My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/17



Dilla pergi meninggalkan Riza seorang diri di ruang tamu. Sementara Riza terlihat cuek dan tidak mempedulikan kepergian Dilla.


Dilla berjalan menuju dapur untuk memasak makan siang hari ini. Sesekali perhatian Riza sedikit teralihkan dengan aroma masakan Dilla yang sangat menggugah selera.


Tak berapa lama akhirnya masakan Dilla pun selesai. Dilla kemudian mengajak Riza untuk makan siang bersama. Riza yang sedari tadi memang sudah sangat lapar, langsung saja mengiyakan ajakan Dilla untuk makan.


Mereka pun menyantap makan siang yang telah terhidang di atas meja. Riza tampak sangat menikmati masakan Dilla dalam diamnya.


Setelah selesai makan siang, Dilla langsung buru-buru menaiki anak tangga menuju kamar. Dilla membuka pintu kamar lalu menarik cepat secarik kertas dan sebuah pena yang terletak di atas meja. Dilla kemudian menuruni anak tangga kembali sembari memegang secarik kertas dan pena di tangannya.


Dilla pun menghampiri Riza yang sedang menonton televisi.


"Ini mas!" Dilla menyodorkan secarik kertas kepada Riza.


Riza memandang Dilla dan mengerutkan keningnya.


Dilla kembali menyodorkan kertas itu kepada Riza. Riza meraihnya dan membaca coretan-coretan yang ada di atasnya.


"Apa ini?" batinnya


"Bagaimana mas?" tanya Dilla.


Riza diam sambil mengamati dan menelaah satu persatu tulisan tangan Dilla. Ternyata kertas itu berisi detail perjanjian yang di inginkan Dilla.


Riza pun mulai membaca di dalam hati satu persatu tulisan tangan Dilla tersebut,


[**1] Dilla membantu Mas Riza menulis novel hanya saat ada waktu luang, seperti malam hari, libur kuliah atau akhir pekan. Itu pun kalau tidak ada kesibukan lain seperti belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliah.


[2] Mas Riza tidak boleh melarang Dilla untuk bekerja di warung mbak Laras.


[3] Tidak ada kontak fisik apapun selain berpegangan tangan.


[4] Mas Riza harus membayar biaya kuliah Dilla paling lambat tanggal 5 setiap bulannya selama empat tahun hingga Dilla lulus kuliah.


[5] Mas Riza harus mematuhi dan memenuhi semua isi detail perjanjian dari Dilla. Jika Mas Riza melanggar, Mas Riza harus membayar denda sebesar Rp.200.000.000**,-


"Hanya ini?" Riza menaikkan kedua alisnya.


Dilla mengangguk pelan.


"Oke, aku tidak keberatan!" Riza langsung menyetujui permintaan Dilla.


Dilla menyodorkan pena kepada Riza dan menyuruh Riza untuk menandatanganinya. Riza kemudian menggerakkan tangannya menandatangani detail perjanjian yang di minta Dilla sebagai pertanda bahwa ia setuju.


"Ini!!" Riza memberikan kertas yang sudah ditandatanganinya kepada Dilla.


Dilla meraihnya sembari berkata, "Punya mas mana?" Dilla menatap Riza penuh tanda tanya.


"Aku tidak perlu menuliskannya di atas kertas. Kamu cukup ingat baik-baik apa yang aku katakan!!" jawab Riza cepat sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.


Dilla mengangguk mengiyakan dan menatap Riza dengan serius.


"Tidak ada obrolan pribadi dan tidak ikut campur dengan urusan pribadi. Kalau kamu melanggar, aku tidak akan membiayai kuliahmu!!"


Dilla mengerutkan keningnya, "Apa?" , teriak Dilla dalam hati.


"Satu lagi, kesepakatan ini hanya berlaku sampai dengan aku merilis novel baruku. Setelah itu, kita akan berpisah!" tegas Riza.


"Bagaimana?" sambung Riza kembali.


Dilla terlihat berpikir sejenak kemudian ia mengangguk mantap.


"Tidak masalah, saya setuju mas!" Dilla tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Masa bodoh dengan syarat mas Riza yang tidak masuk akal itu, yang penting biaya kuliahku aman. he..he..he.." batin Dilla.


Riza tidak membalas uluran tangan Dilla.


"Kalau tidak ada lagi yang mau di bicarakan, pergi sana!" usir Riza.


Ucapan singkat Riza seketika menghilangkan senyuman di wajah Dilla. Bibir Dilla mengerucut menahan kekesalan. Ia menarik uluran tangannya sambil menggerutu pelan.


Dilla pun langsung beranjak pergi meninggalkan Riza yang terlihat kembali asyik dengan kegiatan menonton televisi.


Saat ini, Dilla sudah berada di kamar. Dilla tampak sedang mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Ponsel Dilla yang berada di atas meja terlihat bergetar.


drrrttt...


drrrttt...


