My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/46



Pagi harinya, Riza tak henti-hentinya tersenyum.


Riza merasa sangat berhutang budi pada hujan beserta sekutunya. Hujan benar-benar membawa berkah baginya. Dengan adanya hujan deras dan suara petir yang bergemuruh tadi malam, Riza dapat tidur bersama dengan Dilla bahkan memeluknya semalaman. Alam sungguh berpihak padanya.


Tidak ada hal paling menyenangkan bagi Riza selain melihat Dilla yang memeluknya saat ketakutan. Terdengar jahat memang. Namun, entah mengapa Riza selalu merasa menjadi pria paling beruntung sejagat raya setiap kali Dilla memeluknya erat, sebab hal itu membuatnya seakan menjadi tempat berlindung dan tempat bersandar bagi Dilla sekaligus membuatnya merasa diinginkan dan dibutuhkan olehnya.


Walaupun hanya berpelukan sepanjang malam tetapi momen itu sukses menghantarkan senyuman manis di wajah Riza semenjak ia terbangun dari tidurnya.


Senyuman itu pun terlihat masih betah melekat di wajah Riza saat ia melajukan motornya menelusuri jalanan ibukota bersama dengan Dilla, istri kesayangannya yang tampak memeluk Riza ketakutan disebabkan kecepatan motor yang melaju di atas rata-rata.


Jalanan yang lengang membuat Riza mengemudi bak rider yang sedang memperebutkan piala kejuaraan MotoGP. Membuat Dilla tak henti-hentinya menggerutu di dalam hati sanking takutnya.


Tak lama berselang, motor pun berhenti tepat di depan kampus Dilla.


"Besok-besok mas ndak perlu mengantar saya lagi kalau cara mengemudi mas grasak-grusuk seperti tadi!" cetus Dilla saat turun dari motor Riza.


Riza diam seraya menatap Dilla dengan wajah datarnya.


"Segera ganti warna rambutmu yang menyebalkan itu!" ucap Riza tiba-tiba sesaat setelah melepas helm Dilla.


Dilla tidak menjawab.


"Kamu itu seorang mahasiswi jadi bertingkahlah selayaknya mahasiswi!!"


Dilla mengerucutkan bibirnya dan membatin, "Apa hubungannya warna rambut sama tingkah laku?."


Saat Riza hendak melanjutkan kembali kalimatnya, dengan cepat Dilla membekap mulut Riza. Riza pun berhenti bersuara.


"Tolong jangan ceramahi saya disini, Mas. Saya malu dilihat orang-orang!" bisik Dilla di telinga Riza.


Riza terpaku mendengar suara Dilla yang berbisik merdu di telinganya.


"Aku tidak menceramahi dirimu, aku hanya mmph..." Dilla kembali membekap mulut Riza.


"Sssttt!!. Sudah ya mas, saya sudah terlambat. Saya masuk dulu," bisik Dilla kembali.


Sesaat kemudian, Dilla pun melangkah masuk ke dalam area kampus.


"Tunggu!!" cegah Riza.


Dilla berbalik.


Riza menyodorkan tangannya ke arah Dilla.


"Sebelum kamu pergi, setidaknya ciumlah tanganku dulu sebagai balas budi darimu atas kebaikanku yang telah memelukmu semalaman," tuntutnya.


Dilla mendekat.


"Cepatlah. Aku sudah terlambat!" suruh Riza kembali.


Dilla menautkan kedua alisnya dan menatap Riza heran.


"Berhenti menatapku seperti itu!" ucap Riza dengan wajah datar.


"Bilang saja minta disalim!" ledek Dilla seraya mencium punggung tangan Riza dengan lembut.


Riza tersenyum saat menatap Dilla mencium punggung tangannya. Ide dan inspirasi bermunculan singkat di kepalanya.


Selanjutnya, Dilla pun melangkah masuk kedalam kampus. Tampak Riza menatap kepergian Dilla dari atas motor. Setelah itu, ia pun kembali melajukan motornya dengan kencang.


-------


Satu jam kemudian, Riza akhirnya tiba di rumah sakit. Riza langsung memasuki ruangannya kemudian menghubungi kepala bagian HRD.


"Panggil Sofian segera ke ruangan saya!" perintahnya.


"Sofian belum masuk hari ini, Pak. Sejak kemarin, saya mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak diangkat."


"Ya sudah kalau begitu. Kapan masa cutinya berakhir?"


"Lima hari lagi, Pak!"


"Baiklah. Terima kasih."


Riza mengakhiri pembicaraannya dan mulai melanjutkan paginya dengan menelaah setumpuk berkas membosankan yang ada diatas meja.


-------


Dilla sudah ada di kelas menunggu kedatangan dosen. Tak lama berselang, Kiki pun masuk kedalam kelas dan menghampiri Dilla.


"Dilla!" sapa Kiki.


"Kenapa?" jawabnya seraya mengeluarkan buku teks dari dalam tas miliknya.


Kiki menyodorkan sebuah brosur pada Dilla.


"Kita ikut les Bahasa Inggris yuk!. Biar kita bisa kayak bule-bule gitu ngomongnya. Mau ya?"


Dilla membaca brosur ditangannya.


"Ini tuh tempat les Bahasa Inggris paling top di Jakarta. Lagi ada promo besar-besaran nih. Kalau kita daftar di sana bulan ini, kita bisa dapat diskon 50%," jelas Kiki.


"Beneran?" Mata Dilla membulat.


Kiki mengangguk mengiyakan.


