My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/19



Dilla masih mengikuti langkah Riza dari belakang. Mereka memasuki mobil kemudian melaju meninggalkan bandara.


"Mas, kita mampir ke swalayan ya. Temani saya belanja, soalnya bahan-bahan dapur sudah habis, Mas!" Dilla melihat ke arah Riza.


Riza hanya diam saja di balik kemudinya, menatap lurus ke arah jalan yang ada di depannya.


"Apa mas Riza masih sedih?" Dilla membatin.


"Mas!" Dilla mengulangi ucapannya.


"Iya, aku dengar!" sahut Riza santai.


Dilla mengangguk pelan.


"Mas, ngomong-ngomong mas kenapa sampai berurai air mata seperti tadi?" tanya Dilla penasaran.


"Apa mas sesedih itu ditinggal sama papi?" sambungnya lagi.


"Tidak ada obrolan pribadi!" jawab Riza singkat, seolah berkonsentrasi di balik kemudinya.


Dilla terdiam. Ia menarik nafas dalam, mencoba menahan mulutnya agar tidak mengumpat suaminya itu.


Riza kemudian memarkirkan mobilnya di sebuah swalayan yang berada tidak jauh dari rumahnya.


"Turun!" perintahnya.


Dilla bergegas membuka pintu dan keluar dari mobil. Riza mengambil dompet dari balik saku celananya.


"Pakai ini dan cepatlah berbelanja!, Aku tunggu di mobil!" Riza memberikan kartu kredit miliknya kepada Dilla.


"Beli apapun yang kamu perlukan dan cepat kembali!" ucapnya singkat.


Dilla hanya mengangguk mengiyakan dan tidak bertanya panjang lebar lagi. Karena ia sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Riza jika ia banyak bertanya.


Dilla melangkahkan kakinya menuju pintu masuk swalayan. Dilla mengambil troli di sudut swalayan kemudian mendorong troli tersebut masuk.


Saat Dilla sedang asyik memilah dan memilih sayuran. Ia mendengar suara seseorang memanggil namanya.


"Dilla??"


Dilla kemudian menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Fahmi sedang berdiri dihadapannya.


"Mas Fahmi?" Dilla berbalik menghadap Fahmi.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Fahmi.


"Oh, sama suami aku mas tapi dia tidak ikut masuk, dia menunggu di mobil!" jawab Dilla.


"Oh..." Fahmi mengangguk pelan.


Di dalam hati, Fahmi mengucap syukur karena saat ini ia punya kesempatan berduaan dengan Dilla.


"Kamu tidak masuk kuliah hari ini?" Fahmi memulai pembicaraan.


"Tidak mas," jawab Dilla singkat sembari mendorong trolinya.


Dilla memilih beberapa sayuran kemudian memasukkannya ke dalam troli.


"Hari ini aku ikut bersama mas Riza mengantarkan mami dan papi ke bandara. Jadi aku memutuskan tidak masuk kuliah," sambung Dilla sembari memasukkan sayuran ke dalam troli.


"Mas Fahmi mau beli sayuran juga?" tanya Dilla.


Fahmi terperanjat. Ia pun langsung menjawab cepat.


"Oh, iya!. Kebetulan sayuran di rumah aku udah habis. Duh, aku beli yang mana ya?" Fahmi berpura-pura bingung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Oh. Ya sudah mas, aku duluan ya. Aku mau ke ujung sana beli bahan-bahan dapur yang lain" Dilla kembali mendorong trolinya.


"Tunggu Dilla!"


Fahmi pun mengambil asal sayuran dari dalam display lalu memasukkannya ke dalam keranjang yang dijinjingnya sejak tadi.


Fahmi mengikuti kemanapun Dilla pergi. Bahkan Fahmi mengambil asal barang-barang dari rak-rak yang ada di swalayan.


"Maaf ya, tadi malam aku telefon kamu malem-malem." Fahmi memulai obrolannya kembali.


"Soalnya, aku kangen sama kamu, Dilla!" sambung Fahmi lagi.


Dilla hanya diam dan terus melajukan trolinya seolah tidak mendengar kalimat Fahmi.


Sementara itu, Riza yang sedang menunggu di dalam mobil terlihat berulang kali melirik jam di pergelangan tangannya.


"Kenapa dia lama sekali?" Riza menatap ke arah pintu keluar swalayan.


Riza bermaksud menelefon Dilla namun seketika ia ingat kalau ia belum menyimpan nomor Dilla di ponselnya.


Riza yang sudah merasa bosan menunggu akhirnya memutuskan turun dari mobilnya dan berniat menyusul Dilla.


Saat Riza menutup pintu mobil, ia melihat Dilla berjalan keluar dari swalayan bersama dengan Fahmi.


