My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/112



Belanda


Henzhie sudah duduk bersandarkan kursi kayu di halaman belakang rumahnya.


Dinginnya udara Belanda tak dirasakannya saat ini.


Air mata terus bercucuran membasahi pipi kemerahan Henzhie. Perkataan Thomas padanya sungguh melukai hati gadis blonde itu.


"Apa aku tidak boleh bahagia?. Aku hanya ingin berada di dekat Riza. Apa aku salah?" gumamnya seorang diri.


Gadis Belanda itu meluapkan kesedihan hatinya dengan bertemankan sebotol wine yang sengaja ia ambil dari dalam gudang anggur milik Thomas.


Henzhie menenggak minuman beralkohol itu langsung dari botolnya tanpa jeda. Alhasil Henzhie pun mabuk dan mulai meracau tidak jelas.


"Kau sedang apa disini?!"


Suara berat seorang pria mengagetkan Henzhie. Ia pun menoleh kebelakang sebelum sempat menghapus air mata di pipinya.


"Aldrich?!" ucapnya lirih saat mendapati sosok Aldrich disana.


Henzhie yang memang tidak menyukai Aldrich segera membuang wajahnya dan langsung berbicara ketus pada pria itu.


"Pergi dari sini!. Jangan ganggu aku. Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja Thomas," ujarnya sambil menyeka air matanya.


Aldrich tertawa, "Kau menangis?"


"Bukan urusanmu. Jangan berpura-pura akrab. Aku tidak suka!" ketus Henzhie lagi.


"Kau kasar sekali," Aldrich mengernyit heran.


"Aku ini bukan Thomas yang selalu berbicara sopan padamu. Jangan kau kira semua orang akan menundukkan kepalanya hanya karena kau berkuasa dan memiliki segalanya."


"Bicara apa kau ini?. Kau mabuk?" tanya Aldrich sambil memindai wajah Henzhie.


Hidung dan pipi Henzhie sudah mulai memerah dengan mata yang terbuka setengah layaknya orang mabuk.


"Kau mabuk di cuaca dingin seperti ini?. Kau berbeda sekali dengan Thomas." Aldrich berdecak heran.


Henzhie melirik Aldrich tajam.


Aldrich kemudian duduk disamping Henzhie, "Baiklah. Sepertinya kau ada masalah. Ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantu."


"Diamlah. Masalahku bukan urusanmu. Menjauh dariku sebelum aku membunuhmu."


Henzhie kembali meneguk botol wine yang ada di tangannya.


"Kau benar-benar kasar. Berbeda sekali dengan gadis lain."


"Jangan membandingkanku dengan gadis itu. Kau tahu, aku ini lebih baik segala-galanya. Sementara dia, dia itu hanyalah gadis yang sangat merepotkan," ujar Henzhie mengisyaratkan Dilla.


"Maksudmu?" tanya Aldrich, mencoba mencerna kata-kata Henzhie.


Henzhie menarik sudut bibirnya, "Sepertinya kau dan Thomas sangat menyukai gadis itu."


Aldrich menoyor dahi Henzhie, "Berhentilah minum. Wine membuat otakmu tidak waras," ucapnya sambil menggeleng pelan.


Henzhie tertawa dan kembali meracau, "Kau tahu. Aku menyukai Riza. Tidak-tidak, aku mencintainya. Aku mau menikahi pria itu."


Henzhie tersenyum sambil bersenandung tidak jelas saat mengkhayalkan seperti apa pernikahannya nanti dengan Riza.


Terlihat Aldrich memijat dahinya.


Henzhie meracau kembali, "Aku tahu dia sudah menikah. Tidak masalah bagiku, aku mau jadi istri kedua. Aku akan berjuang. Kali ini aku harus menikahinya. Bagaimana pun caranya."


Aldrich mendesah berat, "Lihat dirimu. Kau menyuruhku diam. Tapi, kau terus saja berbicara. Kau mau berjuang seperti apapun, pria itu tidak akan mencintaimu."


"Kau bilang apa?"


Aldrich mendengus, "Hei, Nona. Sadarlah. Merusak hubungan orang lain adalah sebuah kesalahan. Menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan tidak akan memberikanmu kebahagiaan. Kau hanya akan merasa kesepian. Percaya padaku."


