My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/120



Flashback


Satu jam yang lalu


"Mister mau ngomong apa?" tanya Dilla sesaat setelah mendudukkan dirinya di kursi taman belakang rumah Thomas.


Aldrich menatap Dilla penuh penyesalan, "Aku mau minta maaf," ujarnya.


Dilla mengernyit bingung, "Minta maaf?!"


Aldrich mengangguk.


"Minta maaf soal apa, Mister?" tanya Dilla lagi.


Aldrich menjawab, "Apa kamu ingat pemuda yang namanya Raja?!"


Dilla tampak kaget saat Aldrich menyebut nama Raja.


Aldrich melanjutkan, "Aku kenal orang itu," ucapnya singkat.


"Mister kenal sama kak Raja?!" seru Dilla tidak percaya.


Aldrich mengangguk.


Dilla menatap Aldrich tajam, "Sudah saya duga, Mister pasti tahu sesuatu tentang kak Raja. Tapi, sudahlah-" ucap Dilla terjeda, lalu menoleh ke arah lain, "Saya tahu Mister terpaksa berbohong selama ini. Mister tenang saja. Saya sudah memaafkan Mister, kok," ujar Dilla yang memang sudah tidak terlalu ambil pusing pasal Raja, sebab yang saat ini ada dalam pikirannya hanyalah Riza seorang.


Aldrich menyambar, "Bukan. Bukan itu maksudku. Aku ingin meminta maaf karena--"


"Saya akan mengajak Mas Riza pergi dari sini," potong Dilla. "Saya cuma mau mengucapkan terima kasih sama Mister," ucap Dilla.


Aldrich masih diam mendengarkan.


Dilla melanjutkan, "Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya merasa semua orang berusaha memisahkan saya dan Mas Riza. Sebelum hal itu terjadi, saya ingin membawa Mas Riza pergi jauh dari tempat ini."


Dahi Aldrich berkerut, "Kalian mau pergi kemana?"


Dilla menghela nafas frustasi, "Kemana saja. Yang penting saya bahagia bersama orang yang saya cintai," jelas Dilla terpaku disertai dengan bulir bening yang menetes luruh dari sudut matanya.


Aldrich hanya diam dan menatap Dilla pilu. Seakan ia turut merasakan kesedihan gadis itu. Entah kenapa, saat melihat gadis lugu itu menangis didepannya, hatinya terasa sangat sakit.


Tanpa sadar, Aldrich pun turut menyeka air mata gadis itu seraya menatapnya dengan sorot mata penuh rasa sayang yang teramat dalam hingga membuat Dilla sempat tertegun saat mendapat perlakuan tidak biasa dari Aldrich.


Namun, sedetik kemudian, Dilla pun segera mengelak dan memalingkan wajahnya, ia mencoba menghindari tatapan Aldrich yang tidak biasa itu. Aldrich pun tersadar. Seketika suasana canggung terjadi diantara mereka.


Dilla berkata, "Setelah ini, anggap saja kita tidak saling mengenal. Saya tidak mau orang lain menjadi salah paham lagi dengan kedekatan kita."


"Salah paham?!. Apa maksudnya?"


Dilla diam. Pikirannya bergelut antara memberitahukan perihal foto-foto dirinya dan Aldrich atau tidak.


Sementara Aldrich hanya memperhatikan raut wajah gadis yang memancarkan kegundahan disana itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


Setelah cukup lama mereka terdiam, akhirnya Dilla pun berbicara, "Saya dituduh berselingkuh. Saya nggak tahu bagaimana mertua saya bisa menuduh saya seperti itu. Mertua saya menyuruh saya bercerai. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya tidak mau kehilangan Mas Riza."


Sepertinya dia benar-benar sangat mencintai Riza. Tapi, kenapa mendengar hal itu hatiku rasanya sakit?. Apa aku --. Tidak!. Ini tidak mungkin!. Pasti ini cuma perasaan bawaan dari Raja saja. Semuanya gara-gara jantung sialan ini, Aldrich membatin.


"Lalu apa hubungan tuduhan mertua kamu dengan kedekatan kita?" tanya Aldrich yang sepertinya masih belum menangkap maksud perkataan Dilla.


"Gambar saya dan Mister ada di handphone mertua saya. Itulah yang membuat mami menuduh saya berselingkuh dibelakang Mas Riza."


Aldrich kaget bukan main.


Masih dengan rasa kagetnya, Aldrich pun menanggapi kalimat Dilla, "Baiklah. Tidak perlu khawatir. Begini saja, bawa aku bertemu dengan ibu Riza, aku akan menjelaskan semuanya. Dia pasti akan berubah pikiran. Bagaimana?"


