
Setelah lama mencari, akhirnya Thomas tiba di depan kamar Dilla. Sialnya saat hendak masuk ke dalam, Thomas berpapasan dengan Dilla didepan pintu.
Dilla yang tidak mengenal pria asing didepannya, dengan cepat membuka suaranya dan berteriak. Namun, dengan cepat Thomas membekap mulut Dilla. Alhasil Dilla hanya meronta dengan mulut yang masih dibekap oleh Thomas.
Riza yang saat itu sedang di dapur mendengar jelas suara teriakan Dilla. Karena khawatir, Riza pun menghentikan kegiatannya yang hendak membuat sarapan pagi itu untuk istrinya.
Riza langsung berlari menaiki tangga. Didepannya pintu kamar Dilla dan Riza sudah tertutup rapat. Riza mencoba menggedor pintu dan berteriak memanggil Dilla. Memastikan kalau istrinya baik-baik saja. Namun, didalam Dilla hanya meronta karena kini mulut dan kakinya sudah diikat oleh Thomas.
Riza terus memanggil nama Dilla. Karena masih tidak ada jawaban, Riza pu mencoba mendobrak pintu didepannya. Namun, bahan pintu terlalu keras untuk bisa dibuka hanya dengan tangan kosong.
Riza pun kembali ke dapur, untuk mencari alat yang bisa digunakan untuk membuka paksa pintu kamar Dilla sambil memanggil semua petugas yang berjaga di rumahnya.
Didalam kamar, Thomas meminta pada Dilla untuk diam dan menjelaskan bahwa dia bukan lah orang jahat.
Namun, Dilla terus saja meronta, mencoba melepaskan ikatan di kaki dan tangannya.
Karena melihat hal itu, Thomas pun terpaksa menyekap Dilla di lemari. Sementara Thomas langsung menggeledah kamar Dilla dengan tergesa-gesa.
Riza kini sudah didepan pintu, membawa perkakas seadanya dengan ditemani oleh mami dan dua orang penjaga.
Karena panik, Riza membuka pintu dengan terburu-buru hingga membuat obeng di tangannya patah.
Sekali lagi, Riza berteriak dan berusaha mendobrak pintu.
Suara dobrakan paksa, membuat Thomas bertambah panik. Thomas takut bukan main, ia sangat takut tidak berhasil kabur dari sana.
"Ayo, Thomas. Cepat. Cepat. Tenang. Tenang," suara Thomas menenangkan dirinya.
Hingga kemudian, Thomas akhirnya menemukan ponsel Aldrich di dalam laci tumpukan kosmetik di bawah meja rias Dilla.
"Ketemu!" ucapnya senang.
Brakkk!!!
Pintu akhirnya terbuka.
Riza dan Thomas saling bertatapan.
"Siapa kau?!" ujar Riza dalam bahasa Belanda.
Dengan cepat Riza menarik Aldrich yang mencoba kabur dengan melompati balkon didepannya.
Baku hantam pun terjadi, Riza meninju wajah Thomas dengan pukulan keras begitupun sebaliknya. Suara gaduh dari dalam pun terdengar jelas hingga sampai ke telinga Aldrich.
Aldrich mulai khawatir.
Ilmu bela diri Riza yang tidak sebanding dengan Thomas, membuat pemuda itu sedikit kewalahan meskipun dua orang petugas yang ada disana ikut membantunya. Sementara mami hanya bisa menyaksikan kejadian didepannya dengan ketakutan.
Setelah melayangkan beberapa tinju dan pukulan akhirnya Thomas berhasil melumpuhkan Riza dan dua orang petugas yang ada disana, Thomas pun memanfaatkan situasi itu untuk kabur.
Dengan gerakan gesit, Thomas melompati balkon. Kemudian berlari sekencang mungkin setelah melompati tembok besar didepannya.
Aldrich yang sudah menunggu di depan mobil, dengan cepat menyuruh Thomas untuk memberikannya kunci mobil. Maksud hati agar Aldrich saja yang menyetir agar mereka dapat kabur dengan cepat dari sana.
Namun, Thomas menolak dengan mengatakan kalau ia lebih takut melihat Aldrich menyetir mobil daripada tertangkap oleh Riza.
Mendengar itu, membuat Aldrich kesal tapi sesaat kemudian Aldrich tersenyum saat melihat Thomas memperlihatkan ponsel Aldrich ditangannya. Aldrich tak henti-hentinya memuji Thomas.
Akhirnya mereka pun berhasil kabur dari rumah Riza.
...****************...
Melihat Riza yang sudah terkulai lemas membuat mami menangis histeris. Mami menghampiri puteranya itu kemudian menyuruh petugas yang lainnya untuk menelepon polisi.
