My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/83



Tanpa mempedulikan Aldrich, Riza pun berjalan menuju ke arah meja untuk menyantap makan malam dengan tangan yang masih merangkul pinggang Dilla.


Sesampainya di meja, Niko segera menyapa Dilla dengan ramah seperti biasanya.


"Hai, Dilla," ujar Niko pada Dilla sesaat setelah Riza mendudukkan Dilla di kursi bersebelahan dengannya.


"Eh, Mas Niko. Mas Niko udah lama di sini?" Dilla berusaha mengembalikan sikap cerianya meskipun ia masih teringat dengan kejadian barusan.


Niko mengangguk. "Cantik banget loe hari ini. Beda dari biasanya."


"Masa sih, Mas?. Bukannya aneh, ya?. Soalnya mas Riza bilang dandanan saya hari ini aneh," tutur Dilla dengan lugunya.


Riza berdehem nyaring.


Niko tertawa sedikit melirik ke arah Riza. "Siapa bilang loe aneh, loe cantik kok. Mungkin si Riza malu aja kali buat muji loe."


Dilla menautkan kedua alisnya bingung.


"Ngomong-ngomong, thanks ya udah ngajak si Riza ke sini. Berkat loe akhirnya dia mau buat dateng ke acara ini."


"Sama-sama, Mas." Dilla tersenyum. "Oh, iya. Kemarin itu saya belum sempat bilang terima kasih sama mas."


"Soal apa?"


"Soal laptop sama bunga yang waktu itu mas antar ke rumahnya mbak Laras."


"Oh, masalah itu. Iya, sama-sama. Gue sih, cuma ngikutin perintah si singa ini aja. Dia suruh gue anter paket sama beli bunga, ya udah gue turutin."


Riza menatap tajam ke arah Niko.


"Loh, jadi bunga itu mas Riza yang suruh beli?" tanya Dilla lagi.


Riza kembali berdehem nyaring dengan mata membidik tajam ke arah Niko mengisyaratkan agar Niko segera menutup mulutnya. Namun, Niko justru menanggapi tatapan Riza dengan tertawa lebar.


"Kenapa kamu tadi pegang pegangan tangan sama Aldrich?" sambar Riza mencoba mengalihkan pembicaraan Dilla. Dengan raut wajah kesal, Riza menuntut jawaban dari Dilla.


Dilla menjawab, "Oh, tadi itu saya ketemu orang gila, Mas. Nyebelin minta ampun. Daripada si Mister berantem sama orang gila, ya sudah saya tarik aja tangannya. Biar aman."


Dilla pun menceritakan kejadian menyebalkan yang dialaminya barusan pada Riza.


"Kali ini aku maafkan tapi tidak lain kali. Aku tidak suka melihat orang lain menyentuh milikku tanpa seizin dariku, begitu juga sebaliknya."


Dilla menautkan alisnya bingung. Mencoba mencerna kata-kata Riza.


"Aku tidak suka melihat pria lain menyentuhmu tanpa seizin dariku, begitu juga sebaliknya. Jadi aku harap kamu paham akan hal itu!" tambah Riza kemudian.


Niko terkekeh menanggapi kata-kata tak biasa dari mulut Riza itu. Sebab, baru kali ini ia melihat Riza bersikap seposesif itu pada seorang wanita.


Dilla tersenyum lalu mencubit gemas pipi Riza. Hingga membuat Riza mengaduh kesakitan.


"Hai, Riza. Apa kabar?"


Suara sapaan seorang wanita seketika menghentikan interaksi mereka.


Terlihat di hadapan mereka, Nana menyapa Riza dengan senyum sumringah. Nana tampak senang bukan kepalang saat mendapati sosok Riza ada di didepannya. Berbeda halnya dengan Dilla yang tampak menatap sebal ke arah Nana saat mengetahui bahwa wanita gila yang ditemuinya tadi ternyata mengenal suaminya.


Riza hanya menoleh sekilas ke arah Nana dengan tatapan datar seperti biasanya yang masih diikuti dengan tatapan sebal Dilla pada Nana.


"Kamu udah lama nyampe?. Nggak nyangka ya, kita bisa ketemu di sini." Nana tersenyum lebar. "Kayaknya kita jodoh, deh!" tambahnya.


Niko dan Dilla menoleh seketika ke arah Nana.


"Loe tuh apa-apaan, sih?. Nggak usah sok-sok akrab gitu deh sama orang. Nyebelin tau!" sarkas Niko.


"Apaan, sih!. Diem loe!" Nana melirik Niko tajam.


"Kamu mau makan apa, Riza?. Biar aku ambilin, ya!" ujar Nana dengan suara imut yang dibuat-buat.


Riza diam tidak menanggapi perkataan Nana. Hingga membuat Nana sedikit kesal. Namun, Nana tidak menyerah sedikitpun. Ia justru semakin melancarkan jurus menggoda dan memikatnya pada Riza hingga membuat Riza terlihat sangat risih.


