
H-2
Setelah Riza dan kedua orang tuanya keluar dari bandara, mereka langsung bergegas meluncur menuju rumah Riza.
Tak lama mereka tiba di depan rumah berlantai dua yang berdesain minimalis namun terkesan modern.
Riza mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat.
Setelah menyegarkan badan, mami menuruni anak tangga menuju ke arah dapur.
Saat menuruni anak tangga, Mami melihat Riza sedang menyiapkan hidangan di atas meja makan dengan mengenakan celemek berwarna putih.
Terlihat sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Ia baru menyadari bahwa ternyata putranya itu telah tumbuh menjadi pria dewasa setelah hampir tiga tahun lamanya mereka berpisah.
Flashback
*Ruang kerja papi [ tiga tahun lalu* ]
Braakk....
Papi melemparkan sebuah amplop dengan kasar ke atas meja membuat lembaran kertas yang ada didalamnya berhambur ke luar.
Riza menatap ke arah lembaran kertas tersebut dengan tatapan pilu.
"Apa ini?, dasar anak tidak tahu diri!! , Aku menyesal telah membesarkan anak seperti dirimu!!!" Papi berteriak.
Riza hanya diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Mami mendengar kemarahan papi dari balik pintu dan bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi.
Terdengar suara Riza, "Maafkan Riza, Pi. Tapi ini pilihan hidup Riza." Riza menundukkan kepalanya dalam.
Riza memasukkan kembali lembaran kertas yang berhamburan tadi kedalam amplop lalu membawanya pergi meninggalkan papi yang berdiri mematung.
"RIZA RIFKY!!!!" Terdengar suara papi berteriak memanggil nama lengkapnya sehingga membuat langkah Riza seketika terhenti.
"Pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi ke sini!" Ucapan singkat papi yang berhasil membuat hati mami hancur saat itu.
Mata Riza bergetar berusaha menahan tangis saat mendengar perkataan papinya.
Riza mencoba menguatkan hati.
Tanpa menoleh, ia memegang erat gagang pintu di depannya kemudian menariknya dengan cepat.
Riza keluar dari ruangan papi tanpa menyadari bahwa sedari tadi mami berdiri mematung memandangi punggung runcing anak lelakinya itu dari belakang.
Terdengar suara derap langkah kaki Riza terus berjalan selangkah demi selangkah meninggalkan rumah orang tuanya.
Sejak saat itu, setiap kali mami menyebut nama Riza. Papi selalu menghindar seolah tidak ingin mendengar nama anaknya itu disebut.
Mami tahu kalau suaminya itu egois dan keras kepala tapi ia tidak pernah menyangka suaminya itu tega mengusir putra semata wayang mereka.
Mami sudah berkali-kali meminta Riza untuk kembali ke rumah namun Riza selalu menolak untuk pulang.
Begitulah waktu terus berjalan, hingga tidak terasa tiga tahun pun berlalu.
Flashback End
Mami menghampiri Riza yang masih berkutat di dapur.
"Ehmm. Sedap sekali baunya, mami jadi lapar." Mami membaui masakan Riza.
Riza sedikit terperanjat mendengar suara maminya.
"Mami nggak nyangka, anak mami ini ternyata jago masak." Mami tersenyum memuji Riza.
Riza menanggapi pujian maminya itu dengan tersenyum.
Masakan Riza pun selesai, kini di meja makan telah tersaji nasi putih, capcay goreng, oseng kacang panjang, tumis cumi pedas manis dan telur gulung.
Riza meminta mami agar mengajak papi turun ke bawah untuk makan siang bersama.
Tak lama papi pun turun.
Mereka bertiga terlihat menyantap makanan yang sangat menggugah selera itu.
Di sela-sela mereka menyantap makanan di atas piring masing-masing, terdengar suara mami berdecak kagum memuji masakan anaknya.
Dalam diam Riza melirik ke arah papi yang tengah menyantap masakan Riza dengan lahap.
Riza tersenyum singkat.
Setelah menyudahi makan siangnya, papi langsung beranjak dari kursi tanpa mengucapkan apapun.
Riza menatap kepergian papi dengan sorot mata sedih.
Malam hari, mami mendatangi Riza di ruang kerjanya.
tok...
tok...
tok...
Riza menolehkan kepala ke arah pintu yang diketuk.
"Mami boleh masuk sayang?"
Riza menganggukkan kepala.
"Ada apa, Mi?"
"Mami mau tanya, ngomong-ngomong siapa sih nama gadis yang mau kamu lamar itu?"
"Oh. Namanya Dilla, Syafadilla Aini." jawab Riza singkat.
"Usianya berapa?, terus dia tinggal dimana?"
"Sebentar. Jadi calon istri kamu itu usianya masih sembilan belas tahun?"