"Aku tidak percaya. Justru kau akan merasa kesepian jika melepaskan orang yang kau cintai. Seperti yang aku rasakan saat aku menyerah untuk mendapatkan Riza lima tahun lalu."


Henzhie meneguk kembali minumannya.


Aldrich menambahkan, "Dengar Nona, jangan terjebak dengan perasaanmu sendiri. Kau mencintai orang yang salah. Riza itu sangat mencintai Dilla. Dan mereka sangat bahagia dengan rumah tangga mereka."


Henzhie tertawa, "Aku tidak pernah melihat cinta di matanya. Kalau dia benar mencintai gadis itu, kenapa dia harus ketakutan setiap kali dekat dengannya. Apa itu yang namanya cinta?. Omong kosong."


"Terserah kau saja!" Thomas menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memijat dahinya. Berdebat dengan orang mabuk membuatnya cukup sakit kepala.


"Kau sungguh tidak menyukai Dilla?. Kau tahu, matamu itu terus berbinar setiap berbicara dengan gadis itu," ungkap Henzhie yang memang kerap memperhatikan gerak-gerik Aldrich saat berbicara dengan Dilla.


"Berhenti bicara omong kosong."


Henzhie terkekeh, "Aku ingin mengajakmu bekerjasama."


Aldrich menautkan alisnya sementara Henzhie terlihat kembali meneguk minumannya kemudian menatap Aldrich dengan mata mabuknya.


"Kita pisahkan mereka. Aku mendapatkan Riza dan kau mendapatkan Dilla. Bagaimana?"


"Alkohol sudah membuatmu gila!" umpat Aldrich kemudian meskipun sesaat lalu ia sempat tertarik pada tawaran Henzhie akan tetapi sesegera mungkin ia mengembalikan akal sehatnya.


Meskipun Aldrich tidak tahu pasti apakah perasaan yang ia miliki untuk Dilla merupakan rasa cinta sebagai pria atau hanya rasa simpati sebagai sahabat saja. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, Aldrich tidak akan mampu untuk merusak kebahagiaan Dilla.


Sebelum pikirannya berubah, Aldrich pun segera berbalik meninggalkan Henzhie yang masih mabuk di halaman belakang.


Dari kejauhan, samar-samar Aldrich mendengar suara gaduh dari arah kamar Riza dan Dilla. Karena penasaran, Aldrich pun melangkah perlahan mengikuti arah suara.


"Hai, Dilla. Kamu kenapa?"


Melihat Aldrich, Dilla kembali teringat dengan kata-kata Thomas. Dilla pun melengos pergi tanpa menyapa Aldrich.


"Ada apa dengannya?. Apa mereka bertengkar?" gumamnya dalam mode bingung.


Tak lama setelahnya, Aldrich pun mengejar Dilla. Riza menatap Aldrich dingin saat melihat Aldrich yang tampak menuruni anak tangga sambil terus meneriaki nama Dilla.


Aldrich mempercepat larinya untuk mengejar Dilla. Sesaat setelahnya, Aldrich pun berhasil menangkap lengan Dilla tepat saat Dilla akan membuka pintu besar rumah Thomas.


"Ada apa ini?. Apa kalian bertengkar?" tanya Aldrich panik.


Dilla tidak menjawab. Ia hanya menunduk sambil terus mengusap air matanya.


------


Semarang


"Begitu ya, Mas. Ya sudah, terima kasih ya."


Syifa meletakkan kembali gagang telepon rumah Bu Kades. Air mata tak henti mengalir di pipi Syifa selama panggilan teleponnya dengan Niko sesaat lalu hingga membuat Bu Kades merasa heran.


Setelah berusaha keras selama satu minggu ini, akhirnya Syifa berhasil mendapatkan nomor ponsel Niko.


Syifa pun segera menelepon Niko dan bertanya perihal Dilla. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui apa yang sebenarnya tengah menimpa kakaknya saat ini.


Setelah pulang dari rumah Bu Kades, dengan gontai, Syifa berjalan menuju rumahnya.


Kok kayak gini sih jadinya?, batin Syifa seraya menyeka air mata yang terus menetes ketika memikirkan bagaimana nasib kakaknya di negeri orang.


