
Belanda
Balkon rumah Riza.
"Lihat deh Mas, bintangnya indah ya!" ujar Dilla memecah keheningan diantara ia dan Riza.
Akan tetapi, Riza hanya diam.
"Mas marah ya sama saya?" ujar Dilla lagi dengan wajah sedih.
Riza tidak menjawab. Ia terus saja diam, diam dan diam sejak setengah jam yang lalu. Sudah berulang kali Dilla mengajaknya berbicara. Namun, Riza tidak bergeming sedikitpun.
Entah kenapa, mood Riza terlihat sangat buruk malam ini, padahal sehabis makan malam tadi Riza masih terlihat baik-baik saja.
Karena tak mendengar sahutan dari Riza, Dilla pun bergegas menggeser duduknya mendekat ke arah suaminya yang tengah diam membisu itu.
"Mas sakit?" Dilla menyodorkan punggung tangannya ke dahi Riza. Namun, Riza mengelak.
Riza berkata, "Lebih baik kamu pergi tidur. Aku pengen sendiri."
"Saya belum ngantuk. Saya temenin yah," ujar Dilla seraya merangkul lengan Riza.
"Nggak perlu!" Riza melepas rangkulan Dilla.
Dilla terperangah melihat sikap dingin Riza padanya.
"Ada apa Mas?. Mas kenapa?"
"Aku kan udah bilang, aku pengen sendiri. Kamu ngerti bahasa nggak sih?!" Riza meninggikan suaranya kepada Dilla hingga membuat gadis itu tersentak kaget.
Dilla terdiam ditempat duduknya.
"Mas kenapa?. Saya salah apa, Mas?" sahut Dilla mulai terisak.
Riza menatap Dilla iba. Sebenarnya ingin sekali ia merangkul gadis itu dan menenangkannya, akan tetapi rasa sakit dan amarah yang mengusiknya kali ini terlihat masih bersarang di dada pria itu.
"Oke. Kalo kamu nggak mau pergi dari sini, biar aku aja yang pergi!"
Riza beranjak dari duduknya.
Air mata Dilla pun tak terbendung. Ia menangis sesegukan seorang diri disana.
Setelah puas menangis seorang diri, Dilla pun pergi ke kamar untuk menemui Riza berharap amarah Riza yang tanpa Dilla tahu sebabnya itu sudah mereda.
Setibanya di kamar, Dilla mencari keberadaan Riza di setiap sudut ruangan, tetapi sosok yang ia cari tidak ada disana.
Dilla berpikir, mungkin Riza sedang berdiam diri di tempat lain dan akan segera kembali ke kamar sebentar lagi. Namun, hingga waktu menunjukkan pukul satu dini hari, Riza belum kunjung datang sampai akhirnya Dilla tertidur sanking lelahnya menunggu kemunculan Riza.
Keesokan paginya, saat matahari telah muncul di ufuk timur, Dilla terbangun seorang diri di kamarnya. Dilihatnya ke sisi ranjang, tidak ada suaminya disana.
Dilla pun segera berjalan keluar kamar mencari sosok suaminya. Saat menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan Mami.
"Pagi, Mi!. Mi, Mami ada lihat Mas Riza nggak?" sapa Dilla.
"Kamu kan isterinya, masa kamu nggak tahu suami kamu ada dimana," sinis Mami.
Dilla menggeleng, "Tadi malem Dilla ketiduran di kamar Mi, pas Dilla bangun, Mas Riza udah nggak ada."
"Heh. Kasihan, tapi baguslah, itu artinya Riza udah sadar istrinya itu aslinya seperti apa," cibir Mami.
"Maksud Mami?" tanya Dilla lagi.
"Udah deh. Mami tuh males ngomong sama kamu," ujar Mami sesaat sebelum berlalu meninggalkan Dilla.
Dilla kemudian melanjutkan langkahnya kembali untuk mencari keberadaan Riza di sekeliling rumah seraya memanggil-manggil nama suaminya.
Di tempat lain, terlihat Riza berdiri seorang diri diatas sebuah jembatan dengan kanal kecil dibawahnya.
Riza menatap aliran air dengan pikiran yang kalut dan hati yang gundah saat ia kembali teringat dengan obrolannya dan Mami tadi malam.
Flashback
Riza menatap gambar didepannya dengan raut wajah marah bercampur sedih. Ia tidak menyangka kalau Dilla memiliki hubungan sedekat itu dengan Aldrich saat ia tidak ada disisi Dilla.
Riza merasa Dilla sudah mengkhianati pernikahan mereka. Ketika Riza sedang berjuang keras menyembuhkan penyakitnya, Dilla justru tengah bermesraan dengan pria lain. Tak ayal hal itu membuat hati Riza teramat sakit.
Pantas saja Aldrich sangat perhatian sama Dilla, ternyata dugaanku selama ini benar. Kenapa aku sangat bodoh, sampai-sampai aku tidak bisa menyadari semua ini.
