
Setelah menyelesaikan makan malam. Dilla segera memasuki kamarnya diikuti oleh Riza dari belakang. Riza menepati janjinya untuk membantu Dilla membereskan barang-barang bawaannya. Dilla menutup pintu kamar sesaat setelah mereka masuk ke dalam.
Sambil membuka tas ranselnya perlahan, Dilla membuka percakapan, “Mas jangan macam-macam ya!. Mas ke sini pasti karena mau cari muka sama ibu, kan?” tuduh Dilla tanpa menoleh ke arah Riza.
Riza mendekat dan menautkan kedua alisnya, “Maksudmu apa?. Aku tidak mengerti.”
“Biar saya perjelas ya, Mas. Walaupun mas minta tolong sama ibu untuk membujuk saya supaya menerima mas, saya ndak akan semudah itu mengubah keputusan saya!” tegas Dilla.
Riza tertawa. Dilla menoleh ke arah Riza yang tampak tertawa lebar sedikit mengejek padanya, “Kenapa mas tertawa?. Apa ada yang lucu?” tanya Dilla dengan raut wajah serius.
“Hentikan pemikiran anehmu itu. Apa kamu lupa kalau ibu itu tidak tahu menahu tentang perjanjian kita. Bagaimana bisa kamu berpikir, kalau aku akan meminta bantuan ibu untuk membujukmu mengubah keputusan tidak masuk akalmu itu?”
Dilla diam.
Tiba-tiba Riza menarik tubuh Dilla kearahnya lalu mengunci tatapan Dilla, “Dengar. Aku ini suami sahmu. Baik secara hukum maupun agama. Bisa saja aku memaksamu untuk melayaniku sejak jauh-jauh hari. Hingga akhirnya kamu hamil lalu kita akan terikat selamanya. Tidak akan ada yang menyalahkanku akan hal itu. Sudi ataupun tidak. Aku tetap berhak atas dirimu dan meminta hakku itu kapanpun aku mau.” Dilla menelan ludahnya kasar. Sorot matanya memancarkan ketakutan.
Riza melanjutkan dengan suara lirih, “Tapi aku tidak bisa egois. Lihat!. Ketakutan dan kegelisahanmu itu selalu saja muncul setiap kali aku mencoba mendekat. Aku sangat peduli pada perasaanmu. Aku hanya butuh penjelasan. Apakah aku memang seburuk itu sampai-sampai kamu selalu menolakku?. Menolak pernikahan kita?.” Riza menarik nafas dalam. Meremas bahu Dilla dengan tatapan bergetar, “Beri aku alasan yang jelas. Jika memang semua ini sangat sulit bagimu. Aku akan melepaskanmu, meskipun aku tidak tahu akan jadi seperti apa hidupku kelak.” Suara Riza mulai bergetar menahan kesedihan hatinya.
Dilla terhenyak saat melihat kepiluan tersingkap jelas dalam sorot mata sedih itu. Riza pun segera membalikkan badannya, “Aku mau keluar mencari udara segar. Kamu istirahatlah. Tidak perlu mengunci pintu kamar ini. Jangan takut. Aku tidak akan melakukan apapun padamu.” Riza berlalu pergi meninggalkan Dilla yang terlihat berdiri mematung di kamar. Merutuki kebodohannya karena sudah menuduh Riza yang bukan-bukan.
“Mau kemana, Nak?” sapa ibu Dilla saat berpapasan dengan Riza di ruang tamu.
Riza menjawab lirih, “Mau keluar sebentar, Bu. Cari udara segar.” Riza tersenyum getir.
“Loh, kenapa sendirian?. Ini kan sudah malam. Ajak saja Dilla sekalian,” usul ibu.
“Tidak perlu, Bu. Riza bisa jalan sendiri. Kasihan Dilla, kelihatannya dia sangat lelah,” tolak Riza.
“Oh, ya sudah. Hati- hati, ya!"
Riza mengangguk singkat, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Suara jangkrik yang beradu seolah bernyanyi riang mengiringi langkah kaki Riza malam itu. Malam sunyi dan gelap dengan cahaya lampu temaram di sekitarnya seakan menggambarkan kegalauan hatinya. Redup tak bercahaya. Mungkin itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Dengan langkah pelan dan pikiran menerawang, Riza menapaki jalanan berbatu yang ada di depannya.
