
Belanda
Pagi harinya, Dilla dan Riza tampak tengah bersiap untuk meninggalkan hotel.
Sesuai dengan rencana mereka tadi malam, sebelum kembali ke kediaman Thomas, mereka berniat untuk pergi ke kantor Papi terlebih dahulu.
Disela-sela kegiatan mereka mempersiapkan diri, Dilla tampak termenung. Ia terlihat memikirkan sesuatu.
"Mas?!"
"Hemm."
"Kalau mami dan papi masih marah sama saya, gimana Mas?. Saya masih takut."
Riza tersenyum tipis, "Nggak ada yang perlu kamu takutkan, kan ada aku."
Dilla menghela nafas, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Ayo!" ajak Riza kemudian.
Riza pun menggenggam jemari Dilla kemudian melangkah bersisian dengan istrinya itu keluar dari kamar hotel.
-------
Kediaman Thomas
Mata Aldrich mengabur. Samar-samar cahaya lampu membias masuk ke dalam pupil matanya.
Sudah semalaman ini ia tertidur akibat pengaruh obat pereda sakit yang diberikan oleh Thomas.
Saat kesadaran pria itu terkumpul sepenuhnya, Aldrich kembali mengingat pengakuan Thomas.
Dengan terhuyung, ia bangkit perlahan dari tidurnya.
Aldrich bergumam geram, "Jantung ini!" ujarnya seraya mencengkeram kuat dadanya. "Gara-gara ini aku membunuh seseorang!!!!" lanjutnya kemudian dengan emosi tertahan yang terlihat jelas di raut wajahnya.
Aldrich memukul-mukul dada kirinya sekuat tenaga diiringi teriakan yang menggelegar seisi ruangan.
Sementara itu, di sebuah ruangan yang berada lumayan jauh dari kamar Aldrich, Thomas sedang berbicara dengan Adam di ponselnya.
"Apa benar kau dan Aldrich sedang ada di Belanda?"
Thomas terdiam, ia tertangkap basah kali ini.
"Jawab aku, Thomas!" pekik Adam.
"Ma-ma-maafkan saya, Tuan."
Adam tertawa, "Kau tidak perlu meminta maaf. Aku senang, akhirnya kau berhasil membawa Aldrich kembali kesini. Apa dia baik-baik saja?"
"Iya, Tuan. Tuan Aldrich baik-baik saja."
"Baiklah. Karena kalian sudah disini. Besok bawa Aldrich datang menemuiku. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
Thomas diam mendengarkan.
"Baik, Tuan. Akan saya usahakan."
"Ya sudah."
Panggilan berakhir.
Thomas menggenggam kuat ponsel ditangannya sambil berpikir, "Gawat!!. Bagaimana Tuan Adam bisa tahu aku ada di sini?" gumamnya.
Sesaat kemudian, Thomas menepuk jidatnya.
"Astaga!. Jangan-jangan."
Dengan tergesa, Thomas membuka dompet miliknya yang ia taruh di atas nakas.
Matanya membulat kaget saat menyadari kesalahan apa yang telah ia lakukan.
Flashback
Tanpa sengaja, Thomas mendengar obrolan Henzhie dan Riza yang berencana untuk makan malam bersama di luar sepulangnya Riza menjalani konselingnya besok pagi.
Thomas yang memang berniat menjauhkan Riza dari Henzhie seketika memikirkan sebuah rencana di kepalanya.
Thomas kemudian menemui Dilla lalu menyodorkan sebuah kartu kearahnya.
Dilla meraih kartu itu dengan tatapan bingung.
"Pakailah untuk keperluan Nona dan Tuan Riza selama di perjalanan besok. Saya tahu, Nona sedang membutuhkan uang. Nona bisa pakai kartu itu untuk biaya taksi, makan di restoran ataupun menginap di hotel. Nikmatilah waktu Nona dan Tuan Riza berdua, tanpa gangguan siapapun."
"Tapi, Mas Thomas. Saya--."
Thomas melanjutkan, "Anggap saja itu sebagai permintaan maaf saya atas sikap buruk adik saya tempo hari. Saya mohon Nona mau menerimanya."
"Dan ini nomor PIN-nya." Thomas memberikan secarik kertas pada Dilla.
Dilla tersenyum saat meraih kertas tersebut dari Thomas, "Terima kasih ya, Mas."
Thomas mengangguk.
Flashback End
Kebetulan kartu kredit milik Thomas memiliki warna yang sama dengan kartu kredit milik Aldrich bahkan Thomas sengaja membuat nomor PIN yang sama pula agar memudahkannya untuk mengatur segala kebutuhan Aldrich sebagaimana perintah Adam.
Namun, karena terburu-buru, Thomas tidak melihat dengan teliti kartu kredit siapa yang ia ambil dari dalam dompetnya.
Dan sialnya, Thomas justru memberikan kartu kredit milik Aldrich pada Dilla, yang mana semua transaksi kartu tersebut dipantau sepenuhnya oleh Adam.
Thomas benar-benar merutuki kebodohannya kali ini. Usahanya untuk bersembunyi dari Adam kini sirna sudah.
------
Dilla dan Riza akhirnya tiba di gedung Kedutaan Indonesia. Riza segera menanyakan tentang keberadaan Papi kepada petugas yang ada disana.
