My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/30



Dilla pun telah tiba dengan selamat di rumah Riza.


"Terima kasih, Pak!" ucap Dilla pada seorang supir taksi yang ada di depannya.


Setelah menutup pintu mobil, Dilla langsung melangkah dengan cepat memasuki rumah. Ia berlari menaiki tangga, menuju ke arah kamar. Ia mengambil beberapa pakaian dari dalam lemari lalu memasukkannya ke dalam tas ransel miliknya.


Dilla pun bergegas menyandang tas ranselnya. Ia memutuskan pulang ke desanya hari ini juga.


Saat menuruni tangga, Dilla tiba-tiba ingat kalau ia belum memberitahu Riza perihal kepulangannya ke desa. Ia pun memutuskan menelepon Niko untuk meminta nomor ponsel Riza darinya.


Dilla meraih ponsel dari balik saku tasnya.


Selama Dilla menikah dengan Riza, Dilla memang tidak pernah meminta nomor ponsel Riza dari siapapun termasuk dari Riza sendiri. Jika ditanya apa alasannya, ia akan selalu menjawab "lupa". Pelupa merupakan salah satu sifat buruk Dilla.


Terdengar nada sambungan telepon di ponsel Dilla.


tut..


tut..


tut..


[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi]


Dilla menghela nafas pelan.


tut..


tut..


tut..


Dilla kembali menghubungi ponsel Niko. Namun, tidak diangkat.


"Bagaimana ini?" gumamnya pelan.


Dilla tampak berpikir.


Dengan cepat, Dilla menarik secarik kertas dari dalam tasnya kemudian ia menuliskan sebuah pesan di sana. Setelah itu, ia menempelkan kertas tersebut di pintu lemari es. Berharap Riza akan membaca pesannya nanti.


Akhirnya, Dilla memutuskan pergi tanpa berpamitan langsung pada Riza.


Sebuah taksi terlihat telah menunggu Dilla di depan rumah. Dilla pun langsung menaiki taksi tersebut menuju ke terminal bus.


----------


Kantor Niko


"Aduh. Perut gue...!" Niko merintih sambil mencengkram perutnya kuat.


Niko terlihat sedang berada di dalam bilik toilet. Sejak tadi pagi, entah sudah berapa kali ia memasuki tempat tersebut.


Tak lama, Niko pun ke luar dari toilet dengan tergopoh-gopoh menuju meja kerjanya.


Niko bersandar di kursi dan menghembuskan nafasnya pelan. Saat ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Terlihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Dilla di layar.


Tanpa berpikir panjang, Niko langsung menghubungi nomor Dilla.


Dilla yang kini sudah berada di dalam taksi terlihat menatap lurus ke arah jendela yang ada di sisinya. Pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana keadaan ibunya saat ini sehingga ia tidak menyadari getaran ponsel yang ada dalam saku tasnya.


Niko pun mencoba menghubungi Dilla berkali-kali. Namun, hasilnya tetap sama. Ponsel Dilla tidak diangkat. Niko terlihat sedikit panik. Ia takut terjadi sesuatu lagi pada Riza seperti tempo hari.


Tiba-tiba Niko meringis kesakitan. Ia merasakan perutnya kembali memberontak.


Ia mengerutkan wajahnya, mencoba bertahan dari serangan yang bertubi-tubi itu. Ia mencengkram perutnya kuat dan berlari secepat kilat menuju toilet.


-------


Rumah Sakit


"Baiklah. Saya rasa rapat hari ini kita akhiri sampai di sini. Terima kasih atas perhatiannya!" ucap Riza singkat.


Riza langsung bergegas pergi meninggalkan ruang rapat. Ia melangkahkan kakinya cepat menuju ruang kerjanya. Rapat kali ini ternyata selesai lebih lama daripada dugaan Riza. Sudah lebih dari tiga jam Riza harus memimpin rapat yang sangat menguras energinya itu.


Sesampainya di ruang kerja, Riza langsung menyandarkan tubuhnya di kursi kemudian sedikit melonggarkan ikatan dasinya.


Riza memijat dahinya, "Kenapa manajemen rumah sakit ini sangat berantakan?", gumam Riza pelan.


"Apa saja yang dilakukan oleh Om Darma selama ini?" gumamnya lagi.


"Aku sungguh tidak mengerti!"


Riza masih memijat dahinya pelan sambil terus meracau mengeluhkan perihal Om Darma. Ia terlihat berpikir dan menghela nafasnya berat. Ia harus lebih menguatkan pundaknya kali ini karena tanggung jawab yang dipikulnya tidaklah ringan.


Riza mengambil ponselnya. Ia hendak memainkan musik untuk merilekskan pikirannya. Baru beberapa detik ia menggenggam ponselnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat nama Niko di layar.


Riza terlihat malas menjawab panggilan telepon dari Niko. Ia membiarkan ponselnya terus menerus berdering. Salah satu kebiasaan buruk dari sikap introvert Riza adalah saat ia merasa ingin sendiri maka ia tidak mau di ganggu oleh siapapun termasuk Niko ataupun keluarganya.


Riza hanya memejamkan mata, membiarkan ponselnya yang tergeletak di meja terus-menerus berdering tak henti-hentinya.


Ditempat lain, Niko terlihat gusar karena Riza tidak kunjung menjawab panggilan teleponnya.


