My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/77



Riza memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Kedua kakinya berjalan lemah menuju ke sebuah sofa panjang yang mematung di sudut ruangan. Tangannya bergerak pelan memijat dahinya yang mulai terasa kaku sesaat setelah ia duduk menegakkan tubuhnya di sana.


Riza kembali meraup wajahnya kasar. Kegusaran tergambar jelas di kedua bola matanya yang terlihat mulai memerah. Kenapa istrinya itu selalu saja salah paham padanya, pertanyaan itu mengguncang kuat hatinya saat ini.


Lagi-lagi kesalahpahaman menyulam jarak diantara mereka. Jarak yang membuat istrinya itu semakin menjauh.


Rutukan demi rutukan tak henti-hentinya terlantun lirih dari bibir Riza. Pikirannya benar-benar kusut dan kalut.


Sementara itu, di ruangan lain. Isak tangis pilu terdengar lirih dari bibir manis Dilla. Bahunya berguncang ikut meluapkan kesedihan hatinya. Wajahnya tenggelam sempurna di atas bantal yang didekapnya erat sedari tadi.


Isak tangis lirih itu pun terdengar semakin pilu ketika ia kembali meratapi kebodohan dirinya yang dengan sangat mudahnya tertipu oleh kata-kata manis dan bujuk rayu Riza. Si pria singa berkulit landak yang perlahan-lahan mulai menyalakan cahaya cinta di relung hatinya yang terasa gelap. Cahaya cinta yang berhasil menghilangkan semua ketakutannya pada dunia.


Sesaat kemudian, Dilla menegakkan wajahnya. Putihnya dinding kamar mulai terlihat samar akibat ulah si bulir bening yang masih betah menggenangi pelupuk mata indahnya hingga membuat pandangan matanya buram.


Riza segera menajamkan pendengarannya saat mendengar suara derit pintu yang terbuka. Suara deritan nyaring yang bukan berasal dari kamarnya melainkan dari kamar istrinya.


Ia pun bergegas berlari ke luar kamar. Langkahnya terhenti saat melihat Dilla sedang menuruni anak tangga dengan langkah yang terburu-buru dan sedikit berlari.


Mata Dilla tertuju ke arah pintu besar ruang utama yang ada didepannya. Satu niatnya saat itu, pergi. Ya, pergi menghindari Riza sejauh mungkin malam itu untuk menenangkan pikirannya yang sangat carut marut tak menentu.


Riza segera mencekal lengan Dilla tepat sebelum Dilla berhasil meraih gagang pintu.


"Kamu mau kemana?" tanyanya.


Dilla berbalik. Matanya menatap tajam ke arah Riza. "Lepas!". Tatapan tajam gadis itu bagaikan sebilah pisau yang menyayat hati Riza.


"Aku mohon, Dilla. Dengarkan penjelasanku!" Riza menatap Dilla lembut berharap kemarahan gadis itu mencair.


Dilla menghempaskan tangan pria didepannya dengan kasar. "Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah jelas. Saya sudah tahu, mas itu cuma ingin mempermainkan saya. Semua kata-kata manis yang mas katakan pada saya itu hanya kebohongan!" ujarnya dengan sedikit terisak.


Mata Riza membulat, "Apa maksudmu berkata seperti itu?. Siapa yang mempermainkanmu?" ucap Riza tidak percaya. "Dengar. Semua yang kamu dengar tadi itu hanya salah paham. Dengarkanlah dulu penjelasanku." Riza meremas bahu Dilla sembari menatap lekat mata istrinya. "Apa yang kamu pikirkan saat ini, itu semuanya salah. Aku mohon tenanglah. Aku akan jelaskan semuanya, tolong percayalah padaku."


Dilla memalingkan wajahnya. Tak bergeming sedikitpun dengan perkataan Riza.


Riza melanjutkan, "Aku dan Andyra tidak ada apa-apa. Aku memang menyayanginya tapi itu hanya sebatas sahabat, tidak lebih." Riza menekankan kalimatnya seraya kembali menatap ke arah Dilla. "Maaf, kalau aku tidak menceritakan hal ini sebelumnya, tapi percayalah, tidak pernah terbesit sedikitpun di hatiku untuk mempermainkanmu. Aku berkata yang sebenarnya. Sungguh."