Riza mengangguk mengiyakan.
"Dia tidak hamil kan?" tanya mami sedikit kepo.
Riza terkekeh pelan mendengar pertanyaan maminya.
Lalu Riza pun menjelaskan kepada mami secara detail bagaimana hubungannya dengan Dilla.
Akhirnya mami pun lega karena prasangkanya tadi tidaklah benar.
"Tapi sayang, bagaimana kalau orang tuanya menolak lamaran kamu?, mengingat anaknya masih terlalu muda untuk menikah." Mami terdengar khawatir.
Riza terdiam dan mengernyitkan dahinya mendengar perkataan maminya barusan.
Menyadari raut wajah anaknya berubah, mami pun melanjutkan bicaranya,
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Tidak usah dipikirkan. Jangan bermuka masam seperti itu, lagian siapa sih yang berani menolak lamaran anak mami yang tampan ini." Mami tersenyum menatap Riza.
Riza masih terdiam, larut dalam pikirannya sendiri setelah mendengar perkataan maminya.
Terlihat kekhawatiran dari sorot matanya,
"kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?, bagaimana kalau orang tuanya menolak lamaranku?" Riza membatin.
--------
H-1
Bukan hanya Riza yang merasa khawatir, namun Dilla juga tidak kalah khawatirnya memikirkan bagaimana reaksi ibunya nanti.
Dilla takut jikalau ibunya akan menolak pinangan Riza.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dilla bahkan telah memikirkan rencana cadangan apabila ibunya nanti menolak pinangan untuk nya itu.
Ia berinisiatif mencatat serangkaian kata-kata rayuan untuk membujuk ibunya agar setuju.
Dilla menghafal dan berlatih merangkai kata-kata itu agar tidak lupa nantinya.
Hingga larut malam, terlihat Dilla masih terus melatih lidahnya agar tidak kaku ketika berbicara di depan ibunya.
------
Hari-H.
Jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi.
Terdengar suara Laras memanggil Dilla dari balik pintu.
Karena Dilla tidak juga menyahut, akhirnya Laras membuka pintu kamar Dilla.
Laras menggelengkan kepalanya saat mendapati Dilla masih tertidur dan bergelut dengan selimutnya.
Laras membangunkan Dilla dengan menepuk-nepuk bahu Dilla.
Dengan setengah sadar Dilla membuka matanya perlahan.
"Kenapa mbak?, aku masih mengantuk sekali," sahutnya.
"Kamu tahu ini hari apa?" Laras duduk di sisi tempat tidur Dilla.
"Hari Sabtu mbak." Dilla mengucek-ngucek matanya.
"Ya ampun Dilla, kamu pasti lupa kalau hari ini Riza janji akan datang bersama keluarganya untuk menemui orang tua kamu"
Mendengar ucapan Laras barusan, membuat Dilla melompat seketika dari tempat tidurnya.
Dilla mondar-mandir tak karuan, ia bingung apa yang harus ia lakukan karena sebentar lagi keluarga Riza akan tiba di rumah Laras untuk menjemputnya.
Dilla buru-buru berlari ke kamar mandi sehabis itu ia bergegas berganti pakaian.
Laras juga ikut membantu Dilla bersiap-siap.
Akhirnya rombongan keluarga Riza pun datang.
Laras mempersilakan mereka masuk dan menunggu Dilla di ruang tamu.
Tidak lama Dilla keluar dari kamarnya.
Ia melihat Niko tengah duduk bersama seorang pria dan seorang wanita paruh baya.
"Mereka pasti orang tua mas Riza, tapi mas Riza nya kok ndak ada." Dilla membatin. Matanya menyapu seisi ruangan mencari sosok Riza.
Niko kemudian memperkenalkan orang tua Riza kepada Dilla dan Laras.
Dilla memperkenalkan namanya sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Riza.
Mami dan papi terlihat senang melihat calon menantunya sangat sopan dan santun dalam berbicara.
Tanpa menunggu lama mereka pun bergegas melangkahkan kaki keluar menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan.
Saat Dilla mendekati mobil, tiba-tiba pintu mobil terbuka dari dalam membuat Dilla terlonjak kaget.
Alhasil tubuh Dilla oleng ke belakang.
Dari depan terlihat lengan kekar seseorang menangkap cepat pinggang ramping Dilla.
"Mas Riza!" batinnya.
Kini posisi mereka sangat dekat dengan mata yang saling menatap.
Seketika wajah Riza memerah saat mata Dilla menatap matanya lekat.
Niko kemudian berdehem nyaring, sehingga menyadarkan Dilla dan Riza.
Mereka pun langsung membenarkan posisi mereka, lalu bergegas masuk ke dalam mobil dengan menundukkan kepala mereka masing-masing, mereka terlihat sangat malu.