
Dilla bersandar di sandaran ranjang dengan rasa bingung yang terus berkecamuk dalam benaknya.
Flashback
Setelah sempat curiga pada Aldrich saat menyadari bahwa apa yang ia lihat dalam lukisan Aldrich bukanlah sebuah kebetulan semata.
Dengan hati-hati, Dilla pun bertanya.
"Sejak kapan semua itu muncul dalam mimpi Mister?"
Aldrich menaikkan bola matanya, mencoba membuka ingatannya kembali, "Ehhmm. Sepertinya mulai lima tahun lalu. Sejak aku terbangun dari tidur panjangku."
"Maksudnya?"
"Bagaimana ya?. Aku malu mengatakan ini."
Dilla menatap Aldrich lama.
Aldrich pun mulai bercerita pada Dilla tentang penyakit yang ia derita dengan diiringi narasi yang mengisahkan bagaimana perjuangan Aldrich untuk bertahan hidup melawan penyakit mematikan yang terus menggerogoti tubuhnya dan membuatnya hampir kehilangan nyawa.
"Hingga akhirnya, sebuah keajaiban pun menghampiriku. Disaat yang tepat seorang pendonor jantung datang dan memperpanjang hidupku. Berkat dirinya, aku mendapatkan kehidupan kedua."
Aldrich menoleh dan tersenyum ke arah Dilla sambil memegangi dada sebelah kirinya.
Dilla mendengarkan kisah Aldrich tanpa bertanya apapun. Aldrich menceritakan semuanya pada Dilla termasuk saat Aldrich merasakan keanehan pasca operasi yang dialaminya sejak lima tahun silam.
Aldrich menceritakan juga semua perubahan yang ia alami pasca operasi. Bagaimana pola hidup Aldrich sebelum dan sesudah operasi, apa yang ia suka dan tidak suka, bagaimana sikap dan perilakunya, semua ia ceritakan tanpa ada yang tertinggal.
"Semua perubahan yang aku alami sangat tidak masuk akal dan sangat aneh," celetuknya.
Dilla mendengar cerita Aldrich seraya mengingat lagi bagaimana pertemuannya dengan Aldrich bermula, seperti apa sapaan Aldrich padanya dan tutur kata Aldrich setiap kali ia berbicara pada Dilla, yang mana semua hal itu tak lain terus mengingatkannya akan Raja.
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, batinnya.
"Apa Mister mengenal Raja?" tanya Dilla tiba-tiba ditengah-tengah cerita Aldrich.
Aldrich berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia menoleh, "Raja?!" gumam Aldrich seraya berpikir keras. Mencoba mengingat siapa orang yang disebutkan Dilla tadi.
Dilla melanjutkan, "Iya. Namanya Raja. Rajasha Hardiga. Apa Mister kenal dengan orang itu?" tanya Dilla dengan berapi-api.
Aldrich mengerutkan keningnya.
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi, dimana ya?, batinnya.
Aldrich terdiam cukup lama saat otaknya kembali mengingat nama yang terdengar tidak asing ditelinganya itu.
Aldrich pun menjawab, "Oh, iya, aku baru ingat. Orang itu adalah salah satu pengawal pribadiku dulu."
Dilla terperanjat. Dilla pun mulai bertanya dalam hatinya, sejak kapan Raja bekerja sebagai pengawal pribadi, yang Dilla tahu Raja pergi meninggalkan desa untuk bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.
Dilla tampak bingung.
Aldrich melanjutkan, "Aku tidak menyangka kamu juga mengenal dia."
Dilla menyambar, "Lalu dimana dia sekarang?"
Aldrich menautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan sikap Dilla yang tidak seperti biasanya itu, "Kata Thomas, dia sudah tewas saat menyelamatkan nyawaku."
Seketika Dilla terduduk lemas di kursinya. Air mata mulai membasahi wajahnya.
"Kamu kenapa, Dilla?"
Mendengar kabar kematian sahabat kecilnya itu sungguh membuat hatinya hancur berkeping. Bagaimana tidak, Raja sudah Dilla anggap seperti kakaknya sendiri. Kakak yang baik dan penuh perhatian. Tidak hanya itu, Raja selalu ada kapanpun Dilla membutuhkan sosok seorang ayah yang menguatkannya untuk menjalani pahit getirnya kehidupan.