"Aku mau, tapi aku harus izin dulu ke mas Riza. Memangnya kapan terakhir pendaftarannya?"


"Disini ditulis kalau lusa pendaftaran terakhir," jawab Kiki.


"Ya sudah, nanti aku kabari kamu lagi. Biar aku minta izin sama mas Riza dulu."


"Oke!. Semoga mas Riza kasih izin."


Mereka berdua sama-sama mengaminkan.


"Ngomong-ngomong, aku minta maaf ya atas sikap mas Riza semalam," ungkap Dilla tiba-tiba.


"I'm sorry, I love you. Thank you," balas Dilla dengan logat medok khasnya.


"Ternyata kita cocok ya jadi bule!" canda Kiki.


"Yes, of course. Amazing!" sahut Dilla seraya memainkan ujung rambutnya.


Mereka pun terus saja berbicara bahasa Inggris tanpa mempedulikan pengucapan mereka yang terdengar sangat aneh dan berantakan. Sesekali mereka tertawa karena tingkah konyol mereka itu.


Sesaat kemudian, dosen pun akhirnya memasuki kelas. Mereka segera menghentikan candaan mereka dan mulai memusatkan perhatian pada kelas mereka hari ini.


"Ilmu surga dimulai," bisik Kiki.


"Wow. Wonderful," sahut Dilla


Mereka pun kembali tertawa.


-------


Sore harinya, Dilla pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Ia harus rela berjalan kaki memasuki komplek perumahan menuju ke arah rumah Riza karena ojek online yang ditumpanginya dari kampus tiba-tiba mogok di tengah jalan.


Dalam perjalanan pulang, seekor kucing berbulu putih menggemaskan berjenis Persia terus mengikuti langkah Dilla dari belakang. Dilla kemudian berbalik dan langsung menggendong kucing lucu tersebut.


"Duh, lucunya. Imut lagi. Kucing siapa ini?" ujarnya seraya celingukan ke kanan dan ke kiri.


Kawasan perumahan terlihat sangat sepi. Karena kasihan maka tanpa pikir panjang, Dilla langsung membawa kucing menggemaskan itu pulang ke rumah.


--------


Rumah Riza


Jam dinding menunjukkan pukul 19.00 malam.


ting...


tong...


"Sebentar!" teriak Dilla menuruni anak tangga.


Dilla membukakan pintu. Terlihat Riza berdiri di depan pintu bersama dengan Andyra.


Entah ada angin apa, Dilla tiba-tiba menarik tangan Riza lalu mencium punggung tangannya. Perlakuan Dilla yang tak biasa itu, membuat Riza kaget sekaligus bingung.


"Selamat datang di rumah!" seru Dilla dengan cerianya.


"Eh, ada mbak Andyra juga. Masuk mbak!" Dilla tersenyum lebar.


"Ada apa denganmu?" selidik Riza saat memasuki rumah.


Dilla tersenyum. Riza menautkan kedua alisnya menatap senyum aneh Dilla.


"Mas mau minum apa?. Teh atau kopi?. Mas mandi dulu saja, nanti saya sediakan. Sini mas tasnya biar saya bawakan," ujar Dilla seraya menarik tas ransel yang disandang Riza.


"Tidak perlu!" jawab Riza datar.


Riza mencium gelagat aneh dari Dilla. Riza bersedekap sembari memandang ke arah Dilla penuh selidik.


"Kamu kena.., haciihhhh..!!"


Riza tiba-tiba bersin tepat mengenai wajah Dilla. Dilla segera menyeka wajahnya seraya memonyongkan bibirnya kesal.


"Haciihhhh. Haciihhhh. Haciihhhh..!"


Riza bersin bertubi-tubi ke arah wajah Dilla. Membuat Dilla bertambah kesal.


"Mas iki kenapa toh?" tanya Dilla seraya memberikan tisu kepada Riza.


"Kamu kenapa, Riza?" tanya Andyra.


"Haciihhhh...!!!" Riza bersin kembali.


Kali ini tepat mengenai wajah Andyra.


"Meong. Meong!!"


Riza celingukan mencari-cari asal muasal suara sembari menutupi hidungnya dengan tisu. Entah kenapa, tiba-tiba mata Riza membulat.


"Cepat singkirkan hewan berbulu ini dariku!. Haciihhh..!!"


Terlihat seekor kucing tengah bergelayut manja di kaki Riza. Riza pun bersin-bersin kembali.


Cepat-cepat Dilla menjauhkan hewan berbulu itu dari Riza.


Selanjutnya, Riza segera berlari kencang menaiki anak tangga.


-------


Di sebuah mansion mewah, entah dimana itu. Terdengar suara berat seorang lelaki sedang sibuk berbicara di telepon.


"Lakukan apa yang aku perintahkan padamu!"


"....."


"Jangan sampai dia curiga!"


"....."


"Kerjakan tugas ini secara diam-diam dan jangan buat kegaduhan apapun, aku tidak mau terjadi sesuatu pada putraku."


tut...


Panggilan telepon pun berakhir begitu saja. Suara beratnya yang sedikit gemetar menandakan usia si penelepon yang sepertinya sudah tidak muda lagi. Terdengar nada ancaman dalam setiap ucapannya. Siluet wajah tirusnya terlihat dalam remang-remang cahaya lampu yang menghiasi kamarnya. Mansion mewah yang terlihat sunyi seolah menyaksikan kegundahannya yang menyiratkan sesuatu.


"Bagaimana kalau semuanya terbongkar?. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" gumamnya lirih seraya menyandarkan tubuhnya di kursi.