
Aldrich membidik tajam wajah Thomas dengan tatapannya, "Bohong!"
Masih dengan kepala tertunduk Thomas menjawab, "Saya tidak berbohong, Tuan."
Aldrich berdiri kemudian berlalu pergi meninggalkan Thomas. Thomas menegakkan kepalanya, "Tuan mau kemana?" tanyanya cemas.
"Bukan urusanmu!" Aldrich berlalu pergi meninggalkan Thomas. Melangkah menaiki anak tangga lalu menutup pintu kamarnya perlahan.
Thomas menatap kepergian Aldrich dengan rasa bersalah, Maafkan saya, Tuan!, batinnya.
Aldrich berdiri di balkon kamarnya dengan pikiran yang masih berusaha mencerna jawaban yang dilontarkan Thomas padanya tadi.
Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Dia pasti berbohong padaku, Aldrich membatin.
Aldrich pun segera menyambar kunci mobil dan ponsel miliknya yang ada di atas nakas kemudian membuka brankas kecil yang ada di dalam lemarinya. Aldrich menarik sebuah tali tambang yang memang sengaja disimpannya untuk membantunya jika sewaktu-waktu ia ingin bebas dari Thomas yang selalu saja mengikutinya kemanapun ia pergi.
Kabur dari atas balkon. Hanya itulah satu-satunya jalan bagi Aldrich agar dapat bebas dari Thomas sebab Aldrich merasa sudah kehabisan akal untuk mengancam Thomas agar tidak melarangnya pergi kemanapun.
Aldrich mengikatkan tali tambangnya dengan kencang pada terali besi balkon kamarnya. Setelah yakin tali terikat dengan baik, Aldrich segera memanjat terali perlahan seraya menggenggam tali ditangannya dengan kuat.
Aldrich bergelantungan pada tali lalu menurunkan tubuhnya perlahan dengan masih menggenggam erat tali tambang tersebut. Hingga akhirnya, kakinya mendarat dengan sempurna di tanah. Selanjutnya, ia berjalan cepat menuju mobilnya lalu mengemudikannya dengan kencang tanpa disadari oleh Thomas. Misi Aldrich untuk kabur pun berhasil.
Tak lama mengemudi, tibalah Aldrich di warung Laras yang tak lain dan tak bukan adalah untuk mencari Dilla. Laras yang sudah mengenal Aldrich pun memberitahu bahwa Dilla sedang berada di kampus. Setelah mendengar itu, Aldrich pun segera bergegas menuju kampus untuk menemui Dilla di sana.
Beralih ke kamar hotel tempat dimana Riza menginap. Riza duduk di tepi ranjang dengan menggenggam erat ponsel yang berada di telinganya. Raut keterkejutan terlukis jelas di wajah tampannya.
"Kami harap setelah bapak kembali dari luar kota, bapak dapat segera datang ke kantor untuk memberikan keterangan lebih lanjut."
"Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya!" sahut Riza kemudian.
"Sama-sama, Pak. Selamat siang."
"Selamat siang."
Riza menggenggam erat ponsel di tangannya, "Aku sungguh tidak mempercayai ini. Salah satu karyawanku adalah pelaku teror bom yang terjadi tempo hari!" Riza mengerutkan dahinya, "Sofian..."
Riza diam sejenak, mencoba mengingat sesuatu, "Apa benar dia pria bermasker yang aku lihat di lorong waktu itu?" Riza menautkan alisnya, "Aku harus secepatnya menyelesaikan urusanku di sini dan kembali ke Jakarta."
Tak lama ponsel Riza berdering. Ia melihat ke arah ponsel. Sebuah pesan singkat muncul di layar.
[Paket anda telah di terima. Terima kasih atas kepercayaan anda. Semoga anda puas dengan pelayanan kami.]
Riza membaca pesan tersebut dengan tersenyum simpul. Sejenak ia melupakan perihal kabar mengejutkan tadi.
