
Restoran
Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Dilla pun tiba di restoran bersama dengan Kiki dan Fahmi. Sebuah restoran di pinggir pantai yang dihiasi lampu-lampu temaram di sekitarnya.
Dengan suara deburan ombak disertai semilir angin sepoi-sepoi sebagai pelengkap suasana.
Tak henti-hentinya Dilla menyunggingkan senyum di bibirnya menikmati indahnya malam dari tempat duduknya saat ini.
Kelap kelip cahaya lampu yang terpancar indah dari gedung-gedung pencakar langit kota Jakarta juga tak luput dari pandangan matanya.
Dilla merasa sangat bahagia karena ini adalah pertama kalinya Dilla berkeliling kota Jakarta di malam hari. Sebab selama ia menikah dengan Riza, Riza tidak pernah sekalipun mengajak Dilla berjalan-jalan. Padahal Dilla sangat ingin mengajak Riza berkeliling kota di malam hari, tidak hanya berdiam diri di rumah seperti biasanya.
Namun, mengingat sikap Riza yang sangat sulit didekati dan sangat menikmati kesendirian itu, membuat Dilla membuang jauh-jauh keinginannya untuk mengajaknya keluar dari rumah. Begitulah Riza. Mengingat hal itu, Dilla pun mendesah pelan.
Kini di atas meja restoran sudah ada sebuah kue tart dan bermacam-macam hidangan lezat yang menggugah selera.
Tampak mereka menikmati malam perayaan ulang tahun Dilla dengan sangat akrab. Penuh dengan canda dan tawa. Dilla tampak sangat bahagia.
-----------
Rumah Riza
Riza terlihat menikmati waktu sendirinya dengan kembali berkutat di depan laptop miliknya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Ditengah kesibukannya itu, tiba-tiba Riza merasakan perutnya terasa kram. Ia memegang perutnya kuat dan merintih kesakitan. Terdengar ia meringis karena menahankan rasa sakit di perutnya. Seketika tangannya langsung mengambil gelas berisi air mineral yang ada di atas meja lalu meneguknya perlahan.
Terlihat wajahnya memucat dan buliran peluh menggenangi dahinya. Kemudian Riza merasakan matanya berkunang-kunang dan penglihatannya mengabur. Untuk mengurangi rasa sakitnya, Riza langsung merebahkan kepalanya di atas meja. Tak berapa lama ia pun memejamkan matanya perlahan.
----------
Restoran
Karena asyiknya bercengkrama dengan Fahmi dan Kiki, Dilla tidak menyadari bahwa malam ternyata sudah semakin larut. Dilla melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah malam, kita pulang yuk!" ajak Dilla.
Fahmi pun melirik sekilas ke arah jam tangannya, sementara Kiki melihat jam yang tertera di layar ponselnya kemudian berkata,
"Ya ampun Dilla, masih juga jam sembilan malam!" seru Kiki.
"Kasihan mas Riza, sendirian di rumah!" ucap Dilla lagi.
"Riza kan bukan anak kecil lagi sih, Dilla!" imbuh Fahmi kemudian.
Meskipun Dilla berusaha menenangkan pikirannya akan tetapi entah mengapa Dilla tetap saja mengkhawatirkan Riza yang saat ini tengah berada di rumah sendirian. Dilla sangat merasa cemas tidak karuan. Perasaannya tidak menentu.
Dilla melihat jam yang ada di pergelangan tangannya berulang kali.
"Ada apa Dilla?. Kenapa kamu gelisah begitu?" tanya Fahmi heran.
"Tidak tahu mas, aku kepikiran mas Riza terus!" jawab Dilla singkat.
Mendengar itu, seketika raut wajah Fahmi berubah masam. Ia merasa jengkel karena meskipun kini Dilla ada bersamanya tetapi Dilla tetap saja memikirkan dan mengkhawatirkan Riza. Membuat hatinya semakin terbakar cemburu.
"Pulang yuk, Mas!" ajak Dilla kembali.
Akhirnya dengan berat hati, Fahmi pun setuju untuk segera mengakhiri acara perayaan ulang tahun Dilla malam itu. Padahal sebelumnya ia berharap bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Dilla.
Kini mereka sudah berada di mobil untuk mengantarkan Dilla pulang ke rumah. Di dalam mobil Dilla meminta maaf kepada Kiki dan Fahmi.
Akhirnya mobil pun tiba di rumah Riza.
"Terima kasih ya Kiki dan mas Fahmi. Aku bahagia sekali loh malam ini!" ucap Dilla saat melepaskan sabuk pengaman yang mengikat pinggangnya.
"Iya Dilla. Sama-sama!" Kiki tersenyum manis.
Sementara Fahmi tampak mulai melancarkan jurusnya kembali, "Aku akan lakukan apa saja buat kamu Dilla!" ucap Fahmi tersenyum menggoda.
Kiki mengerutkan dahinya.
"Uhh.. dasar playboy karbitan!" ejek Kiki.
"Udah istri orang juga, masih aja kamu sikat!", sambung Kiki lagi.
"Terus kalau istri orang, memangnya kenapa?" Fahmi tersenyum menatap Dilla penuh arti.
"Dasar!" lanjut Kiki.
Dilla tidak menanggapi kata-kata Fahmi. Ia buru-buru menyudahi obrolannya.
"Sudah ya, aku masuk duluan!" ucap Dilla.
