My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/39



"Kalian mau bertengkar sampai kapan?" ucap Andyra menyadarkan Dilla dan Riza.


Riza dan Dilla menoleh ke arah Andyra bersamaan.


"Mataku sakit melihat pertengkaran kalian. Sudahlah aku pulang saja!"


"Sampai ketemu besok di rumah sakit." Andyra melihat ke arah Riza.


Riza mengangguk singkat.


"Rumah sakit?. Mbak Andyra dan mas Riza mau ngapain ketemu di rumah sakit?" bisik Dilla di dalam hati.


"Sampai ketemu lagi Dilla," sambung Andyra kembali.


Dilla mengangguk sopan.


Andyra berdiri dari duduknya kemudian melanjutkan ucapannya, "Lanjutkan pertengkaran kalian di rumah saja. Kalian tidak malu apa dilihatin sama orang-orang!"


Andyra tertawa kecil sambil melangkah pergi meninggalkan Riza dan Dilla yang mematung.


Riza dan Dilla melihat ke sekeliling mereka kemudian saling berpandangan. Setelah itu mereka pun tertawa mengingat adu mulut mereka sesaat tadi yang seperti anak kecil.


Selanjutnya, mereka pun membayar makanan mereka kemudian pergi meninggalkan warung tersebut. Mereka kembali berjalan beriringan memasuki taman.


"Kamu selalu saja membuatku malu," keluh Riza sambil berjalan.


"Issshh.. Bukannya mas yang selalu saja mempermalukan saya," balas Dilla kembali.


Riza menoleh dan memajukan wajahnya ke arah Dilla. Secepat kilat Dilla menyilangkan tangannya di depan wajah Riza.


"Mas mau apa?" ketus Dilla.


"Jangan bergerak. Ada sesuatu di rambutmu," ucap Riza singkat.


Dilla menurunkan tangannya, "A-a-ada apa mas?" Rengek Dilla ketakutan.


"Sebentar!" timpal Riza kembali.


Dilla meraih lengan Riza sambil memejamkan matanya.


Riza menggerakkan tangannya perlahan ke kepala Dilla. Sesaat kemudian ia mengelus rambut Dilla lembut.


"Jadilah istri yang manis dan patuh." Riza masih mengelus rambut Dilla sambil tersenyum.


Dilla menaikkan bola matanya dan mendengus kesal.


"Mas mempermainkan saya lagi. Awas ya!" geram Dilla.


Riza menjulurkan lidahnya meledek singkat ke arah Dilla. Membuat Dilla bertambah kesal. Saat Dilla mendekat, Riza pun berlari secepat kilat meninggalkan Dilla. Dan terjadilah saling kejar mengejar romantis ala film-film Bollywood.


Dilla kemudian menggelitiki tubuh Riza. Seketika Riza menggeliat geli dan tertawa terbahak. Riza pun balas menggelitiki tubuh Dilla akan tetapi Dilla justru terlihat biasa saja sebab Dilla bukanlah tipe penggeli sama sekali. Alhasil Dilla pun berhasil menyiksa Riza hingga Riza meminta ampun berulang kali padanya karena tak kuasa menahan gelitikan dari Dilla.


"Stop it. Stop it," ucap Riza kewalahan menahan nafasnya tertahan.


Dilla bertambah kesal.


"Apa?. Stupid?" batinnya.


Mendengar kata "stupid" keluar dari mulut Riza. Membuat Dilla semakin gencar menggelitiki tubuh Riza. Riza pun menggeliat hingga berguling-guling di tanah. Meskipun Dilla kurang menguasai bahasa Inggris tetapi ia masih mengerti arti kata "stupid" yang dilontarkan Riza. Walaupun sebenarnya Dilla salah paham.


Karena sudah tak kuasa menahan gelitikan Dilla, Riza pun menarik Dilla ke dalam pelukannya.


"Berhenti. Please!" ucap Riza dengan nafas tersengal-sengal memeluk tubuh Dilla erat.


Dilla pun menghentikan gerakan tangannya dan matanya terbuka lebar. Dilla meronta melepaskan diri dari pelukan Riza. Entah sengaja atau tidak akan tetapi Riza justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas Riza benar-benar keterlaluan!!" batinnya.


Dilla pun mencubit pinggang Riza dengan sekuat tenaga. Sontak Riza pun melepaskan pelukannya. Riza kembali mengaduh kesakitan untuk kesekian kalinya. Dilla menatap Riza tajam.


"Apa?" Dilla melotot tajam.


"Dasar bocah!" Riza mencubit kedua pipi Dilla geram kemudian memajukan wajahnya mendekat.


cup...


Sebuah kecupan mendarat di bibir Dilla. Mata Dilla membulat. Pasalnya, seumur hidup belum pernah ada pria yang menjamah bibirnya seperti itu termasuk Fahmi mantan kekasih Dilla dahulu. Dilla benar-benar meradang karena ulah Riza kali ini.


