
Niko menyusul langkah Riza menuruni anak tangga sambil terus berteriak hingga suara Niko pun terdengar sedikit serak. Akan tetapi Riza justru menyuruh Niko agar mempercepat langkahnya.
Niko kemudian menekan tombol remote mobilnya.
Seketika Riza langsung membuka pintu kemudian duduk dan mengenakan sabuk pengamannya.
Niko juga ikut masuk ke dalam mobil dan menatap Riza, "Gue ini sebenernya temen loe atau kacung loe sih?. Heran gue!" ucap Niko sembari memasangkan sabuk pengaman ke dadanya.
"Temen rasa kacung, cepetan jalan!" sahut Riza singkat tanpa melihat ke arah Niko.
"Sialan loe!", jawab Niko kesal.
Kemudian Niko menginjak dalam pedal gas mobilnya meninggalkan rumah Riza.
-----------------
Hari ini ibu Dilla akan pulang ke desa, Dilla sangat sedih sekali. Ia tidak rela ibunya itu pergi meninggalkannya.
Dilla berusaha menahan ibunya agar lebih lama lagi tinggal di rumah Laras bersamanya, namun ibu Dilla menolak karena ia merasa tidak enak jika merepotkan Laras terus menerus. Apalagi Laras sudah sangat baik menawarkan tempat tinggal untuk Dilla selama Dilla tinggal di Jakarta. Jadi ibu tidak mau membebani Laras dengan tinggal lebih lama lagi dirumahnya.
Dilla pun akhirnya mengerti, meskipun nantinya ia harus rela membendung kerinduan lagi setelah ibu dan adiknya pulang ke desa.
Saat Dilla sedang bersiap-siap untuk mengantarkan ibunya ke bandara, Laras berteriak memanggil Dilla.
"Dilla!. Dilla!" teriak Laras dari depan pintu kamar Dilla.
"Iya, tunggu sebentar mbak!" jawab Dilla.
Dilla membukakan pintu kamarnya, "Ada apa mbak?"
"Fahmi datang ke sini, katanya dia mau ketemu sama kamu. Cepat samperin sana!"
"Mas Fahmi tahu darimana aku tinggal di sini?" Dilla membatin.
Laras memukul tangan Dilla pelan, "Heh, kok malah bengong. Kasihan itu orangnya sudah nunggu di depan!"
"Eh, iya mbak!" jawab Dilla.
Dilla berjalan perlahan menuju ruang tamu, terlihat Fahmi sedang duduk sembari memegang ponsel ditangannya.
"Ada apa mas?" tanya Dilla.
"Dilla!" Fahmi seketika berdiri ketika mendengar suara Dilla.
"Apa kabar kamu hari ini?" lanjutnya.
"Baik, mas. Silahkan duduk." Dilla mempersilakan Fahmi untuk duduk.
"Mas tahu aku tinggal disini dari siapa?" sambung Dilla lagi.
"Oh. Aku tanya sama Kiki. Awalnya aku kira kamu tinggal di rumah Riza, ternyata kamu masih tinggal disini. Makanya aku langsung kesini!"
"Oh. Aku cuma sementara saja kok tinggal disini mas, beberapa hari lagi aku juga akan pindah ke rumah suamiku!"
Dada Fahmi terasa terbakar ketika mendengar kata "suami" keluar dari mulut Dilla. Ia tidak rela kalau Dilla menganggap Riza itu suaminya. Bagi Fahmi hanya dialah yang pantas menjadi suami Dilla bukan Riza ataupun lelaki lain.
Fahmi terlalu larut dalam kekesalan dan amarah dalam dirinya sehingga ia tidak mendengar suara Dilla yang memanggil namanya berulang kali.
Fahmi pun akhirnya tersadar saat Dilla menyentuh punggung tangannya.
"Mas. Mas Fahmi kenapa?" tanya Dilla heran.
"Oh. Tidak, aku tidak apa-apa!" sahut Fahmi.
