
Setelah menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan, Riza pun akhirnya dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Riza terbaring lemah tanpa respon atau pergerakan apapun. Tubuh lemah pria itu menandakan bahwa kondisinya saat ini sedang dalam keadaan tidak baik. Riza masih terlelap, tak sadarkan diri.
Air mata pun terus mengalir di pipi Dilla bersamaan dengan isak tangis yang tiada henti. Dilla terduduk lemas di kursi sambil terus menatap wajah lelap yang ada didepannya dengan sorot mata pilu. Sorot mata yang menyiratkan betapa kesedihan mendalam tengah dirasakannya saat ini.
Senyum tulus dan tatapan penuh cinta Riza terus bermunculan melengkapi kesedihannya. Senyum dan tatapan yang sudah semalaman ini tak kunjung ia lihat.
"Mas, bangun, ya!. Biar kita pulang. Saya sudah siapin kado spesial loh buat mas di rumah. Saya yakin, mas pasti suka."
Isak tangis tertahan membuat suara gadis itu terdengar bergetar. Ia pun terus menggenggam erat punggung tangan suaminya.
Sudah semalam suntuk Dilla terjaga. Ia terus berbicara pada Riza diselingi isak tangis yang sungguh menyesakkan dada.
"Mas, bangun. Jawab saya, Mas!" serunya sambil membelai puncak kepala Riza dan menggenggam tangannya.
Saat ini, Dilla sangat merindukan sosok didepannya itu. Sosok yang langsung akan tersenyum dan membalas tatapan matanya dengan tatapan penuh cinta setiap kali ia berbicara. Sosok pria yang sangat ia cintai.
Dari kejauhan, Niko menatap wajah lesu gadis didepannya itu dengan perasaan yang tak kalah sedih. Tangis memilukan gadis itu sangat mengiris hati Niko yang baru saja memasuki ruangan tempat dimana sepupunya itu terbaring. Kondisi Riza semalaman ini, sudah cukup menyiksa mereka berdua.
Air mata Niko pun kembali menetes saat mendapati sosok sepupu sekaligus sahabat yang sangat ia sayangi itu, masih terbaring lemah tak berdaya didepannya. Semua ini bagaikan mimpi untuknya.
Sesaat setelah menyeka air matanya, Niko pun segera mendekat ke arah Dilla.
Niko menyodorkan sesuatu pada Dilla. "Lebih baik lo makan dulu. Habis itu, lo pulang terus istirahat. Biar gue yang jaga Riza disini."
"Saya nggak laper, Mas. Saya mau disini aja. Saya mau nungguin mas Riza sampai mas Riza bangun."
Dilla terus mengusap pinggiran rambut Riza dengan lembut. Suara lemah dan paraunya menyiratkan betapa kesedihan mendalam benar-benar dirasakan gadis itu saat ini. Bahkan ia rela meninggalkan kuliahnya pagi ini demi menjaga suaminya.
Niko meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya di atas nakas. "Ya, udah. Lo istirahat aja di sofa. Biar gue yang jaga."
Dilla menggeleng lemah. Menyiratkan penolakan pada Niko.
"Kalo lo nggak istirahat, lo itu bisa sakit. Kalo lo sakit terus siapa yang bakal jagain Riza?. Lebih baik, sekarang lo tidur biar gue yang jagain suami lo."
Dilla menatap Niko sekilas kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke wajah suaminya. "Sebenarnya mas Riza sakit apa ya, Mas?. Mas pasti tahu sesuatu, kan?"
Niko menggeleng lemah, "Gue juga nggak tau. Gue benar-benar nggak tau apa yang sebenarnya terjadi sama sepupu gue ini." Niko menatap wajah Riza pilu.
Dilla ingin bertanya lebih jauh, tapi suaranya terhenti saat mendengar suara pintu yang terbuka. Sosok mami dan papi muncul di sana.
Tanpa menyapa Dilla, mami dan papi langsung mendekat ke arah Riza.
"Riza. Kamu kenapa sayang?"
Suara wanita paruh baya itu tergagap saat melihat kondisi puteranya. Dengan suara bergetar, ia menyentuh wajah Riza.
Tangis yang sudah dibendung olehnya selama di perjalanan seketika pecah saat jemari tangannya menyentuh lembut wajah puteranya. Air mata yang mengaliri kedua pipi tirusnya mewakili rasa sedihnya saat ini.
