
"Dilla, kamu ikut mami ke Jakarta," ucap mami tiba-tiba tanpa basa-basi.
Dilla yang mendengar suara ibu mertuanya itu pun segera menghentikan aktivitasnya lalu menoleh heran ke arah mami. Tumpukan piring kotor didepannya pun langsung ia abaikan saat itu juga.
Dilla segera membasuh tangan lalu menyeka sisa air ditangannya dengan celemek yang ia pakai.
"Kenapa mami tiba-tiba mengajak saya ke Indonesia?" sahut Dilla lemah, memulai percakapan.
"Kamu tidak perlu tau alasannya. Pokoknya kamu harus ikut, tidak ada alasan," tegas mami terkesan memaksa.
Dilla mengernyitkan dahinya, bingung bercampur takut. Bahkan ia dengan hati-hati memilih ucapannya, berusaha membuat mami agar tidak tersinggung. Mengusik singa betina didepannya sama saja dengan menyerahkan nyawa.
"Dilla akan minta izin ke mas Riza dulu, Mi. Kalau mas Riza izinkan, Dilla ikut."
"Masalah Riza, biar mami aja yang ngomong ke dia. Pokoknya kamu nurut aja."
Setelah menyelesaikan kata-katanya, Mami pun pergi meninggalkan Dilla yang masih termangu di belakang.
...----------------...
Sementara itu di Jakarta, Nana yang sedang asyik berjoget diatas lantai dansa tanpa sengaja ditabrak oleh seorang pria yang berjalan sempoyongan kearahnya.
Dengan kesal Nana memarahi pemuda itu.
"Heh, punya mata nggak sih Lo," sarkasnya sedikit berteriak.
Pria itu tersenyum sebelum menaikkan wajahnya menghadap Nana.
"Minggir!!!" bentaknya tepat di wajah Nana.
Nana terperangah saat menyadari kalau orang itu adalah Niko, pria yang selalu bersama dengan Riza kemanapun pemuda itu pergi.
Tak lama Niko kembali menabrak seseorang, kali ini ia menabrak seorang wanita hingga membuat wanita itu terjatuh. Tubuh tegap Niko menindih tubuh mungil wanita tadi.
Melihat hal itu, dengan cepat Nana pun segera menarik Niko untuk berdiri kemudian ia meminta maaf pada gadis itu.
Nana pun membawa Niko pergi dari sana. Sesekali terdengar Niko meracau tidak jelas saat Nana mencoba untuk memapah Niko berjalan keluar dari klub.
"Gue sayang sama lo. Gue yang cinta sama lo, bukan Riza. Apa sih hebatnya Riza ketimbang gue?. Kenapa harus Riza, hah?!. Kenapa nggak ada yang peduli sama gue?"
"Lo parkir dimana?" tanya Nana.
Sambil terhuyung, Niko kemudian mengeluarkan kunci mobil lalu memberikannya pada Nana.
"Nyusahin aja!," kesal Nana.
Sambil menggerutu, Nana memencet tombol kunci hingga terdengar suara alarm mobil. Nana kemudian kembali memapah Niko ke arah suara alarm muncul.
Nana menidurkan Niko di kursi belakang lalu menutup pintu mobil dengan terlebih dahulu menghidupkan AC agar Niko tidak pengap.
Baru sesaat Nana berbalik, ia terperanjat kaget saat mendengar suara teriakan Niko. Dengan bergegas, Nana menghampiri mobil lalu membuka pintu.
Namun, tiba-tiba Niko memeluk Nana sesaat setelah pintu terbuka.
Nana yang bingung hanya bisa diam saat Niko memeluknya dengan erat, tak lama Niko mulai terisak.
Nana sempat menarik tubuhnya, karena tidak nyaman. Namun, Niko kembali menarik Nana lalu memeluknya erat.
Kali ini Nana tidak mencoba menenangkan Niko dengan mengusap-usap pundak datar pria didepannya.
Niko menangis sejadi-jadinya.
Tiga jam kemudian, Niko membuka mata. Sayup-sayup ia mendengar suara seorang wanita yang sedang tertawa terdengar jelas dari balik dinding ruangan yang entah dimana itu.
Niko memijat kepalanya yang masih terasa pusing kemudian ia mengambil segelas air dari atas nakas sambil mengucek kedua matanya yang belum terbuka sepenuhnya.
Saat kesadarannya terkumpul, mata Niko menarik sudut setiap ruangan. Niko merasa asing dengan tempat ia berada saat ini.
Niko lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu perlahan.
Terlihat Nana tertawa sambil memegang ponsel ditangannya. Niko segera menyadari kalau ia sedang berada di rumah gadis itu. Niko segera menghampiri Nana yang saat itu sedang duduk di ruang tamu.
"Ngapain Lo bawa gue ke rumah Lo?. Sini pakaian gue, gue mau pulang."
Nana menjawab santai, "Harusnya Lo bilang makasih ke gue."
"Iya, makasih. Tapi sebenernya Lo nggak perlu repot-repot, gue nggak butuh bantuan kok."
Nana kemudian bangkit dari duduknya lalu berhadapan dengan Niko. Nana berdiri tepat didepan pemuda itu.
Niko seketika terpesona saat melihat wajah cantik alami Nana yang tanpa polesan makeup, sebab biasanya dimana pun Niko bertemu gadis didepannya, gadis itu selalu berpenampilan glamor dengan wajah yang penuh polesan makeup disana sini.
Niko memperhatikan tampilan Nana dari atas sampai bawah, penampilan Nana kali ini sangat berbeda dari biasanya.
Gadis itu tampak memakai daster merah muda motif polkadot dengan sandal slip on berwarna senada berhiaskan kepala boneka kucing diatasnya. Roll rambut merah muda yang masih menggulung di kepala Nana tampak menghiasi rambut hitam pekat miliknya. Nana terlihat cantik dan manis di mata Niko.
Niko tersenyum melihat ke arah Nana. Sementara Nana tampak kesal dengan lirikan Niko.
"Apaan Lo ngeliatin gue?"
"Lo cantik," jawab Niko singkat dengan masih tersenyum.
"Lo jangan macem-macem sama gue. Salah-salah bisa gue dor pala Lo."
"Lo udah punya pacar? atau calon suami?. Kalo belum, mau nikah sama gue?" tembak Niko tanpa ba-bi-bu.
Nana tampak kaget.