Apalagi hingga saat ini, Niko masih belum juga bisa menghubungi Dilla meskipun sudah hampir dua minggu, Dilla terbang ke negeri kincir angin itu.


Sepanjang jalan, Syifa tak hentinya mendoakan keselamatan kakaknya, berharap kakaknya itu dalam keadaan baik dimanapun ia berada saat ini.


Syifa pun memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari ibunya.


-------


Belanda


Aldrich berjalan bersama dengan Dilla memasuki sebuah ruangan besar yang dipenuhi ornamen khas Belanda disana-sini.


Sambil berjalan Aldrich pun bercerita, "Ini ruangan rahasia. Sudah lama aku tidak kesini. Dulunya, saat aku sedih, tempat inilah yang menjadi penyembuhku."


Dilla mendengarkan perkataan Aldrich sambil memindai tempat asing yang ia kunjungi dengan seksama. Di dinding ruangan itu terpajang lukisan indah yang memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.


Langkah Dilla terhenti saat ia melihat lukisan sebuah danau dengan pemandangan alam yang terlihat sama persis dengan danau favorit Dilla yang ada di desa.


"Lukisan yang indah," ucapnya lirih.


Dilla terpesona takjub sekaligus heran dengan lukisan tersebut seolah ia benar-benar berdiri didepan danau favoritnya. Keindahan lukisan itu seketika menyihirnya, mengubah kegundahannya menjadi sebuah ketenangan.


"Duduklah."


Aldrich mempersilakan Dilla duduk di kursi mebel yang ada di pojok ruangan.


Dilla duduk di kursi dengan pandangan masih mengarah ke lukisan danau yang sangat membuatnya takjub.


"Itu namanya Danau Ajaib. Aku yang melukisnya. Indah kan?" Aldrich tersenyum bangga.


"Danau ajaib?" lirih Dilla.


Pikiran Dilla menerawang jauh ke masa lalu, saat Aldrich menyebutkan nama lukisan yang sama dengan nama danau yang memang sengaja diberi nama oleh Dilla dan Raja. Dan hanya mereka yang tahu akan nama itu.


Apa ini kebetulan?, bisik Dilla tidak percaya.


Aldrich melanjutkan, "Danau itu selalu muncul dalam mimpiku lalu akhirnya aku pun melukisnya."


Dilla menyahut, "Lukisan itu mirip sekali dengan danau favorit saya yang ada di desa. Mister tahu darimana nama itu?. Apa Mister pernah kesana?"


Aldrich menggeleng.


Dilla menatap Aldrich lama.


"Kamu mau melihat lukisanku yang lain?" tawar Aldrich.


Dilla mengikuti langkah Aldrich menuju ke sebuah lukisan yang tersimpan rapi di dalam sebuah lemari.


Aldrich mengeluarkan lukisan tersebut lalu memberikannya pada Dilla. Mata Dilla membulat saat Aldrich menyibak kain putih yang menutupi figura lukisan tersebut.


Lukisan seorang gadis kecil berpakaian SMP yang duduk di atas sebuah batu besar terlihat di sana. Gadis kecil berkepang dua itu tampak duduk santai sambil menghadap ke arah danau.


Dilla tertegun saat menyadari bahwa sosok gadis dalam lukisan itu merupakan sosok dirinya di waktu belia.


Tas ransel berwarna pink dengan motif polkadot putih yang bertengger di pundak gadis itu, sama persis dengan tas ransel yang ia pakai dulu sewaktu ia masih duduk di bangku SMP.


Bahkan gantungan kunci berbentuk panda yang merupakan hadiah kecil dari Raja tampak turut tergantung di ransel gadis yang ada dalam lukisan itu.


Keterkejutan terlihat jelas di wajah Dilla yang berubah datar sesaat sebelum ia menoleh ke arah Aldrich.


Aldrich tersenyum, "Bagaimana, bagus kan?. Gadis itu juga selalu muncul di mimpiku, tapi aku tidak tahu siapa dia. Wajahnya tidak bisa aku lihat dengan jelas."


Dilla menatap Aldrich dengan tatapan yang sulit diartikan.


Apa aku sedang bermimpi?, batinnya.