Riza pun pingsan tak sadarkan diri.
Papi yang sedang berada di kantor, sangat kaget mendengar kejadian yang terjadi di rumahnya barusan.
Saat papi tiba di rumah, ia sudah melihat banyak sekali polisi. Saat ia bertanya dimana keluarganya, polisi mengatakan kalau saat ini mereka sedang dirawat di rumah sakit.
Setelah menyelesaikan interogasi polisi, papi pun segera melesat untuk menemui keluarganya.
Disamping ranjang terlihat mami yang terus saja menangis. Papi pun segera menghampiri mami lalu memeluknya.
"AWAS KAU ADAM!!" bisik papi dalam hati.
Papi yang sangat membenci Adam, salah mengira kalau semua ini adalah perbuatan musuh bebuyutannya itu. Amarah tergambar jelas dimata papi.
Sementara itu, di luar Dilla sedang diinterogasi dan ditanyai oleh polisi. Dilla yang masih ketakutan dan trauma hanya menjawab pertanyaan dari polisi dengan seadanya.
Karena dirinya juga masih sangat ketakutan dan sangat khawatir dengan keadaan suaminya.
Setelahnya, Dilla pun masuk kedalam kamar Riza lalu memeluk hangat tubuh suaminya lalu menangis untuk meredakan ketakutannya saat ini.
Tak lama, Riza pun siuman. Dokter segera datang untuk melihat keadaan Riza.
Dokter mengatakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik saja. Mendengar itu semua orang yang ada di ruangan sangat bersyukur, terlebih lagi Dilla yang langsung memeluk suaminya itu sesaat setelah dokter pergi dari sana.
Kemudian papi pun mengajak mami untuk keluar dan memberikan ruang untuk Riza dan Dilla.
"Aku senang kamu baik-baik aja," ujar Riza saat pertama kali membuka suara.
"Maafin saya ya mas, saya selalu bikin mas susah."
Riza menggeleng pelan, "Cukup minta maaf nya. Kamu itu istri aku, wajar kalau aku khawatir sama kamu."
Riza membisikkan sesuatu di telinga Dilla, "Aku mau peluk kamu, boleh?"
Dilla mengangguk, dengan cepat Dilla memeluk Riza dengan erat.
"Aku bersyukur kamu baik-baik aja," ujar Riza.
Dilla semakin mengeratkan pelukannya yang membuat Riza mengaduh kesakitan.
"Maaf," ucap Dilla sedikit melepaskan pelukannya.
"Nggak pa-pa, aku rela sakit asal bisa meluk kamu terus,"
"iiih, mas apaan sih. Masih sakit juga bisa-bisanya ngegombal."
"Asal gombalnya bukan ke istri orang."
"iish, awas aja berani gombal ke cewek lain."
Riza kemudian tertawa lalu mengisyaratkan pada Dilla untuk memeluknya kembali yang disambut dengan pelukan hangat Dilla yang membuat kedua pasutri itu tersenyum bahagia.
...****************...
Di lain tempat, Thomas mengaku dan meminta maaf ke Aldrich, kalau dalam proses ia mengambil ponsel, Thomas menyekap Dilla dan menghajar Riza hingga babak belur.
Mendengar itu, Aldrich langsung memarahi Thomas. Thomas yang dimarahi oleh Aldrich hanya bisa pasrah menerima amukan majikannya itu.
"Ada apa ini, kenapa kau memarahi saudaraku?" ujar Henzhie yang baru sampai di rumah Thomas.
"Kau tanyakan saja apa yang sudah diperbuat oleh saudaramu itu."
Thomas pun menceritakan semuanya pada Henzhie.
"Kalian sudah gila?!. Yang kalian lakukan adalah tindakan kriminal. Kalian bukan hanya merampok, tapi menyekap bahkan menghajar orang. Bagaimana kalau polisi menemukan kalian?"
Thomas menjawab, "Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya menemukan ponsel Tuan Aldrich."
Henzhie menatap tajam ke arah Aldrich, "Kau selalu saja menyusahkan saudaraku."
"Kenapa kau jadi marah padaku?. Aku hanya menyuruh Thomas menemukan ponselku dan mengambilnya.... bagaimanapun caranya."
"Bagaimanapun caranya?. Baiklah, sekarang aku mau kau selesaikan masalah ini tanpa melibatkan polisi bagaimana pun caranya. Setidaknya kau harus bertanggung jawab pada saudaraku atas perintah konyolmu itu," sarkas Henzhie.
Henzhie menatap Aldrich tajam sementara Aldrich hanya menunduk merasa bersalah.