Riza menatap mereka dari kejauhan sambil bersandar di mobilnya.


"Dia lagi, dia lagi!" bisik Riza di dalam hati.


Fahmi menatap Riza tajam saat menyerahkan barang-barang belanjaan milik Dilla yang ada ditangannya.


Riza tampak membuka bagasi mobil lalu memasukkan barang-barang belanjaan tersebut ke dalamnya.


"Terima kasih ya mas, sudah mau membantu membawakan belanjaan saya!" ucap Dilla sambil tersenyum.


"Iya, sama-sama Dilla. Aku ikhlas melakukan apapun buat kamu!" jawab Fahmi yang mulai melancarkan jurusnya kembali.


Deg!!!


Dilla terpaku mendengar kalimat indah itu keluar dari mulut Fahmi, sudah lama sekali rasanya ia tidak mendengar kalimat itu. Ia menatap Fahmi lama.


Tidak bisa ia pungkiri bahwa Fahmi memang cinta pertamanya dan setiap menatap Fahmi membuat darahnya berdesir. Perasaan cinta itu berhasil mengalahkan akal sehatnya.


Benar kata orang, cinta pertama itu memang sulit dilupakan.


Riza kemudian menatap mereka sekilas. Lalu dengan cepat ia menarik lengan Dilla, mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Lamunan Dilla seketika buyar, saat tangan Riza menarik lengannya cepat. Tanpa basa basi, Riza meninggalkan Fahmi dan melajukan mobilnya.


"Sialan!" geram Fahmi.


Lagi-lagi Fahmi melontarkan sumpah serapahnya kepada Riza. Selanjutnya ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil miliknya.


Di dalam mobil Riza, Dilla tampak melamun mengingat obrolannya dengan Fahmi di swalayan.


"Apa aku masih belum bisa melupakan mas Fahmi?. Kenapa rasanya seperti ini setiap kali aku mendengarnya mengucapkan kalimat rayuan padaku?" bisiknya dalam hati.


Riza berdehem keras.


Lamunan Dilla pun seketika buyar kembali. Dilla melihat ke arah Riza yang masih terlihat berkonsentrasi di balik kemudinya.


"Ini, Mas!" Dilla mengembalikan kartu kredit milik Riza.


"Tadi tidak jadi dipakai, mas. Soalnya saya tidak tahu nomor PIN nya!" ucap Dilla kembali.


Riza mendengus kesal.


"Kenapa tidak tanya?" Riza menggenggam kemudinya erat.


"Tidak ada obrolan pribadi..!" Dilla menirukan suara dan kata-kata Riza.


Melihat Dilla yang terkekeh saat menirukan suara dan kata-katanya, membuat Riza refleks mencubit pipi mulus Dilla hingga membuat Dilla mengaduh kesakitan.


"Aww!!, sakit mas." Dilla memegang tangan Riza yang ada di pipinya.


Seketika jari jemari mereka pun bersentuhan, sekilas Riza melihat ide-ide dan inspirasi bermunculan di kepalanya. Ia pun cepat-cepat menghentikan cubitannya dari pipi Dilla.


Dilla mengelus-elus pipi putihnya yang kini telah memerah. Sementara Riza, sebenarnya ia sedikit gugup karena memegang pipi Dilla barusan namun ia menutupinya dengan pura-pura berkonsentrasi dengan kemudinya.


Dilla melanjutkan kata-katanya, "Ya sudah, besok mas berikan saya uang tunai saja. Soalnya tadi saya pinjam uangnya mas Fahmi buat bayar. Saya sudah janji mau kembalikan uangnya besok," jelas Dilla kepada Riza.


"Minta saja nomor rekeningnya, nanti aku transfer!" balas Riza singkat tanpa melihat ke arah Dilla.


"Terserah mas saja!" jawab Dilla sembari memegangi pipinya yang masih terasa sakit.


Tidak lama, mereka pun telah tiba di rumah. Riza langsung membawa masuk barang-barang belanjaan yang ada di bagasinya. Dilla bermaksud membantu namun Riza melarangnya.


Riza meletakkan barang-barang tersebut di atas meja dapur. Kemudian Riza mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas. Riza langsung meneguk air tersebut karena sedari tadi ia memang sudah sangat haus.


"Selesai makan malam, datanglah ke ruang kerjaku. Aku akan mulai menulis naskah novelku malam ini!"


Riza berkata dalam satu tarikan nafas kemudian berlalu meninggalkan Dilla yang sedang sibuk menyusun barang-barang belanjaan ke dalam lemari dan kulkas.


Karena Dilla terlalu fokus pada kegiatannya, Dilla tidak mendengar jelas kata-kata Riza.


Dilla berpikir sejenak sambil mengerutkan dahinya, "Mas Riza bicara apa ya barusan?"