My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/25



"Apes banget sih gue!!" gumam Niko.


"Kenapa gue sih yang kena?. Salah gue apa coba?"


Niko menggerutu kesal ketika melangkah menuruni anak tangga.


Saat sedang asyik menggerutu, ia dikejutkan oleh suara dering ponsel miliknya. Niko pun bergegas mengambil ponsel dari balik saku celananya.


Saat melihat nama yang tertera di layar, Niko tampak kembali menggerutu. itu


"Tuh, kan baru juga gue omongin!"


Niko menggenggam ponsel di tangannya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Setelah itu, barulah ia menggeser tanda berwana hijau di layar.


"Halo, Om!" sapa Niko.


Pekikan suara teriakan papi terdengar dari balik ponsel, Niko refleks menarik ponselnya menjauh dari telinga.


Entah apa yang dikatakan oleh papi kepada Niko. Niko terlihat berpikir kemudian mengangguk mengiyakan.


Setelah menyudahi panggilan papi, Niko pun mendesah pelan.


Posisi Niko saat ini seperti memakan buah simalakama. Ia harus memikirkan perasaan semua orang, tapi tidak ada yang peduli dengan perasaannya.


Selanjutnya, dengan tergesa-gesa Niko berpamitan pulang kepada Dilla yang sedang menonton televisi di ruang tamu.


"Dilla, gue pulang ya. Jagain si Riza. Kalau ada apa-apa loe hubungi gue. Oke?" Pesan Niko kepada Dilla.


Dilla kemudian berjalan menghampiri Niko.


"Ndak makan siang disini dulu, Mas?"


"Lain kali aja, soalnya gue buru-buru. Ada urusan. Bye!" sahut Niko singkat.


Niko bergegas pergi meninggalkan rumah Riza.


Dilla mengernyit heran melihat ke arah Niko yang sepertinya sangat terburu-buru. Namun, Dilla tidak terlalu ambil pusing. Ia kemudian kembali melanjutkan kegiatan menonton televisinya.


Setengah jam berlalu, Dilla tampak sudah merasa bosan dengan siaran televisi yang ditontonnya. Ia berdiri dari duduknya kemudian beranjak menuju kamar.


Dilla memutar gagang pintu perlahan.


Terlihat di dalam kamar, Riza sedang berbaring di ranjang dengan selimut tebal membalut tubuhnya.


Dilla melangkah pelan memasuki kamar menuju ke arah sofa. Riza melihat sekilas ke arah Dilla.


Dilla langsung mengambil ponsel dari dalam tas kecil berwarna pink miliknya dan beberapa buku dari atas meja. Selanjutnya Dilla keluar kamar dan menutup pintu perlahan.


Dilla bergegas melangkah menuju ke arah ruang tamu.


Dilla meletakkan buku-buku yang dibawanya tadi di atas meja. Ia pun mulai mengulang kembali beberapa mata kuliah yang dipelajarinya di kampus.


Tampak Dilla sangat serius dan cekatan dalam membuat rangkuman hal-hal penting yang ada di dalam buku teks ke dalam buku agenda miliknya.


drrrttt....


drrrttt....


Ponsel Dilla bergetar. Dilla meraih ponselnya. Terlihat nama Kiki di layar.


"Halo, Ki. Ada apa?" tanya Dilla.


"Dilla, kamu udah ngerjain tugas presentasi Bahasa Inggris belum?"


Dilla menepuk jidatnya pelan, "Astaghfirullah, aku lupa!"


"Kamu?" sambungnya lagi.


"Sama. Ha..ha..ha." Kiki tertawa.


Kemudian Dilla dan Kiki pun tertawa. Menertawakan kebodohan mereka yang tidak terlalu menguasai mata kuliah Bahasa Inggris dengan baik.


Dilla memang terkenal cerdas dalam berbagai bidang akademis, tapi untuk bidang yang satu itu entah mengapa ia merasa sangat sulit menguasainya.


"Ya, udah deh. Aku cuma mau ingetin itu aja. Jangan lupa di kerjain loh. Bye Dilla!" ucap Kiki kembali.


Kiki pun mengakhiri panggilan teleponnya.


Setelah menyudahi obrolan dengan Kiki, Dilla terlihat berpikir. Ia mulai memikirkan bagaimana caranya ia bisa menyelesaikan tugas presentasinya itu sesegera mungkin.


Sementara ia tidak memahami tugas tersebut dan satu lagi Dilla juga belum memiliki laptop untuk mengerjakan presentasinya. Padahal tugas tersebut harus segera dikumpulkan seminggu lagi.


Dilla pun akhirnya memutuskan untuk mencoba meminta bantuan dari Riza.


Di dalam kamar, Riza bangkit dari berbaringnya. Ia merasakan dahaga bersarang di tenggorokannya.