Ia melihat nomor tidak di kenal tertera di layar ponsel, tanpa berpikir panjang ia pun langsung menggeser tanda berwarna merah di ponselnya.


Dilla mengabaikan panggilan di ponselnya dan kembali mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Dilla kemudian menghentikan kegiatannya itu saat jam telah menunjukkan pukul 5 sore.


Dilla pun bergegas turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam. Terlihat Riza masih asyik menonton televisi di ruang tamu.


Saat Dilla sedang menyiapkan makan malam, terdengar suara bel pintu berbunyi


tingtong....


tingtong....


Saat sedang makan, mami pun berceloteh,


"Tadi mami ketemu sama teman lama mami di acara seminar, terus dia cerita kalau sekarang cucunya udah dua. Padahal anaknya seumuran sama kamu lho sayang." Mami melihat sekilas ke arah Riza.


Riza terlihat biasa saja menanggapi celotehan mami.


"Habis dengerin cerita dari teman mami, mami jadinya pengen punya cucu juga, hi..hi..hi.." ucap mami.


"Uhuk..Uhuk...Uhuk..."


Cuitan mami sukses membuat Dilla tersedak makanan yang ada di mulutnya, dengan cepat Dilla menyambar gelas berisi air di depannya dan langsung meminumnya.


Mami dan papi menatap Dilla khawatir.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya mami.


Dilla mengangguk pelan sambil tersenyum simpul. Dilla pun mencoba menetralkan tenggorokannya yang masih terasa perih.


Riza melirik ke arah Dilla dan menggeleng pelan.


Setelah selesai makan malam, Dilla mencuci tumpukan piring kotor di dapur lalu bergegas menaiki tangga menuju ke arah kamar.


Saat Dilla memasuki kamar, terlihat Riza sedang membaca buku di atas ranjang. Dilla hanya melihat Riza sekilas lalu ia duduk di dekat sofa untuk kembali menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya yang belum selesai.


drrrttt...


drrrttt...


Ponsel Dilla bergetar, Dilla meraih ponselnya. Terlihat nomor tidak di kenal di layar.


"Nomor siapa ini?" Dilla bertanya dalam hati.


Kemudian ia menggeser tanda berwarna hijau di ponselnya.


"Halo!" sapanya.


"Halo, Dilla!" Terdengar suara seorang pria dari balik ponsel.


"Mas Fahmi?" Dilla sedikit terkejut dan tanpa sadar menaikkan volume suaranya.


Riza berdehem keras mendengar suara Dilla.


"Kamu lagi apa Dilla?" tanya Fahmi.


"Mas tahu nomor aku dari siapa?" Dilla menurunkan volume suaranya, ia sedikit berbisik.


"Aku minta nomor kamu dari Kiki," jawab Fahmi.


"Oh!" jawab Dilla berbisik singkat sambil memainkan pena di tangannya.


Riza memperhatikan tingkah Dilla dari belakang.


"Besok kamu kuliah jam berapa?, Aku jemput ya?" tanya Fahmi mulai melancarkan jurusnya.


"Tidak usah mas, aku bisa pergi sendiri,” bisik Dilla.


"Kamu kenapa sih kok ngomongnya kayak bisik-bisik gitu?"


"Ehm, anu mas. Suami aku lagi tidur, jadi aku ngomongnya pelan-pelan, takut dia bangun," jelas Dilla.


Fahmi terdiam menahan cemburu.


Riza terdengar kembali berdehem keras, cepat-cepat Dilla mengakhiri obrolannya dengan Fahmi.


"Udah dulu ya mas soalnya aku mau tidur, udah ngantuk. Malem Mas Fahmi."


tut...


Setelah mengakhiri obrolannya, Dilla berbalik ke belakang, terlihat Riza memandangi Dilla dengan tatapan membidik tajam ke arahnya.


Dilla langsung membalikkan tubuhnya menghindari tatapan Riza. Ia cepat-cepat membereskan buku-bukunya di atas meja.


Setelah itu, Dilla langsung beranjak menuju sofa berpura-pura tidur.


"Matikan lampunya!"


Dilla terlonjak kaget mendengar suara Riza. Dengan secepat kilat, Dilla langsung beranjak dari sofa untuk mematikan lampu kamar.


Dilla kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Ia memejamkan matanya.


Bruukk!!!


Riza tiba-tiba melemparkan selimut ke arah Dilla membuat Dilla membuka matanya kaget.


"Pakai selimut itu, aku tidak mau melihatmu mati kedinginan di kamarku!" ucap Riza datar.


Dilla menatap Riza sekilas, memakai selimut kemudian merebahkan tubuhnya kembali.


Sebelum memejamkan mata, Dilla kembali menggerutu pelan di dalam hatinya.