My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/64



"Ayo, makan Mister!" ajak Dilla sesaat setelah makanan pesanan mereka terhidang di atas meja.


Aldrich yang masih tampak larut dengan kebingungannya hanya menjawab dengan tersenyum singkat.


Dilla kembali menyikut lengan Kiki yang terlihat masih betah memandangi wajah pria bule yang ada di hadapan mereka, "Ayo, makan!. Kamu ndak laper apa?"


"Aku maunya di suapin," sahut Kiki dengan tersenyum lebar.


Dilla menggeleng lalu kembali mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.


"Mas bule namanya siapa?" tanya Kiki pada Aldrich.


"Oh, maaf ya. Tadi kita belum kenalan. Aku Aldrich Barayev Wijaya. Panggil saja Aldrich." Aldrich mengulurkan tangannya.


Kiki pun segera menyambar tangan Aldrich lalu menggenggamnya erat, "Maprilia Kiki Hidani. Panggil aja Kiki," ujarnya dengan tersenyum manis.


Aldrich mengukir senyum terpaksanya sambil melirik sekilas ke arah tangannya yang tampak masih digenggam erat oleh Kiki.


"Mas bule sudah punya pacar?"


Aldrich melepaskan tangan Kiki perlahan lalu melirik sekilas ke arah Dilla, "Belum."


"Kalau calon istri?"


Aldrich menggeleng.


"Mau dong jadi istrinya!" Kiki tersenyum sumringah.


Aldrich tersenyum simpul kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah Dilla yang tampak sedang asyik mengunyah makanannya dengan kondisi mulut yang belepotan. Dengan tersenyum kecil Aldrich mengambil tisu yang ada di atas meja lalu menyeka mulut Dilla dengan lembut.


Karena merasa tidak nyaman, Dilla pun segera meraih tisu dari tangan Aldrich lalu menyeka sendiri mulutnya sampai bersih.


"Dasar endul!" sebut Aldrich tiba-tiba.


Dilla terlihat kaget.


Endul?. Darimana dia tahu nama itu?


Dilla menatap Aldrich dengan menautkan kedua alisnya.


"Mister bilang apa tadi?"


"Endul!" jawab Aldrich singkat. "Memangnya kenapa?" tanyanya lagi.


"Darimana Mister tahu nama itu?" cecar Dilla penasaran.


"Entahlah. Aku hanya merasa nama itu cocok untukmu. Endul!" Aldrich tertawa riang.


Apa ini hanya kebetulan?, batin Dilla, masih menatap Aldrich lekat.


"Ayo, habiskan makanan kalian. Setelah itu, aku akan mengantar kalian kembali ke kampus," Aldrich kembali menyantap makanannya tanpa menyadari sorot mata Dilla yang memandang ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


Di tempat berbeda, Niko tampak memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berdesain minimalis dengan cat abu-abu yang mendominasi. Ia segera mengetuk pintu sesaat setelah keluar dari mobilnya. Tak lama, muncullah seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


"Paketnya mana, Bu?" tanya Niko segera setelah ia memasuki rumah.


Wanita tersebut pun memberikan sebuah kotak berukuran sedang kepada Niko.


"Kamu nggak makan siang dulu?" tanya wanita tersebut.


"Nggak, deh. Niko makan siang di luar aja. Soalnya Niko buru-buru. Bye, ibuku sayang!" ujarnya berpamitan pada wanita paruh baya tersebut.


Niko pun segera memasuki mobilnya dengan membawa sebuah kotak di tangannya. Ia mengemudikan mobilnya perlahan membelah jalanan ibukota lalu menepikannya sejenak di depan sebuah toko dengan bunga beranekaragam terpajang didepannya.


Tak lama, mobil pun kembali melaju menelusuri jalanan dengan perlahan. Sebuah buket bunga mawar tampak tergeletak manis di jok sebelahnya.


