhirnya kita bisa ketemu ya." Andyra tersenyum.


Dilla hanya tersenyum simpul sambil kembali menyantap buburnya perlahan.


Dilla yang tengah asyik menyantap buburnya tidak menyadari adanya noda makanan menempel di sudut bibirnya. Riza melirik sekilas ke arah Dilla. Tanpa aba-aba Riza menyeka bibir Dilla dengan jarinya lembut.


Andyra memperhatikan tingkah Riza. Meskipun ia sudah rela melepas Riza akan tetapi perasaan cemburu tetap saja bersarang di hatinya ketika melihat Riza dekat dengan wanita lain. Meskipun wanita tersebut adalah istri Riza sendiri.


"Beruntung sekali gadis ini," bisiknya dalam hati sembari melihat ke arah Dilla.


Riza dan Andyra melanjutkan obrolan mereka. Sambil mengobrol sesekali Riza melihat ke arah Dilla yang terlihat sangat menikmati sarapannya.


Dilla memperhatikan Riza dan Andyra kembali. Ia sempat heran karena Riza sepertinya sangat nyaman dan banyak berbicara ketika berada di dekat Andyra. Tidak seperti biasanya. Bahkan bahasa yang digunakan Riza sangat lembut. Tidak terkesan ketus dan tajam sama sekali.


Cara Andyra memandang Riza juga tak luput dari perhatian Dilla. Ia pun mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Sebenarnya Dilla ingin bertanya, akan tetapi ia mengurungkan niatnya sebab takut mengganggu obrolan seru Riza dan Andyra.


"Uhukk..uhukk." Dilla tiba-tiba batuk karena tersedak makanan.


Riza dan Andyra menoleh ke arah Dilla. Riza mengusap-usap pelan punggung Dilla sembari menyodorkan air.


Dilla meneguk air perlahan.


Setelah itu Riza pun mulai menceramahi Dilla panjang lebar laksana ibu yang memarahi anaknya. Dilla yang jengah mendengarnya terus saja mencibir ucapan Riza. Pertengkaran kecil pun terjadi di sana.


Dilla menganggap perkataan Riza sebagai omelan semata sementara Andyra yang mengenal Riza dengan baik menganggap hal itu sebagai sebuah bentuk perhatian Riza pada Dilla.


Dilla yang memang masih terlalu muda hanya berpikir berdasarkan apa yang dilihat dan didengarnya kemudian membuat kesimpulannya sendiri.


Andyra hanya menggeleng pelan melihat tingkah mereka berdua.