Sesaat kemudian, langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis jelita dengan rambut terikat rapi berlari sambil berteriak ke arahnya.
“To-to-tolong, Mas!” ucap gadis asing itu dengan nafas tersengal. “Tolong kakak saya-” Gadis itu menelan ludahnya berulang kali, mencoba menstabilkan pernafasannya.
Riza menautkan alisnya, “Ada apa?. Bicaralah dengan jelas.” tanyanya sedikit bingung.
Gadis itu menarik nafas dalam, “Kakak saya sepertinya mau melahirkan. Saya tidak tahu-” Mengatur nafasnya kembali, “Harus minta tolong kemana lagi, Mas!”
“Coba bawa kakak kamu ke Puskesmas. Di sana pasti ada dokter yang bisa membantu persalinan kakakmu.”
“Saya barusan dari sana, Mas. Tapi Puskesmasnya sudah tutup.”
Naluri kedokteran Riza seketika muncul saat melihat seseorang membutuhkan bantuannya, “Baiklah. Aku akan membantu. Kebetulan aku ini seorang dokter. Rumah kamu dimana?” tanyanya segera.
“Hah?!. Mas ini dokter?. Alhamdulillah," ujarnya lega. "Rumah saya di ujung jalan sana, Mas. Ayo!” Gadis itu menarik Riza ikut berlari bersamanya.
Mereka pun segera berlari kencang menuju ke arah rumah yang di tunjuk oleh si gadis asing itu. Tak lama, akhirnya mereka pun tiba di sebuah rumah bercat putih yang terbilang cukup besar. Tidak seperti rumah penduduk desa pada umumnya. Sepertinya gadis itu berasal dari keluarga yang lumayan tajir di daerahnya. Terbukti dari barang-barang yang terbilang cukup mewah terlihat menghiasi tiap sudut rumahnya.
Seorang pria paruh baya muncul dari balik kamar dengan raut wajah cemas. Pria itu menghampiri sang gadis, “Bagaimana, nduk?. Dokternya ada?” tanya pria tersebut.
“Alhamdulillah ada, Pak.” Gadis itu menjelaskan pada pria tersebut yang tak lain ternyata adalah ayahnya.
“Dimana pasiennya?” sambar Riza.
“Di dalam sana.” Tunjuk pria itu ke arah sebuah kamar. “Mari, dokter.”
Riza pun mengikuti langkah kaki pria paruh baya tersebut untuk membantu proses persalinan didalamnya.
-------
Sudah kesekian kalinya ia melihat ke luar jendela rumah. Menunggu kepulangan Riza yang entah berada dimana. Perasaannya cemas tak menentu. Khawatir terjadi sesuatu pada Riza sebab ini merupakan pertama kalinya Riza menginap di rumahnya. Dilla berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil menggigiti kuku jarinya. Mendongak berulang kali ke arah jendela.
“Duh. Mas Riza kemana, ya?. Kenapa belum pulang juga?” gumamnya khawatir.
----------
“Selamat ya, Pak. Bayinya laki-laki,” ujar Riza datar sesaat setelah ia keluar dari kamar sehabis menolong persalinan seorang wanita di sana.
“Terima kasih, pak dokter. Terima kasih!” ujar pria paruh baya itu dengan haru.
“Terima kasih ya, Mas. Eh, salah maksud saya pak dokter,” ujar gadis yang terlihat membantu Riza selama proses persalinan.
“Iya. Harusnya aku yang berterima kasih. Kalau kamu tidak membantu, aku tidak akan bisa melakukannya sendiri. Dan sepertinya kamu cukup berpengalaman dalam hal ini.”
Gadis itu tersipu, “Kebetulan saya seorang perawat, dokter. Saya Kia, Azkia Ayunina. Saya bekerja di rumah sakit Emerald Hospital Jakarta.”
“Emerald Hospital?” tanya Riza sedikit terkejut saat mendegar nama rumah sakit yang dipimpinnya itu disebut. Lain halnya dengan Kia yang tampak biasa saja sebab sepertinya Kia tidak mengenal siapa Riza sebenarnya.
“Iya, dokter. Mari duduk,” ajak gadis itu untuk duduk di sebuah sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. “Sebentar saya ambilkan minuman buat dokter.”