"Kalau tidak ada yang mau kamu bicarakan lagi, aku rasa kamu sudah bisa pulang sekarang mas. Soalnya aku sedang buru-buru, mau mengantar ibu ke bandara."
Dilla hendak beranjak dari duduknya namun Fahmi menarik tangan Dilla menyuruh Dilla untuk duduk kembali.
Fahmi menarik nafas dalam, "Dilla, sebenarnya aku kesini bermaksud meminta maaf atas perbuatanku tempo hari. Aku menyesal. Aku menyadari kalau tidak seharusnya aku berbuat seperti itu terhadapmu."
Dilla menatap Fahmi, ia melihat ketulusan dimatanya
"Anggap saja itu sebagai tanda perpisahan dariku untukmu, tapi sungguh sejak hari itu aku memutuskan melepasmu dari hatiku. Aku telah merelakan kamu. Meskipun jauh di lubuk hatiku, aku masih sangat mencintaimu" sambung Fahmi dengan suara bergetar.
Dilla diam, hatinya terasa bergetar mendengar kata-kata cinta itu keluar dari mulut Fahmi
"Kamu mau kan memaafkan aku?" sambung Fahmi lagi.
Dilla kemudian mengangguk mengiyakan.
"Kalau kamu benar memaafkanku, tidak bisakah kita menjadi seperti dulu, menjadi teman. Aku mohon padamu Dilla." Raut wajah Fahmi terlihat memelas.
Dilla diam dan tampak berpikir.
"Sejujurnya mas, aku sungguh telah memaafkanmu. Tapi untuk permintaanmu yang satu itu, aku tidak bisa mengabulkannya."
Dilla merasa takut, rasa cinta dalam hatinya akan semakin besar hingga membuat ia lupa akan statusnya.
Fahmi diam cukup lama, mencoba menelaah tiap kata yang diucapkan Dilla.
"Kenapa Dilla?"
Belum sempat Dilla menjawab, ibu Dilla dan Syifa pun keluar dari kamar Dilla.
"Nak, ibu sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang!"
Fahmi yang melihat ibu Dilla seketika langsung mencium punggung tangan ibunya.
Ibu pun kaget kemudian menatap lekat pemuda yang mencium tangannya, ia mencoba mengingat-ingat pemuda tersebut.
"Kamu nak Fahmi, calon dokter itu kan?. Yang dulu pernah tinggal di desa?"
Ibu Fahmi tampak tidak mengetahui hubungan Fahmi dan putrinya.
"Apa kabar, Bu?" tanya Fahmi lembut.
"Alhamdulillah baik, Nak. Kamu sendiri apa kabar?"
"Sudah lama ya, kita tidak bertemu."
"Iya, Bu."
Untuk menyudahi basa-basi Fahmi dengan ibunya, Dilla pun mengajak ibunya agar segera bergegas pergi ke bandara supaya tidak ketinggalan pesawat.
"Mari saya antar, Bu!" Fahmi menawarkan tumpangan.
"Tidak perlu repot-repot mas, saya sudah pesan taksi online tadi!" ketus Dilla.
"Eh, kamu ini kok ngomong nya begitu, Nak. Ibu tidak pernah mengajarkan kamu berbicara seperti itu. Lagian maksud nak Fahmi kan baik, dia cuma mau mengantarkan ibu ke bandara. Kok kamu malah ngomongnya ketus begitu!" tegur ibu.
Ibu Dilla memang tidak mengetahui bahwa Fahmi dan putrinya pernah menjadi sepasang kekasih, karena Dilla tidak pernah bercerita apapun tentang Fahmi kepada ibunya.
"Mari saya antar, Bu!" ajak Fahmi lagi.
Akhirnya ibu Dilla dan Syifa diantar oleh Fahmi dan Dilla ke bandara. Sebelum berangkat ibu Dilla berpamitan terlebih dahulu kepada Laras.