Dilla menyeka jejak air mata di pipinya tanpa menoleh ke arah Riza. "Saya mohon mas berhentilah berpura-pura. Saya sama sekali tidak percaya dengan apa yang mas katakan!"


Riza tersentak. "Tega sekali kamu bicara seperti itu padaku, Dilla. Harus berapa kali aku katakan, kalau apa yang kamu pikirkan itu salah," sahut Riza lirih.


Dilla menoleh ke arah Riza. Air mata mulai jatuh luruh dari kedua matanya. "Iya, saya salah!. Saya memang salah, karena saya terlalu naif sampai-sampai saya bisa percaya begitu saja dengan semua kata-kata mas!" Dilla menatap tajam ke arah Riza.


Dilla terisak, "Mas bilang, mas hanya bersahabat dengan mbak Andyra. Berulang kali saya menanyakan hal itu tapi mas terus saja menjawab hal yang sama. Dan dengan bodohnya, saya terus saja mempercayai kebohongan itu."


"Dia memang hanya sahabatku."


"Hubungan persahabatan macam apa yang sampai-sampai mengucapkan kata-kata cinta seperti tadi!. Mbak Andyra itu sangat mencintai mas." Dilla menghapus kembali jejak air matanya. "Dan saya rasa, mas juga pasti merasakan hal yang sama!" tuduh Dilla.


"Apa yang kamu bicarakan?!. Kenapa kamu selalu saja menuduhku dan berbicara kasar seperti itu?!. Aku ini suamimu, tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu kepadaku!" bentak Riza yang mulai tersulut emosi.


Dilla diam. Tetes demi tetes air mata mengalir deras di pipinya. Tanpa menunggu, Dilla pun segera membalikkan tubuhnya. Saat tangannya hampir mencapai gagang pintu, dengan secepat kilat Riza memeluk istrinya itu dari belakang. Mengeratkan pelukannya untuk mencegah kepergian Dilla.


Dilla diam mematung. Deru nafas pria itu menghempas lembut bahunya.


"Maaf. Aku sungguh minta maaf. Aku mohon mengertilah. Aku hanya ingin meminta pada Andyra untuk melupakan aku. Itu saja, tidak ada hal yang lain," jelas Riza panjang lebar.


"Tolong jangan salah paham padaku. Aku sungguh tidak sanggup melihat kesedihan dan kemarahanmu yang tidak beralasan seperti ini. Dengarkanlah penjelasanku kali ini, setelah ini aku tidak akan memohon apapun lagi. Tolong beri kesempatan untuk aku menjelaskan." Suara Riza terdengar memohon lirih.


Air mata Dilla semakin jatuh tak terbendung. Pelukan Riza seketika menghangatkan hatinya. Amarahnya yang meluap-luap sontak mereda seketika. Kata-kata tulus Riza berhasil meredam hati Dilla yang meradang.


Dilla melepas pelukan Riza lalu memutar tubuhnya menatap bola mata pria yang ada didepannya itu dengan tajam.


"Baik!" jawabnya singkat sembari menyeka jejak air mata di pipinya.


Saat ini mereka sudah berada di ruang kerja Riza. Mereka tampak duduk bersebelahan di sofa panjang yang berada di sana. Riza diam sejenak seraya menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sesaat kemudian, ia pun mulai bercerita.


"Sejak kecil aku dikenal sebagai anak yang cerdas, dengan kecerdasan itu aku pun mampu melewati setiap jenjang pendidikanku tanpa hambatan. Aku selalu mendapatkan kelas akselerasi di sekolah. Karena hal itu, aku tidak memiliki teman. Teman-teman sekelasku selalu menganggap aku ini anak yang aneh. Aku dikucilkan dan dicemooh hanya karena usiaku yang jauh lebih muda dibandingkan dengan mereka..."


"...Aku melewati hari-hariku dengan menyendiri di sudut ruangan ditemani sepasang earphone yang selalu menancap di telingaku kemanapun aku pergi. Yang aku rasa itu jauh lebih baik dibandingkan berada di tengah-tengah keramaian dengan orang-orang yang tak henti-hentinya membual tentang kehidupan mereka ataupun bercerita tentang kehidupan orang lain dimana semua hal itu sangat memuakkan bagiku..."


"...Bagaimana bisa orang-orang menceritakan semua kisah hidupnya pada orang asing, padahal tak jarang sebagian dari hal yang mereka ceritakan itu adalah aib mereka sendiri. Aku benar-benar tidak habis pikir..."


