
Dilla dan Andyra saling berpandangan sesaat setelah kepergian Riza.
"Sebentar ya mbak," ucap Dilla pada Andyra.
"Kamu mau nyusul Riza ke atas?"
Dilla mengiyakan.
"Letakkan dulu kucingnya," ucap Andyra.
"Oh, iya." Dilla segera menurunkan kucing dari gendongannya.
Selanjutnya, Dilla melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Mas." Dilla mengetuk pintu kamar Riza.
"Apa lagi?" Suara Riza dari balik pintu.
"Buka dulu mas pintunya!"
Riza membukakan pintu seraya celingukan seolah memastikan bahwa hewan berbulu itu tidak ada.
"Mas baik-baik saja?"
"Aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana kucing itu bisa masuk ke rumah ini?" ujar Riza dengan hidung yang tampak memerah.
Dilla menyentuh hidung Riza dan terkekeh seraya mengacungkan telunjuknya ke arah Riza.
Riza memutar bola matanya malas, "Hentikan gelak tawamu itu. Tidak ada yang lucu!" ketusnya.
Riza melanjutkan kalimatnya lagi, "Segera usir kucing itu dari rumah ini!"
"Eh, jangan mas. Kasihan. Biar saya pelihara saja."
"Aku tidak suka ada hewan peliharaan di rumah ini. Ini rumahku. Tidak ada yang boleh tinggal disini tanpa seizin dariku. Termasuk hewan berbulu itu!"
"Benar juga. Aku kan tidak punya hak apapun di rumah ini. Tapi mau bagaimana, habis kucingnya lucu sekali. Apa mungkin mas Riza takut sama kucing?"
Riza menjentikkan jarinya. Seketika Dilla terkesiap.
"Hentikan pikiran bodohmu itu. Aku tidak takut pada kucing. Aku hanya tidak suka dengan bulunya yang beterbangan di sekitarku. Paham!" jelas Riza tiba-tiba.
Dilla menatap Riza bingung. Pasalnya darimana Riza bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Jangan pernah berpikir untuk memelihara hewan apapun di rumah ini!. Aku tidak suka!" tegas Riza seraya menatap tajam ke arah Dilla.
Dilla tertunduk lalu menarik lengan Riza. Seperti biasa, Dilla memulai rayuannya. Ia memasang wajah imut serta tatapan manja. Berharap agar Riza berubah pikiran.
Sebenarnya Riza terpengaruh dengan ulah Dilla itu. Namun, ia mencoba berusaha tidak peduli. Karena Riza yang tidak kunjung merespon, Dilla pun menghentikan tingkahnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Riza dengan menghentakkan kaki kanannya ke lantai tanda kekesalan.
Dilla menuruni anak tangga. Setibanya di bawah, Andyra menghampiri Dilla yang tampak cemberut.
"Riza mana?. Dia baik-baik saja kan?"
Dilla hanya diam. Selanjutnya, ia menarik Andyra untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Mbak tolong bujuk mas Riza ya. Mbak kan sahabatnya, pasti mas Riza mau mendengarkan kata-kata mbak." Dilla memelas.
"Maksudnya?"
Dilla pun mulai menceritakan perihal Riza yang menolak permintaannya untuk memelihara kucing di rumah. Andyra terkekeh mendengar curahan hati Dilla yang terdengar aneh dan lucu.
"Kenapa ketawa mbak?"
"Ternyata kamu ini unik ya. Kamu itu tulus dan penyayang. Pantas saja Riza itu sayang banget sama kamu." Andyra terkekeh pelan.
"Sayang opo toh mbak?. Bukannya kalau sayang sama orang itu semuanya di turuti mbak?. Mas Riza ndak pernah itu menuruti apa yang saya mau."
Andyra tersenyum, "Perlahan juga kamu akan tahu dan mengerti. Sudahlah Dilla, tidak usah cemberut begitu. Ayo kita siapkan makan malam. Mbak sudah lapar!"
Mereka pun langsung menuju dapur menyiapkan makan malam. Sembari menyiapkan makan malam, mereka berbincang singkat.
Andyra mengungkapkan rasa senangnya pada Dilla karena akhirnya ia bisa mampir ke rumah Riza dan mencicipi masakan Dilla yang sering di puji tak henti-hentinya oleh Riza. Dilla mendengar ucapan Andyra seraya menatap tidak percaya. Dilla menganggap Andyra terlalu berlebihan sebab mustahil Riza memuji masakannya di depan orang lain sementara setiap Dilla memasak untuk Riza, ia tidak pernah memujinya. Mendengar ucapan Dilla, Andyra pun kembali tertawa.
Tak berselang lama, makanan lezat pun telah tersaji di atas meja. Terlihat Riza menuruni anak tangga. Cepat-cepat Dilla menyingkirkan hewan berbulu yang ada di bawah meja makan menjauh ke arah garasi.
Riza bersin kembali. Pertanda adanya makhluk berbulu di sekitarnya. Dengan cepat ia celingukan memastikan tidak ada keberadaan hewan apapun. Setelah yakin, akhirnya ia pun dapat bernafas lega.
