My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/141



"Lo mabok ya?" ucap Nana menjauhi Niko.


Niko tersenyum mengiyakan.


"Sinting nih orang," tukas Nana.


Tak lama kemudian Niko tertawa terbahak-bahak. Hingga membuat Nana mengernyit bingung.


"Gue cuma bercanda kali, serius amat sih Lo. Lagian mana mau gue sama cewek jadi-jadian kayak lo," ucapnya masih tertawa.


"Brengsek!!" kesal Nana.


"Gue cuma mau ngetes aja, apa jurus playboy gue masih ampuh ke cewek. Gue bosen jadi cowok bego," ujar Niko lagi.


"Dasar stress," sahut Nana.


"Gue bosen jadi cowok bego yang cuma nungguin satu orang doang. Padahal orang yang gue sayang, nggak bakal pernah ngasih perasaannya ke gue," curhat Niko.


"Lo abis putus sama Andira?" tanya Nana.


"Lebih tepatnya, melepaskan dan melupakan. Gue nggak pernah jadian. By the way, kok Lo kenal sama Andira?"


"Gue pernah ketemu dia pas di rumah sakit waktu Riza dirawat."


"Oh," jawab Niko lemah.


"Lo harusnya bersyukur setidaknya lo masih bisa liat dia tiap hari. Tau keadaan dia. Karena ada beberapa orang diluar sana yang nggak seberuntung Lo," ucap Nana dengan mata berkaca dan suara bergetar.


Niko menangkap kesedihan disana.


...----------------...


Di Belanda, Riza baru saja kembali dari luar. Riza menyampirkan jaketnya yang basah terkena hujan. Dilla pun menyambut Riza dengan senyum termanis miliknya.


Hujan deras mengguyur kota sejak pagi tadi. Hingga membuat hampir seluruh jalanan tergenang oleh air.


"Mandi dulu mas, biar saya buatkan teh hangat."


"Iya, makasih ya," sambut Riza tersenyum sambil mengelus kepala Dilla.


Riza segera membersihkan tubuhnya. Tak lama setelahnya ia langsung meneguk teh hangat yang telah tersedia diatas meja.


"Mas darimana saja seharian?. Sejak siang, saya khawatir karena diluar hujan deras."


"Ada masalah apa mas?. Cerita ke saya."


Riza pun menceritakan tentang apa yang mengganggu pikirannya saat ini. Tentang papi yang mengajaknya untuk bekerja di rumah sakit salah satu koleganya dan keinginan Riza untuk bekerja sebagai penulis di sebuah percetakan.


Dilla mendengarkan keluhan suaminya itu dengan seksama tanpa menyela hingga Riza selesai berbicara. Setelah Riza menyelesaikan ceritanya, Dilla pun membuka suara.


"Saya hanya gadis desa yang sangat kurang pengalaman, tapi kalau saya diharuskan memilih. Saya lebih memilih untuk mengejar apa yang saya minati dan inginkan sejak awal. Pada dasarnya semua pekerjaan adalah baik dan rezeki sudah diatur porsinya oleh Allah. Tinggal usaha kita saja untuk bagaimana mendapatkannya."


Dilla melanjutkan, "Saya akan selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik buat mas Riza. Bahagia mas, juga kebahagiaan buat saya."


Mendengar kalimat Dilla membuat Riza tersenyum bahagia. Riza memeluk Dilla erat lalu mengecup kening gadis itu. Riza sangat beruntung memiliki gadis cantik yang ada didepannya.


"Terima kasih ya," tuturnya kemudian.


Dilla tersenyum mengiyakan.


Dari kening, Riza lalu mengecup bibir Dilla selanjutnya ia pun mendaratkan ciuman mesra hingga membuat Dilla terperanjat kaget dengan apa yang dilakukan Riza.


Setelahnya, Riza mengecup hidung, pipi, leher bahkan cuping telinga Dilla yang dibarengi dengan sentuhan-sentuhan tangan Riza yang mulai menggerayangi tubuh mungil gadis itu.


Dalam hitungan detik, Riza sudah melucuti semua pakaian Dilla.


Dilla terlihat menikmati tiap sentuhan Riza di tubuhnya, namun ia segera menghentikan gerakan tangan Riza saat pemuda itu ingin membuka pakaian miliknya.


"Mas mau ngapain?" tanya Dilla.


Riza tidak menjawab. Riza pun terus membuka pakaiannya lalu menarik selimut dibelakangnya.


Riza melancarkan aksinya kembali. Tangan dan bibirnya terus saja bergerilya ke sana ke mari.


Tanpa berlama-lama, Riza sudah berada diatas Dilla. Namun, saat Riza ingin menggagahi istrinya itu. Sekali lagi Dilla menghentikan suaminya.


"Jangan mas, saya lagi hamil. Kasihan anak kita."


Bukannya marah, Riza justru tersenyum karena kepolosan gadis didepannya.


Sambil membelai rambut Dilla, Riza berkata, "Kamu tenang saja. Aku lebih berpengalaman dalam hal ini. Jangan lupakan, kalau aku adalah seorang dokter."


Sesaat setelahnya, Riza pun menyalurkan hasrat cintanya kepada istrinya dengan lembut. Meskipun sesekali terdengar teriakan kecil Dilla disana.


Karena keinginan dadakan Riza itu, seketika membuat Dilla lupa untuk memberitahu Riza tentang ajakan mami. Mungkin Dilla bisa memberitahu Riza lain kali. Yang penting sekarang, Dilla ingin melayani kebutuhan suaminya itu sebaik mungkin dan tidak mau membuat Riza kecewa.