My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/135



"Tidak, Thom!. Aku tidak mau menemui gadis itu. Kau tau kan apa masalah ku dengannya. Kalau aku menemuinya pasti dia akan mencakar wajahku. Tidak, aku tidak mau."


Sudah setengah jam Thomas berusaha membujuk Henzhie. Thomas tidak habis pikir, ia mengira Henzhie akan bersedia membantunya tapi kenyataannya tidak demikian. Pasalnya si gadis keras kepala itu terus saja menolak permintaan Thomas dengan berbagai alasan.


Padahal alasan Henzhie sebenarnya ialah karena Henzhie tidak ingin menemui Riza, sebab ia ingin memulai lembaran baru dan mengubur Riza dari hatinya.


"Bagaimanapun aku tidak mau pergi ke sana!. Titik!"


"Ya sudah kalau begitu, kau saja yang pergi ke rumah itu," ucap Aldrich ke arah Thomas.


"Tuan kan tau sendiri, kalau saya--"


Aldrich memotong, "Tapi, kalau kau tertangkap oleh ayahku. Apa boleh buat, aku tidak bisa melindungi dirimu kali ini."


Henzhie melirik Aldrich, mendengar kemungkinan saudaranya itu akan tertangkap oleh Adam membuat Henzhie berubah pikiran.


"Oke, baiklah. Aku akan kesana."


Thomas tersenyum lega.


Aldrich menimpali, "Oke. Tugasmu sederhana. Kau hanya perlu bertemu Dilla dan meminta ponselku darinya."


"Jadi kau melakukan ini hanya demi ponsel?!"


Aldrich mengangguk.


"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lebih jauh tentang hal itu. Kapan aku bisa mulai?" tanya Henzhie cepat.


"Besok pagi."


"Baiklah," jawab Henzhie dengan wajah pasrah.


"Masalah beres. Ayo kita pulang," ajak Aldrich pada Thomas.


Thomas mengangguk pelan.


"Jaga dirimu baik-baik Thom," ucap Henzhie pada Thomas sesaat setelah pelukan mereka berakhir.


"Terima kasih."


Thomas tersenyum mengiyakan.


...----------------...


Di rumah sakit, Kia tampak sibuk didepan layar komputer miliknya. Sejak ia tahu siapa pria yang ada dalam foto misterius tempo hari. Gadis itu pun sibuk tiada henti mencari informasi tentang Aldrich.


Dan usahanya membuahkan hasil. Kia menemukan sebuah artikel tentang Aldrich. Artikel itu bercerita tentang Aldrich yang dikenal berprofesi sebagai seorang pianis muda berbakat bahkan Aldrich juga banyak memenangkan penghargaan mancanegara.


Kia juga mendapatkan informasi saat berselancar di internet bahwasanya Aldrich mengidap penyakit jantung sejak lama sehingga membuatnya harus menghentikan aktifitasnya sebagai seorang musisi dalam waktu yang tidak sebentar.


Saat membaca itu, Kia merasa miris dan iba pada Aldrich.


Artikel itu juga menyebutkan semenjak sakit Aldrich tinggal di rumahnya yang ada di Belanda. Namun, sayangnya Kia tidak menemukan informasi apapun tentang Aldrich yang berhubungan dengan saudara kembarnya.


Kia menatap bingkai potret Raja dan dirinya dengan pandangan sedih. Dalam benaknya ingin sekali ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara saudara kembarnya itu dengan Aldrich. Ada hubungan apa diantara mereka berdua. Kenapa Aldrich menjadi orang yang bertanggung jawab atas kematian Raja. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di pikiran Kia yang membuatnya makin bertambah frustasi.


Harus bagaimana lagi caranya untuk memecahkan semua misteri ini. Mengungkap rasa penasarannya yang kian di ubun-ubun itu.


Kia memainkan bolpoin yang ia pegang. Mengetuk-ngetuk bolpoin tersebut di meja hingga menimbulkan suara nyaring.


"Oke. Aku akan cari dimana tempat tinggal pemuda itu di Belanda."


Kia memainkan kembali jarinya di atas keyboard.


"Sial. Alamat nya nggak ada lagi."


Tidak kehabisan akal, Kia pun menelepon rekan kerjanya yang bekerja sebagai petugas resepsionis rumah sakit. Berharap temannya itu dapat membantunya mencari informasi. Namun, informasi yang diinginkan Kia masih belum juga dapat ditemukan sebab temannya berkata sulit menemukan data pribadi dari pasien VVIP di rumah sakit ini.


"Baiklah. Terima kasih," ucap Kia tidak bersemangat.


Kia yang tidak kehilangan akal kemudian berniat melancarkan rencana yang selanjutnya. Kali ini ia berniat untuk masuk ke dalam ruang arsip milik rumah sakit tempat dimana ia bekerja. Ia akhirnya nekat melakukan hal ini padahal ia tahu konsekuensi apa yang akan didapatnya nanti jika ia sampai ketahuan oleh petugas.


Bodo amat, pikirnya.


Kia pun meminta izin pada rekannya untuk meninggalkan ruang jaga.


