
Saat adzan subuh berkumandang, Dilla tersentak bangun ketika merasakan hembusan nafas teratur menghempas wajahnya. Dalam diam, matanya bergerak-gerak kecil memindai setiap inci wajah pria yang ada didepannya. Wajah yang terlihat begitu bersinar menyilaukan mata meskipun pencahayaan lampu tidur saat ini sangat minim adanya.
Dilla memindai wajah pria yang masih tertidur pulas itu dengan tatapan gundah saat sebuah perasaan takut kembali hadir menguasai pikirannya. Perasaan takut yang kembali membuatnya menekan kuat perasaan hangat yang menggelora di dadanya saat ini.
Apa aku sudah siap untuk menerima cinta pria ini?. Bagaimana jika hal yang aku takutkan terjadi?. Apa aku siap untuk merasakan sakit hati jika nantinya dia tiba-tiba berlalu pergi meninggalkanku?. Apa aku bisa untuk mempertahankan pria ini untuk selalu ada di sisiku selamanya?.
Sebuah krisis kepercayaan diri yang selalu membuatnya bimbang saat berhadapan dengan perasaan tulus Riza. Perasaan tulus yang berhasil mengusik jiwanya.
Tiba-tiba Riza menggeliatkan tubuhnya. Cepat-cepat Dilla menutup matanya kembali. Perlahan Riza membuka mata. Setelah kedua matanya terbuka sempurna, tiba-tiba Riza mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibir istrinya sebelum bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Subuh.
Dilla segera membuka matanya dan menyentuh bibirnya sesaat setelah Riza menutup pintu kamar mandi. Dilla menarik nafas dalam untuk menstabilkan irama jantungnya yang kembali berdetak cepat karena tidak siap dengan kecupan singkat Riza yang begitu tiba-tiba.
Ah!. Untuk apa juga aku memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Sesaat kemudian, Dilla berguling-guling di atas ranjang. Menarik selimut sebatas dada hingga menggulung tubuh mungilnya sambil tertawa-tawa kegirangan. Membuat Riza yang baru keluar dari kamar mandi menatap Dilla heran.
Ada apa dengan istriku ini?, tanyanya dalam hati.
Riza segera menghampiri Dilla yang masih bergulingan di atas ranjang itu perlahan lalu duduk di sana, mendekatkan wajahnya pada Dilla hingga membuat Dilla tersentak kaget saat mendapati wajah Riza yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Samar-samar Dilla mencium aroma segar menusuk penciumannya.
"Kamu kenapa?. Sakit?. Kenapa bergulung-gulung dengan selimut begitu?" tanya Riza heran.
Dilla mengerjap-ngerjap beberapa kali kemudian dengan cepat ia pun menggeleng.
Riza menegakkan posisi duduknya.
"Ya sudah. Mandi sana. Habis itu kita shalat Subuh berjamaah."
Riza pun segera bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti handuk kimono yang dikenakannya dengan setelan perlengkapan untuk melaksanakan shalat.
Dilla juga segera bangkit bersamaan dengan langkah Riza yang sedang berjalan menuju ruang ganti.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Dilla pun segera melaksanakan shalat berjamaah dengan Riza. Tak lupa Dilla menyebutkan Riza dalam doa-doanya, meminta pada sang maha pemilik hati untuk menghilangkan semua kebimbangan hatinya agar mampu membuka hatinya selebar mungkin untuk menerima cinta tulus dari pria yang menjadi imamnya saat ini.
Sebelum bangkit berdiri, Dilla mencium punggung tangan Riza yang dibalas dengan sebuah ciuman hangat dari Riza di kening Dilla.
Setelah menyelesaikan shalat, Riza pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan naskah novelnya. Sementara Dilla kembali berkutat dengan dapur untuk menyiapkan sarapan pagi seperti biasa.
Kegiatan Riza terhenti, saat mendengarkan sebuah ketukan pintu. Riza pun mempersilakan Dilla masuk. Dilla meletakkan secangkir teh hangat dan cemilan di atas meja kerja Riza.
Dilla pun duduk di sebelah Riza. Membuat Riza sedikit bingung. Melihat gerak-gerik Dilla, Riza dapat dengan mudah mengetahui bahwa ada yang ingin disampaikan oleh Dilla padanya.
"Ada apa?. Bicaralah," ujar Riza masih fokus pada layar monitor laptopnya.
