My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/86



Keesokan paginya, terlihat Dilla sedang sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi dengan sedikit bersenandung kecil. Dari kejauhan, Riza memperhatikan kegiatan memasak Dilla.


Riza berjalan mendekat lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya perlahan di pinggang Dilla, mendekap erat tubuh mungil itu dari belakang sesaat setelah ia tiba di dapur. Seketika Dilla menghentikan gerakan memasaknya.


"Selamat pagi!" ujar Riza lembut sambil mengecup pipi dan leher belakang istrinya beberapa kali yang seketika membuat Dilla bergidik geli. Aroma Lily seketika menembus penciuman Riza. Setelah puas mencecap leher belakang istrinya, Riza menyandarkan dagunya di bahu Dilla dengan masih merangkul tubuh mungil istrinya itu.


Dilla berusaha melepaskan kedua lengan kekar Riza dengan sekuat tenaga. Namun, Riza justru semakin mengeratkan pelukannya dan kembali mengendus leher belakang Dilla.


Dilla berdecak pelan lalu memutar tubuhnya. "Hari ini saya sedang buru-buru. Jadi, tolong mas jangan ganggu saya!" ketus Dilla yang tidak mendapat sahutan dari Riza.


Riza hanya tersenyum kemudian menarik Dilla mendekat padanya. Sesaat kemudian, sebuah ciuman singkat mendarat di bibir istrinya.


"I love you. My lovely Wife." Riza tersenyum manis semanis ucapannya barusan.


Dilla hanya mengerutkan dahinya. Berbisik dalam hati, mencoba mengartikan kata-kata asing yang dilontarkan Riza padanya. Ia pun hanya mampu membalas ucapan Riza dengan seringai aneh di wajahnya.


Tiba-tiba ponsel Dilla yang terselip di sakunya berdering. Dilla sengaja membawa ponselnya sebab ia memang menunggu panggilan dari seseorang. Cepat-cepat ia menggeser tanda berwarna hijau di layar saat melihat nama si penelepon di layar pipih gawainya. Dilla segera mendorong perlahan tubuh Riza menjauh darinya.


Riza sempat melihat sekilas ke layar ponsel Dilla sesaat sebelum Dilla menjawab panggilannya. Raut wajah Riza seketika berubah kesal saat itu juga.


"Halo. Iya, Mister!" sapa Dilla sumringah.


"Halo, Dilla. Apa kamu baik-baik saja?"


"Saya baik-baik saja, Mister."


"Kapan kamu mau datang ke rumahku?"


"Nanti sore saya akan usahakan ke sana."


Belum lagi Aldrich sempat menjawab. Riza segera menarik ponsel yang menempel di telinga Dilla lalu menyelipkannya ke dalam saku celana pendek yang dikenakannya.


"Mas ini apa-apaan, sih?. Saya kan belum selesai bicara."


"Kamu mau kemana sama orang itu?!. Aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan dia. Ingat!. Kamu itu istriku, jadi jaga sikapmu."


Dilla cemberut kesal.


Riza menatap mata Dilla tajam, "Cepatlah memasak. Aku sudah lapar!" ketus Riza sesaat sebelum melepaskan pelukannya dan melangkah pergi meninggalkan Dilla di dapur.


Dengan langkah cepat, Riza pun segera berjalan menaiki anak tangga menuju ke arah kamar.


Dengan wajah cemberut, Dilla kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Tak lama, masakan selesai, Dilla pun segera memanggil Riza di kamar. Selanjutnya, mereka berdua segera menyantap sarapan yang tersaji di atas meja.


"Apa kepalamu masih terasa pusing?. Kalau iya, sehabis makan, minumlah obat pegar yang aku berikan padamu tadi pagi," ujar Riza dengan penuh perhatian.


Dilla menggeleng.


"Makanya, lain kali jangan sembarangan meminum atau memakan makanan apapun. Untung saja itu hanya minuman beralkohol, kalau itu racun bagaimana?"


Dilla diam. Beberapa saat kemudian ia pun bersuara, "Tadinya saya kira itu sirup karena warnanya mirip sekali dengan sirup. Kebetulan saya juga sedang haus, ya sudah langsung saya minum saja. Apalagi rasanya enak dan manis. Ngomong-ngomong, itu namanya apa ya, Mas?"


"Wine."


