My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/35



Setelah mengantar Nana, Riza langsung bergegas menuju rumah Laras. Laras tampak kaget saat melihat Riza mengetuk pintu rumahnya.


Riza pun menanyakan keberadaan Dilla pada Laras. Laras yang ternyata tidak mengetahui dimana keberadaan Dilla membuat Riza semakin frustasi.


Di dalam taksinya, Riza terus berpikir keras.


"Dilla.. kamu dimana sebenarnya?" bisiknya dalam hati.


drrrttt..


drrrttt..


Ponsel Riza bergetar, dengan cepat ia mengangkat ponselnya.


"Halo, Dilla!" jawabnya cepat.


"Riza!" Terdengar suara Andyra dari balik ponsel.


"Maaf, aku pikir tadi istriku. Ada apa Andyra?" sahut Riza tampak kecewa.


"Datanglah ke rumah sakit sekarang. Dewan direksi mengamuk. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sebaiknya kamu segera ke sini.", tanya Andyra.


"Aku tidak bisa ke sana sekarang. Suruh saja mereka menghubungi papi. Bukankah lebih baik mereka berbicara dengan pemilik rumah sakit saja!" sahut Riza.


"Karena kamu direktur rumah sakit ini, mereka meminta kamu yang datang ke sini. Bukan papi kamu!" jawab Andyra lagi.


Riza menghela nafas kesal. Ini adalah hari yang sungguh melelahkan baginya. Masalah timbul silih berganti. Membuat energinya terus menerus berkurang.


"Baiklah. Aku segera ke sana!" jawabnya singkat.


Taksi pun langsung melaju menuju rumah sakit sesuai dengan perintah Riza.


-----


Ditempat lain.


Dilla yang masih duduk termenung dikejutkan oleh suara dering ponsel miliknya.


"Pasti mas Riza lagi!" batinnya.


Ia terlihat malas untuk menjawab. Alhasil, ponsel pun terus menerus berdering.


Jengah mendengar suara ponselnya, akhirnya Dilla melihat ke arah layar, muncul nama Bu Kades di sana. Secepat kilat Dilla menjawab ponselnya.


Dilla sedikit berdehem untuk menetralkan suaranya yang parau sehabis menangis.


"Halo. Assalamu'alaikum!" sapanya.


"Wa'alaikumsalam!" terdengar suara Syifa dari balik ponsel.


"Ada apa dik?" tanya Dilla.


"Kakak sudah sampai di Jakarta kan?" tanya Syifa cemas.


"Alhamdulillah sudah. Kenapa?" Dilla mengerutkan keningnya.


"Tadi pagi mas Riza ke rumah, nanyain kakak. Mas Riza terlihat panik dan cemas sekali kak."


"Mas Riza ke rumah dik?" Dilla membulatkan matanya.


"Iya kak. Syifa dan ibu jadi khawatir, kenapa mas Riza datang dan menanyakan kakak."


"Kakak sudah sampai di rumah mas Riza kan?" tanya Syifa kembali.


Dilla terdiam.


"Aku harus jawab apa?" batinnya.


"Halo!. Halo!" Suara Syifa menyadarkan Dilla.


"Dik, sudah dulu ya. Kakak mau ke kamar mandi. Udah kebelet. Pokoknya bilang ke ibu, kakak baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir. Titip salam sama ibu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam!", jawab Syifa.


Dilla menghela nafas lega. Karena ia dapat menghindar dari pertanyaan Syifa. Kemudian ia mengingat ucapan Syifa perihal Riza. Ia pun mulai menerka-nerka.


"Apa mas Riza mau minta maaf padaku?" gumamnya pelan.


"Ah, mana mungkin si mulut laser itu mau minta maaf!" gumamnya lagi.


"Tapi kenapa dia terlihat panik dan cemas?" gumamnya kembali.


"Sudahlah. Aku tidak peduli. Paling dia hanya takut perihal novelnya tidak selesai karena aku tidak ada."


Dilla kemudian beranjak dari duduknya. Ia masuk ke dalam kamar kost Kiki dan membaringkan tubuhnya di kasur. Matanya terasa lelah sehabis menangis. Tak lama mata itu pun terpejam dan bermimpi.