Dan kini sosok Raja, sang pahlawan kecil dalam hidup Dilla sudah tiada. Ia pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya dengan membawa kenangan indah mereka berdua.
Flashback End
"Dilla. Aku, a-a-aku, aku mau minta maaf," ucap Riza terbata. Suara berat yang seketika membuyarkan lamunan Dilla.
Dilla langsung menyeka air matanya.
"Kamu kok nangis?" tanya Riza kemudian saat menyadari mata Dilla yang tampak memerah.
Dilla melirik Riza sekilas lalu memalingkan wajahnya.
"Mas mau apa lagi?" ketus Dilla.
Riza berdiri di sisi ranjang sambil menundukkan wajahnya dalam. Ia tampak sangat menyesali perbuatannya sesaat lalu yang memicu pertengkarannya dengan Dilla.
"Aku akan ikut apa kata kamu. Aku tidak keberatan pindah dari rumah ini," jawab Riza pelan dengan kepala yang masih tertunduk.
"Nggak ada yang perlu diomongin lagi. Mas keluar saja. Saya capek, mau tidur."
Sikap Riza yang menolak keinginan Dilla untuk segera berpindah dari rumah Thomas membuat Dilla tampak kesal.
Sebenarnya Dilla mengajak Riza pindah hanya untuk menjauhkan Riza dari Henzhie. Kedekatan Riza dan Henzhie cukup membuat Dilla uring-uringan tak menentu karena menahan rasa cemburu yang membakar dadanya.
Riza mendongak dan menatap Dilla yang terlihat sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dilla tak mengacuhkan Riza sama sekali. Dilla memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur.
Tanpa berkata apapun, Riza berbalik meninggalkan Dilla kemudian berjalan menuju pintu.
"Berhenti!!" teriak Dilla kemudian beranjak menghampiri Riza di depan pintu.
Riza memutar tubuhnya, "Ada apa?" tanyanya dengan tampang polos tak berdosa.
Dilla mendengus kesal, "Mas nggak marah?"
Riza mengerutkan dahinya. Lagi-lagi ia dibuat bingung dengan tingkah laku istrinya.
"Saya itu lagi kesel. Mas nggak marah ngelihat saya kekanak-kanakan kayak tadi?"
"Kenapa aku harus marah?" tanya Riza lagi dengan wajah polos.
Dilla tersenyum simpul, Kenapa mas Riza jadi imut gini, sih?. Hihihi. Jadi pengen peluk.
Ada apa dengan gadis ini?, batin Riza bingung.
Tanpa aba-aba, Dilla memeluk Riza erat hingga membuat Riza terperanjat karena tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Dilla.
"Kamu kenapa sih?"
"Ini hukuman karena mas udah bikin saya kesel!" jawab Dilla yang semakin mengencangkan pelukannya hingga membuat Riza terus meronta minta dilepaskan.
"Bilang dulu SAYANG. Baru saya lepasin."
Dilla pun mulai melancarkan aksinya untuk menjahili Riza. Ia tampak terkekeh geli saat mendongak dan melihat ekspresi menggemaskan suaminya.
Jantung Riza berdetak dengan cepat. Ia terus menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan irama jantungnya.
Sementara itu, Dilla semakin membenamkan kepalanya di dada bidang Riza tanpa mempedulikan seperti apa memerahnya wajah pria itu saat ini.
"A-a-aku cu-cuma mau minta maaf. Bukan mi-minta dipeluk." Lagi-lagi Riza terbata sanking gugupnya.
"Saya kan istri Mas. Wajar kan kalau mas saya peluk. Mas pakai parfum apa sih, kok wangi banget."
"A-a-aku e-enggak pakai parfum kok. Cuma mandi pakai sabun sama shampo yang dikasih Henzhie."
Dilla cemberut, Lagi-lagi Henzhie!!
"Besok-besok sabun dari Henzhie dibuang aja!. Nggak usah dipakai. Mas pakai sabun mandi yang saya kasih aja."
Riza diam.
"Kok diem, jawab dong Mas!!"
"Lepasin dong. Gerah nih!" ronta Riza.
"Nggak mau. Bilang SAYANG dulu, baru saya lepas."