Tak lama gadis itu pun datang membawa sebuah nampan berisi secangkir teh hangat untuk Riza. Lalu mempersilahkan Riza untuk minum. Riza pun menyeruput minumannya.
“Saya rasa sekarang sudah larut malam. Saya harus segera kembali ke rumah.”
Pria paruh baya itu pun menawarkan kepada Riza untuk diantar pulang. Riza mencoba menolak dengan halus. Namun, pria itu terus memaksa. Hingga akhirnya Riza pun berkenan. Akhirnya Riza diantarkan pulang oleh Kia dan beberapa orang pria berbadan besar yang berjalan mengawal mereka di belakang.
“Oh, iya. Dokter namanya siapa?” Kia mengulurkan tangannya pada Riza.
“Riza. Riza Rifky,” singkat Riza tanpa membalas uluran tangan Kia.
Kia menarik uluran tangannya, “Maaf ya, dokter. Kalau saya lancang.”
Riza diam tidak menanggapi. Ia terus saja berjalan lurus, melangkahkan kakinya menuju ke arah rumah Dilla. Sepanjang perjalanan Kia berusaha memulai percakapan dengan bertanya ini dan itu pada Riza. Namun, Riza hanya menjawab seadanya dan terkesan datar.
Hingga tak terasa, akhirnya sampailah mereka di depan rumah Dilla. Mendengar suara percakapan seseorang di depan rumah, membuat Dilla segera memandang ke arah jendela. Terlihat jelas di depannya Riza sedang diantarkan pulang oleh seorang gadis yang juga dikenal baik oleh Dilla. Dilla pun segera membukakan pintu.
Entah kenapa, raut wajah Kia seketika berubah masam saat melihat Dilla berdiri di hadapannya. Kia segera memalingkan wajahnya dari Dilla. Seakan tidak suka.
“Saya permisi pulang dulu ya, Dokter. Selamat malam.”
Riza mengangguk singkat kemudian berbalik masuk ke dalam rumah. Wajah Riza sangat datar, tidak ada senyuman seperti biasanya. Bahkan saat melihat Dilla, Riza tidak menyapanya sama sekali. Riza terus saja berjalan masuk ke dalam kamar tanpa menoleh ke arah Dilla.
“Mas darimana?. Kenapa bisa pulang sama Kia tadi?” tanya Dilla pelan dan lembut sembari menutup pintu kamar.
“Tidak ada obrolan pribadi. Jangan bertanya apapun padaku sebab aku tidak akan menjawabnya!” Riza berjalan keluar kamar dengan membawa sebuah handuk di tangannya.
Dilla terdiam, “Sudah lama sekali aku tidak mendengar kalimat menyebalkan itu. Sepertinya mas Riza benar-benar marah kali ini!”
“Aggggghhhhhh......!!!” terdengar suara teriakan Riza dari luar.
Dilla menoleh sejenak lalu segera bergegas menuju ke arah datangnya suara dengan panik, “Kenapa?. Ada apa, Mas?”
Dilla membelalakkan matanya kaget saat melihat pemandangan di depannya. Terlihat Riza tengah bertelanjang dada dengan handuk yang melilit pinggangnya sehingga menampilkan otot perut kekar Riza yang tak tertutupi oleh apapun. Pasalnya, selama mereka menikah baru kali ini ia melihat Riza dengan pose seperti itu.
“Aggggghhhhhh......!!!” Dilla berteriak kencang kali ini.
Riza pun segera menghampiri Dilla dan langsung membekap mulut istrinya itu, “Sstttt. Kenapa kamu malah berteriak?. Kecilkan suaramu, nanti ibu dan Syifa bangun.” Riza berbisik lirih.
Mata Dilla semakin membuka lebar saat melihat Riza yang berdiri tepat di depan matanya. Sehingga ia dapat melihat dengan jelas seperti apa bentuk dada bidang dan perut kotak-kotak Riza. Wajah Dilla seketika merona merah menahan malu karena baru kali ini ia melihat tubuh separuh telanjang seorang pria. Bahkan aroma tubuh Riza dapat tercium jelas olehnya karena jarak mereka yang sangat dekat.
Ya, Allah Gusti. Cobaan apalagi ini!, batinnya gusar.