My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/122



Plakk!!!


Dilla menampar Henzhie dengan keras setelah mendengar pengakuan Henzhie sesaat lalu. Dengan wajah meradang, menahan amarah Dilla melontarkan kata-kata kasar yang sontak membuat Thomas, Aldrich dan Riza melotot tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Ucapan Dilla yang selalu lembut dan sopan, sangat berbeda kali ini. Dilla tampak sangat murka pada Henzhie.


Henzhie pun hanya diam menunduk, tak mampu berbicara apapun. Gadis bule itu menatap Riza dan Thomas bergantian dengan wajah memelas meminta tolong. Namun, yang ditatap justru tak mengindahkan gadis itu sama sekali.


Sama halnya dengan Dilla, Thomas dan Riza juga tampak sangat kecewa dengan sikap Henzhie kali ini.


Suara bel pintu yang berbunyi nyaring, menghentikan sejenak ketegangan yang terjadi disana. Aldrich pun segera melangkah ke arah pintu lalu membuka benda kokoh yang ada didepannya itu dengan sekali tarikan.


Terlihat didepan Aldrich, kedua orang tua Riza datang bersama dengan Niko yang berdiri tepat di belakang Mami.


Papi tampak sangat kaget saat melihat siapa orang yang berdiri didepannya. Berbeda halnya dengan Aldrich yang tampak bingung.


"Mau cari siapa?" tanya Aldrich dalam bahasa Belanda.


Papi terdiam cukup lama, lalu ia tersadar saat Mami menyikut lengan pria paruh baya itu.


Papi pun menjawab, "Eh, ehm. Apa benar ini rumahnya Thomas?"


Aldrich mengangguk.


Papi melanjutkan, "Apa benar Riza tinggal disini?"


Aldrich mengangguk kembali lalu menjawab, "Kalian siapa?" ujarnya kemudian.


"Kami ini keluarganya Riza. Apa Riza nya ada?"


"Iya, Riza ada di dalam. Masuklah."


Aldrich mempersilakan Mami, Papi dan Niko masuk ke dalam rumah. Sementara Aldrich segera berlari menuju lantai dua untuk menemui Riza di sana.


Langkah Aldrich terhenti saat ia kembali melihat Dilla yang tampak masih murka. Suara Dilla pun jelas terdengar oleh Mami, Papi dan Niko yang sedang berjalan perlahan memasuki rumah besar Thomas.


Dengan perlahan, Aldrich mendekati Riza lalu berbisik, "Keluargamu datang. Mereka menunggumu dibawah."


Mendengar hal itu, Riza pun segera menarik lengan Dilla menjauh dari Henzhie.


"Ada apa sih, Mas?!" sinis Dilla dengan dahi yang mengerut.


"Berhentilah berteriak. Orang tua ku datang. Mereka ada dibawah. Ayo kita temui mereka."


Dilla sontak melotot kaget. Raut wajahnya yang semula murka kini berubah menjadi kepanikan.


Bagaimana tidak, Dilla sangat takut kalau-kalau mami bertemu dengan Riza, wanita paruh baya itu akan memberitahu Riza mengenai foto-foto Dilla tempo hari.


Dan bisa saja hal yang paling ditakutkan Dilla beberapa hari ini akan segera terjadi dengan adanya kedatangan Mami yang tiba-tiba itu.


Sekejap Dilla ingat sesuatu, dengan cepat Dilla melepaskan rengkuhan Riza dari lengannya kemudian ia berlari ke arah berlawanan untuk menghampiri Aldrich yang entah kenapa justru mengikuti pasangan suami isteri itu dari belakang.


"Ikut saya, Mister!!!" ujarnya sambil menarik Aldrich ke arah lain meninggalkan Riza yang spontan berbalik seraya menatap ke arah isterinya dengan tajam.


Kenapa belakangan ini Dilla jadi lebih sering ngobrol sama Aldrich ya ketimbang sama aku?. Padahal aku ini kan suaminya, batin Riza dengan bersungut kesal.


Sesaat berikutnya Riza pun segera melangkah pergi dengan masih membawa rasa panas dalam dadanya. Melihat sikap aneh Dilla pada Aldrich akhir-akhir ini membuat Riza menjadi sangat kesal.


Tak lama, Riza pun tiba di depan keluarganya. Mami menyambut Riza dengan sebuah pelukan hangat, sama halnya dengan Papi dan Niko.