"Oh. Jadi namanya wine. Saya bisa beli itu dimana, ya?. Saya mau lagi."


Riza melotot tajam, "Dengar!. Jangan pernah bermimpi untuk meminum minuman itu lagi. Mengerti?!"


Dilla menunduk.


"Kapan kamu akan memindahkan semua barang-barangmu kembali ke kamarku?"


Dilla terdiam cukup lama. Riza hanya melirik sekilas menunggu Dilla yang tak kunjung bersuara.


"Mulai malam ini, tidurlah di kamarku," ujar Riza tanpa basa-basi.


Dilla mendongak. "Saya ndak mau pindah dari kamar itu. Saya sudah nyaman tidur di sana."


"Hentikan sikap keras kepalamu itu dan turuti perintahku!" ujar Riza dingin dan ketus.


Sesaat kemudian, Riza segera berdiri lalu beranjak dari duduknya.


"Cepat habiskan makananmu. Aku tunggu di kamar."


Dilla hanya menatap heran ke arah Riza yang terus saja berjalan menaiki anak tangga. Tatapan dingin dan suara ketus Riza membuat Dilla menjadi bingung.


Setelah membereskan sisa-sisa sarapan, Dilla pun segera menemui Riza di kamarnya. Di kamar, Riza tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang dengan sebuah buku di tangannya. Dilla segera menghampiri Riza lalu duduk berhadapan dengannya.


"Apa yang kamu lakukan selama aku pergi ke luar kota kemarin?" tanya Riza tiba-tiba yang tampak masih fokus dengan buku bacaan di tangannya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dilla.


Dilla berpikir sejenak. "Belajar dan membantu mbak Laras jualan di warung," ujarnya singkat.


"Jangan bohong!"


"Kalau kamu hanya belajar dan membantu Laras. Lalu, ini apa?!" Riza menyodorkan ponsel Dilla dengan raut wajah penuh amarah.


Dilla meraih ponselnya. Matanya membulat tak berkedip dengan wajah yang menegang. Terlihat didepan matanya gambar dirinya bersama dengan Aldrich. Foto yang sengaja dikirimkan oleh Aldrich ke ponsel Dilla beberapa waktu lalu dan tanpa sengaja Riza pun melihat foto tersebut sewaktu ia menyita ponsel Dilla tadi.


"Ternyata hubungan kalian sudah sedekat ini. Aku tidak menyangka," cibir Riza.


Dilla terperanjat saat menyadari tatapan mata Riza yang berubah tajam padanya.


Setelah menarik nafas panjang, Dilla pun mencoba menjelaskan, "Saya itu memang dekat dengan Mister tapi hanya sebatas teman saja, Mas. Waktu itu saya dan Mister tidak sengaja bertemu di warungnya mbak Laras terus Mister minta foto, bahkan foto itu mbak Laras sendiri yang ambil. Saya tidak ada niat apa-apa sama Mister. Beneran, Mas." Dilla menjelaskan panjang lebar pada Riza yang terlihat perlahan memalingkan wajahnya, enggan menatap wajah Dilla.


"Begini saja, sekarang juga kita kerumahnya Mister. Biar Mister yang jelasin supaya mas ndak salah paham. Bagaimana?"


"Tidak perlu!"


"Kenapa, Mas?"


"Aku ini kan bukan siapa-siapa. Aku ini hanya suamimu di atas kertas. Jadi, aku tidak punya hak untuk marah ataupun melarang. Kalau kamu memang mau pergi bersamanya. Ya sudah, pergilah. Tinggalkan aku sendiri."


Astaga mulutnya. Mas Riza benar-benar suka sekali cari keributan.


Dilla terdiam sejenak, mendengarkan kata-kata tajam yang datang entah darimana itu. Dilla yang sudah terlalu lelah bertengkar dengan Riza hanya bisa mengelus dada saat mendengarkan Riza berbicara sarkas padanya.


"Lagipula tidak ada alasan untuk aku menahanmu pergi!. Toh, kamu juga tidak mencintaiku. Aku sudah lelah dengan semua ini," tambah Riza lagi.


Dilla terperanjat. Tidak menyangka Riza akan melontarkan kata-kata tajam seperti itu padanya. Dilla yang memang tidak mahir dalam membujuk dan merayu seseorang hanya bisa diam mematung melihat kearah Riza sebab ia memang sama sekali tidak tahu harus berbuat apa untuk meredakan amarah tidak jelas pria yang ada didepannya itu.


