My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/87



"Aku menyukai seseorang," ucap seorang pemuda memandang lurus ke arah danau yang ada didepannya.


Gadis berseragam SMA disebelahnya segera menoleh ke arah pemuda itu, "Oh, ya?. Memangnya kakak suka sama siapa?" tanya gadis itu dengan hebohnya.


Hembusan angin sepoi-sepoi, mengayunkan rambut sang gadis. Sesekali gadis itu menyelipkan rambutnya yang menari-nari indah ke belakang telinga. Menunggu jawaban dari mulut pemuda itu.


Pemuda itu melirik sekilas ke arah gadis cantik yang ada disampingnya, "Kamu."


Gadis itu terperanjat kemudian tertawa sambil menatap wajah si pemuda dengan tatapan canggung, "Yah, Dilla kirain siapa. Dilla juga suka sama kakak soalnya kakak itu baik. Kakak sudah seperti saudara Dilla sendiri."


Pemuda itu menatap wajah gadis disebelahnya dengan sorot mata lara seraya mengusap puncak kepala sang gadis.


Pemuda itu menghela nafas berat, "Kamu pergilah. Tinggalkan aku sendiri."


Dahi sang gadis mengerut, "Loh, kenapa, kak?" ujarnya dengan sorot mata penuh rasa bersalah.


"Aku sedang marah. Jadi pergilah."


Gadis itu terdiam.


"Pergilah, Endul. Pergi sana sebelum aku bertambah marah sama kamu."


Gadis itu segera berdiri dari duduknya, "Oke. Dilla pergi, tapi janji setelah ini kakak jangan marah lagi, ya?"


Pemuda itu kembali menatap lurus ke arah danau.


"Aku tidak mau berjanji. Aku takut nantinya tidak bisa menepati janjiku."


Mereka sama-sama terdiam dalam kebisuan.


Aldrich tersentak dari tidurnya sesaat setelah mimpinya berakhir. Dengan nafas tersengal dan mata yang membuka lebar, ia menghapus jejak air mata yang membasahi sudut matanya. Air mineral yang ada di atas nakas samping ranjangnya pun telah tandas dalam beberapa kali tegukan.


Aldrich kembali memegang dada sebelah kirinya yang mulai terasa nyeri dan sakit.


"Kenapa akhir-akhir ini gadis itu selalu saja muncul dalam mimpiku?. Dan kenapa setiap kali mimpi itu muncul rasanya sangat sakit sekali?" gumamnya lirih.


Air mata kembali menetes dari sudut matanya. "Lagi-lagi aku menangis tanpa sebab," gumam Aldrich sambil memegangi dadanya. Jantungnya mulai berdetak hebat. Nafasnya semakin tersengal. Otot-otot wajahnya menegang, serasa nyawanya akan tercabut dari raga.


Dengan gemetaran, tangan Aldrich menekan tombol yang menempel di dinding samping ranjangnya sambil terus memegangi dada sebelah kirinya dengan raut wajah mengeras menahan rasa sakit yang sungguh luar biasa. Pandangan mata Aldrich mulai nanar.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar Aldrich terbuka. Terlihat Thomas muncul dengan raut wajah khawatir dan cemas saat melihat ekspresi wajah tuannya yang tampak sangat kesakitan. Thomas segera menangkap tubuh Aldrich yang mulai melemah. Wajah Aldrich memutih dengan keringat yang bercucuran deras mengaliri dahi dan pelipis matanya.


Merasa ada yang tidak beres dengan tuannya, dengan sigap Thomas segera membopong tubuh Aldrich yang mulai melemah itu menuruni tangga dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Tuan, saya mohon bertahanlah," gumamnya sesaat setelah mesin mobil menyala. Thomas segera menginjak dalam pedal gasnya. Mobil pun melaju kencang meninggalkan rumah kediaman Aldrich.


------


Di tempat berbeda,


"Kamu kenapa?" tanya Riza memecah lamunan Dilla. Riza segera meletakkan buku yang ia baca di atas meja. Menatap ke arah Dilla dengan tampang seriusnya.


Sudah sedari tadi Riza memperhatikan tingkah Dilla yang tampak melamun dengan pikiran yang berada entah dimana.


"Ndak tau, mas. Perasaan saya kok ndak enak, ya!"


Riza menoleh ke arah Dilla, "Jangan bilang, kamu merasa tidak enak karena tidak jadi pergi ke rumah Aldrich tadi sore."


