
"Diam disini dan jangan berulah!" ucap Riza ketus.
Dilla hanya menunduk dan mengerucutkan bibirnya.
"Kelakuanmu hari ini benar-benar membuatku malu!!."
"Apa urat malumu sudah putus?!"
"Bisa-bisanya kamu berpenampilan seperti ini!!."
"Sebagai wanita, apa kamu tidak malu, hah?!"
Entah sudah berapa kali Riza menceramahi dirinya hari ini semenjak kejadian di restoran.
Flashback
Restoran
Dilla dan Kiki masih tertunduk dalam ketika melihat Riza berdiri dihadapan mereka dengan tatapan lasernya.
Riza tak henti-hentinya mengoceh disebabkan penampilan baru Dilla yang bak model iklan majalah fashion itu. Sambil bersedekap Riza pun terus menceramahi Dilla.
"Apa-apaan pakaianmu itu?"
"Masih siang bolong begini sudah berpakaian seperti ini?"
"Ada apa dengan rambutmu?"
"Warna rambutmu itu sungguh membuat mataku sakit!"
"Apa pantas seorang wanita berpenampilan seperti ini di tempat umum?"
bla....bla...bla...bla...
Dilla hanya tertunduk dalam menyembunyikan wajahnya. Berusaha menahan malu saat menyadari tatapan orang-orang yang mengarah padanya. Sementara Riza, ia terlihat tidak peduli sama sekali dengan tatapan orang-orang dan terus saja berceramah panjang lebar.
Dilla tidak membalas omelan Riza kali ini karena ia menyadari bahwa apa yang dikatakan Riza memanglah benar.
Perlakuan Riza padanya itu, membuat Dilla terlihat seperti seorang remaja yang sedang dimarahi oleh ayahnya karena ketahuan berpacaran di sekolah. Membuat telinga Dilla panas. Restoran yang mulanya sepi itu pun seketika terdengar berisik akibat ulah Riza. Orang-orang melihat ke arah mereka seperti menonton drama televisi.
Dilla meraih pergelangan tangan Riza yang masih bersedekap, mencoba membujuknya. Dilla menyentuh lengan kekar Riza dan menatapnya dengan tampang wajah imut dan memelas, berharap Riza akan berhenti menceramahi dirinya.
Riza melirik ke arah Dilla. Tidak bisa dipungkiri penampilan baru Dilla benar-benar membuat jantung Riza melompat. Dilla sungguh terlihat cantik dan menawan mata. Membuatnya tidak rela jika wajah dan tubuh Dilla menjadi tontonan gratis pria asing di luar sana.
Cemburu?, sudah pasti. Sebab Dilla adalah istrinya. Tidak mungkin ia tidak cemburu saat membayangkan bagaimana mata pria-pria di luar sana memandang wajah dan tubuh istrinya. Oleh karena itu, ia habis-habisan memarahi Dilla kali ini.
Namun, di sela-sela kemarahannya itu, tatapan manja dari Dilla sukses menghentikan kata-kata tajam dari mulutnya.
Riza memalingkan wajahnya, "Hentikan tatapanmu itu!"
Dilla tertunduk kembali.
Selanjutnya, Riza menarik lengan Dilla dan menyeretnya menuju ke arah meja tempat dimana ia duduk bersama Andyra.
"Duduk!" perintah Riza.
Setelah Dilla duduk, Riza langsung mengambil jaket hoodie yang ia taruh di kursi sebelah.
"Menghadap kesini!"
Sambil tertunduk Dilla menghadap ke arah Riza.
"Tegakkan kepalamu!"
Dilla mengikuti setiap perintah Riza. Riza memasangkan jaketnya pada Dilla.
Saat Riza menarik resleting jaket membungkus tubuh Dilla, seketika pandangan mereka bertemu.
Deg!!!
Bunyi dentingan lonceng terdengar di telinga Dilla. Entah dari mana asalnya. Terlihat waktu melambat dan jam dinding berhenti berputar. Khayalan tingkat tinggi nan aneh itu pun mulai mengambil alih hati dan pikirannya. Membuat jantungnya berdetak cepat tak terkendali. Seketika alarm di kepala Dilla berbunyi nyaring menandakan adanya bahaya yang mendekat.
Secepat kilat Dilla menundukkan pandangan matanya.
"Ada apa dengan pikiranku ini?. Gara-gara mas Riza selalu menceramahiku, aku jadi mulai gila!!!" gumamnya lirih.
"Kamu bilang apa?", tanya Riza saat mendengar ucapan lirih Dilla.
Dilla tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan dengan kepala yang masih tertunduk.
"Jangan pernah berpakaian seperti ini lagi. Paham?!"
Dilla manggut-manggut mengiyakan.
Setelah itu, Andyra pun menyapa Dilla. Dilla membalas dengan menganggukkan kepalanya sopan. Di dalam hati, Dilla merasa malu pada Andyra yang pasti telah menjadi penonton setia dramanya bersama Riza tadi.
"Benar-benar memalukan!" gerutunya dalam hati.
Setelah selesai makan siang di restoran, Kiki mengemudikan mobilnya sesuai dengan arahan Riza. Bukan hanya Dilla, Kiki pun tidak berkutik sama sekali saat berhadapan dengan Riza.