Kini Kia sudah berada di depan ruang arsip yang sialnya ruangan itu ternyata terkunci rapat. Sesaat berikutnya Kia kemudian berjalan menuju ke pos petugas yang berada di ujung koridor.


Kia mengintip ke dalam pos. Tidak ada seorangpun disana.


Syukurlah, batinnya.


Kia pun langsung mengambil segerombolan kunci yang tergantung di dinding dengan cepat lalu kabur dari sana sebelum petugas memergokinya.


Nafas Kia terengah saat dirinya tiba didepan pintu ruangan yang ingin ia buka. Berlari sungguh membuatnya ngos-ngosan. Kia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mencoba satu persatu kunci yang tadi dicurinya.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, Kia pun tertangkap tangan tepat saat ia berhasil membuka pintu didepannya.


"Sedang apa kamu disini?"


Petugas itu pun menarik paksa semua kunci yang Kia pegang. Kia yang tertangkap basah hanya bisa pasrah saat petugas membawanya pergi dari sana. Kia pun harus rela rencananya kali ini gagal total.


...----------------...


Riza sedang berdiri didepan pintu kamar Dilla. Ia merasa khawatir sebab sejak tadi siang, Dilla tidak keluar dari kamarnya. Bahkan Dilla melewatkan makan siangnya hari ini.


Riza mengetuk pintu kembali. Tidak ada sahutan dari dalam. Perlahan ia memutar gagang pintu dan menerobos masuk kedalamnya.


Kemana dia?, batinnya.


"Ada apa Mas?" terdengar suara dari Dilla yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Riza padanya.


Dilla mengangguk kemudian kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Tak lama, ia kembali menyibak selimut lalu masuk ke dalam kamar mandi lagi.


"Huekkk. Huekkk."


Dilla kembali mengeluarkan isi perutnya.


Riza menghampiri Dilla disana. Riza memijat-mijat leher belakang Dilla dengan lembut.


"Apa sesakit itu?" ujarnya pelan.


Dilla mengangguk sembari terus memuntahkan cairan dari mulutnya.


"Aku buatkan air jahe hangat ya. Biar kamu enakan."


Riza bergegas ke dapur untuk membuatkan segelas air jahe hangat untuk Dilla. Saat di dapur, Riza berpapasan dengan Mami.


"Kamu lagi ngapain sayang?"


"Oh, ini Riza lagi buatin air jahe, Tan."


"Loh, kamu sakit?"


"Bukan buat Riza, tapi buat Dilla. Kasihan dia, dari tadi muntah-muntah terus."


"Ini kan udah malem sayang, kamu nggak capek apa?. Kamu itu harus istirahat. Biar kamu cepet sembuh. Kamu nggak perlu repot-repot ngurusin Dilla, dia bisa kok urus diri dia sendiri. Dia kan udah gede."


"Nggak pa-pa Tan. Riza baik-baik aja kok. Riza nggak tega sama Dilla, mukanya itu udah pucet banget. Oh, iya Tante kok belum tidur?"


"Iya, ini Mami lagi nungguin papi kamu pulang. Katanya ada rapat di kantor, nggak tau rapat apaan. Sampe jam segini belum pulang."


"Oh."


"Papi kamu belakangan ini aneh tau sayang."


"Aneh gimana maksud Tante?"


"Papi kamu itu sekarang jadi sering pulang telat malem, sering ngelamun, terus seringnya ngobrol di telepon sambil ngumpet-ngumpet. Mami jadi curiga kalau papi kamu itu ada selingkuhan di luar sana."


"Astaga Tante. Nggak mungkin dong Om Dirwan kayak gitu. Tenang aja ya Tan. Itu semua cuma pikiran aneh Tante aja. Udah ah, Riza mau bawain air jahe nya dulu buat Dilla. Good night."


"Good night sayang," ucap Mami sambil tersenyum kecut.


"Gadis itu masih aja cari perhatian Riza. Bikin kesel aja!"


tok


tok


"Kamu udah tidur?" tanya Riza sesaat setelah membuka pintu.


"Belum. Kenapa Mas?"


"Aku bawain air jahe buat kamu. Minum dulu."


Dilla menyibak selimut lalu meraih gelas air yang disodorkan Riza.


"Hati-hati masih panas."


Dilla meneguk air jahe cinta buatan Riza dengan perlahan.


"Gimana udah enakan perutnya?"


Dilla menggeleng.


"Apa masih sakit?"


Dilla mengangguk.


"Kamu tunggu disini ya. Aku buatin airnya lagi."


"Hatiku yang sakit. Sakit banget," lirih Dilla.


Riza terdiam.


"Apa kamu mau terus begini Mas?"


Riza tidak menjawab.


"Jawab Mas. Kalau kamu diem, aku anggep itu artinya iya," cecar Dilla.


"Lebih baik kamu istirahat. Besok aku buatkan air jahe lagi. Aku mau balik ke kamarku."


"Bukannya ini kamar kamu juga?. Harusnya aku yang pergi dari sini, bukan kamu."


"Tidurlah. Kita bicara lagi besok."


Riza melangkah meninggalkan Dilla dan menutup pintu perlahan.


Apa besok aku masih punya kesempatan Mas?, batin Dilla sembari menyeka air matanya.