My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/48



"Tidak!!" Riza menatap tajam ke arah Dilla.


"Kenapa mas?"


"Aku tidak suka kamu berkeliaran kemana-mana."


"Saya itu hanya les bahasa Inggris, Mas. Hanya belajar, bukan kelayapan." Dilla mencoba meyakinkan Riza.


Sedari tadi Dilla terus menerus membujuk Riza untuk mengizinkannya mengikuti kursus bahasa Inggris bersama dengan Kiki sebab Dilla memang sangat ingin menambah kemampuan dan kompetensi dirinya. Belajar merupakan hal yang sangat digemarinya. Namun, Riza terus saja menjawab tidak, tidak dan tidak.


Riza duduk di pinggiran ranjang seraya menatap tajam ke arah Dilla. Tiba-tiba sebuah pikiran aneh terbesit di otaknya. Riza mengisyaratkan Dilla agar mendekat padanya.


Dilla pun mendekati Riza.


"Duduk!" Riza menepuk sisi ranjang.


Riza membisikkan sesuatu ke telinga Dilla. Mata Dilla membulat.


"Bagaimana?" tanya Riza dengan senyum menggoda.


Dilla mengerutkan keningnya seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Riza tertawa melihat ekspresi keterkejutan Dilla. Sesaat kemudian, Dilla mendorong tubuh Riza hingga Riza terjerembab di atas ranjang. Lalu, Dilla berlalu pergi meninggalkan kamar Riza. Riza pun kembali tertawa seraya menggeleng.


Dilla masuk ke dalam kamarnya dan berusaha mengunci pintu tetapi tidak berhasil sebab pintu kamar Dilla rusak akibat didobrak paksa oleh Riza tadi malam.


Dilla kembali bergidik mengingat kata-kata yang dibisikkan oleh Riza di telinganya.


"Layani aku malam ini!"


Bisikan yang terus terngiang ditelinga Dilla. Dilla yang mulai panik, terus-menerus mondar-mandir di kamarnya.


"Aku harus bagaimana?. Kenapa mas Riza tiba-tiba memintaku untuk melayaninya?. Bagaimana kalau dia benar-benar menginginkan hal itu lalu memaksaku?. Bagaimana ini?" gumamnya seraya membayangkan hal-hal aneh dipikirannya.


Sementara itu di tempat lain, Riza masih tertawa bahagia di kamarnya mengingat bagaimana lucunya wajah Dilla saat ia menggodanya barusan.


"Pikiranku sudah mulai tidak waras. Bagaimana bisa aku mengatakan kata-kata itu padanya?" lirihnya seraya tersenyum.


Tiba-tiba ponsel Riza yang berada di atas nakas bergetar. Riza menghentikan aktivitasnya dan segera meraih ponselnya.


"Halo."


"Za, tolongin gue. Please?" ujar Niko.


"Ada apa?" jawab Riza datar.


Niko pun menjelaskan panjang lebar kepada Riza mengenai dirinya yang dibawa ke kantor polisi. Riza kemudian menyuruh agar Niko menghubungi orang tuanya saja karena ia sudah malas mengurus masalah Niko yang selalu berurusan dengan Polisi akibat kebiasaan buruk Niko yang selalu saja pergi ke diskotik dan minum-minuman keras. Namun, Niko menolak sebab orang tuanya pasti akan marah besar kalau sampai mereka tahu apa yang terjadi padanya. Niko terus menerus memohon. Akhirnya, Riza pun bersedia membantu Niko untuk ke sekian kalinya.


Riza mendatangi Dilla di kamarnya. Saat Riza memutar gagang pintu, cepat-cepat Dilla menahan pintu dari dalam.


"Buka pintunya!" teriak Riza.


"Mas mau apa?. Saya ndak terima tamu malam-malam," sahut Dilla ketakutan.


Riza tertawa tertahan.


"Aku mau keluar sebentar. Kamu tidur saja duluan, tidak perlu menungguku. Jangan lupa kunci pintu depan," teriak Riza dari balik pintu.


"Siapa juga yang mau menunggu?" gumam Dilla lirih.


Riza pun berlalu pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai motor sport kesayangannya. Sesaat kemudian Dilla turun dan mengunci pintu.


--------


Setelah menelepon Riza, Niko kembali duduk di kursinya berhadapan dengan polisi. Polisi meminta kartu identitas tiga orang didepannya. Mereka bertiga memberikan kartu identitas mereka kepada polisi.


"Kenapa lama sekali pemeriksaannya?. Apa tidak bisa dipercepat?" sinis Nana.


Polisi menatap tajam ke arah Nana lalu kembali mengetik laporan di komputer. Saat polisi mengetik identitas Nana, polisi tampak terkejut. Sesaat kemudian polisi berdiri tegap lalu memberi hormat. Nana membalas. Niko menatap heran ke arah polisi dan Nana.


"Ada apa ini?" Niko berbisik lirih.