Dilla mendekati mami perlahan.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada puteraku?. Jawab?!" bentak mami tiba-tiba dengan mata yang menatap tajam kearah Dilla. Mami terlihat sangat murka.
Semua orang terhenyak. Dilla menelan ludahnya berat. Lehernya terasa tercekik saat pertama kali ia mendengar bentakan keras keluar dari mulut ibu mertuanya.
"Ma-ma-maafkan Dilla, Mi," ujarnya sambil meraih lengan ibu mertuanya itu. Namun, mami menepis tangan Dilla dengan kasar.
Sekali lagi Dilla terhenyak atas sikap kasar mami padanya.
"Aku menikahkan puteraku agar dia bisa hidup bahagia, bukan malah seperti ini. Apa yang sudah kamu lakukan pada Riza?. Apa yang sudah kamu lakukan pada puteraku?!" suara mami memekik hingga menggema seisi ruangan.
Mami mencengkeram lengan gadis tidak berdaya didepannya itu sekuat tenaga, merongrong gadis itu dengan tatapan tajam seolah akan menerkamnya saat itu juga.
Gadis didepannya hanya mampu terdiam. Membalas tatapan wanita yang tengah meradang itu dengan tatapan lemah sambil menahan rasa sakit di pergelangan tangannya. Mami kembali menghempaskan tangan Dilla dengan kasar.
Dengan bibir mengatup rapat dan tangan terkepal, mami menatap wajah ketakutan gadis didepannya itu dengan tajam. Sementara gadis itu hanya mampu menundukkan wajahnya dalam dengan air mata yang terus jatuh semakin deras.
Papi segera menangkap tangan mami dengan cepat sesaat sebelum mami melayangkan sebuah tamparan di pipi Dilla.
Papi segera menarik mami menjauh dari menantunya, "Mami!. Apa-apaan ini?"
"Lepas, Pi!. Menantu kita itu harus diberi pelajaran. Lihat, Pi. Lihat!. Apa yang sudah diperbuatnya pada putera kita, Pi!"
"Mami tidak boleh seperti itu. Kasihan Dilla, Mi!"
"Di-Dilla minta maaf, Mi." Dilla kembali memohon pengampunan dari ibu mertuanya.
"Diam!!!. Pergi kamu dari sini!!" usir mami. "Pergi!!!" bentaknya lagi.
Ucapan mami menyentak Dilla seketika.
Mami kembali menatap tajam ke arah Dilla yang tampak menangis sesenggukan.
Tak tinggal diam, Niko pun segera menarik Dilla keluar dari ruangan untuk menghindari amukan mami yang semakin menjadi-jadi.
Tak jauh dari tempat mami berdiri, tampak bulir bening mengalir dari sudut mata Riza.
------
Sementara itu, Dilla masih berjalan lemah dibelakang Niko dengan pandangan kosong. Niko terus menuntun Dilla hingga menuju taman.
"Lo baik-baik aja?" Niko menatap wajah Dilla khawatir sesaat setelah mendudukkan Dilla di bangku taman.
Dilla diam membisu. Kemarahan mami sangat membuat Dilla terpukul.
"Lo baik-baik aja?" Niko kembali mengulangi pertanyaannya karena Dilla yang tak kunjung bersuara.
Dalam diam, air mata Dilla kembali jatuh menetes.
------
Sesaat setelah kepergian Dilla, mami kembali mendekati ranjang lalu mengusap wajah Riza dengan lembut.
"Sadarlah, sayang. Lihat sayang, mami ada disini. Mami datang untuk kamu." Mami terisak.
"Kita harus bagaimana, Pi?. Papi lakukan sesuatu. Kasihan Riza, Pi." Mami menangis dalam pelukan papi.
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa, Mi. Berdoa supaya Riza bisa segera sadar."
"Kalau Riza tidak juga sadar, bagaimana, Pi?. Mami tidak mau kehilangan putera kita lagi."
Papi diam dengan sorot mata yang memancarkan kekhawatiran.
------
Dilla dan Niko masih berada di taman. Tampak Dilla masih diam dengan tatapan kosong.
"Apa salah saya, Mas?" Dilla akhirnya bersuara.
Niko hanya mampu menghela nafas frustasi.
"Lo nggak salah apa-apa. Kayaknya tante cuma kecapean makanya kayak gitu. Lo tenang aja, ya."
Dilla diam masih dengan tatapan kosongnya.
