My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/97



Hingga hari berganti malam, ayah Niko belum juga pulang ke rumah. Sudah berulang kali Niko menghubungi ponsel ayahnya. Namun, sang ayah tak kunjung menjawab panggilan darinya.


Akhirnya Niko pun menawarkan pada Dilla agar menginap saja di rumahnya dikarenakan malam yang sudah semakin larut. Lagipula Niko tidak tega jika harus membiarkan Dilla sendirian di rumah Riza dengan kondisi seperti itu.


Dilla sempat menolak dan meminta agar Niko mengantarkannya saja kembali ke rumah sakit sebab ia merasa perasaannya tidak enak. Entah kenapa sedari tadi ia terus kepikiran pada Riza.


Niko pun berusaha membujuk Dilla hingga akhirnya Dilla pun setuju menerima tawaran Niko untuk menginap di rumahnya.


Malam sudah hampir memasuki dini hari, akan tetapi Dilla masih saja terjaga. Ia terlihat sangat gelisah. Perasaannya benar-benar tidak tenang saat ini.


"Kenapa perasaanku ndak enak, ya?. Ya Allah, jagalah suami hamba disana," lirihnya.


Di rumah sakit, suara teriakan histeris menggema dari kamar Riza. Riza tampak duduk di sudut ruangan sambil memeluk erat kedua kakinya. Wajah setengah pucat itu memandang satu persatu orang yang ada didepannya dengan sorot mata ketakutan. Sejak tiga puluh menit yang lalu Riza terus saja berteriak dan menjerit tiada henti.


Dokter dan suster pun sudah mencoba untuk menenangkan Riza. Namun, bukannya tenang, ia justru semakin histeris. Riza terus saja mengamuk dan mendorong setiap orang yang mendekat kearahnya hingga terjatuh ke lantai.


"Pergi!. Pergi!!!. Jangan. Jangan," ujarnya ketakutan.


"Tenang, Riza. Tenang." Papi mencoba mendekat ke arah Riza.


Riza merangkak naik ke atas ranjang, melemparkan apapun yang ada disekitarnya mengarah pada setiap orang yang mendekat ke arahnya. Kegaduhan pun sulit terhindarkan. Riza benar-benar tidak terkendali.


"Pergi!. Pergi!!!. Jangan. Jangan," Riza mengulangi kalimatnya penuh ketakutan.


Terakhir Riza meraih gelas yang ada diatas nakas lalu membantingnya hingga hancur dan pecah berkeping-keping.


"Pergi. Pergi!!!!" teriaknya. "Agggghhhh... Pergi kalian. Pergi!!!. Jangan. Jangan!"


Dari jauh, mami hanya mampu melihat setiap amukan puteranya itu dengan tatapan sedih. Hatinya benar-benar hancur saat melihat kondisi puteranya saat ini.


Riza yang ada didepannya tampak seperti Riza dua belas tahun yang lalu. Riza yang pemarah, kasar dan sulit dikendalikan.


Peristiwa menyakitkan yang pernah dialami oleh Riza sepertinya akan kembali membuat hidup pria itu terpuruk. Mami pun semakin terisak saat mendengar teriakan Riza yang semakin menjadi-jadi.


Sesaat berikutnya, Riza turun dari ranjang berniat memungut pecahan kaca yang ada di lantai. Riza berjalan perlahan tanpa alas kaki dan tanpa sadar menginjak pecahan kaca yang ada dibawahnya. Sedikit demi sedikit darah mengalir dari bawah kakinya.


Riza mengacungkan beling yang ada ditangannya mengarah pada orang-orang yang tengah mengepungnya saat ini.


"Pergi!. Pergi!!!. Jangan mendekat."


"Jauhkan benda itu, Riza. Ini om Dendi, kamu tenang, ya."


Dendi mendekati Riza perlahan.


"Tidak. Tidak. Kamu pembunuh. Kalian semua pembunuh. Jangan mendekat."


"Kami ini keluargamu. Kami bukan pembunuh. Kami tidak akan menyakitimu. Kamu percaya kan sama om. Ini Om Dendi, Riza."


"Bohong. Jangan mendekat."


Dendi mengangguk pelan, mengisyaratkan agar orang-orang yang mengepung Riza ikut mendekat perlahan.


"Berhenti!" ancam Riza seraya menempelkan beling tepat diatas nadi tangannya.