Niko menggumam dari balik kemudinya, "Gue beneran nggak nyangka, kalo sepupu gue yang nyebelin itu bisa ngelakuin hal-hal receh kayak gini. Riza...Riza..." Niko tertawa kecil. "Cinta memang luar biasa!" ungkapnya singkat dan kembali berkonsentrasi dengan kemudinya.


------


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Dilla dan Kiki segera kembali ke kampus dengan diantarkan oleh Aldrich. Ucapan Aldrich sewaktu di restoran terus-menerus terngiang di telinga Dilla sepanjang perjalanan mereka kembali ke kampus.


Endul!. Lagi-lagi aku mengingat dia. Ya, dia. Si pemuda lemah yang selalu melindungiku. Yang selalu ada di sisiku kapanpun itu. Satu-satunya orang yang selalu memanggilku dengan sebutan aneh.


Dilla tersenyum simpul.


Sebutan yang sudah lama tidak pernah ku dengar. Ejekan yang selalu terdengar manis setiap kali terucap dari bibirnya.


Dilla mendesah berat.


Kak Raja, kakak ada dimana sekarang?


Aldrich menoleh sekilas ke arah Dilla yang tampak menyandarkan tubuhnya di jok sebelahnya. Terlihat Dilla menatap ke arah langit dari balik jendela mobil dengan mata yang mulai memerah. Mendesah pelan dengan pikiran yang mulai menerawang jauh. Hingga akhirnya mobil pun tiba di kampus.


Sesampainya di dalam kelas, Dilla segera bersiap memulai kuliahnya. Ia mengambil jurnalnya dari dalam tas lalu membukanya perlahan. Dahinya mengernyit saat melihat sebuah kertas putih dengan lipatan rapi terselip di sana.


Dengan dahi yang sedikit berkerut, Dilla pun membuka lipatan kertas tersebut perlahan. Rangkaian kalimat terukir di dalamnya. Mata Dilla membuka lebar membaca tulisan yang ada dalam kertas tersebut.


***


~Dear Syafadilla Aini, istriku~


Goresan tinta di atas kertas putih tak bernoda ini, mewakili seluruh perasaanku untukmu.


Perasaan aneh yang membuncah di hatiku.


Namun, aku selalu tidak mampu untuk mengatakannya.


Hati itu.


Ya!


Hati yang sengaja ku tutup rapat hanya untukku, perlahan mulai terbuka karenamu.


Kisah yang tak perlu ku bagi dengan siapapun.


Sedikit demi sedikit aku pun mulai membaginya.


Sama seperti bagaimana tinggi badanku berhenti tumbuh ketika aku menjadi dewasa, aku berpikir cinta akan sama.


Tapi ternyata cinta ini berbeda dan tanpa sadar, cintaku justru semakin tumbuh setiap harinya.


Kadang aku merasa dirimu begitu dekat untuk bisa ku gapai.


Mengesalkan sekaligus mendebarkan.


Tanpa sadar sebuah senyuman selalu menghiasi hari-hariku.


Aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganku darimu sampai aku menutup mata. Hingga saat itu tiba, kumohon tetaplah berada di sisiku.


Aku akan selalu berdoa sepanjang malam.


Dengan harapan, doaku bisa mencapai langit dan tersampaikan ke hatimu.


~Riza~


***


Dilla diam membisu membaca kalimat terakhir dari sepucuk surat yang berisikan curahan hati Riza padanya. Entah kenapa, Dilla merasakan kehangatan dalam tiap goresan pena yang ditorehkan oleh Riza di atas kertas putih itu.


Curahan hati yang hanya mampu Riza ungkapkan pada secarik kertas.


Dilla diam mematung dengan menggenggam erat kertas kecil persegi itu ditangannya.


Hingga jam pelajaran di kelas berakhir, Dilla hanya diam saja. Ia terlihat melamun dan termenung. Membuat Kiki yang duduk disebelahnya menatap ke arahnya heran. Bahkan saat Kiki bertanya dan bercerita pasal Aldrich. Dilla hanya diam mendengarkan dengan pikiran yang berada entah dimana.


----


Setibanya di rumah, Aldrich segera di sambut oleh Thomas yang langsung menghampiri Aldrich di muka pintu.


