
"Siapa yang datang, Mas?" tanya Dilla saat berpapasan dengan Riza di tangga.
"Bukan siapa-siapa!" jawab Riza singkat.
Terdengar kembali suara teriakan yang disertai dengan suara gedoran pintu.
"Siapa sih?. Pagi-pagi kok sudah berisik sekali." Dilla berjalan menuruni anak tangga.
Riza mengejar langkah Dilla lalu menarik cepat lengan Dilla menaiki anak tangga kembali.
Suara Aldrich yang kembali berteriak dan menekan bel berulang kali membuat Riza semakin mempercepat langkahnya menarik Dilla menuju ke arah kamar. Sesampainya di dalam kamar, Riza segera menutup pintu.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Dilla sesaat kemudian.
"Tidak ada apa-apa," jawab Riza santai.
"Terus ngapain mas narik saya ke sini?. Mas pasti mau macem-macem, kan?" Dilla memicingkan mata seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
"Berhentilah memikirkan hal-hal aneh!" sahut Riza.
Dilla menautkan alisnya.
"Ada beberapa hal yang akan aku katakan padamu. Jadi, pasang telingamu baik-baik."
Dilla pun segera menajamkan pendengarannya seraya menatap Riza penuh tanda tanya.
"Ayo duduk!"
Riza menarik lengan Dilla erat menuju ke arah sofa. Selanjutnya, mereka pun duduk saling berhadapan.
Riza menarik nafas sejenak sebelum mengalihkan pandangannya menatap manik mata Dilla lekat, "Dengar. Besok aku akan berangkat ke luar kota selama lima hari."
"Hah?. Lima hari, Mas?" Dilla melotot kaget.
"Hmm. Jadi, selama aku tidak ada, kamu tinggallah di rumah Laras untuk sementara."
"Kenapa mendadak sekali, Mas?. Memangnya mas mau kemana?"
"Turuti saja perintahku dan jangan banyak bertanya!"
Dilla diam.
Namanya penasaran. Mas Riza bagaimana sih?, gerutu Dilla kesal di dalam hati.
Riza melanjutkan, "Aku harap selama kepergian ku, kamu bisa menjaga diri baik-baik dan ingat, jangan melakukan hal-hal aneh seperti tempo hari."
Dilla menautkan alisnya kembali.
Hal-hal aneh?. Memangnya apa yang aku lakukan?. Bukannya mas Riza yang selalu melakukan hal-hal aneh?. Dasar.
"Aku hanya ingin mengatakan hal itu. Sekarang bersiaplah. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan hari ini." Riza beranjak dari duduknya.
Mendengar kata "jalan-jalan", membuat sorot mata Dilla langsung berkilauan bak berlian. Membayangkan hal-hal menyenangkan dalam benaknya.
"Beneran, Mas?. Kita mau kemana, Mas?" Dilla tersenyum gembira.
"Turuti saja perintahku dan jangan banyak bertanya. Aku tunggu kamu di bawah. Cepatlah bersiap-siap," ujar Riza sesaat sebelum ia menutup pintu meninggalkan Dilla yang masih tersenyum sumringah di kamarnya.
Selanjutnya, Riza bergegas berjalan perlahan menuruni anak tangga. Melangkahkan kakinya menuju ke arah jendela yang bersisian dengan pintu utama. Riza menyibak kain gorden yang ada didepannya. Akhirnya ia dapat tersenyum lega saat mendapati bahwa Aldrich ternyata telah beranjak pergi meninggalkan rumahnya.
Wah, pria itu sungguh membuatku kesal. Berani sekali dia mengusir seorang Aldrich. Dasar pria aneh. Tapi, apa benar pria aneh itu adalah suami Dilla?.
"Perhatikan langkah anda, Tuan!" teriak Thomas tiba-tiba yang sukses membuat Aldrich bertambah kesal.
Aldrich berbalik, "Diamlah. Aku benci mendengar suaramu itu!. Menyebalkan!. Jangan ikuti aku!" Aldrich membalikkan tubuhnya lalu mempercepat langkahnya semakin jauh meninggalkan Thomas dibelakang.
"Tuan. Tuan. Berjalanlah perlahan," Thomas kembali berteriak dan mengejar Aldrich dari belakang.
Setibanya di rumah, Aldrich sedikit berlari kencang menaiki anak tangga. Membuat Thomas bertambah khawatir.
"Tuan, tolong perhatikan langkah anda Tuan." Thomas masih mengikuti Aldrich dari belakang.
"Akh. Berisik!" sahut Aldrich ketus.
Aldrich memasuki kamar besarnya. Sesaat kemudian, ia keluar dari kamarnya dengan pakaian berbeda. Kini ia telah mengenakan kaus oblong putih miliknya lengkap dengan celana pendek selutut ditambah sepatu bot dan sarung tangan.