Baiklah, aku akan pergi. Mungkin itu lebih baik, batin Dilla kecewa.


Seketika Dilla pun segera beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu. Diam-diam Riza menoleh ke arah Dilla, memandang kepergian Dilla dengan tatapan kecewa.


Dia sungguh pergi tanpa memintaku untuk menahannya, batin Riza.


Tiba-tiba Dilla menghentikan langkahnya tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu. Sepasang lengan kekar terlihat melingkari pinggang rampingnya. Riza memeluk Dilla dengan erat.


"Dasar gadis bodoh. Kenapa semudah itu kamu pergi saat aku menyuruhmu pergi?. Bahkan kamu sama sekali tidak memintaku untuk menahanmu."


Mata Dilla membulat.


Riza memutar tubuh Dilla lalu membelai rambut gadis yang ada didepannya itu dengan lembut sambil menatap manik mata indah gadis itu. "Aku minta maaf. Berjanjilah, jangan pernah melakukan itu lagi. Tadi aku sungguh takut. Aku takut kamu akan benar-benar meninggalkanku."


Riza memeluk Dilla penuh kehangatan.


Dilla membalas pelukan hangat Riza, "Saya tidak bisa berjanji untuk selalu ada di samping mas tapi saya pastikan, saya tidak akan pergi selain mas yang benar-benar meminta saya untuk pergi."


"Aku berjanji, aku tidak akan pernah melakukan itu."


"Jangan terlalu mudah mengucapkan janji kalau nantinya janji itu tidak akan mampu untuk ditepati."


Riza semakin mengeratkan pelukannya seolah takut kehilangan Dilla. Dilla pun membalas pelukan Riza tak kalah erat. Sesekali mereka dapat merasakan hembusan nafas hangat menerpa leher belakang mereka. Perasaan hangat seketika menjalar dan mengaliri dada mereka masing-masing.


Aku menyesal. Aku berjanji tidak akan bercanda seperti itu lagi, bisik Riza dalam hatinya.


------


Di tempat lain,


"Sesuai kesepakatan, aku sudah membebaskan Joe dari penjara. Segera penuhi janjimu setelah itu kartumu akan aman bersamaku."


"Heh?!. Kamu kira aku akan percaya begitu saja dengan kata-katamu. Segera kirimkan semua dokumen yang kamu curi dariku itu paling lama besok."


"Tenanglah. Aku memang brengsek, tapi aku bukan penipu. Oke, aku akan mengirimkan semua dokumen itu padamu besok."


"Baiklah kalau begitu, aku akan segera menepati janjiku. Beri aku waktu."


"Apa?. Kau bercanda?. Aku tidak akan memberimu waktu. Aku mau dua hari lagi organ-organ itu sudah sampai di sini."


"Dua hari?!. Dasar gila. Bagaimana aku bisa mencari pendonor hanya dalam waktu sesingkat itu?"


"*Lakukan saja seperti yang kau lakukan lima tahun lalu. Bukankah hal itu sangat mudah untuk kau lakukan*."


"Dasar brengsek!. Hentikan omong kosongmu."


"Ha...ha...ha. Aku hanya berbicara apa adanya. Mana Dirwan yang aku kenal dulu. Dirwan yang selalu berambisi dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya."


"Diamlah, Adam. Aku menyesal telah mengenal orang sebrengsek dirimu. Aku sudah bersusah payah untuk menyelamatkan nyawa putramu tapi kamu malah menusukku dari belakang."


"Apa kau bilang?. Menyelamatkan nyawa putraku?. Ha...ha...ha. Dengar Dirwan, yang kau lakukan lima tahun lalu itu hanyalah bisnis. Hubungan saling menguntungkan. Jadi berhentilah bicara omong kosong. Jangan lupa, aku tunggu kabar darimu, dua hari lagi."


Papi mengepalkan tangannya penuh amarah. Menatap tajam ponselnya dengan rahang yang mengeras sesaat setelah panggilan Adam berakhir.


Aku menyesal telah membantumu lima tahun yang lalu. Kalau saja saat itu aku lebih berani, aku tidak akan mungkin mengorbankan nyawa seseorang hanya untuk orang seperti dirimu.