Riza menyibak selimut kemudian beranjak menuju dapur.


Saat keluar dari kamar, Riza mengedarkan pandangannya mengelilingi rumah. Kondisi rumah terlihat sunyi dan sepi tidak seperti biasanya.


"Kemana dia?" gumamnya.


Terlihat Dilla sedang duduk di ruang tamu, tengah berkonsentrasi dengan pelajarannya.


Dilla melihat ke arah jam dinding. Sudah saatnya ia harus memasak makan siang.


Mulai saat ini Dilla memutuskan untuk memasak tepat waktu, karena ia takut penyakit maag Riza kambuh lagi.


Dilla pun langsung bergegas menyusun buku-bukunya kemudian beranjak menuju dapur.


Dilla terlihat berjalan santai menuju dapur. Dilla melihat Riza di sana, lalu menghampirinya.


"Mas pasti sudah lapar ya. Sebentar ya mas, saya akan siapkan makan siang!" ucap Dilla.


Riza hanya melihat Dilla sekilas kemudian melengos pergi melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Dilla pun terlihat mulai berjibaku dengan kegiatan memasaknya. Riza memperhatikan kegiatan memasak Dilla dari kejauhan.


Tak lama, Riza pun menghampiri Dilla di dapur. Riza mengambil celemek miliknya yang tergantung di dinding lalu mengenakannya. Riza membantu Dilla memasak hari ini.


Terlihat di sela-sela memasak mereka, Dilla menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Tidak lama masakan pun telah tersaji di atas meja makan. Dilla memasak menu makan siang hari ini sesuai dengan anjuran dari Om Darma. Karena Riza tidak boleh makan makanan sembarangan untuk meminimalisir kambuhnya penyakit maag Riza.


Dilla dan Riza menikmati makan siang dalam hening. Hanya sesekali terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.


"Mulai besok aku akan pergi bekerja setiap paginya!" ucap Riza memecah keheningan.


Dilla diam menatap wajah Riza. Ia bingung bagaimana menanggapi ucapan ambigu dari Riza tersebut. Pasalnya selama ini Riza tidak pernah memulai obrolan apapun dengannya.


Akhirnya ia hanya menjawab singkat, "Oh!"


Hening kembali.


Kali ini Dilla yang membuka suaranya. Dilla melihat ke arah Riza.


"Saya tidak sangka kalau ternyata mas Riza jago masak!" puji Dilla.


Riza hanya diam tidak menanggapi pujian Dilla.


Sedangkan Dilla menatap Riza lama. Ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu.


"Mas, saya mau minta tolong. Boleh?"


Hening.


Riza terlihat menyantap makan siangnya dan tidak menanggapi ucapan Dilla.


Melihat Riza yang terlihat diam dan tidak acuh, membuat Dilla seketika menundukkan wajahnya. Ia terlihat kecewa.


Dilla langsung menyudahi makan siangnya.


"Setelah selesai makan, taruh piringnya di dapur!. Saya ke kamar dulu!" ketus Dilla.


Dilla kemudian pergi meninggalkan Riza seorang diri di meja makan. Riza melihat Dilla berlalu pergi dengan tatapan heran.


Sebenarnya sedari tadi Riza sedang melamun jauh. Ia merasa cemas dan khawatir. Memikirkan apakah ia mampu bertahan untuk memimpin rumah sakit kakek selama setahun kedepan. Oleh karena itulah, Riza tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dilla barusan.


Dilla melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar. Ia tampak sangat kesal dengan sikap Riza.


Dilla mengambil ransel miliknya kemudian bergegas menuruni anak tangga. Dilla sama sekali tidak menyapa Riza ketika berpapasan dengannya di tangga.


Melihat raut wajah kesal Dilla, membuat Riza menatapnya heran.


Dilla terlihat semakin mempercepat langkahnya.


"Berhenti!" ucap Riza.


Seketika Dilla menghentikan langkahnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Riza.


"Keluar!" ucap Dilla singkat tanpa menoleh ke arah Riza.


"Kemana?", tanyanya lagi.


"Tidak ada obrolan pribadi!" jawab Dilla singkat kemudian melengos pergi melangkahkan kakinya kembali.


Riza menautkan kedua alisnya lalu menghampiri Dilla. Ia menarik tas ransel yang ada di pundak Dilla.


"Lepas, Mas!" Dilla meronta.


Riza kemudian melepaskan tangannya dari ransel Dilla.


"Tetap diam di rumah dan jangan berulah!" singkat Riza.


Riza menatap Dilla tajam begitupun sebaliknya.


Karena kesal, Dilla pun mencubit geram pipi kanan Riza. Hingga membuat Riza mengaduh kesakitan.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Dilla kemudian berlalu pergi menaiki tangga. Ia meninggalkan Riza yang terlihat masih mengusap pelan pipinya yang memerah.