Aldrich memang memiliki kebiasaan aneh. Setiap kali ia merasa kesal, ia akan melampiaskan kekesalannya itu dengan berkebun di halaman belakang rumahnya. Entah mengapa, perasaannya akan menjadi jauh lebih baik setiap kali ia melakukan hobi sederhananya itu. Kini Aldrich sudah berdiri tegak di halaman belakang dengan sebuah sekop di tangannya.
Aldrich menancapkan sekop ke atas gundukan tanah didepannya hingga tanah pun menyembur ke permukaan. Selanjutnya, ia menaburkan beberapa benih bibit sayuran ke dalam tanah gembur tersebut. Setelah selesai menanam bibit, ia akan mencabut rumput liar dan menyiram bunga-bunga yang bermekaran di sana. Kegiatan sederhana itu mampu mencetak sebuah senyuman di wajah Aldrich.
Sementara itu, dari jauh Thomas terlihat sibuk memantau kegiatan Aldrich itu dalam diam. Setiap kali Aldrich berkebun, Thomas hanya akan memperhatikannya saja dari kejauhan hingga semua amarah dan kekesalan Aldrich mereda. Untuk membantu ataupun mendekat, Thomas tidak akan berani sebab hal itu justru akan membuat Aldrich semakin bertambah marah dan kesal.
Kini Dilla sudah berada bersama dengan Riza di salah satu pantai terindah yang ada di ibukota. Riza berjalan bersisian di pinggir pantai bersama dengan Dilla yang tampak sesekali mencuri pandang ke arah Riza. Menatap wajah datar pria yang sedang berjalan santai disampingnya itu dalam kebisuan.
Berhubung akhir pekan, pantai terlihat lumayan ramai pengunjung meskipun matahari belum tampak sepenuhnya.
Dilla menautkan alisnya saat mendapati sebagian pengunjung yang terlihat melirik ke arah mereka seraya berbisik. Dilla yang merasa aneh pun segera menarik ujung kemeja yang dikenakan Riza.
Riza menoleh padanya.
Dilla berbisik pelan, "Mas, apa ada yang aneh dengan penampilan saya?. Kenapa sepertinya orang-orang melihat ke arah kita sejak tadi?"
Riza segera mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Terlihat beberapa pengunjung khususnya wanita melihat ke arah mereka.
Riza memindai penampilan Dilla dari atas hingga ke bawah, "Kamu cantik hari ini. Sangat cantik." Riza tersenyum.
Dilla terpaku sekaligus tersipu dengan ucapan Riza yang tidak biasanya itu. Pasalnya, Riza memang tidak pernah mengucapkan kata-kata pujian yang terbilang cukup gombal itu padanya. Secara Riza itu memang tipe orang yang sulit sekali mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya jika tidak ada yang memprovokasinya terlebih dahulu.
Sesaat kemudian, Riza menarik tangan Dilla lalu menggenggam jemarinya erat. Ide dan inspirasi seketika bermunculan. Namun, Riza mengabaikannya.
Lain pula halnya dengan Dilla, genggaman hangat jemari Riza kali ini justru membuat jantung Dilla kembali berdetak hebat seperti genderang perang. Dilla memejamkan mata seraya mengelus dadanya perlahan, mencoba menstabilkan irama jantungnya yang akhir-akhir ini selalu berdebar kencang tanpa seizinnya. Tanpa Dilla sadari, sebuah senyuman manis mengembang di wajah Riza.
Sembari berjalan, Riza membuka percakapan, "Ini adalah salah satu tempat terbaik yang paling aku sukai dari kota ini. Tidak ada satupun orang yang pernah aku ajak kesini selain dirimu. Dan mulai hari ini, aku putuskan untuk berbagi semua hal terbaik dan hal yang aku sukai dalam hidupku bersama denganmu," ujar Riza yang terus melangkahkan kakinya seraya menggenggam erat jemari Dilla.
Deburan ombak yang menggulung hingga ke bibir pantai disertai dengan hembusan angin sepoi-sepoi semakin melengkapi suasana hangat diantara mereka.
Dilla tak henti-hentinya menatap wajah Riza seraya menyamakan langkah kakinya dengan pria yang ada disampingnya. Mereka saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba Riza menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Dilla. Dilla terhenyak. Seketika matanya membulat. Kehangatan jemari Riza yang menyentuh lembut pipinya sukses membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdetak hebat.
Riza memandang wajah Dilla dengan tatapan teduhnya, "Syafadilla Aini, istriku. Dengarlah baik-baik apa yang akan aku katakan padamu," ujar Riza dengan wajah serius.
Deg!!!
Dilla menautkan kedua alisnya. Debaran jantungnya kali ini berhasil memunculkan semburat rona merah di wajahnya.
Kendalikan dirimu Dilla!!. Kendalikan dirimu, bisiknya dalam hati.