--------


Terminal Bus


Dilla tampak berjalan kesana-kemari. Ia terus-menerus bertanya pada orang-orang yang ada di terminal sebab ia tidak tahu harus menaiki bus yang mana. Terlebih bus yang ada di terminal tersebut ternyata sangatlah banyak.


Setelah sekian lama bertanya kesana-kesini, akhirnya Dilla menemukan busnya. Dilla langsung bergegas menaiki bus berwarna putih dengan rute yang menuju ke arah desanya


Dilla duduk di kursi. Bus pun melaju meninggalkan ibukota.


--------


Kafe


Sore harinya, Riza memenuhi janjinya pada Andyra untuk mentraktirnya minum. Setelah selesai bekerja, mereka pun langsung menuju ke kafe yang berada dekat dengan rumah sakit.


Andyra terlihat bahagia kali ini karena ia dapat menghabiskan waktu bersama dengan Riza. Sementara Riza, ia terlihat biasa-biasa saja.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Riza.


"Kamu masih ingat kan minuman kesukaan aku?" Andyra menatap Riza, mencoba mengujinya kali ini.


Riza melihat Andyra sekilas. Kemudian melemparkan pandangannya ke sembarang arah. Bola matanya bergerak-gerak kecil. Ia berusaha memanggil memorinya.


"Ehm...teh hijau?" jawabnya ragu.


Andyra tersenyum membenarkan.


"Oke!" jawab Riza.


Riza kemudian memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Setelah pelayan tersebut pergi, Riza mengambil ponsel yang terselip di saku celananya.


Riza mengirim pesan pada Dilla.


[Sebentar lagi aku pulang. Siapkan makan malam yang lezat untukku.]


Riza dan Andyra mengobrol panjang lebar. Mereka berbicara tentang banyak hal. Terlihat Andyra sangat menikmati obrolannya dengan Riza. Riza pun tampak sesekali tersenyum.


Di sela-sela obrolan mereka, mata Riza tak henti-hentinya melirik ke arah ponselnya. Berulangkali ia mengecek layar ponsel miliknya.


"Kenapa tidak ada balasan apapun?" batinnya.


Riza ingin mengirim pesan kedua kalinya kepada Dilla. Namun, ia terlihat gengsi. Alhasil, ia hanya diam dengan pikiran yang berada entah dimana. Tidak adanya balasan dari Dilla membuatnya merasa tidak tenang.


Andyra memperhatikan gerak-gerik Riza.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Hah!" Riza sedikit terperanjat.


"Oh, aku tidak kenapa-napa!" sahut Riza cepat.


"Ayo minum!" sambungnya.


Riza dan Andyra menyeruput teh pesanan mereka seteguk demi seteguk. Mereka menghabiskan waktu mereka hingga tak terasa hari sudah hampir gelap.


Selanjutnya, mereka pun memutuskan pulang. Riza mengantarkan Andyra kembali ke rumah sakit karena mobil Andyra masih terparkir disana.


"Terima kasih ya. Aku sangat menikmati hari ini!" ujar Andyra.


"Sama-sama!" balas Riza.


"Aku langsung pamit ya. Bye!" Riza bergegas pamit pada Andyra.


"Hati-hati di jalan!" balas Andyra.


Riza mengangguk mengiyakan. Kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan Andyra di parkiran rumah sakit.


Sepanjang perjalanan pulang, Riza terus menerus menghubungi Dilla. Namun, tidak di angkat. Riza mencengkram kuat kemudinya sambil meracau tidak jelas.


Tak berapa lama, Riza pun akhirnya tiba di depan rumahnya. Tampak dari luar, rumah terlihat gelap gulita.


"Kenapa gelap sekali?, Apa dia belum pulang?" tanyanya dalam hati.


Riza pun langsung bergegas membuka pintu lalu menyalakan lampu.


Sambil berjalan, Riza mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah. Rumah yang terlihat sunyi dan sepi itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati.


Riza menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Ia menuju ke arah kamarnya mencari sosok Dilla.


Riza mencari Dilla ke setiap sudut ruangan. Ia pun mulai terlihat bingung sebab Dilla tidak biasanya seperti ini. Yang Riza tahu, Dilla adalah seorang gadis rumahan yang tidak doyan keluyuran kemana-mana. Kalau pun pergi, Dilla pasti berpamitan dahulu pada Riza.


Riza mencoba berpikiran positif. Ia kemudian kembali menghubungi ponsel Dilla. Namun, kali ini ponsel Dilla justru tidak aktif.


"Kemana perginya istriku ini?" pikirnya.


Riza kemudian berjalan ke arah dapur. Ia ingin menyegarkan tenggorokannya dengan air dingin.


Ia membuka pintu lemari es. Saat itulah Riza melihat sebuah pesan yang tertempel di pintu.


[Mas, saya pamit pulang ke desa selama tiga hari. Ibu saya sakit. Maaf yo mas, saya ndak sempat memasak makan malam buat mas. -Dilla-]


Riza akhirnya dapat menghela nafasnya lega setelah membaca pesan yang ditinggalkan Dilla. Ia lalu meraih ponselnya yang terselip di saku celana. Terlihat ia mengetikkan sesuatu.


Sementara di tempat lain, Dilla terlihat sudah tertidur dengan pulas di dalam bus yang akan mengantarkannya menuju desa kelahirannya.