"Apa kabar lo, Za?" sapa Niko sesaat setelah melepas pelukannya.


"Baik. Kamu sendiri gimana?" jawab Riza dengan tersenyum.


Niko melotot tidak percaya. Pasalnya baru kali ini ia mendengar Riza berbicara dengan bahasa yang lembut dan tidak kaku seperti Riza yang terdahulu.


Bahkan Riza yang kini ada didepannya itu terlihat lebih santai dan hangat. Riza benar-benar terlihat sangat berbeda dengan karakter dirinya yang biasanya kaku, datar dan dingin. Karakter yang sangat menyebalkan menurut Niko.


Niko bahkan sempat tersenyum simpul saat mengingat bagaimana buruknya sikap Riza sebelumnya. Melihat sepupunya itu sekarang, Niko merasa Riza terlihat jauh lebih baik dengan karakter aslinya. Karakter yang sudah lama hilang entah kemana. Dan syukurnya Riza yang sebenarnya kini sudah kembali.


"Woi, bengong aja. Duduk!!" ujar Riza seraya menoyor dahi Niko yang sedari tadi diam didepannya itu.


Niko akhirnya tersadar, lalu ia tersenyum sembari mendudukkan tubuhnya di sofa panjang bersebelahan dengan Riza disana.


"Dilla mana, bro?" tanya Niko.


Riza diam. Wajahnya langsung berubah kesal.


Mami menyambar, "Kamu ngapain sih Niko nanyain Dilla. Dia itu nggak ada urusannya disini. Ngapain juga kamu sebut-sebut nama dia."


"Bukan gitu Tante. Saya kan juga pengen ketemu Dilla. Dilla tinggal disini juga kan, bro?"


"Iya!" ketus Riza singkat.


"Kangen juga gue sama dia."


Riza yang kesal semakin bertambah kesal saat mendengar kalimat Niko barusan. Riza menoleh ke arah Niko dengan tatapan tajam yang tak disadari oleh Niko sama sekali.


Niko pun terus berbicara ini dan itu tentang Dilla. Tiap kalimat yang Niko ucapkan, memang mengisyaratkan kalau ia sangat dekat dan sangat mengenal Dilla.


"Sepertinya kalian dekat sekali?" tanya Riza dingin.


"Ya, gitu deh!" jawab Niko dengan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Mami menyambut, "Udahlah. Ngapain sih kalian ngomongin Dilla terus. Sakit tau telinga Mami dengernya. Iya kan, Pi?"


Mami menoleh ke arah Papi yang sedari tadi terus diam membisu sejak kedatangan mereka di rumah Thomas. Sejak pertemuannya dengan Aldrich, Papi menjadi tidak tenang.


"Pi?!. Papi?!" panggil Mami.


"Hah. I-iya. Kenapa, Mi?" sahut Papi terbata.


"Papi ini kenapa sih?. Papi sakit?" tanya Mami yang sangat aneh dengan sikap suaminya.


"Maksud Om- Aldrich?" tanya Riza meyakinkan pertanyaan Papi.


"Iya. Siapa tadi namanya?"


"Aldrich!" ketus Riza tidak suka.


"Iya. Aldrich," jawab Papi.


"Iya, Om. Dia juga tinggal disini."


Papi menelan ludahnya paksa. Ia tampak terkejut bukan main.


"Ka-kamu dekat dengan pemuda itu?" cecar Papi kali ini.


"Nggak. Riza juga baru kenal sama dia. Itu juga kenalnya dari Dilla."


"Apa?!" sentak Papi yang tanpa sadar meninggikan suaranya hingga membuat Riza, Mami dan Niko kaget bersamaan.


"Papi ini kenapa sih?. Dari tadi kok aneh banget!" tukas Mami.


Papi terdiam. Ia menautkan alisnya gelisah.


"Silahkan diminum airnya, Mi, Pi!" sapa Dilla kemudian sambil membawa sebuah nampan berisi dua gelas air hangat buatannya setelah sebelumnya ia berhasil meyakinkan Aldrich untuk tidak mengikutinya dan Riza.


Papi menyambut sapaan Dilla dengan tersenyum simpul sementara Mami langsung membuang wajahnya saat itu juga.


"Eh, Mas Niko juga ada disini?. Ya Allah, apa kabar, Mas?" Dilla terlihat sangat gembira saat melihat Niko juga hadir disana.


"Iya. Gue sehat. Lo sehat kan?"