Dilla berlari meninggalkan Riza.


"Hiks..hiks. Mas Riza benar-benar keterlaluan!" gumamnya.


"Aa-aa-aa-aa, hiks.. hiks." Tangisnya.


Dilla menangis tersedu-sedu sambil berlari. Semua orang yang dilewatinya melirik ke arahnya heran. Riza mengejar Dilla sambil terus menerus berteriak memanggil nama Dilla. Dilla tidak mengindahkan panggilan Riza.


tiiiin....


Sebuah mobil mendekat ke arah Dilla dengan kencang. Riza berlari dan menarik lengan Dilla.


wuuussshhhhh......


Mobil pun berlalu kencang meninggalkan mereka. Entah apa yang akan terjadi pada Dilla jika Riza tidak menariknya dengan cepat.


Dilla menunduk dalam dan menyeka jejak air mata yang ada di pipinya. Riza mengerutkan dahinya bingung bercampur heran. Saat bola mata Riza menjelajahi wajah Dilla, seketika itu pula Dilla menutupi wajahnya. Dilla tidak mau Riza melihatnya menangis.


"Jangan lihat kesini. Hiks..hiks.." Rengeknya.


Dilla selalu merasa malu jika ada orang yang melihat wajahnya saat menangis. Sebab dulu ayahnya selalu bilang kalau Dilla itu sangat jelek jika menangis. Semenjak itu, Dilla tidak pernah mau terlihat menangis di depan orang. Dilla tidak mau diejek, apalagi di ejek oleh Riza. Itu merupakan bencana besar baginya, bisa-bisa Riza akan membullynya tujuh hari tujuh malam.


Riza tidak tahu harus berbuat apa. Sebab ia juga tidak tahu bagaimana caranya menenangkan seorang gadis yang sedang menangis. Riza pun hanya diam berdiri dan mematung, menunggu Dilla terlihat lebih tenang. Mereka pun berdiri di tepi jalan tanpa melakukan apapun. Membuat orang-orang yang berlalu lalang di sana menatap mereka penuh keanehan.


Kini mereka telah duduk di bangku taman. Dilla sudah terlihat lebih tenang. Melihat Dilla yang sedari tadi diam membisu membuat Riza sedih dan merasa bersalah.


Riza pun bergegas menarik ponsel dan earphone dari dalam sakunya kemudian menancapkan salah satu earphone di telinga Dilla. Musik pun mengalun indah dari ponselnya. Dilla sempat kaget saat mendengarkan sebuah alunan musik instrumental terdengar di telinganya. Indah dan sungguh menenangkan.


Dilla menoleh ke samping. Terlihat Riza sedang memakai earphone yang sama dengannya. Riza memejamkan mata menikmati alunan musik.


Riza pun menggumam pelan, "Maafkan aku," ucapnya singkat dengan mata terpejam.


"Jangan pernah menangis. Hatiku rasanya sakit melihatmu seperti itu," ucapnya kembali.


Dilla masih diam tanpa suara. Sesaat kemudian ia menarik earphone yang ada di telinganya lalu berdiri tanpa menoleh ke arah Riza.


"Saya mau pulang!"


"Sebentar. Mumpung masih tengah hari, ayo kita berkeliling kota lagi. Aku akan mengajakmu ketempat yang lebih indah," bujuk Riza.


"Mas pergi berkeliling sendiri saja. Saya mau pulang!"


Dilla berjalan cepat meninggalkan Riza. Riza pun berlari mengejar langkah Dilla. Akhirnya Riza pun membawa Dilla pulang ke rumah. Rencana jalan-jalan mereka pun hancur berantakan. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam dan tidak berbicara sepatah katapun.


Sesampainya di rumah, Dilla langsung turun dari motor dan bergegas menaiki anak tangga menuju ke arah kamar.


Riza menatap Dilla dengan tatapan pilu. Hati Riza terasa teriris saat melihat sikap Dilla yang dingin padanya. Riza pun memasuki rumah dengan langkah pelan. Kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Dilla memindahkan semua barang-barangnya keluar kamar menuju ke kamar tamu. Riza mencegah langkah Dilla.


"Apa-apaan ini?"


"Minggir!"


"Bukankah aku sudah meminta maaf. Apa kata-kata maaf ku tadi tidak cukup?. Kenapa kamu masih marah?"


"Tidak ada obrolan pribadi!" ucap Dilla ketus.


Dilla terus saja memindahkan semua barang-barangnya ke kamar tamu. Tidak mengacuhkan perkataan Riza.


"Aku mohon jangan seperti ini!"


Dilla menuruni anak tangga berlalu pergi meninggalkan Riza. Riza mengejar langkah Dilla dari belakang. Dilla hendak membuka pintu rumah, Riza pun mencegah tangan Dilla. Riza berdiri menahan pintu lalu menguncinya.


"Kamu mau kemana?"