Mami menambahkan, "Mami rasa hubungan mereka bukan cuma sekedar pelukan atau pegangan tangan aja."
"Maksud Tante?"
"Lebih baik sekarang, kamu ceraikan Dilla. Apa kamu masih mau punya isteri yang mungkin udah pernah tidur sama laki-laki lain."
Manik mata Riza bergetar, menahan keterkejutan, "Nggak, Tante. Dilla nggak mungkin seperti itu."
"Buka mata kamu, Riza. Kamu itu udah ditipu sama dia."
Flashback end
Sesaat berikutnya, Riza pun berjalan lemah meninggalkan jembatan. Ia terus berjalan mengikuti kemana arah kakinya melangkah.
Sepanjang jalan, Riza mulai membayangkan seperti apa perselingkuhan Dilla dan Aldrich dibelakangnya. Dalam benak Riza tampak Dilla tengah bermesraan, berpelukan bahkan berciuman mesra bersama dengan Aldrich.
Air mata Riza tumpah ruah ketika pikiran kalutnya mulai membayangkan sejauh mana hubungan Dilla dan Aldrich. Riza terlihat benar-benar kacau. Ia tidak siap dengan semua kenyataan itu. Sulit baginya untuk menerima semua hal menyakitkan ini.
Pagi pun telah berganti siang, akan tetapi Riza belum juga kunjung pulang. Sementara Dilla sejak tadi sudah menunggu kepulangan suaminya yang entah berada dimana itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
Dilla terus mondar-mandir dan sesekali mendongak melihat keluar pintu. Namun, Riza belum juga muncul disana.
Hingga malam menjelang dini hari, barulah Riza pulang ke rumah. Melihat sorot lampu mobil dari luar, Dilla pun segera berlari membukakan pintu dengan tergesa.
Supir taksi paruh baya tampak memapah Riza yang berjalan terhuyung. Dilla pun segera membantu supir tersebut. Samar-samar Dilla mencium bau minuman keras dari tubuh Riza. Supir taksi kemudian membaringkan Riza di sofa.
Setelah kepergian taksi, Dilla segera berlari ke dapur untuk membawakan segelas air hangat. Riza duduk kemudian meminum air hangat dari Dilla.
"Kamu kenapa, Mas?. Kenapa kamu jadi gini?"
Riza seketika memeluk Dilla sambil meracau, "Aku itu sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku rela ngorbanin apapun untuk kamu. Apa semua itu nggak cukup?"
"Kamu ada masalah apa?. Kenapa kamu sampe mabuk-mabukan kayak gini?"
"Bohong. Kamu bohong. Kamu bohong!!"
Melihat Riza yang terus meracau. Dilla pun bergegas memapah Riza ke kamar mereka. Sepanjang jalan, Riza kembali meracau dan mengatakan kalau Dilla adalah pembohong. Namun, Dilla hanya diam saja.
Setelah Dilla membaringkan Riza di atas ranjang, tiba-tiba Riza terisak, "Aku nggak mau pisah sama kamu, ta-tapi aku nggak bisa terima kalau kamu ada pria lain."
Dilla hanya diam saja. Ia pun segera mengganti kemeja dan jins yang Riza kenakan dengan pakaian tidur.
Riza melanjutkan, "Walaupun aku sadar, aku nggak bisa kasih kamu anak, tapi aku nggak mau kamu ninggalin aku."
Astaga. Jadi Mas Riza nganggap omonganku tempo hari serius. Aku kan bilang kayak gitu, supaya Henzhie ngaku kalau dia itu nggak hamil anaknya Mas Riza, batin Dilla.
"Aku harus gimana?. Aku benci istriku selingkuh, tapi aku sadar itu semua gara-gara aku. Aku memang nggak berguna."
Mata Dilla membuka lebar, Apa?. Selingkuh?.
"Aldrich. Aku benci bule itu!!" teriak Riza, sesaat sebelum ia pun terlelap.
Dilla menatap Riza pilu. Hatinya sangat sedih menyadari seperti apa perasaan suaminya saat ini. Sesaat kemudian, Dilla pun beranjak tidur di samping suaminya.
Dengan lembut, ia menyisir helaian rambut Riza sambil berkata, "Kasihan kamu Mas. Gara-gara aku, kamu jadi kayak gini. Aku nggak seperti apa yang mami bilang. Aku cuma punya kamu, nggak ada laki-laki lain."
Dilla membatin, Tapi.. gimana cara aku buktiin ke Mas Riza kalau semua tuduhan Mami itu salah?
Dalam lelapnya, perlahan Riza pun menggeser tubuhnya mendekat. Ia memeluk tubuh mungil Dilla lalu menenggelamkan wajahnya kedalam dada istrinya. Menikmati aroma tubuh gadis disampingnya itu dalam lelap sepanjang malam.