Niko menatap Nana tajam. "Eh, cewek gila!. Berisik banget sih, loe. Lebih baik, loe pindah meja aja gih sono!. Jangan di sini!" usir Niko saat menyadari ketidaknyamanan di wajah Riza.


"Nyebelin banget sih, loe. Loe tuh yang berisik. Ganggu aja!" balas Nana.


Dilla hanya melirik sekilas ke arah Riza sambil melahap makanan di piringnya. Perasaan panas muncul di dadanya saat melihat Nana yang dengan genitnya terus merayu dan menggoda Riza.


Melihat ekspresi wajah Dilla, seketika Niko menarik Nana menjauh dari meja yang mereka tempati.


"Loe bisa kagak sih sehari aja kagak bikin orang kesel. Loe nggak lihat si Riza itu udah risih banget sama kelakuan genit loe ke dia."


"Masa, sih?. Gue lihat kayaknya dia menikmati aja, tuh."


Niko menjitak jidat Nana. Hingga membuat Nana mengaduh kesakitan.


"Lebih baik loe pergi sono, jangan gangguin Riza lagi. Dia itu udah punya istri tau!. Loe itu udah nggak punya kesempetan lagi buat ngedeketin dia!"


Nana tertawa. "Loe kira gue percaya sama bacot loe itu. Minggir loe!"


Nana kembali melangkah ke arah meja lalu duduk kembali di kursinya meninggalkan Niko yang masih berdiri tegak di belakang. Terlihat Dilla kembali cemberut dan menatap tajam ke arah Nana.


"Kamu kenapa?" tanya Riza pada Dilla.


Dilla menggeleng pelan. Kembali berpura-pura fokus dengan makanan yang ada di piringnya. Riza hanya diam menatap wajah Dilla yang terlihat lesu dan tidak bersemangat itu. Sesekali ia menyeka makanan yang menempel di sudut bibir Dilla dengan tersenyum manis. Interaksi mereka itu pun tak luput dari pandangan Nana yang tengah duduk tepat di sebelah Riza.


Siapa sih nih cewek kampung?. Sok akrab banget sama pangeran gue!, tanyanya dalam hati sembari melirik Dilla dengan tajam.


Nana pun mencoba berbasa-basi pada Dilla. "Hai, aku Nana. Salam kenal," ujarnya pada Dilla.


Dilla hanya menanggapi dengan tersenyum sopan.


"Nama kamu siapa?. Kalian berdua ada hubungan apa, ya?. Kok kayaknya akrab banget?" tanya Nana membidik langsung pada sasaran.


"Saya Dilla. Saya-"


Mendengar kata istri dari mulut Riza sontak membuat Nana bagaikan tersambar petir dan guntur di siang hari. Nana terdiam seketika.


"Rasain Loe!" tandas Niko sesaat kemudian pada Nana.


Nana terkesiap. Ia pun memulai tingkah menyebalkannya. "Apa kalian sudah punya anak?" tanyanya tiba-tiba.


Dilla dan Niko menatap Nana dengan tajam. Sementara Nana terlihat sangat antusias menunggu dengan tidak sabar jawaban dari mulut Riza.


"Belum." Riza menjawab singkat.


"Apa istri kamu lagi hamil?" tanyanya lagi.


"Tidak."


"Apa kalian sudah pernah melakukan hubungan suami istri?"


Riza dan Dilla terdiam. Kekesalan Dilla benar-benar sudah sampai di ubun-ubun. Ingin rasanya ia menggaruk wajah Nana dengan garpu yang ada di tangannya karena sikap Nana yang sungguh tidak sopan dan sangat keterlaluan.


Riza melirik Dilla sekilas. Belum lagi Riza sempat menjawab, tiba-tiba Dilla memutar wajah Riza ke arahnya lalu melayangkan sebuah ciuman mesra di bibir Riza yang sukses membuat Nana dan Niko terperangah kaget. Dengan mata terpejam, Dilla memberanikan dirinya mencium Riza kali ini untuk membungkam bibir manis suaminya yang sepertinya akan melontarkan jawaban atas pertanyaan aneh Nana.


Riza tampak berusaha menstabilkan irama jantungnya dan mengembalikan kesadarannya secepat mungkin sesaat setelah ciuman singkat Dilla berakhir. Ia menarik nafas panjang.


Sesaat kemudian Dilla tiba-tiba berdiri dari duduknya dengan wajah yang tertunduk malu. Dengan cepat, Riza mencekal lengan Dilla saat Dilla akan melangkah pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Riza.


"Toilet!" jawab Dilla.


"Mau aku antar?"


"Ndak perlu." Dilla yang masih malu segera menolak tawaran Riza kemudian berlalu pergi begitu saja. Meskipun Dilla menolak, akan tetapi Riza tetap menyusul langkah Dilla dari belakang.