"...Bahkan tak jarang, dengan entengnya mereka bertanya ini dan itu mengenai hal-hal pribadi orang lain. Dan saat mereka bertanya padaku seperti itu, aku hanya diam dan pura-pura tidak mendengar. Seperti itulah diriku..."


"...Sejak saat itu, aku hanya mengurus diriku sendiri tanpa peduli dengan urusan orang lain ataupun menghabiskan waktuku dengan teman-teman sekelasku. Masa-masa sulit itu aku habiskan dengan menulis. Hingga akhirnya aku memutuskan menjadikan hobiku itu sebagai mimpiku di masa depan. Namun, mimpiku itu mendapat penolakan keras dari papi..."


"...Papi selalu saja marah setiap kali aku melakukan hobiku itu, bahkan papi tak segan-segan membuang atau membakar semua hasil tulisanku dengan maksud agar aku melupakan semua mimpiku yang menurut papi tidak berguna..."


"...Papi terus menerus menuntutku untuk menjadi seorang dokter agar dapat memimpin rumah sakit kakek kelak. Papi selalu saja memaksakan hal yang ia inginkan tanpa bertanya, apakah aku menyukai hal itu atau tidak. Dengan terpaksa aku pun, menyetujui keinginannya. Setelah lulus SMA aku pun memilih jurusan kedokteran padahal sebelumnya aku sangat ingin memilih jurusan sastra..."


"...Seperti yang aku duga, aku selalu merasa terbebani setiap kali melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Aku menempuh hari-hariku di kampus dengan menyendiri, memikul semua keegoisan papi di pundakku saat itu..."


"...Hingga akhirnya tanpa sengaja, aku bertemu dengan Andyra di kampus saat aku menempuh pendidikan kedokteran di sana. Andyra sangat suka menulis sama sepertiku, hingga aku pun merasa, aku dan dia mempunyai banyak kesamaan. Akhirnya kami dekat. Aku tak menyangka Andyra menyatakan cintanya padaku-"


"Jadi, kalian berpacaran?" sambar Dilla penasaran.


"Ya, karena saat itu aku sangat takut kehilangan sahabatku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku tak menyangka, Andyra mampu menyadari bahwa aku tidak pernah mencintainya. Andyra akhirnya tahu bahwa aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Awalnya aku pikir lambat laun cinta itu akan hadir nantinya. Ternyata aku salah..."


"...Suatu hari, aku pun memintanya untuk menikah denganku. Karena saat itu, aku benar-benar tidak mau kehilangan sahabatku."


Dilla membulatkan matanya.


"...Tapi, aku tak menyangka, Andyra justru menolak lamaranku saat itu. Hatiku benar-benar hancur. Lagi-lagi aku ditolak oleh orang-orang disekelilingku. Sejak saat itu, aku dan Andyra tidak pernah bertemu..."


"...Suatu hari, aku dan Andyra bertemu di rumah sakit. Aku sempat terkejut saat menyadari bahwa takdir ternyata mempertemukan kami kembali. Namun, perasaanku masih sama, aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat..."


"...Andyra jugalah yang membuatku menyadari perasaanku padamu..."


Riza menatap wajah Dilla lekat.


"Tapi, aku sungguh tidak menyangka bahwa Andyra masih menyimpan rasa cinta itu untukku. Aku mengira seiring berjalannya waktu, Andyra akan melupakanku tapi ternyata aku salah. Oleh karena itu, aku menegaskan padanya untuk melupakan semuanya sebab aku hanya ingin persahabatan yang murni."


Riza menggenggam jemari Dilla erat, "Itulah yang sebenarnya terjadi. Percayalah padaku. Aku tidak pernah menganggap Andyra lebih dari sekedar sahabat dan aku tidak pernah mempermainkanmu."


Riza menghapus air mata yang menetes di pipi istrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Mereka saling menatap dalam. Sesaat kemudian, Riza menarik Dilla ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang sepertinya berhasil menenangkan dan memenangkan hati Dilla untuk kembali mempercayainya.


"Semua yang aku lakukan untukmu itu tulus dan apa adanya. Jadi, tolong jangan pernah meragukanku lagi."


Dilla membalas pelukan Riza dengan sedikit terisak. Mendekap erat tubuh suaminya itu seolah takut kehilangan.