Dilla berbalik meninggalkan Riza tanpa berkata apapun. Riza menarik tangan Dilla. Dilla menghempaskan tangan Riza dengan kasar.


"Kamu itu sudah dewasa. Kalau aku ada salah, bicaralah!!!. Jangan diam seperti ini!!!" Suara Riza meninggi dan menggema seisi rumah.


"Syafadilla Aini!!!!" seru Riza berteriak memanggil nama Dilla.


Seketika Dilla menghentikan langkahnya saat menaiki anak tangga.


Riza menghampiri Dilla, "Kita ini sudah dewasa. Tolonglah jangan bersikap seperti anak kecil. Kita bisa bicara baik-baik!."


"Saya ingin sendiri. Tolong mas jangan ganggu saya," ucap Dilla tanpa melihat Riza.


"Baik. Aku tidak akan mengganggumu. Kamu butuh waktu berapa lama?"


"Entahlah." Dilla berlari meninggalkan Riza menuju kamar tamu.


Riza mengejar Dilla ke arah kamar tamu. Menggedor-gedor kamar Dilla yang kini telah terkunci. Riza pun mengacak rambutnya frustasi.


Dilla benar-benar mendiamkan Riza semalaman. Bahkan saat Riza mengajaknya makan malam, Dilla hanya menjawab singkat. Sikap Dilla benar-benar dingin dan ketus.


Saat malam menjelang, Riza terus terjaga. Sikap Dilla benar-benar membuatnya sakit kepala. Riza terus menerus memikirkan Dilla sepanjang malam. Alhasil, keesokan paginya Riza pun bangun kesiangan dan terlambat datang ke kantor.


------


Setibanya di parkiran rumah sakit, Riza bergegas berlari menuju lift. Riza melirik jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Riza tampak terburu-buru. Pasalnya, pagi ini Riza ada rapat dengan para kepala staf dan karyawan yang ada di rumah sakit. Riza sudah terlambat tiga puluh menit.


Riza pun akhirnya tiba di depan ruang rapat dengan nafas tersengal-sengal. Ia menarik nafas dalam kemudian mendorong pintu memasuki ruangan.


Semua orang yang ada di dalam serempak berdiri menyambut kedatangan Riza. Riza pun menyuruh mereka duduk kembali dan memulai rapat.


Riza berusaha memfokuskan pikirannya pada rapat, akan tetapi rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Membuatnya mengatupkan matanya berusaha menahan kantuk akibat tidak tidur semalam suntuk. Riza pun menegakkan tubuhnya di kursi.


Andyra memperhatikan Riza dari tempat duduknya. Tiba-tiba rapat selesai. Riza tidak mengetahui apa yang terjadi dalam rapat tersebut sebab rasa kantuknya. Riza meninggalkan ruangan dengan tatapan sayu ditambah lingkaran hitam di matanya.


Riza menuju ruangannya dengan berjalan gontai. Sesampainya di ruangan, Riza langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di sana. Tak lama ia pun terlelap melepaskan rasa kantuknya.


Triiiiiinnnngggg....


Triiiiiinnnngggg....


Suara alarm tanda bahaya menggema kuat memenuhi seluruh gedung rumah sakit. Seketika orang-orang menjadi panik dan berlarian. Semua orang yang berada di dalam gedung sibuk berhamburan kesana-kemari menyelamatkan diri.


Para pegawai, karyawan maupun dokter bahu membahu berjibaku membawa para pasien menuju ke luar gedung. Suasana sangat kacau balau.


Orang-orang berteriak ketakutan berusaha menyelamatkan diri. Sementara Riza masih tampak tertidur pulas di dalam ruangannya. Riza tidak dapat mendengar suara apapun karena ruangannya memang sengaja dirancang kedap suara.


Andyra berlari tak karuan menuju ruangan Riza. Ia membanting pintu hingga membuat Riza tersentak kaget. Dengan cepat Andyra menarik tangan Riza dan berlari ke luar ruangan untuk menyelamatkan diri.


"Ada apa ini?" tanya Riza heran sambil berlari bersama Andyra.


"Ada bom di gedung ini!" ucap Andyra.


"Apa?!"


Duarrrrr...


Terdengar suara ledakan kuat dari atap. Seketika suara teriakan menggema di seluruh gedung.


Riza dan Andyra berlari kencang menuju ke luar gedung dengan menuruni tangga darurat.


Duarrrrr...


Kembali terdengar suara ledakan yang lebih kuat. Sprinkle yang terpasang di setiap lantai pun secara otomatis menyala dan mengeluarkan air. Pertanda adanya kepulan asap dan api di dalam gedung.


Andyra dan Riza pun bertambah panik. Tiba-tiba Riza berbalik menaiki tangga kembali.


"Riza...!!!"


"Riza...!!!"


Duarrrrr....


Suara ledakan pun terdengar untuk ketiga kalinya. Andyra yang mencemaskan Riza langsung berlari mengejar Riza dari belakang.