"Maaf, Bu!" ujar polisi.


Nana berdehem singkat lalu berkata, "Masukkan pria brengsek itu ke dalam sel," ucapnya seraya menunjuk ke arah si pria mabuk.


Nana melanjutkan, "Masukkan juga pria itu bersama dengannya. Karena dia sudah merusak rencanaku malam ini!" sinisnya.


"Baik, Bu!" Polisi langsung menarik Niko dan pria mabuk masuk ke dalam sel tahanan.


Niko akhirnya hanya pasrah dengan nasib yang menimpanya. Yang bisa ia lakukan hanya diam dan menunggu hingga Riza datang menolongnya.


Tak berapa lama, Riza pun tiba di kantor polisi. Riza langsung menemui petugas polisi lalu memberikan jaminan sebagai syarat agar Niko dibebaskan. Setelah itu polisi pun akhirnya membebaskan Niko keluar dari sel.


Saat keluar dari kantor polisi, mereka berpapasan dengan Nana. Niko langsung meluapkan emosinya kepada Nana. Nana hanya diam mendengar ocehan Niko. Niko pun terus menerus berbicara.


"Kamu Riza, kan?" Nana memandang ke arah Riza dan mengabaikan Niko yang masih berbicara panjang lebar.


Riza tidak menjawab. Ia hanya diam dengan wajah datarnya.


"Loe kenal, Za?" tanya Niko.


Riza menggeleng.


"Aku Nana. Yang waktu itu membawa kamu ke rumah sakit sewaktu kamu pingsan di bandara. Kamu nggak ingat sama aku?" jelas Nana panjang lebar menanti jawaban Riza penuh harap.


"Oh!"


Gubrak!!


Nana syok hebat. Bagaimana tidak, Nana yang merupakan anak seorang jenderal polisi sekaligus salah satu model papan atas Indonesia hanya mendapat respon "Oh!" saja dari Riza.


"Oh My God. Ini orang ganteng apa hidup di goa?. Nggak di rumah sakit. Nggak disini. Dia masih nggak tahu siapa gue?."


Nana menarik nafas panjang, "Sabar Nana!" lirihnya seraya mengelus dada.


"Boleh minta nomor handphone?" sambung Nana tersenyum manis.


Riza terlihat risih.


"Eh, loe itu apa-apaan sih. Emangnya loe siapa?. Minta nomor orang seenaknya!" sahut Niko.


"Minggir!" sinis Nana seraya meletakkan telapak tangannya tepat di depan wajah Niko mendorongnya menjauh.


"Boleh ya minta nomor handphone kamu?. Aku ini model terkenal, loh. Kamu pasti bakal bangga bisa temenan sama aku." Nana menatap Riza dengan senyum terbaiknya.


"Maaf."


Riza segera menarik Niko menjauh pergi meninggalkan Nana yang berdiri mematung di depan kantor polisi.


"Rasain loe!" teriak Niko ke arah Nana.


Nana kesal.


"Awas loe ya!" teriaknya seraya menunjuk ke arah Niko.


Niko menjulurkan lidahnya ke arah Nana.


--------


Setibanya di rumah, Riza bergegas membuka pintu dengan kunci duplikat miliknya. Riza menaiki anak tangga menuju ke arah kamar Dilla, memastikan Dilla sudah tertidur atau belum. Namun, itu hanyalah modus belaka. Sebenarnya Riza berniat melakukan hal lain pada Dilla malam itu. Dasar Riza.


Riza memutar gagang pintu.


"Syukurlah tidak di kunci," gumamnya lirih.


Riza mendekat ke arah Dilla yang sedang tertidur pulas. Menarik selimut lalu mendekatkan tubuhnya mendekap Dilla yang tengah tertidur dengan erat.


Dilla menggeliat pelan kemudian membalas dekapan Riza dengan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya yang tengah tersenyum sumringah sebab misinya memeluk Dilla lagi malam ini sepertinya akan berhasil.


Sesaat kemudian, Riza memejamkan matanya seraya memeluk Dilla erat.


"Haciihhh..!!"


Seketika Riza melepaskan pelukannya dan Dilla membuka mata perlahan.


"Haciihhh..!!"


Saat menyadari keberadaan Riza di dekatnya, Dilla menatap Riza penuh selidik, "Mas sedang apa di kamar saya?"


Riza tidak menjawab pertanyaan Dilla karena terlalu sibuk dengan bersin-bersinnya. Sesaat kemudian, Riza berlari meninggalkan kamar. Dilla tertawa cekikikan sesaat setelah kepergian Riza.


Selanjutnya, Dilla menyibak selimutnya lalu menggendong kucing yang memang sengaja diletakkannya di bawah selimut sebagai antisipasi jika Riza melakukan hal-hal aneh padanya malam ini.


Dilla tertawa bahagia penuh kemenangan karena telah berhasil memporak-porandakan misi nakal Riza.