Riza mengambil barang-barang belanjaan dari dalam bagasi mobil Kiki kemudian menarik Dilla masuk ke dalam gedung rumah sakit yang disusul oleh Andyra dari belakang.
Andyra hanya menggeleng, melihat tingkah Riza dari kejauhan kemudian melangkah menuju ruangan miliknya yang berlawanan arah dengan ruangan Riza.
"Kita mau kemana mas?" tanya Dilla heran.
"Ikut saja. Tidak usah banyak tanya!" sahut Riza datar.
Riza pun membawa Dilla masuk ke dalam ruangannya. Dilla tampak asing dengan ruangan itu sebab ia baru pertama kali menginjakkan kakinya di sana.
Flashback End
Riza berjalan menuju kursinya dan kembali berkutat dengan berkas yang ada di atas meja. Dilla berdiri seraya menatap ke arah Riza lama.
"Ada apa?" tanya Riza saat menyadari tatapan Dilla.
Dilla pun memberanikan dirinya bertanya, "Hmmm.., kenapa kita di sini mas?. Mas tidak kerja?"
"Kamu tidak lihat aku sedang apa?!!" Riza sibuk berkutat dengan laptop di depannya.
Dilla berjalan menghampiri Riza kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Riza.
"Mas bukannya bekerja di kantor penerbit?. Sedang apa mas disini?" tanya Dilla polos.
Riza menunjuk ke arah papan nama yang terpampang di atas meja. Dilla memicingkan matanya membaca papan berbahan kaca tersebut.
Dilla membaca satu persatu huruf di papan yang bertuliskan nama lengkap Riza dan jabatannya. Setelah itu Dilla kembali menatap ke arah Riza.
"Berhenti menatapku seperti itu!."
Dilla tampak bingung saat mengetahui bahwa Riza menjabat sebagai direktur rumah sakit.
Bagaimana bisa?, pikirnya.
Riza pun mulai menceritakan semuanya pada Dilla seraya memandang ke arahnya, Dilla pun mendengar cerita Riza dengan seksama.
"Ternyata mas ini dokter toh," celetuk Dilla.
"Lantas, bagaimana dengan novel mas?", sambung Dilla kembali.
"Aku mengerjakan novel sekaligus menjadi direktur di rumah sakit ini."
Dilla hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Riza.
Dilla kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan Riza yang tampak kembali sibuk dengan tumpukan berkas yang ada di atas meja.
Dilla membuka jaket yang membalutnya lalu menyampirkannya di lengan. Memandang megahnya gedung-gedung pencakar langit kota Jakarta dari balik jendela kaca yang ada di dalam ruangan Riza. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.
Disela-sela konsentrasinya, Riza memandang wajah Dilla dengan penuh kekaguman. Menatap wajah incaran hatinya itu dalam diam.
Dering ponsel menyadarkan lamunan Dilla. Ia pun menjawab ponselnya.
"Ada apa mas Fahmi?" sahut Dilla.
Perhatian Riza teralihkan saat mendengar nama Fahmi. Pria menyebalkan yang selalu mengusik ketenangan Riza. Sudah beberapa hari ini Fahmi memang tidak pernah muncul di dekat Dilla dan membuat Riza sedikit lega. Namun, saat nama itu muncul kembali membuat Riza seketika menjadi jengkel.
Entah apa yang dibicarakan Fahmi pada Dilla. Terlihat Dilla menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"Berisik!!. Matikan ponselmu," ujar Riza kesal.
Dilla langsung menyudahi percakapannya dengan Fahmi karena tidak mau mendengar Riza berceramah panjang lebar lagi. Telinganya sudah cukup panas hari ini.
"Kemarikan ponselmu!" perintah Riza.
Tanpa bertanya Dilla langsung memberikan ponselnya ke tangan Riza.
"Ponsel ini aku sita!" Riza menatap tajam ke arah Dilla.
Dilla berusaha mengambil ponsel dari tangan Riza. Secepat Kilat Riza berdiri dan menjauhkan ponsel dari jangkauan Dilla. Dilla berjingkat dan berjinjit berusaha menggapai ponsel yang menjulang tinggi di atas kepala Riza. Namun, karena postur tubuh Riza melebihi tinggi badannya, Dilla kewalahan saat menggapai ponsel tersebut.
"Aaaaa..., jangan mas. Itu kan ponsel saya..." Rengeknya manja seperti anak kecil.
"Dasar bocah!" batin Riza saat melihat rengekan Dilla.
Dilla memelas kepada Riza dengan tampang wajah imut dan tatapan manjanya berusaha membujuk Riza agar mengembalikan ponselnya. Namun, Riza tidak bergeming sedikitpun.
"Aku akan kembalikan ponselmu, tapi dengan satu syarat."
Dilla diam.
"Sesampainya di rumah, kamu harus membawa barang-barangmu yang ada di kamar tamu kembali ke dalam kamarku. Bagaimana?"
Dilla menautkan alisnya menatap Riza dengan tatapan aneh dan sedikit menyeringai.
"Oh, begitu ya," ucapnya singkat.
Riza membalas tatapan aneh Dilla dengan senyum kemenangan di wajahnya.