"Bukan begitu, Mas. Hanya saja-" Dilla menghentikan ucapannya sejenak. "Ah, sudahlah. Saya ngantuk, mau tidur."


Dilla segera merebahkan tubuhnya di sofa yang sudah ia duduki sejak tadi. Duduk sambil melamun dengan pikiran yang memang melayang jauh ke tempat lain.


"Mas kenapa masih duduk di situ?" ucapnya seraya memejamkan matanya perlahan.


"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu malah tidur di situ?. Aku menyuruhmu pindah ke kamar ini untuk menemaniku tidur di sana." Riza menunjuk ke arah ranjang. "Bukannya di situ!" tambahnya.


"Mas duluan saja tidur di sana. Nanti saya menyusul," racau Dilla lirih dengan mata yang terpejam.


Dilla tampak terlonjak kaget saat tiba-tiba Riza mendekapnya lalu menggendongnya perlahan menuju ranjang king size yang ada di tengah ruangan.


Mata Dilla membuka dan mengerjap beberapa kali saat menatap wajah Riza dari dekat.


"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang sangat kamu takutkan," ujar Riza sesaat setelah merebahkan tubuh Dilla di atas ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu.


Riza memutari ranjang lalu merebahkan tubuhnya di samping Dilla.


"Ceritakan padaku, apa sebenarnya yang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Riza seraya menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Siapa?. Kiki?" tanya Riza lembut seraya menatap langit-langit kamarnya.


Dilla terdiam. Keraguan tiba-tiba terlintas di pikirannya.


Riza membalikkan tubuhnya menghadap Dilla. "Bicaralah. Aku akan mendengarkan semua ceritamu. Aku ini suamimu, sudah selayaknya aku tahu apa yang membebani pikiran istriku sampai-sampai melamun seperti tadi."


Dilla tersenyum.


"Aku memintamu bercerita. Bukan tersenyum seperti itu."


Dilla menarik nafas panjang, "Tidak tahu kenapa. Saya tiba-tiba ingat sama Kak Raja, Mas." Senyum Dilla berubah getir.


Riza membelai lembut rambut Dilla, "Aku tidak tahu siapa itu Raja, tapi dari caramu menyebut namanya, sepertinya dia orang yang istimewa untukmu. Kamu tahu sebenarnya aku sangat penasaran mengenai hubungan kalian berdua, ada apa diantara kalian sampai-sampai kamu selalu mengingat orang itu. Jujur, aku selalu merasa marah dan kesal setiap kali kamu menyebut namanya."


Dilla menatap mata Riza dalam.


"Aku tidak akan menyuruhmu melupakan nama itu, tapi tidak bisakah kamu menjadikan aku orang yang istimewa juga sama seperti Raja?"


Riza mengusap pipi Dilla dengan lembut sambil menatap mata indah istrinya lekat yang disambut dengan senyuman hangat dari Dilla.


"Saya tidak bisa menyamakan mas dengan Kak Raja."


Riza menautkan alisnya.


Dilla sedikit mendekat ke arah Riza lalu secara spontan menyisir rambut pria yang ada didepannya itu dengan jemari lembutnya.


"Terima kasih ya, Mas. Mas itu benar-benar suami yang baik. Saya minta maaf, karena selalu saja membuat mas marah. Saya tidak bisa menyamakan mas dengan Kak Raja sebab mas itu suami saya. Mas sangat istimewa bagi saya."


"Bahkan melebihi Raja?" tanya Riza dengan semangat.


Dilla mengangguk dan tersenyum.


Akhirnya Riza dapat tersenyum lega sebab kekhawatirannya selama ini terjawab sudah. "Boleh aku memelukmu?" tanyanya kemudian penuh harap.


Dengan cepat, Dilla mendekap Riza hingga membuat Riza terhenyak karena Dilla yang tiba-tiba memeluknya dengan erat. Dilla menenggelamkan wajahnya di dada hangat suaminya. Sangat erat hingga membuat Riza melayang di udara dan tersenyum tiada henti.


"Mas?!" sapa Dilla tiba-tiba.


"Iya," sahut Riza lembut.


"Izinkan saya melayani mas malam ini," ucap Dilla lirih sesaat setelah melepaskan pelukannya. Dilla menatap Riza dengan tatapan serius.


"Tidurlah. Tidak perlu memaksakan diri. Aku tahu kamu takut. Tenanglah, aku akan selalu sabar menunggumu sampai kamu benar-benar siap." Riza tersenyum lalu memejamkan matanya perlahan.