"Aku ikut!" sambar Nana kemudian.


Dengan cepat, Niko menahan lengan Nana. Kemudian menariknya untuk duduk kembali.


"Lepas!" Nana meronta.


"Duduk dan diem disini, atau gue cium loe sekarang!" ancam Niko pada Nana.


Nana langsung membelalakkan matanya kaget. Nyalinya seketika menciut saat mendengar ancaman Niko.


"Kalau loe masih berani gangguin Riza sama istrinya. Awas aja loe. Loe inget, gue itu kagak pernah main-main sama ucapan gue!"


Nana sedikit ketakutan. Dengan cepat, ia pun mengangguk mengiyakan. Akhirnya Niko berhasil menjinakkan Nana seketika.


Beralih ke Riza dan Dilla.


Di dalam toilet, Dilla masih memikirkan pasal ciumannya dengan Riza tadi. Berulang kali ia merutuki kebodohannya yang dengan beraninya mencium Riza di depan umum.


Dilla mondar-mandir di toilet dengan gusar. Merasa malu dengan perbuatannya barusan. Ia takut Riza akan menggodanya habis-habisan nantinya karena apa yang diperbuatnya tadi.


Sesaat kemudian, Dilla celingukan di depan pintu toilet. Memastikan bahwa Riza tidak ada sebelum melangkahkan kakinya keluar dari sana. Setelah yakin, Riza tidak ada. Dengan cepat, Dilla berlari kencang lalu memutuskan berdiri sejenak di pojok ruangan.


Karena haus, dengan sembarang ia mengambil segelas minuman yang terhidang di atas meja lalu meneguknya dengan cepat.


"Air apa ini?. Kenapa rasanya seperti ini?" ujarnya sesaat kemudian.


Tanpa Dilla sadari, gelas tersebut ternyata berisikan salah satu jenis minuman beralkohol. Karena rasanya yang sedikit manis dan enak, membuat Dilla ketagihan hingga tanpa sadar ia pun telah menghabiskan lebih dari lima gelas wine yang ia tuang sendiri dari dalam botol yang memang sengaja ditaruh di atas meja.


Sesaat setelahnya, Dilla mulai berjalan sempoyongan dengan pandangan mata yang mulai mengabur. Sebuah tangan kekar menangkap tubuh mungil Dilla sesaat sebelum tubuhnya jatuh ke lantai. Samar-samar Dilla melihat sosok Raja dihadapannya.


"Kak Raja!" gumamnya lirih dengan pandangan yang mulai mengabur.


"Raja?!. Hei, sadarlah. Aku Aldrich bukan Raja." Aldrich menepuk pelan pipi Dilla untuk menyadarkannya.


"Mister?!" Dilla kembali menggumam lirih dengan mata sayunya.


Sesaat kemudian, Aldrich pun segera memapah Dilla yang tampak mulai mabuk itu menuju ke arah meja Aldrich.


"Singa?!" gumam Dilla kemudian.


Dilla menangkap bayangan Riza yang tengah berjalan ke arahnya.


"Ada apa dengan istriku?" tanya Riza datar pada Aldrich yang terlihat tengah memapah tubuh Dilla. Hal yang sungguh membuat Riza meradang sebab lagi-lagi ia melihat tangan Aldrich menyentuh istrinya tepat didepan matanya.


"Syukurlah kau datang. Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dia sudah seperti ini. Aku rasa dia mabuk," jawab Aldrich mencoba menjelaskan. Namun, Riza hanya diam saja menatap Aldrich dengan datar.


"Biar aku saja yang mengurusnya."


"Sudah tidak perlu sungkan. Biar aku bantu."


Riza menatap Aldrich tajam lalu dengan cepat menarik tubuh Dilla ke dalam pelukannya.


"Aku tidak perlu bantuanmu. Aku bisa mengurus istriku sendiri. Lain kali jauhkan tanganmu darinya. Jangan seenaknya menyentuh istriku seperti itu."


"Tenanglah kawan. Aku hanya mau menolongnya. Tidak ada maksud lain."


"Berhentilah bersikap sok akrab padaku dan aku minta jauhi istriku."


Astaga, pria ini sungguh menyebalkan!, batin Aldrich.


Berakhirlah mereka dengan saling beradu tatap.


Masih dalam keadaan mabuk dan sempoyongan, Dilla bergelayut manja di dada bidang Riza kemudian mengendus dan menciumi leher suaminya itu beberapa kali. Riza pun semakin mengeratkan pelukannya. Menahan tubuh Dilla dengan lengan kekarnya agar tidak terjatuh. Sesaat kemudian, ia menggendong tubuh Dilla lalu berjalan meninggalkan Aldrich.


"Butuh bantuan?" tanya Aldrich padanya.


Riza berhenti tanpa menoleh. "Tidak perlu!" ujarnya singkat kemudian kembali berjalan sembari menggendong tubuh Dilla menuju ke arah pintu keluar gedung.