Dilla menggeleng lemah, "Tidak semudah itu. Bagaimanapun saya akan tetap membawa Mas Riza pergi dari Belanda. Walaupun nantinya Mas Riza menolak, saya akan tetap memaksanya."


Dilla pun segera berdiri dari duduknya kemudian melangkah pergi meninggalkan Aldrich seorang diri.


Flashback End


...----------------...


Di kamar Thomas, Henzhie tampak masih menangis sesenggukan dihadapan Thomas dengan air mata buayanya.


Thomas mengusap kepala Henzhie lembut, "Berhentilah menangis," ucap Thomas yang sudah lima belas menit lalu melihat saudarinya itu menangis tiada henti.


"A-a-aku masih takut dengan kejadian itu, Thom!" sahut Henzhie sesenggukan.


"Kau tidak perlu takut. Ada aku disini. Aku ini saudaramu. Aku akan selalu ada kapanpun kau butuhkan."


Thomas melanjutkan, "Sekarang ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi saat itu."


Henzhie pun mulai mengarang cerita. Henzhie mengaku pada Thomas, awalnya ia hanya ingin memberikan hadiah untuk Riza. Namun, entah kenapa Riza tiba-tiba menutup pintu lalu menguncinya. Setelah itu, Riza memeluk dan menciumnya dengan paksa.


Henzhie menambahkan kalau saat itu Riza terlihat tidak biasa, ia sangat menakutkan.


Tak lama kemudian, Riza merobek pakaian Henzhie lalu mendorongnya ke tempat tidur. Henzhie berkata, "Aku sudah berteriak dan berusaha sekuat tenaga untuk melawan, tapi tenagaku tidak cukup kuat untuk itu."


Henzhie semakin mendidihkan amarah Thomas dengan berkata, "Sebenarnya, Riza sudah berulangkali merayuku. Bahkan aku sempat termakan rayuannya dan kami akhirnya melakukan hal itu beberapa kali tanpa diketahui Dilla. Tapi, akhirnya aku sadar kalau perbuatan kami salah. Sejak saat itu, aku pun terus menolak Riza. Mungkin hal itu yang membuatnya marah dan melakukan hal ini padaku." Henzhie kembali menangis.


Thomas mengepal tangannya dengan kuat, "Dasar pria brengsek. Aku akan membuat perhitungan dengan pria itu. Ikut aku!!!," ujarnya yang mulai tersulut amarah. Sesuai rencana Henzhie, Thomas tampak termakan umpan Henzhie saat ini.


"Kau mau apa, Thom?. Kita mau kemana?" tanya Henzhie seraya mencegah tangan Thomas yang terus menariknya keluar dari kamar.


"Kantor polisi. Pria itu sudah melecehkanmu dan aku tidak akan diam begitu saja. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya."


Henzhie tercengang. Ia tidak menyangka, Thomas akan berbuat sejauh itu. Melibatkan polisi merupakan sesuatu diluar rencananya.


"Tidak, Thom. Jangan lakukan itu. Aku takut!" cegah Henzhie.


"Tidak ada yang perlu kau takutkan. Kau adalah adikku. Aku tidak akan tinggal diam, melihatmu diperlakukan seperti ini."


Sementara itu, di dalam kamar, Dilla menatap Riza tajam sesaat setelah Riza sadar dari pingsannya.


"Ada apa ini?. Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Riza bingung.


Dilla tidak menjawab, rasa kesal dan amarah terlihat jelas di matanya.


"Bisa ambilkan aku air. Aku haus, kepalaku rasanya pusing," ujar Riza lirih.


Dengan bersungut-sungut, Dilla mengambil segelas air lalu memberikannya pada Riza.


"Sekarang mas ngaku, apa yang mas lakuin sama Henzhie di kamarnya?. Jawab?!" cecar Dilla seraya menatap Riza tajam.


Riza pun segera menyudahi minumnya kemudian bercerita panjang lebar, "Dia memberikanku hadiah. Lalu tiba-tiba dia memelukku kemudian mengunci kamar. Saat aku mencoba membuka pintu, dia menyuntikkan sesuatu di lenganku. Tak lama, kepalaku sakit. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi."


"Bohong!!!" seru Dilla, "Mas tahu, pakaian Henzhie robek dan dia nangis histeris. Mas pasti ngelakuin sesuatu sama dia. Mas jujur sama saya, apa yang mas lakuin sama dia di kamarnya?. Jawab, Mas!!"