"Ehm.Ehm." Dilla tampak ragu.
"Ehm, kenapa?"
Dilla pun memberanikan diri. "Mas kenapa ndak mau pergi ke acara ulang tahun kantor penulisan, Mas?
"Aku malas!" jawab Riza dengan singkat dan datar.
"Jangan gitu dong, Mas. Kan acara itu untuk menjalin silaturahmi sesama karyawan di sana, selain itu mas juga pasti akan dapat banyak teman nantinya di acara itu. Pasti seru!" Dengan bersemangat Dilla terus menerus membujuk Riza.
Riza menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh pada Dilla. "Aku tidak suka. Kamu kan tahu, aku ini tidak suka berkumpul dengan banyak orang asing. Lebih baik aku di rumah saja menyelesaikan novelku daripada menghadiri acara yang menghabiskan energi itu."
"Tapi--"
Suara bel pintu menghentikan pembicaraan Riza dan Dilla.
"Siapa lagi itu?. Pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah orang," ujar Riza jengkel.
Dilla pun segera berlalu keluar dari ruang kerja Riza lalu menuruni anak tangga menuju ke arah pintu.
Saat pintu terbuka, mata Dilla membuka lebar saat melihat sosok Aldrich sudah berdiri tegak didepan matanya bersama dengan Thomas yang terlihat mengawal Aldrich di belakang.
"Ada apa, Mister?"
"Oh, tidak ada. Aku hanya ingin mampir untuk melihatmu. Kebetulan aku ingat kalau kamu pernah mengajakku datang sarapan ke rumahmu. Jadi, aku rasa hari ini merupakan hari yang tepat." Aldrich tertawa yang diikuti dengan tatapan aneh Dilla dan Thomas.
Ya, ampun ternyata mister ini masih ingat aja perkataanku!, batin Dilla.
Tuan muda benar-benar memalukan!", batin Thomas.
Tanpa berlama-lama, Dilla pun mempersilakan Aldrich untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Dilla pun segera beranjak menuju dapur mengambil air untuk Aldrich dan Thomas.
"Oh, iya. Ini buat kamu," ujar Aldrich sesaat setelah Dilla datang membawakan minuman ringan untuknya dan Thomas.
Aldrich menyodorkan sebuket bunga mawar merah muda yang sedari tadi dipegangnya pada Dilla. Dilla membuka matanya lebar saat melihat bunga mawar indah kesukaannya ada didepan mata.
"Wah!!. Terima kasih ya, Mister. Bunganya indah sekali. Saya suka sekali dengan bunga ini," ujar Dilla sambil membaui bunga ditangannya.
"Mister punya kebun bunga di rumah?" tanya Dilla dengan hebohnya.
Aldrich mengangguk singkat. "Begini saja, kalau kamu mau. Kamu boleh datang berkunjung ke rumahku untuk melihat kebunku. Bagaimana?"
"Beneran, Mister?"
Aldrich mengiyakan.
"Oh, iya ngomong-ngomong pria galak itu mana?" tanya Aldrich kemudian.
"Maksud Mister, mas Riza?"
"Oh. Jadi namanya Riza. Iya, dimana dia?"
"Sedang bekerja di lantai atas Mister. Mister kenapa tidak bilang dulu kalau mau ke sini?"
"Aku mau kasih kejutan saja. Hari ini kamu masak apa untuk sarapan?" tanya Aldrich bersemangat yang langsung dibalas dengan suara Thomas yang berdehem nyaring dibelakangnya.
Dilla tertawa. "Tenang Mister. Hari ini memang rezeki Mister. Kebetulan saya hari ini masak soto Semarang."
"Syukurlah." Aldrich tersenyum sumringah. "Bisa kita makan sekarang?. Soalnya aku sudah lapar sekali," pinta Aldrich tanpa segan-segan.
"Sebentar ya, Mister."
Dilla hanya tertawa saat menanggapi ucapan Aldrich kemudian beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan di meja makan.
"Maafkan sikap tidak sopan Tuan muda saya Nona Dilla." Thomas meminta maaf dengan sopan saat menghampiri Dilla di dapur.
"Tidak apa-apa Mister. Oh, iya kalau Mister ini namanya siapa?"
"Jangan panggil saya Mister. Panggil saja saya Thomas, Nona."
"Ah, iya. Mas Thomas?!"