-----
Beralih ke kamar Riza,
"Bagaimana kalau Riza segera kita bawa keluar dari sini, Pi?" usul mami tiba-tiba.
Dahi papi mengernyit, "Maksud mami?"
"Maksud mami, kita bawa saja Riza ke Belanda. Bagaimana, Pi?"
Papi berpikir sejenak lalu menarik nafas dalam, "Baiklah, kalau memang itu yang terbaik untuk Riza, papi setuju. Papi akan bicarakan hal ini pada Dilla."
"Untuk apa papi berbicara segala sama Dilla?"
"Mi, walau bagaimanapun Dilla itu istrinya Riza. Dia sudah menjaga dan merawat Riza selama kita tinggal di Belanda. Apa mami tidak pernah memikirkan hal itu?"
Mami diam sejenak kemudian melanjutkan, "Ya sudah, terserah papi saja. Mami tidak peduli, mau Dilla setuju atau tidak, mami tetap akan membawa Riza. Titik!"
Papi pun mengiyakan sebab ia tidak punya pilihan lain saat ini selain membawa puteranya itu kembali ke Belanda untuk mendapatkan pengobatan. Keselamatan Riza merupakan prioritas utama untuk papi.
"Beri papi waktu untuk membicarakan hal ini pada Dilla."
Terlihat bulir bening kembali jatuh dari sudut mata Riza.
------
Seminggu kini telah berlalu, akan tetapi Riza masih saja terbaring koma di atas ranjang. Melihat itu, mami pun semakin mendesak papi untuk segera membicarakan mengenai rencana mereka pada Dilla.
"Pokoknya mami tidak mau tau. Hari ini juga, papi harus bicara sama Dilla."
Suara ketukan pintu menyela percakapan sengit mereka. Keduanya menoleh ke arah pintu bersamaan. Terlihat sosok Dilla berdiri di sana sesaat setelah pintu terbuka sempurna. Wajah Dilla terlihat pucat dan lusuh.
"Mau ngapain lagi kamu kesini?" Mami membuang wajahnya.
Dilla mendekat lalu meraih tangan mami untuk menciumnya. Namun, mami tampak menepis uluran tangan Dilla. Dilla menatap mami sedih.
Meskipun mami sudah memperlakukan Dilla dengan kasar akan tetapi Dilla tampak berusaha ikhlas menerima kebencian mami yang tidak beralasan itu, sebab Dilla tau, kemarahan mami hanya karena mami sangat mengkhawatirkan Riza.
Selanjutnya, Dilla mencium punggung tangan papi.
"Bagaimana keadaan mas Riza, Pi?"
"Riza baik-baik saja."
Dilla menoleh lalu menatap wajah suaminya dengan tatapan sedih bercampur kerinduan yang teramat dalam. Bagaimana tidak, sudah seminggu ini ia tidak melihat wajah suaminya itu diakibatkan perlakuan kasar mami yang selalu saja mengusirnya setiap kali ia datang menjenguk Riza.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Suara papi menghentikan gerakan tangan Dilla yang berniat menyentuh wajah Riza.
Dilla menoleh pada papi lalu mengangguk pelan. Selanjutnya, Dilla pun duduk di sofa mengikuti perintah papi. Matanya tampak cemas saat menatap wajah papi yang terlihat serius.
"Ada apa, Pi?"
"Begini, sebenarnya papi dan mami berencana membawa Riza untuk menjalani pengobatan di Belanda."
Mata Dilla membulat. "Ma-maksud papi, mas Riza akan tinggal di Belanda?. Begitu?"
Papi mengangguk pelan.
Dahi Dilla mengerut, "Berapa lama, Pi?"
"Papi tidak tahu."
Dilla menelan ludahnya berat, "Dilla ikut 'kan, Pi?" tanya Dilla lirih.
Papi berdehem pelan kemudian menggeleng.
"Kenapa, Pi?" lirihnya lagi.
Papi menyodorkan sebuah map ke arah Dilla. Matanya tertuju pada map hijau yang ada didepannya. Perasaannya mulai tidak enak. Dilla meraih map tersebut dan mulai membaca satu persatu tulisan yang ada didalamnya.
Mata Dilla membulat. "Apa maksudnya ini, Pi?" Dilla kembali menatap ke arah papi.
"Papi minta, kamu ceraikan Riza."
Dilla mendongak, menatap lawan bicaranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa, Pi?. Cerai?!"
Kata-kata menyakitkan itu mendesing di telinganya.