Riza terlihat bingung, ia tampak berusaha mengingat.


"Jawab, Mas?!" cecar Dilla lagi.


Riza menatap Dilla, "Aku benar-benar tidak ingat apapun. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Tapi, percayalah. Aku tidak melakukan apapun terhadapnya. Percayalah, Dilla."


"Bagaimana saya bisa percaya, kalau mas saja tidak ingat apa yang mas lakukan sama dia disana!!"


Riza tersentak kaget.


Dilla melanjutkan, "Dari dulu saya sudah curiga, mas pasti ada sesuatu sama dia. Kalau nggak, ngapain mas masuk kedalam kamarnya. Jawab jujur saja, Mas. Jawab!!!"


Air mata jatuh membasahi sudut mata gadis itu.


Seketika Riza menarik Dilla kedalam pelukannya, "Aku sudah menjelaskan semuanya. Percayalah, Dilla. Aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan padaku."


Dilla meronta dalam pelukan Riza, gadis itu memukul-mukul dada suaminya itu seraya menangis, "Mas tega sama saya. Mas tegaaaa!!!" teriaknya.


"Bagaimana aku bisa meyakinkan kamu. Walau aku tidak ingat apa yang terjadi, tapi aku yakin aku tidak melakukan apapun padanya."


Tepat saat itu, Thomas membuka pintu, "Dasar pembohong!!!!" teriaknya.


Thomas mendekat dan mencengkeram kerah baju Riza lalu meninju wajah pria itu sekuat tenaga. Dengan sekali pukulan, darah segar mengalir dari sudut bibir Riza.


"Ikut aku ke kantor polisi. Kau harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah kau lakukan pada adikku."


Dilla berusaha menarik lengan Thomas untuk melepaskan Riza, "Saya mohon, Mas. Jangan laporin Mas Riza ke kantor polisi."


"Tolong, Thom. Bukan ini yang aku mau. Kasihan Riza. Kami saling mencintai. Aku tidak mau dia dipenjara!" sambar Henzhie kemudian.


Dilla dan Riza terperanjat dan melotot kaget ke arah Henzhie.


"Apa-apaan ini, Henzhie?. Hentikan semua kebohongan ini sekarang juga!!!" bentak Riza.


Henzhie menanggapi ucapan Riza, "Baiklah. Aku akan menghentikan kebohongan ini sekarang."


Henzhie menoleh ke arah Dilla yang tampak berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh Henzhie barusan. Mereka saling beradu tatap. Dilla menunggu kalimat Henzhie berikutnya.


Henzhie berkata, "Aku minta maaf Dilla. Ini seharusnya tidak terjadi. Aku tahu aku salah, aku menyesal. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk merusak rumah tangga kalian."


Dilla diam mendengarkan.


Henzhie melanjutkan, "Awalnya aku hanya menganggap Riza teman. Entah bagaimana, Riza terus saja merayuku hingga aku pun termakan semua rayuannya itu dan akhirnya kami pun beberapa kali tidur bersama. Riza selalu membujukku untuk menyembunyikan hal ini dari kamu. Sejak itulah, aku menjadi sangat tidak suka setiap kali melihat kamu bersama dengan Riza."


Mendengar kalimat Henzhie membuat pertahanan Dilla runtuh, tumpuan kakinya terasa melemah yang membuatnya terduduk lemas di atas lantai, tak berdaya. Tak mampu berkata apapun lagi.


Dahi Riza berkerut, dengan cepat tangannya menghempaskan jemari Thomas dari lehernya, "Bohong!!!. Tega sekali kamu berkata begitu, Henzhie. Kapan aku pernah merayumu?. Kapan kita pernah tidur bersama?" bentaknya.


Henzhie tiba-tiba menangis lalu menggenggam tangan Riza, "Bukannya kamu yang bilang kalau kamu mencintaiku. Aku sudah memberikan semuanya untuk kamu. Aku mohon jangan menyalahkan aku, Riza," ujar Henzhie seraya menangis untuk menyempurnakan sandiwaranya.


Riza menghempaskan tangan Henzhie kasar lalu menghampiri Dilla yang masih mematung disana, "Dilla, tolong percayalah. Semua yang dikatakan Henzhie itu bohong. Aku tidak seperti itu. Ini fitnah. Demi Allah, aku tidak melakukan semua tuduhan itu. Percayalah, Dilla."


Riza menatap Dilla lekat, berusaha untuk meyakinkan Dilla yang tengah dilanda kebingungan dan kebimbangan itu.