Sementara itu terlihat Riza dan Niko sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Laras untuk menemui Dilla.
----------
Dilla dan Fahmi telah tiba di bandara untuk mengantar ibu Dilla dan Syifa.
Dilla memeluk ibunya erat sekali kali ini, seolah ia tidak ingin ditinggalkan oleh ibunya.
"Ibu berangkat ya nak, kamu harus jadi istri yang berbakti sama suami. Jangan sering membantah, terima apapun baik dan buruknya suami kamu!" Nasehat ibu sembari mengelus pundak putrinya.
"Insya Allah bu, Dilla akan selalu ingat nasehat ibu," jawab Dilla.
"Ya sudah, ibu berangkat dulu ya. Kamu baik-baik di Jakarta," ucap ibu.
"Terima kasih loh nak Fahmi sudah mau mengantar ibu," sambungnya lagi.
"Iya bu, sama-sama."
"Ibu hati-hati ya di jalan." Dilla mengecup punggung tangan ibunya.
Terlihat Dilla melambaikan tangan kepada ibu dan adiknya. Entah kapan mereka bisa bertemu kembali lagi.
----------------
Riza dan Niko akhirnya tiba di rumah Laras.
tok...
tok...
tok...
"Sebentar!" sahut Laras menghampiri pintu.
"Hai mbak, Dilla ada dirumah mbak?" tanya Niko.
"Dilla nya sedang ke bandara, mengantar ibu dan Syifa. Mungkin sebentar lagi pulang," kata Laras.
"Oh, ya sudah mbak, kita tunggu aja!" sahut Niko.
Laras kemudian mempersilakan mereka masuk.
"Sebentar ya, mbak buatkan minum dulu!" Laras beranjak ke dapur membuatkan minum untuk mereka.
Beberapa saat kemudian dua cangkir teh hangat pun telah tersaji di atas meja. Terlihat Riza dan Niko menyeruput minuman mereka.
Riza terlihat memikirkan sesuatu. Kemudian terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Laras.
Dari balik jendela ruang tamu Laras, Riza dapat dengan jelas melihat Dilla turun dari mobil sedan berwarna hitam yang kemudian disusul oleh Fahmi.
Riza menatap mereka dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Setelah turun dari mobil Fahmi, Dilla pun langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum!" Suara Dilla memecah keheningan.
"Wa'alaikumsalam!" Riza menjawab salam Dilla tanpa menatapnya.
"Mas Riza dan mas Niko udah dari tadi datangnya?" tanya Dilla saat memasuki rumah.
"Lumayanlah Dilla, sekitar satu jam-an!" jawab Niko.
"Maaf ya, Mas!"
Dilla melirik ke arah Riza. Namun, Riza tidak memberikan respon apapun.
Sementara Fahmi melirik Riza tajam melontarkan kata-kata sumpah serapahnya di dalam hati. Tak lama Fahmi menatap Dilla lalu berkata,
"Aku pamit pulang dulu ya Dilla, kapan-kapan kita bolehkan ketemu lagi?" tanya Fahmi tersenyum.
Dilla tidak menjawab, ia hanya melirik ke arah Riza yang terlihat biasa-biasa saja saat mendengar perkataan Fahmi .
"Boleh saja mas, asal suamiku mengizinkan!" sahutnya.
Seketika senyuman Fahmi menghilang dari wajah tampannya. Ia memaksakan senyumnya kembali lalu beranjak pergi meninggalkan Dilla.
Setelah kepergian Fahmi, Dilla pun mulai berbicara,
"Ada apa ya mas?" Dilla menatap Niko penasaran.
Niko menggeleng kemudian melirik ke arah Riza. Mereka menunggu Riza berbicara. Riza menarik nafasnya dalam,
"Aku mau menjemputmu untuk tinggal bersamaku, siapkan barang-barangmu!" Riza menatap Dilla tajam.
Niko terlihat kaget.
Sedangkan Dilla, ia hanya terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.