"Aku nggak bisa."
"SAYANG, LEPASIN DONG SAYANG. Bilang gitu masa nggak bisa sih, Mas."
Riza menelan ludahnya kasar, mencoba bertahan untuk tidak menuruti permintaan konyol Dilla.
Sementara Dilla terlihat tersenyum penuh kemenangan tanpa mempedulikan Riza yang sudah mulai keringat dingin.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Riza menoleh ke arah pintu. Terlihat Henzhie sudah berdiri didepan pintu mengenakan piyama lengkap dengan selimut dan bantal ditangannya
Henzhie menatap tidak suka ke arah Dilla yang tengah memeluk Riza dengan erat.
"Kenapa Henzhie?" tanya Riza.
Dilla melepaskan pelukannya seketika. Senyuman di wajahnya menghilang saat melihat Henzhie sudah berdiri tegak didepannya.
Henzhie sengaja menyahut sapaan Riza dengan bahasa Belanda. Ia sengaja melakukan itu agar Dilla tidak ikut campur dalam obrolan mereka.
"Lampu kamarku mati. Boleh aku tidur disini bersama kalian?" tanya Henzhie tanpa basa-basi.
Riza melotot kaget.
Dilla menarik ujung piyama Riza, "Henzhie bilang apa, Mas?"
Riza berbisik, "Dia minta tidur di kamar ini bersama kita."
"Haah?!" Dilla terlonjak kaget kemudian menatap Henzhie tajam sambil berbisik, "Ini kan kamar kita, Mas. Masa dia mau tidur disini?. Saya nggak mau."
Dilla menggeretakkan giginya sanking geramnya dengan sikap aneh Henzhie.
Riza memelas pada Dilla agar membiarkan Henzhie tidur bersama Dilla sementara Riza akan tidur di luar.
Tentu saja Dilla menolak dengan keras. Dengan tatapan tajam, Dilla membalas ucapan Riza. Mau tak mau Riza pun menurut.
"Maaf, Henzhie. Istriku terus saja menolak. Begini saja-" Riza berjalan menuju nakas. Ia mengambil sebuah lampu tidur mini dari dalam sana.
"Pakailah alat ini untuk sementara selagi menunggu petugas memperbaiki lampu kamu."
"Tapi--"
Dilla segera merangkul lengan Riza kemudian menariknya menjauh dari Henzhie.
"Sayang, tidur yuk. Aku ngantuk," ucap Dilla menempel bak prangko disisi Riza sambil menatap Henzhie dengan tajam.
Henzhie tampak kesal. Ia turut menatap Dilla tak kalah tajam.
Riza kemudian berkata pada Henzhie, "Henzhie, bisa kamu keluar sekarang?. Istriku ingin tidur. Besok kita bicara lagi."
Dengan wajah ditekuk, Henzhie pun berbalik.
Baru selangkah berjalan, tiba-tiba Henzhie memutar tubuhnya kemudian mencium pipi Riza tanpa mempedulikan keberadaan Dilla yang sedang berdiri tegak disamping Riza.
Raut wajah Riza berubah seketika, ia terlihat sangat kaget.
"Selamat malam, Riza. Mimpi indah," ucapnya tersenyum manis ke arah Riza.
Dilla terlihat kesal.
"Apa kamu marah?" tanya Henzhie pada Dilla.
Dilla menatap Henzhie tajam. Namun, Henzhie justru membalas dengan tersenyum sinis pada Dilla sebab ia merasa puas sudah berhasil mencuri ciuman selamat tidur dari Riza.
Dilla terlihat sangat marah, kali ini ia pun sudah tidak mampu menahan kesabarannya. Mungkin bagi Henzhie itu merupakan hal yang biasa tapi tidak bagi Dilla.
Ia pun melepaskan rangkulan tangannya dari lengan Riza lalu dengan cepat, menarik rambut blonde Henzhie dengan tarikan berapi-api hingga membuat Henzhie meringis kesakitan sebab tak kuasa menahan jambakan Dilla yang teramat menyakitkan itu.
Henzhie berteriak kesakitan dengan suara melengking tinggi hingga menggema seisi kamar Dilla. Suara Henzhie memecah kesunyian malam dingin dan bersalju di Rotterdam.