Andyra pun memberanikan diri untuk berbicara, "Eheemm. Ngomong-ngomong kucing tadi lucu banget ya. Kenapa tidak dipelihara saja?"
Riza diam.
Dilla menyahut, "Iya mbak, benar. Kasihankan mbak kalau dibiarkan diluar nanti dia kedinginan terus mati. Hitung-hitung beramal memelihara hewan kesayangan nabi. Iya kan mbak?" Seraya memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Habiskan makananmu jangan banyak bicara!" sambut Riza seraya menyeka mulut Dilla yang belepotan.
"Jadilah istri yang baik dan penurut. Dengan begitu kamu akan mendapatkan pahala yang lebih besar bahkan kamu bisa mendapatkan surga," jawab Riza santai.
Andyra terkekeh menatap ke arah Dilla yang terlihat tertunduk dalam saat mendengar perkataan Riza.
Satu jam kemudian, Andyra pun berpamitan kepada Dilla dan Riza.
"Jangan lupa minum obat supaya alergi kamu berhenti."
Riza mengiyakan.
"Alergi?" lirih Dilla.
"Bye Dilla!"
Dilla mengangguk sopan.
"Mas alergi bulu hewan mas?" tanya Dilla seraya menutup pintu.
"Hemm." Riza berdehem singkat.
Dilla menarik ujung kaus t-shirt yang dikenakan Riza.
"Maaf ya mas. Saya ndak tahu!." Dilla menundukkan kepala seraya memilin ujung bajunya.
Riza tersenyum menatap ke arah Dilla yang masih tertunduk bersalah.
"Sikapmu yang seperti ini membuatku semakin sayang padamu tapi kenapa kamu tidak peka sama sekali?" batin Riza seraya mengusap lembut kepala Dilla.
"Haciihhh..!!!"
Kucing kembali menggelayuti kaki Riza seolah si kucing minta dielus juga olehnya.
"Haciihhh!!. Singkirkan kucing ini dariku!"
Dilla mendongak lalu menarik kucing menjauh dari Riza. Dilla berlari menaiki anak tangga dengan menggendong kucing di tangannya meninggalkan Riza yang mulai bersin-bersin seorang diri.
--------
Hentakan dan dentuman musik R&B plus EDM memekakkan telinga. Seorang DJ berperawakan bule tampak asyik memainkan DJ Gears dengan lihainya. Sorot lampu warna-warni menambah semarak orang-orang yang tampak melenggak-lenggokkan tubuhnya larut dalam hentakan musik yang menggema kuat seisi ruangan.
Tampak beberapa wanita dengan pakaian minim nan sexy tengah meliuk-liukkan tubuhnya di lantai dansa menikmati musik. Diantara kerumunan terlihat seorang pria yang tengah berjoget ria bersama beberapa wanita sexy di sekelilingnya.
Ia tak lain adalah Elang Niko Febriandhi, alias Niko. Sepupu usil sekaligus teman Riza di kantor penerbit.
Salah satu kebiasaan buruk Niko adalah menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang di diskotik, minum-minuman keras dan bergonta-ganti wanita. Seperti yang tengah ia lakukan sekarang.
Hampir setiap harinya Niko menghabiskan waktunya dengan kesenangan fana tersebut. Niko mampu menghabiskan berbotol-botol bir dalam semalam. Meskipun demikian, Niko yang memang memiliki konsentrasi tinggi terhadap alkohol membuatnya tidak mudah untuk mabuk. Meminum minuman keras dan mabuk-mabukkan adalah hal yang berbeda baginya.
Tanpa sengaja pandangan mata Niko melirik ke arah seorang wanita muda yang tak lain adalah Nafrianha Chalondra alias Nana, wanita muda yang pernah menyelamatkan Riza sewaktu di bandara. Nana terlihat sedang bertengkar mulut dengan seorang pria. Niko memandang ke arah mereka seraya berjoget mengikuti hentakan musik.
Niko tidak pernah melihat wanita tersebut di tempat itu sebelumnya. Nana dan pria itu pun bertengkar hebat. Si pria yang sudah terlihat mabuk tampak hendak melayangkan sebuah tinju ke arah Nana.
Tangan kekar seorang pria menangkap cepat tangan pria mabuk itu kemudian menghempaskannya kasar.
"Kalau mau ribut, jangan disini bro. Beraninya mukul perempuan!" ujar Niko santai.
Si pria mabuk melotot ke arah Niko. Tanpa ba bi bu be bo, ia pun langsung melayangkan tinjunya tepat mengarah ke wajah Niko. Namun, Niko berhasil menepis tangan tersebut. Dan terjadilah baku hantam tak terelakkan antara mereka.
Tidak berselang lama, beberapa petugas keamanan melerai keributan tersebut. Hingga berakhirlah mereka bertiga di kantor polisi.
"Ini semua gara-gara si brengsek itu!" lirih Niko saat melirik tajam ke arah si pria mabuk.
brakkk...
Seorang petugas polisi tiba-tiba menggebrak meja dengan kuat. Membuat Niko terlonjak kaget.
"Apes banget sih gue malam ini!" Niko menunduk ketakutan.