Semua orang terdiam. Hening.


Tiba-tiba, dengan gerakan cepat Riza menyayat pergelangan tangannya berulang kali hingga darah segar pun mengalir deras dan menetes jatuh ke atas lantai. Tak lama setelahnya Riza jatuh tersungkur di atas lantai dengan tubuh yang sudah terkulai lemas.


Semua orang menjerit dan segera mendekat kearahnya. Suara kepanikan berdenging di telinga Riza.


Samar-samar mata sayunya menangkap sosok seorang gadis sedang berjalan ke arahnya. Riza menatap wajah gadis itu lama. Perlahan gadis itu mendekat lalu menyentuh wajahnya dengan tatapan sedih.


"Kamu siapa?" lirih Riza pada sosok itu dengan kondisi setengah sadar dan pandangan mata yang mulai mengabur.


Sesaat kemudian ia memejamkan mata dan jatuh tak sadarkan diri.


Di tempat berbeda, Dilla tersentak tiba-tiba saat matanya baru sedetik terpejam. Tangannya meraba dadanya perlahan. Dadanya terasa berdebar kencang sehingga membuatnya sulit untuk mengatur helaan nafasnya.


Perasaan tidak tenang itu pun semakin menjadi-jadi. Pikirannya terus terpaut pada seseorang disana. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada orang tersebut.


Sesaat kemudian, Dilla pun segera meraih ponsel yang ada di atas nakas lalu menghubungi nomor papi dengan air mata yang kini sudah membasahi pipinya.


Dilla menggigit bibir bawahnya gusar saat menunggu panggilannya yang tak kunjung tersambung. Karena tidak sabar, Dilla pun segera beranjak keluar dari kamar lalu mengetuk pintu kamar Niko.


Niko mengerjap saat mendengar suara ketukan pintu. Ia segera bangkit dan berjalan gontai dengan mata setengah menutup.


"Siapa?" jawabnya sambil berjalan.


"Saya Dilla, Mas."


Pintu terbuka.


"Kenapa Dilla?. Lo butuh sesuatu?"


Niko melirik jam yang ada di dinding, "Ya ampun Dilla, ini itu masih jam tiga pagi. Lagian Riza pasti lagi istirahat."


"Saya minta tolong, Mas. Saya benar-benar kepikiran terus sama mas Riza. Saya takut mas Riza kenapa-kenapa. Tolongin saya, Mas!" ucapnya penuh kegelisahan.


"Ya udah, lo tunggu dibawah. Gue siap-siap bentar."


"Terima kasih mas Niko."


Niko kembali menutup pintu kamarnya.


------


Sementara itu, di rumah sakit terlihat papi sedang duduk bersama dengan Dendi di ruang tunggu lobi rumah sakit.


"Bagaimana Dendi?. Apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Riza?"


Dendi menggeleng lemah, "Tidak. Hanya itu satu-satunya cara."


Papi tertunduk lemah di kursi.


"Seperti yang aku jelaskan tadi, hipnoterapi memang cara yang ampuh untuk menyembuhkan penyakit Riza, tapi kita tidak bisa melakukan itu lagi kali ini. Kalau kita melakukan itu, aku takut itu akan berdampak buruk pada syaraf otaknya. Bisa-bisa otaknya lumpuh atau kemungkinan terburuk dia bisa tiada. Kondisi Riza saat ini lebih buruk dari sebelumnya."


"Aku tidak pernah menyangka semua akan menjadi buruk seperti ini. Kasihan sekali kamu Riza."


Dendi menghela nafas panjang, "Aku rasa akan sulit untuk menyembuhkan Riza kali ini."


Mata papi terbelalak. "Apa maksud ucapanmu itu Dendi?"


Dendi menegakkan posisi duduknya, menatap lekat mata pria didepannya.


"Kemungkinan Riza untuk sembuh sangat kecil, Dirwan. Mental Riza benar-benar sudah terganggu kali ini. Kamu tidak lihat, Riza bahkan melukai dirinya sendiri dan bisa saja dia melukai orang lain nantinya. Emosinya sudah tidak terkendali. Seperti saranku tadi, segeralah bawa Riza ke rumah sakit jiwa sebelum kondisinya semakin memburuk. Setidaknya hal itu bisa mengurangi depresinya."