Dilla menggeleng. "Saya sudah siap sekarang. Saya tahu seberapa keras usaha mas untuk menahan diri. Jujur saya memang takut tapi saya tidak mau menyiksa mas lebih lama lagi."


"Kalau aku melakukan itu. Pasti salah satu dari kita akan menyesal besok pagi. Aku tidak mau hal itu terjadi." Riza membuka matanya. Kekhawatiran tampak jelas di matanya setelah melontarkan kalimatnya barusan.


"Mas ndak perlu khawatir. Saya tidak akan menyesal."


Sesaat kemudian, Dilla menelentangkan tubuhnya pasrah di atas ranjang dengan mata terpejam sambil menggigit bibirnya gugup. Jantungnya berdetak kencang saat merasakan jemari hangat Riza perlahan membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakannya lalu menyibak piyama tersebut perlahan. Udara dingin seketika menyapa Dilla saat piyama telah tersibak seluruhnya.


Udara dingin semakin dirasakan Dilla saat semua kain penutup di tubuhnya telah raib hingga hanya menyisakan tubuh polos yang tak tertutupi sehelai benangpun.


Peluh bercucuran di dahi Dilla sangking takutnya saat merasakan setiap pergerakan Riza yang menjelajahi setiap inci bagian tubuhnya dengan ganas bak singa kelaparan.


Riza melayangkan beberapa ciuman dan kecupan beringas di sekujur tubuh Dilla yang sukses membuat Dilla meremang terlebih saat Riza menggigit kecil bagian belakang telinga Dilla sambil mengelus dan menggerayangi setiap bagian tubuh indah gadis yang masih menutup matanya itu. Terakhir Riza mengendus dan mencecapi tubuh indah istrinya hingga meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana.


Wajah Dilla merona merah pertanda Dilla sudah mulai menerima setiap rangsangan yang diberikan Riza padanya. Semburat merah itu pun semakin membuat hasrat Riza melambung tinggi hingga ke ubun-ubun. Hasrat yang sudah sejak lama ia tahan. Hasrat yang akan segera tersalurkan malam ini.


Riza pun menempelkan tubuh polosnya di atas tubuh polos Dilla sesaat setelah mengakhiri aksi beringasnya. Dilla tiba-tiba membuka matanya saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh daerah sensitifnya. Matanya membulat saat memandang tubuh kekar dan berotot Riza yang menindih tubuh mungilnya sepenuhnya.


Riza memandang mata Dilla lekat lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat di dahi Dilla sesaat sebelum menggagahi tubuh istrinya itu. Riza menyalurkan hasratnya dengan lembut dan perlahan sebab ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka berdua. Sesekali Dilla menjerit dan mencakar punggung pria yang tengah menggagahinya itu dengan kuat saat merasakan rasa sakit yang luar biasa di daerah sensitifnya.


Mereka menikmati malam penyatuan yang penuh desahan dan lenguhan itu dengan penuh cinta dan kehangatan. Memadu kasih sayang hingga malam hampir menjelang dini hari.


Dengan desahan nafas yang tersengal akhirnya mereka pun selesai menuntaskan hasrat mereka masing-masing. Riza merebahkan tubuhnya di atas tubuh Dilla sesaat setelah mencapai surga dunia yang selama ini selalu tertunda. Hasrat Riza yang selama ini membuatnya uring-uringan pun akhirnya tersalurkan sepuasnya saat berhasil menggagahi tubuh Dilla.


Riza memandangi wajah Dilla yang tampak masih menyisakan rona merah itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Jemari hangatnya menyisir rambut dan menyeka peluh yang membanjiri dahi istrinya dengan lembut. Terakhir, Riza mengecup singkat bibir istrinya sesaat sebelum melepaskan penyatuan mereka.


"Terima kasih untuk malam indah ini istriku," ujar Riza tersenyum manis dengan nafas yang masih sedikit ngos-ngosan kemudian merebahkan tubuhnya di samping Dilla.


Dilla membuka matanya sejenak lalu memejamkannya kembali. Sepanjang malam, mereka pun tertidur dengan saling mendekap erat tubuh polos mereka satu sama lain dengan hanya tertutupi oleh selimut putih. Akhirnya Riza dapat memiliki Dilla seutuhnya. Malam pertama penuh kasih itu pun akhirnya dapat terlalui dengan sempurna.