Sementara itu di kampus, Dilla tampak berjalan lesu di samping Kiki sesaat setelah keluar dari dalam kelas. Wajahnya suram, tak bergairah karena mengingat kejadian memalukannya tadi. Ditambah lagi saat membayangkan perihal nilai yang akan didapatkannya. Otomatis hal itu membuat wajahnya semakin bertambah suram.
"Dilla, hari ini kita jalan-jalan, yuk!" ajak Kiki yang sedari tadi memperhatikan wajah muram sahabatnya.
Dilla menggeleng.
"Kenapa?"
Dilla menghembuskan nafas berat dan dalam.
Kiki merangkul bahu Dilla, "Udah deh. Nggak usah dipikirin. Tenang. Kamu nggak sendiri kok, ada aku di sini. Kita akan selalu sama-sama." Kiki menepuk-nepuk kecil bahu Dilla mencoba menenangkannya.
"Sama-sama apa?. Sama-sama dapet nilai jelek maksud kamu?" Dilla melirik tajam ke arah Kiki.
Kiki tertawa lebar, "Udah dong. Makanya aku ajak kamu jalan-jalan. Kan lumayan, bisa menghilangkan stres. Bener nggak?"
Tiba-tiba Dilla menghentikan langkahnya. Membuat langkah Kiki juga ikut terhenti. Kiki menoleh ke arah mata Dilla memandang.
Di depan mereka terlihat Aldrich sedang bersandar pada mobil mewahnya dengan mengenakan kacamata hitam. Dilla menautkan alisnya.
"Itu manusia, kan?" tanya Kiki dengan hebohnya seraya menatap Aldrich tak berkedip.
Dilla menoleh ke arah Kiki sekilas sebelum melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aldrich. Aldrich melambaikan tangan ke arah Dilla.
"Siang, Dilla!" sapa Aldrich tersenyum.
"Loh, Mister ngapain di sini?" tanya Dilla.
"Mau ketemu kamu," jawab Aldrich cepat.
Dilla menautkan alisnya.
"Aku mau ngajak kamu makan siang. Sekaligus ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan-" Aldrich kembali tersenyum, "Ayo, kita pergi ke tempat yang lebih tenang!. Aku akan menjelaskannya di sana," ajak Aldrich.
Kiki menyikut lengan Dilla. Dilla menoleh ke arah Kiki.
Kiki berbisik, "Kenalin aku dong Dilla sama bule keren ini!"
Dilla melirik tajam, "Jangan buat aku tambah malu lagi ya!, Maprilia Kiki Hidani!" Dilla memberi penekanan pada nama Kiki.
Dilla menoleh kembali ke arah Aldrich, "Boleh, Mister. Tapi temen saya boleh ikut, kan?" tawar Dilla.
"Boleh. Tentu saja boleh. Ayo!"
Mereka segera memasuki mobil Aldrich. Tak lama Mobil pun melaju kencang meninggalkan kampus.
Beralih ke tempat yang berbeda, Niko terlihat berjalan mondar-mandir di parkiran gedung. Mengumpat kesal ke arah mobil Mini Cooper milik Nana yang terparkir sembarang sehingga menghalangi mobil Niko untuk keluar parkiran.
Niko bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga di sana, siapa pemilik mobil tersebut. Petugas pun menjelaskan ciri-ciri si pemilik mobil. Namun, saat Niko bertanya siapa nama si pemilik mobil, Petugas justru menggeleng tidak tahu. Niko pun kembali mendengus kesal.
Sesaat kemudian, terlihat si pemilik mobil berjalan menuju parkiran sambil memainkan ponselnya.
Nana tampak berdecak kesal, menatap layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya, "Dasar manajer nggak becus. Masalah kayak gini aja nggak bisa di handle. Gue pecat, baru rasa loe!. Awas aja kalo sampe Jenderal di rumah gue tau. Habis hidup loe!" gerutunya masih fokus pada ponselnya.
Bukk!!
Kepala Nana menabrak punggung bidang Niko. Seketika Niko membalikkan tubuhnya.
"Eh, kalo jalan pake mata, dong!" ketus Nana sesaat sebelum ia mendongakkan kepalanya dan menangkap sosok Niko yang tampak berdiri tegak di depannya.