"Aku tidak bisa melakukan itu, Dendi. Riza bisa benar-benar jadi gila kalau aku membawanya ke tempat itu. Tidak bisakah dia hanya menjalani konseling dan meminum obat saja?. Aku tidak sanggup kalau harus melihatnya mendekam di rumah sakit jiwa."


"Baiklah. Begini saja, aku akan mencoba memberinya obat penenang. Kalau kondisinya tidak juga membaik, kita tidak punya pilihan lain."


"Tidak. Kita masih punya pilihan lain. Aku akan secepatnya membawa Riza ke Belanda. Setidaknya dengan begitu, dia bisa mendapatkan suasana baru dan pengobatan yang lebih baik untuk mengurangi depresinya. Aku akan menyiapkan semuanya dari sekarang."


"Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Semua terserah padamu Dirwan. Riza adalah tanggung jawab kita saat ini. Kamu bisa membawanya ke Belanda setelah kondisi Riza stabil. Aku akan mencoba yang terbaik semampuku. Kamu tenang saja."


"Terima kasih, Dendi."


Sementara itu, didalam kamar terlihat mami menangis tiada henti di samping Riza yang kini sudah terlelap akibat pengaruh obat penenang yang diberikan oleh dokter setengah jam yang lalu.


Mami mengusap lembut puncak kepala Riza sambil merintih sedih, "Kasihan sekali kamu, sayang. Kamu tidak perlu takut. Mami akan melakukan apapun untuk menyembuhkan kamu. Mami akan selalu ada untuk kamu."


Suara deritan pintu yang membuka seketika menghentikan tangis mami.


"Mi," suara parau Dilla terdengar di sana.


Mami menoleh.


"Pergi kamu dari sini. Jangan ganggu puteraku."


Dilla mendekat. Matanya membulat saat mendapati tangan dan kaki Riza yang terbalut perban.


"Mas Riza kenapa, Mi?"


Mami menarik cepat lengan Dilla keluar dari kamar.


"Aku sudah bilang berulang kali jangan pernah datang lagi ke sini. Lepaskan Riza. Ceraikan puteraku secepatnya."


"Dilla nggak mau, Mi. Dilla nggak akan pernah ngelakuin itu!"


Dilla pun segera berbalik lalu dengan cepat membuka pintu dan menguncinya dari dalam. Membiarkan mami yang kini sedang meradang di balik pintu. Dilla bahkan tidak mengindahkan suara teriakan mami yang menggedor pintu dengan murkanya.


Sesampainya di dalam, dengan langkah terburu Dilla mendekat ke arah suaminya yang sedang terbaring di ranjang.


Dilla memandang wajah suaminya lama sebelum akhirnya menyentuh wajah yang sangat dirindukannya itu perlahan. Perasaan Dilla membuncah, saat jemari lentiknya mengusap lembut pipi Riza dengan tatapan sendu penuh kerinduan.


"Mas, saya kangen. Mas baik-baik aja, kan?"


Air mata pun kembali jatuh tak tertahan saat jemarinya menggenggam erat jemari Riza. Bibirnya menciumi punggung tangan suaminya itu berulangkali untuk meluapkan kerinduannya yang sudah menggunung.


Sesaat kemudian, Dilla merangkak naik ke atas ranjang sempit Riza. Menggeser tubuhnya menempel pada Riza lalu menyandarkan tangannya di atas tubuh suaminya. Tiba-tiba Riza mengerang lirih lalu menggeser tubuhnya menghadap Dilla hingga membuat wajah mereka nyaris bertabrakan. Dilla menatap wajah lelap itu dalam diam.


Matanya bergerak-gerak kecil, menatap lekuk wajah pria yang sangat dirindukannya itu tanpa berkedip. Hembusan nafas teratur menghempas lembut wajah gadis itu.


Sebuah ciuman mesra pun sukses mendarat di bibir suaminya yang tampak kering dan pucat. Dilla mengusap lembut bibir suaminya itu dengan jemarinya lalu kembali merangkul tubuh didepannya itu sambil membenamkan wajahnya disana. Hatinya hanya menginginkan suaminya saat ini.


Lama kelamaan, Dilla pun terlelap dalam dekapan yang sangat dirindukannya itu. Menikmati momen kebersamaan yang sudah sangat lama ia nantikan.