"Alhamdulillah Mas. Saya sehat. Saya seneng sekali loh lihat Mas disini. Sebentar ya Mas, saya buatkan minuman satu lagi."


"Udah, nggak usah. Sini duduk sebelah gue."


Niko pun menarik Dilla duduk didekatnya, bersebelahan dengan Riza disana.


"Gue nggak nyangka bisa ketemu lo lagi. Lo tau gue itu khawatir banget sama lo. Mana hape lo nggak bisa dihubungin lagi."


"Iya, Mas. Maafin saya. Pas saya nyampek di Belanda, semua barang-barang saya hilang. Untungnya saya ketemu Mas Thomas."


"Tapi lo nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Niko khawatir.


Dilla menggeleng.


"Syukur deh kalo gitu. Oh, iya. Nyokap lo telepon gue tempo hari. Dia nangis mulu, gara-gara elo nggak ada kabar. Terus dia nanyain tentang kuliah lo. Emang lo nggak cerita ke nyokap lo kalo lo udh nggak ku--"


Kalimat Niko terhenti saat Dilla membekap mulut Niko tiba-tiba. Dilla menggeleng ke arah Niko. Mengisyaratkan Niko agar berhenti melanjutkan kalimatnya.


Riza yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik kedua insan itu terlihat sudah semakin kesal. Pasalnya Dilla memang tampak sangat dekat dan akrab sekali dengan Niko, sampai-sampai tanpa segan Dilla berani bersentuhan fisik dengan Niko didepan Riza.


Padahal Dilla hanya membekap mulut Niko saja, tapi Riza sudah sangat cemburu. Riza benar-benar tidak suka melihat Dilla dekat-dekat dengan pria lain, meskipun itu Niko, sepupunya sendiri.


Riza pun hanya diam membisu saat Mami menyatakan maksud kedatangannya untuk mengajak Riza tinggal bersama dengannya. Yang ada dalam pikiran Riza saat ini hanyalah Dilla dan Niko saja.


Namun, berbeda halnya dengan Dilla. Saat ia mendengar pernyataan Mami barusan, Dilla sontak menoleh ke arah Riza yang masih membisu seraya menundukkan kepalanya.


"Kamu mau kan?" tanya Mami lagi.


Dilla menatap Riza cemas. Takut Riza mengiyakan tawaran Mami.


"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Papi sudah siapkan semuanya. Kamu tinggal ikut saja bersama kami pulang ke rumah," sambung Papi ketika tak kunjung mendengar sepatah katapun dari mulut Riza.


"Maaf, Om, Tante. Riza capek. Riza mau istirahat. Lain kali aja kita bahas masalah ini, ya."


"Tapi--" sahut Mami yang langsung dihentikan oleh Papi.


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Kapan-kapan kami datang lagi kesini. Tapi, nantinya Papi harap kamu sudah punya keputusan."


"Insya Allah, Om."


Mami, Papi dan Niko pun akhirnya beranjak pergi dari rumah Thomas dengan diantarkan oleh Riza dan Dilla sampai di muka pintu.


Sesaat berikutnya, Riza menatap Dilla tajam.


"Kamu ngapain sih deket-deket sama si Niko kayak tadi?"


"Deket-deket gimana maksud Mas?"


"Yah, pokoknya deket-deket kayak tadi. Kamu denger ya, aku nggak suka ya lihat kamu deket-deket sama dia kayak gitu."


"Mas ini kenapa sih?. Mas Niko itu kan sodaranya Mas, wajar dong kalo saya deket sama dia."


"Pokoknya aku nggak suka. Kamu itu isteri aku, kamu cuma boleh deket sama aku aja."


Dilla terkekeh geli, "Owala Gusti, jadi ceritane Mas iki cemburu toh?"


"Kamu kan udah tau jawabannya, kenapa masih tanya?!"


Dilla tertawa mendengar pengakuan spontan Riza.


"Berhenti menertawakanku!!!" bentak Riza.


Dilla pun berhenti seketika.


Hening.


Sesaat berikutnya, Riza perlahan mendekat ke arah Dilla lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat tepat di bibir isterinya itu yang sukses membuat wajah gadis didepannya memerah. Mereka sama-sama membeku beberapa saat disana.


Tak lama setelahnya, Riza pun segera berbalik meninggalkan Dilla dengan sedikit berlari menaiki anak tangga. Ia terlihat sangat malu dengan apa yang dilakukannya kali ini.