Dan sayangnya, kebetulan saat itu Papi sedang tidak berada di tempat.
Riza pun segera menanyakan alamat rumah Mami dan Papi.
Petugas sempat balik bertanya, bagaimana ceritanya Riza bisa tidak ingat alamat rumahnya sendiri.
Riza pun menjawab dengan memberikan alasan yang terdengar aneh.
"Maklum saja, Pak. Saya sudah lama tidak kembali ke Belanda. Jadi, saya lupa-lupa ingat sama alamat rumah saya disini."
Dilla berusaha menahan tawanya saat mendengar alasan aneh Riza.
Sementara petugas tampak menggeleng heran. Bagaimana tidak, alasan Riza kali ini memang terdengar aneh.
Tanpa banyak bicara, petugas pun segera memberikan alamat rumah dinas papi.
Setelah itu, mereka pun langsung meluncur ke alamat tersebut dengan menaiki taksi.
Setibanya di dalam taksi, Dilla tiba-tiba terkekeh sambil menirukan kata-kata Riza, "Saya lupa-lupa ingat sama alamat rumah saya disini, Pak."
Tawa Dilla pecah saat kembali mengingat kata-kata Riza sewaktu di kantor Papi.
"Alasan apa itu, Mas?" ledek Dilla kemudian.
"Mau bagaimana lagi. Cuma itu alasan yang terlintas di pikiranku."
Dilla masih terkekeh.
Riza melanjutkan, "Aku memang bodoh, seharusnya aku bilang saja kalau aku ini orang gila yang tidak ingat dengan alamat rumahku sendiri!!!" ketus Riza cemberut kesal.
Dilla terdiam.
Riza menggeser duduknya menjauh dari Dilla. Kini tubuhnya sudah merapat ke sisi pintu.
Dilla kemudian mendekat dan mulai merayu Riza, "Jangan marah dong, Mas. Maafin saya. Saya kan cuma bercanda!" ucapnya penuh penyesalan.
Riza masih diam membisu.
Dilla menambahkan, "Saya janji deh, nggak akan bercanda kayak gitu lagi. Suwer!!!!"
"Janji nggak akan ngulangi lagi?!" sindir Riza
Dilla manggut-manggut sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V, "Janji!"
"Oke. Deal," sahut Riza.
"Duduknya deketan dong, Mas. Kita kan udah baikan."
Riza menurut lalu menggeser duduknya mendekat ke arah Dilla.
"Mas, kalau misalnya Mami sama Papi nyuruh kita pisah lagi, gimana?" tutur Dilla putus asa.
Riza menoleh. Mata teduhnya menangkap kembali raut kegundahan di wajah istrinya.
Riza menjawab, "Mereka memang keluargaku, tapi kamu adalah istriku. Kamu paham kan, maksudnya apa?"
Dilla menatap mata Riza lama kemudian mengangguk dan tersenyum. Ucapan Riza saat ini sukses melenyapkan semua ketakutan gadis itu.
Taksi pun terus melaju kencang menuju kediaman orangtua Riza.
Sementara itu di kediaman Thomas, Henzhie sedang uring-uringan di kamarnya. Sejak semalaman ia menunggu kepulangan Riza dengan wajah emosi karena menahan kekesalannya pada Dilla.
"Pasti gadis itu sengaja menahan Riza agar tidak pulang. Gadis itu sungguh licik, dia sengaja melakukan ini untuk menjauhkan Riza dariku. Awas saja kalau dia pulang!" gerutu Henzhie seorang diri.
-------
Jakarta
Sudah hampir satu minggu ini Kia tidak bekerja.
Sejak pertemuan Kia dengan Joe tempo hari, Kia menjadi sulit berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Pikirannya terus terpaut pada perkataan Joe. Oleh karena itu, Kia pun kerap melakukan kesalahan.
Tak ayal, hal itu membuat dirinya mendapatkan hukuman dari kepala Perawat. Kia pun akhirnya mendapatkan surat peringatan berisi skorsing untuknya selama satu minggu.
Dengan terpaksa, Kia pun harus berdiam diri di rumah seperti saat ini.
Suara bel pintu yang terdengar nyaring mengejutkan Kia. Dengan segera Kia pun bergegas membuka pintu rumahnya.
Gadis itu mengernyit bingung sesaat setelah pintu rumahnya terbuka. Ia tidak menemukan seorangpun disana.
Kia hanya menemukan sebuah amplop persegi yang tergeletak begitu saja di depan pintu. Kia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan orang disana. Namun, lagi-lagi ia tidak melihat siapapun.
Karena penasaran, Kia pun segera membuka amplop yang tidak terdapat nama pengirimnya itu.
Saat ia menarik isi amplop tersebut, betapa terkejutnya Kia saat mendapati potret seorang pemuda disana.
Kia pun mulai bertanya-tanya dalam hati. Siapa pemuda yang ada dalam foto tersebut. Sesaat kemudian, Kia melihat sebuah kalimat tertulis di balik lembaran foto itu.
Pemuda ini yang telah membuat saudaramu tewas. Tidakkah kau pikir, dia harus membayar semua perbuatannya?
Membaca kalimat itu, membuat dada Kia memanas. Dengan air mata yang mengalir Kia menggenggam kuat foto Aldrich dengan amarah yang terlihat jelas di kedua bola mata gadis itu.