Ia membuka pintu mobil kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Dilla bergegas membuka pintu rumah menggunakan kunci duplikat yang diberikan Riza tempo hari.
Dilla membuka pintu. Terlihat kondisi rumah yang sepi. Ia pun langsung bergegas menaiki anak tangga menuju ke arah kamar.
Dilla memutar gagang pintu perlahan lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ia melirik sekilas ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.
"Apa mas Riza masih mengerjakan novelnya di ruang kerja?" gumam Dilla.
Tanpa berpikir lama, Dilla pun langsung bergegas menuju ruang kerja Riza.
Dilla mengetuk pintu berulang kali. Namun, tidak ada suara sahutan dari Riza.
Dilla pun kemudian memberanikan dirinya memutar gagang pintu perlahan.
cklek
Pintu pun terbuka.
Dilla terperanjat kaget. Ia langsung menyentuh dahi Riza dengan telapak tangannya. Dilla dapat merasakan peluh membanjiri dahi suaminya itu.
"Badannya panas!", serunya.
Dilla pun langsung mengangkat tubuh Riza kemudian membopongnya menuju sofa yang ada di sudut ruangan.
Samar-samar Riza mencium aroma parfum yang dipakai Dilla. Ia membuka matanya perlahan.
"Kamu sudah pulang?" gumam Riza pelan.
"Iya mas, mas kenapa?" tanya Dilla cemas.
"Tidak ada obrolan pribadi" sahut Riza pelan.
Riza pun memejamkan matanya kembali.
Setelah menidurkan Riza di sofa, Dilla langsung bergegas menuju dapur. Ia mengambil handuk kecil dan mangkuk berisi air hangat untuk menurunkan panas di tubuh Riza.
Dilla terlihat merawat Riza sepanjang malam dengan cekatan. Sudah lebih dari tiga jam Dilla terjaga.
Selang beberapa menit, Dilla merasa sudah tidak sanggup menahan kantuknya, ia merebahkan kepalanya di meja dan akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, Riza membuka matanya perlahan. Saat membuka mata, ia melihat Dilla yang tengah tertidur di meja kerja Riza.
Riza melihat Dilla sejenak kemudian memejamkan matanya kembali.
Drrrttt..
Drrrttt..
Ponsel Dilla bergetar. Dengan setengah sadar Dilla meraba tas kecil yang terselempang di bahunya. Ia meraihnya lalu mendekatkannya ke telinga.
"Halo!" sapa Dilla dengan suara serak khas bangun tidur.
"Dilla, kamu dimana?" Terdengar suara Laras dari ujung telepon.
Dilla menjawab pertanyaan Laras dengan mata yang masih mengantuk, "Maaf ya mbak, hari ini aku ndak bisa membantu mbak berjualan di warung!"
"Mas Riza sakit mbak!" sambungnya lagi.
"Sakit apa?", tanya Laras.
"Demam mbak sejak tadi malam."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Kamu jaga Riza saja baik-baik. Tidak perlu datang ke warung hari ini."
"Terima kasih yo, mbak!" jawabnya.
Dilla menyudahi panggilan teleponnya. Ia pun kembali memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, Dilla mendadak membuka matanya. Ia ingat sesuatu.
Dilla kemudian langsung bergegas menuju sofa untuk mengecek keadaan Riza. Dilla meletakkan tangannya di dahi Riza.
"Alhamdulillah panasnya sudah turun!" gumamnya.
Terlihat Riza membuka matanya perlahan.
Secepat kilat Dilla menarik tangannya dari dahi Riza.
"Mas, sudah baikan?" tanya Dilla.
"Aduh!" Riza merintih pelan memegangi perutnya.
Melihat Riza yang merintih menahan sakit, membuat Dilla seketika meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia menelepon Niko.
Tidak lama berselang, Niko pun datang bersama seorang dokter.
Dokter terlihat memeriksa keadaan Riza.
"Kalian tidak perlu khawatir. Saya sudah memberikannya obat. Sebentar lagi juga dia akan segera membaik!" ucap dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih Om. Om memang hebat!. Ha..ha..ha." Niko tertawa.
Dilla melihat sekilas ke arah Niko dan dokter asing yang ada di depannya
"Mereka terlihat akrab sekali!" batinnya.
Niko kemudian mengenalkan Dilla kepada dokter asing itu. Dokter paruh baya, berperawakan tinggi dengan kaca mata melingkari kedua matanya.
"Om, kenalin ini Dilla. Istrinya Riza!" ucap Niko.
"Nah Dilla, ini Om Darma. Beliau ini Om nya gue sama Riza!" sambung Niko lagi.
Dilla terlihat bingung dengan perkataan Niko barusan.
"Jadi, Riza dan Niko ini adalah keponakan saya," jelas Om Darma.
"Jadi, mas Riza dan mas Niko sepupu toh!" Dilla membatin.
"Selamat atas pernikahan kalian. Maaf ya, saya tidak menghadiri pernikahan kalian tempo hari!" ucap Om Darma.
"Tidak apa-apa dokter!" jawab Dilla.
Dilla pun mencium lembut punggung tangan Om Darma.
"Jangan panggil saya dokter, panggil saya Om!" Om Darma tersenyum ke arah Dilla.
Dilla kemudian mengangguk mengiyakan.
Selanjutnya Om Darma berpamitan pulang. Niko mengantarkan Om Darma sampai di depan pintu. Sedangkan Dilla bergegas mempersiapkan sarapan untuk Riza.