"Begitu juga tidak masalah, Nona."
Tiba-tiba Aldrich memanggil Thomas dengan suara yang kencang hingga menggema kuat seisi rumah. Membuat perhatian Riza teralihkan saat sedang mengetik naskah di laptopnya. Riza menautkan alisnya, saat mendengar suara Aldrich itu.
"Suara siapa itu?. Seperti suara seorang pria." gumamnya pelan.
Dengan cepat Riza menutup laptopnya lalu bergegas keluar ruangan. Riza pun segera menuruni anak tangga saat mendapati sosok Aldrich tengah duduk santai di ruang tamu rumahnya. Dengan langkah santai, ia menghampiri Aldrich lalu duduk di sofa berhadapan dengannya.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Riza dengan tatapan datar.
"Oh, hai. Tuan Riza. Apa kabar?"
Aldrich menyodorkan tangannya berbasa-basi pada Riza. Namun, Riza tidak menyambut sama sekali uluran tangan Aldrich. Riza hanya menatapnya dengan tatapan tajam.
Astaga. Lihat caranya menatapku, seolah aku ini penjahat yang akan mencuri di rumahnya, Aldrich membatin.
Melihat tatapan Riza yang sangat menyebalkan. Aldrich pun membalas dengan menatap Riza tak kalah tajam. Hingga berakhirlah mereka dengan saling beradu tatap dalam kebisuan.
Beberapa saat kemudian, Dilla pun menghampiri mereka bersamaan dengan Thomas. Dilla dan Thomas segera menyentuh bahu dua orang yang saling beradu tatap itu dengan pelan untuk mengajak kedua orang itu sarapan.
Saat di meja makan, tak henti-hentinya Riza melirik tajam ke arah buket bunga mawar merah muda yang ada di pangkuan Dilla. Riza pun menyantap sarapan dengan perasaan cemburu di dadanya saat mengetahui bahwa ternyata buket bunga itu merupakan pemberian dari Aldrich. Mood-nya pagi itu seketika anjlok akibat ulah Aldrich dan buket bunganya.
Belum lagi, saat Aldrich yang tak berhenti memuji masakan Dilla yang disambut dengan senyuman manis di bibir istrinya, semakin membuat darah Riza mendidih melihat interaksi dua orang didepannya itu.
Riza meneguk air dingin di gelasnya dengan cepat berharap otaknya mendingin saat dinginnya air mengaliri tenggorokannya. Riza meletakkan gelas dengan sedikit kuat, hingga membuat penghuni meja yang lain tersentak kaget dengan bunyi nyaring gelas tersebut.
"Jangan berbicara saat di meja makan. Berisik. Telingaku sakit!" sindir Riza.
Aldrich dan Dilla saling berpandangan. Sementara Thomas hanya dapat diam membisu saat menyadari kemarahan Riza yang disebabkan oleh kedatangannya dan Aldrich yang tak diundang. Dibandingkan Aldrich, Thomas memiliki insting yang lebih tajam dan peka untuk melihat ekspresi wajah seseorang. Thomas menundukkan kepalanya malu sementara Aldrich, ia tampak santai dan kembali melanjutkan sarapannya. Sepertinya ia sama sekali tidak terganggu dengan sindiran Riza padanya.
Sesaat kemudian, sarapan pagi mereka pun selesai. Aldrich dan Thomas berpamitan pada Dilla dan Riza.
"Jangan lupa ya, Dilla. 'Lihat kebunku penuh dengan bunga'. Oke?!" isyarat Aldrich pada Dilla agar menyuruhnya datang berkunjung ke rumahnya.
Dilla pun tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Dilla mengantarkan kepergian Aldrich dan Thomas dengan senyuman sementara Riza hanya menatap mereka dengan tampang datar dan dingin.
Riza kembali melirik tajam ke arah buket bunga yang sedari tadi di gendong Dilla di tangannya bahkan sepanjang jalan menuju kamar Dilla tak henti-hentinya membaui buket mawar merah muda itu dengan senyum sumringah.
"Apa tanganmu tidak pegal memegang bunga itu terus?!" sindir Riza.
Dilla menggeleng cepat.
Riza melirik Dilla sekilas. "Menyebalkan!" gumamnya kemudian.
Dengan bersungut-sungut, Riza pun bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya untuk kembali mengerjakan naskah novelnya dengan diikuti oleh Dilla dari belakang.