****


Dilla terlihat berada di atas sebuah perahu kayu dengan air jernih mengelilinginya. Matanya dimanjakan dengan pemandangan indah yang terhampar kemanapun arah matanya memandang. Udara sejuk terasa menembus hidungnya.


Samar-samar dihadapannya, ia melihat Riza sedang tersenyum. Riza terlihat sangat tampan dengan stelan jas putih pengantin yang di kenakan Riza sewaktu mempersunting Dilla.


Terlihat Dilla juga mengenakan stelan kebaya putih lengkap dengan segala aksesoris khas pengantin.


Tanpa sadar Dilla menyunggingkan senyum melihat ke arah Riza yang sedang menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Dengan senyum manis Riza berkata.


"Aku membutuhkanmu. Berjanjilah untuk selalu berada di sisiku!" ucap Riza lembut.


Dilla tertegun menatap Riza. Bibirnya tidak berbicara sepatah katapun.


Tiba-tiba perahu berguncang hebat. Seketika awan menghitam dan petir bergemuruh kuat. Membuat Riza dan Dilla panik.


Riza memeluk Dilla yang ketakutan. Dilla terlihat tenang saat dipeluk oleh Riza.


Tak lama perahu kayu pun terbalik karena tak sanggup menahan guncangan air yang dahsyat. Akhirnya mereka berdua tercebur ke dalam air danau yang kini sudah tak terlihat jernih lagi.


Pelukan Riza pun terlepas.


Dilla berteriak kencang memanggil Riza berulangkali. Namun, Riza tak kunjung muncul ke permukaan. Dilla mencoba menyelam ke dalam air tetapi ia tidak dapat melihat apapun karena air danau yang sudah penuh dengan sampah kayu dan dedaunan.


Tak lama Riza pun muncul ke permukaan dengan kondisi tubuh yang sudah membiru dan membeku. Riza sudah tak bernyawa.


Tangis Dilla semakin menjadi-jadi. Dadanya terasa sesak. Ia meraung sejadi-jadinya.


"Mas, bangun. Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku mas!" tangisnya pilu.


****


"Hiks..hiks..hiks.." Dilla terlihat menangis sesegukan dalam tidurnya.


"Dilla!. Dilla!" Kiki menepuk pelan pipi Dilla untuk membangunkannya.


Dilla membuka mata dan seketika bangkit dari tidurnya.


"Kamu mimpi apa sih, nangis sampai segitunya. Ini minum dulu!" ucap Kiki.


Kiki menyodorkan gelas berisi air mineral pada Dilla. Dilla langsung meneguknya perlahan. Ia menarik nafas panjang.


"Aku mimpi mas Riza, Ki. Mimpi buruk!" sambung Dilla.


"Kamu mimpi apa?" tanya Kiki penasaran.


Dilla pun menceritakan mimpinya pada Kiki.


"Jangan dimasukin ke dalam hati. Itu kan cuma mimpi doang."


"Ndak. Aku bukan cuma bermimpi tapi ini pertanda, Ki."


Dilla pun mulai bercerita pada Kiki. Setiap kali seseorang muncul dalam mimpinya. Hal buruk pasti akan terjadi pada orang tersebut. Itu sebuah pertanda bagi Dilla.


Dahulu sebelum ayah Dilla meninggal dunia. Dilla pernah bermimpi ayahnya kecelakaan lalu meninggal dunia. Setelah itu mimpinya menjadi kenyataan.


"Aku benar-benar takut mas Riza kenapa-kenapa!" ucapnya.


"Kamu tenang dulu ya. Coba sekarang kamu telepon mas Riza. Pastiin mas Riza baik-baik saja atau nggak."


Dilla mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Bagaimana?" tanya Kiki.


"Ndak diangkat," jawab Dilla singkat.


"Piye iki toh Ki?. Aku benar-benar takut!" tanya Dilla khawatir.


Dengan cepat Dilla menarik tas kecil miliknya.


"Kamu mau kemana?" tanya Kiki.


"Aku harus ke rumah mas Riza."


Dilla pun berlalu meninggalkan Kiki di kostnya.