"Kenapa Tuan pergi keluar tanpa memberitahu saya?. Tuan darimana saja?. Kenapa ponsel Tuan tidak aktif?" cecar Thomas pada Aldrich yang tampak berjalan santai menuju ke arahnya.


Aldrich mendengus kesal, "Aku kabur!. Jadi berhentilah mengoceh dan bertanya macam-macam!"


Seperti biasa, Thomas hanya mampu menundukkan kepalanya.


Aldrich berlalu meninggalkan Thomas, "Satu lagi-" Aldrich berbalik, "Katakan pada Daddy untuk berhenti memaksaku pindah dari sini!. Karena aku tidak akan pindah kemanapun."


Aldrich kembali melangkah.


"Tapi, Tuan-" cegah Thomas.


Langkah Aldrich terhenti.


Thomas menatap Aldrich cemas, "Bukankah saya sudah bilang bahwa lingkungan di sini tidak aman untuk Tuan. Tuan besar hanya tidak ingin kejadian lima tahun lalu terulang kembali pada Tuan."


"Katakan padanya, kejadian itu juga terjadi gara-gara dia. Dia itu tidak cukup baik untuk disebut sebagai seorang ayah. Aku rasa kau juga pasti tahu hal itu!" sinisnya.


Aldrich kembali melangkah menaiki anak tangga dengan tatapan kesal. Thomas mendesah pelan. Menatap Aldrich yang berjalan menaiki anak tangga dengan tatapan iba.


-----


"Assalamu'alaikum!" Dilla memberi salam saat dirinya tiba di rumah Laras.


"Wa'alaikumsalam," sahut Laras dari dalam rumah.


Laras menghampiri Dilla.


"Tadi siang Niko ke sini. Dia nitip sesuatu buat kamu. Katanya dari Riza!"


"Mas Niko nitip apa mbak?"


Laras menggeleng, "Itu sudah mbak taruh di kamar."


Dilla hanya ber-oh ria kemudian berjalan memasuki kamarnya. Tampak sebuah kotak persegi dan sebuah buket bunga mawar indah tergeletak di atas tempat tidur Dilla.


Ia berjalan perlahan, meraih buket bunga mawar lalu membauinya. Dengan masih memegang bunga, Dilla membuka kotak perlahan.


Sebuah laptop terpampang jelas di depan matanya sesaat setelah ia membuka kotak. Dilla terhenyak, tidak menyangka bahwa Riza akan memberikan sebuah laptop untuknya. Selanjutnya, Dilla tampak mencari-cari sesuatu di dalam kotak.


"Kok ndak ada?"


Sebuah pesan singkat muncul. Dilla meraih ponselnya. Nama Riza terpampang di sana.


[Sudah pulang?]


[Sudah, Mas!]


Sesaat kemudian, ponsel berdering nyaring. Dengan cepat Dilla menjawab.


"Iya, Mas," sapa Dilla dengan sumringah.


"Assalamu'alaikum!" sahut Riza dari seberang.


"Wa'alaikumsalam!"


"Kirimanku sudah kamu terima?"


"Iya, sudah Mas. Bunganya cantik. Harum lagi." Dilla tersenyum.


"Bunga?"


"Iya!" jawab Dilla cepat.


"Oh. Mungkin bunga itu dari Niko!"


"Hah?. Mas Niko?. Jadi bunga ini bukan dari mas?"


"Jangan berlebihan!. Untuk apa aku memberikan bunga padamu."


Dilla cemberut.


"Gunakan laptop yang aku berikan dengan baik. Jangan sampai hilang ataupun rusak. Mengerti?!"


"Iya!" seru Dilla malas.


"Ya, sudah. Istirahatlah. Nanti aku telepon lagi. Assalamu'alaikum."


"Tapi, Mas-"


Riza segera mematikan ponselnya tanpa menunggu Dilla selesai berbicara.


"Baru juga mau ngomong udah dimatiin!. Dasar!" gerutu Dilla menatap layar ponselnya dengan kesal.