"Elo yang jalan nggak pake mata!" sinis Niko.
"Minggir loe!" Nana mendorong Niko menjauh dari hadapannya.
"Dasar cewek gila!" gerutunya.
"Nah, itu dia mas. Cewek yang tadi mas tanyain," sambar petugas keamanan yang masih berdiri di samping Niko.
Niko segera berjalan menghampiri Nana. Perselisihan mereka pun berlanjut kembali.
"Oh. Jadi, elo yang punya mobil ini?. Loe nggak punya mata apa?. Seenaknya aja loe parkir sembarangan di sini!. Loe pikir, ini parkiran punya nenek moyang loe!" cecar Niko dengan nada sedikit emosi.
Nana menoleh ke arah Niko, "Apaan sih, loe!. Minggir!. Gue buru-buru."
Nana membuka pintu mobilnya, tapi dihalangi kembali oleh Niko.
Nana tersulut emosi, "Mau loe apa sih?!"
"Gue maunya loe minta maaf. Soalnya mobil sialan loe ini, udah buat waktu berharga gue terbuang gitu aja!. Loe tau, gue itu ada pekerjaan penting. Minta maaf loe sekarang!"
Nana menyeringai, "Ciih. Apa loe bilang?. Minta maaf?. Ngomong sana sama tembok!. Minggir loe!" Nana mendorong Niko menjauh dari pintu mobilnya hingga Niko terjerembab ke belakang.
Nana melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Niko yang berteriak kesal, "Dasar cewek gila!. Awas ya loe!"
Sesaat kemudian, Niko pun bergegas memasuki mobilnya dan melaju perlahan meninggalkan parkiran menuju ke suatu tempat.
-----
Aldrich, Dilla dan Kiki kini sudah berada di restoran. Mereka bertiga duduk dan memesan makan siang mereka sesaat setelah tiba di sana.
"Mister mau ngomong apa?" Dilla segera membuka percakapan sebab rasa penasarannya sudah menggunung sejak tadi.
"Begini. Aku ingin bertanya padamu. Apa kamu mengenalku?" tanya Aldrich.
Dilla menautkan alisnya bingung, "Maksud, Mister?"
Aldrich menegakkan posisi duduknya menatap Dilla lekat, "Maksudku, apa kita sungguh tidak pernah bertemu sebelumnya?"
Dilla berpikir sejenak lalu menggeleng pelan.
Aldrich kembali berbicara, "Tapi, kenapa aku selalu merasa kalau aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?. Wajah, suara dan ekspresimu sangatlah tidak asing bagiku."
"Mungkin karena wajah saya ini pasaran, Mister. Makanya Mister merasa begitu. Bukan cuma Mister saja yang bertanya seperti itu, orang lain juga banyak yang bilang gitu ke saya." Dilla tertawa lebar.
Aldrich kembali memperhatikan ekspresi Dilla saat tertawa. Membuatnya semakin bertanya-tanya dalam hati.
Sementara itu, Kiki yang duduk tepat di samping Dilla hanya termangu. Sibuk memandangi ketampanan Aldrich dari dekat. Dilla menoleh lalu menyikut lengan Kiki pelan. Namun, Kiki masih belum juga merespon. Pikirannya mulai berkelana hingga langit ke tujuh.
Dilla menggeleng saat melihat tingkah sahabatnya itu. Secepat kilat tangan Dilla menarik rambut Kiki dengan sedikit kuat. Membuat Kiki mengaduh kesakitan.
"Kamu kenapa sih, Ki?. Kayak orang ketempelan gitu!" tanya Dilla pada Kiki.
Kiki mengusap-usap kepalanya seraya meringis kesakitan.
Tak lama Kiki pun menyahut, "Iya. Aku ketempelan. Ketempelan cinta." Kiki tersenyum sumringah menatap wajah Aldrich.
Sementara Aldrich, ia masih diam membisu. Tampak berpikir dalam.
Siapa sebenarnya yang berbohong?. Thomas atau dia?, tanyanya dalam hati sembari menatap Dilla yang tampak sedang asyik bercengkrama dengan Kiki.