"Dilllaaa!, Dillaaa!. Ponsel kamu ketinggalan!" teriak Kiki.


Karena terburu-buru Dilla tidak mendengarkan panggilan Kiki.


-----


"Sebagai direktur bagaimana anda akan bertanggung jawab dengan semua ini?!"


"Sekarang di seluruh negeri sudah tersebar kabar bahwa manajemen rumah sakit ini sangat buruk gara-gara ulah salah seorang perawat yang ada di sini!."


"Beraninya dia membentak dan memaki seorang pasien VIP rumah sakit ini!"


"Bagaimana bisa hal ini terjadi?"


"Gara-gara hal ini harga saham menjadi merosot tajam!."


Sudah satu jam Riza mendengarkan ocehan dan omelan para dewan direksi yang terdengar memenuhi ruangan tempat ia berdiri saat ini.


"Apa tindakan anda selanjutnya?!" tanya seorang anggota dewan.


Riza menarik nafas panjang.


"Saya akan selidiki kasus ini terlebih dahulu. Saya akan mengadakan rapat secepatnya dengan para pegawai dan karyawan yang ada di sini barulah kemudian saya akan mengambil keputusan."


"Pecat saja perawat itu!." celetuk salah seorang yang ada di sana.


"Iya betul..betul!" sambut yang lain.


"Saya rasa pertemuan kita hari ini sampai disini saja. Pertemuan hari ini saya bubarkan. Terima kasih. Saya permisi."


Riza langsung beranjak keluar dari ruangan. Ia melangkahkan kakinya cepat menuju ruang kerjanya.


"Aku harus minta bantuan papi kali ini!" gumamnya.


Riza mencari-cari ponsel di saku kemeja dan celananya. Karena tidak ketemu, barulah ia sadar bahwa ponselnya tertinggal di ruangan kerja.


Saat tiba di ruangannya, Riza langsung menarik ponsel dari atas meja. Saat menghidupkan layar, ia membelalakkan matanya melihat nama Dilla terpampang di sana.


Riza langsung menghubungi kembali ponsel Dilla. Ponsel pun tersambung.


"Halo!"


"Halo!"sapa Kiki


"Kamu siapa?" tanya Riza heran.


"Saya Kiki mas. Temannya Dilla."


"Syukurlah, ternyata Dilla ada bersama kamu. Dilla mana?" tanya Riza cepat.


"Dilla pergi ke rumah mas Riza. Baru saja berangkat!" ujar Kiki.


"Benarkah?" Riza terperangah kaget.


"Iya mas."


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih."


Setelah mematikan ponselnya Riza langsung berlari ke luar ruangan. Seketika ia melupakan niatnya untuk menghubungi papi.


Riza menemui Andyra di ruangannya. Dengan terengah-engah, ia meminta tolong pada Andyra untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah sebab ia tidak membawa mobilnya hari ini.


Dengan senang hati Andyra mengantarkan Riza.


Di perjalanan, Andyra melihat tajam ke arah Riza yang sedang mengemudikan mobil dengan grasak-grusuk tidak tenang. Mobil pun tampak meliuk-liuk di jalanan dengan kecepatan tinggi.


"Hei, tenanglah Riza!"


"Aku tidak bisa tenang sebelum melihat wajah istriku. Aku..aku..aku. Ah, Entahlah." Riza bingung mengutarakan perasaannya yang meluap-luap.


"Kalau kamu seperti ini. Kita bisa kecelakaan!" ucap Andyra cemas.


Riza masih belum juga menurunkan kecepatan mobilnya. Ia tampak berkonsentrasi penuh saat memutar kemudinya.


Andyra tidak pernah menyangka bahwa Riza yang ia kenal pendiam, dewasa dan selalu berpikiran jernih itu bisa bertingkah grasak-grusuk seperti anak kecil jika sudah menyangkut masalah Dilla.


"Cinta memang gila!" batinnya.


Saat hendak memasuki tol. Andyra membulatkan matanya ketika melihat sebuah truk tiba-tiba melaju kencang ke arah mereka.


"Riza awaaasssss!!!!!" Andyra berteriak kencang sambil menutup matanya.