
Malam harinya, Aldrich terlihat tidak tenang dan gelisah dalam tidurnya. Dahinya berkerut dengan keringat yang bercucuran mengaliri pelipis matanya. Aldrich menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Dalam tidurnya, ia melihat sekilas bayangan seorang gadis belia yang sedang tertawa dan tersenyum menampilkan deretan gigi putih kelinci miliknya yang membuat si gadis belia terlihat sangat manis dan cantik. Gadis belia itu tertawa lebar ke arah seorang pemuda seraya mengacungkan jari telunjuk ke arahnya. Mereka terlihat saling tertawa dan tersenyum.
Bayangan lain muncul kembali, kali ini pemuda itu terlihat membonceng si gadis belia dengan sepedanya berjalan melewati pepohonan rindang disekitar mereka. Sepanjang perjalanan, mereka tampak saling bersenda gurau. Sesaat kemudian, tiba-tiba sepeda yang mereka naiki terlihat oleng. Sontak si gadis belia itu menggenggam kuat kaus yang dikenakan oleh si pemuda asing tersebut. Mereka berdua pun terjatuh dari sepeda yang mereka naiki.
Pemuda itu menangis sesenggukan, dan lagi-lagi gadis belia itu terlihat tertawa lebar. Sang gadis meniup luka yang menggores lutut pemuda yang tengah menangis itu dengan beberapa tiupan kemudian menempelkan sebuah plester di lutut si pemuda seraya berkata, "Tenang saja, itu hanya luka kecil."
Selanjutnya, gadis itu kembali tersenyum dengan sangat manisnya. Seketika tangisan pemuda itu berhenti.
Tiba-tiba Aldrich terbangun dari tidurnya. Mata Aldrich membuka lebar menampilkan manik mata hazel miliknya yang kini tengah menatap nanar langit-langit kamarnya dengan nafas terengah-engah. Ia mengusap pelan peluh yang tampak membanjiri dahinya.
Aldrich meraih segelas air yang berada diatas nakas disamping ranjangnya lalu meneguk air tersebut perlahan. Setelah itu, ia mengatur nafasnya kembali seraya memikirkan mimpinya barusan. Entah mengapa, bayangan dua orang siswa itu selalu saja muncul dalam tidurnya beberapa tahun belakangan ini.
Jantungnya terasa nyeri dan berdetak tak beraturan. Aldrich menarik nafas dalam seraya memegangi dada sebelah kirinya. Terlihat sebuah guratan bekas jahitan disana.
---------
"Bagaimana keadaan kamu?"
Riza berjalan menghampiri Dilla yang sedang berbaring di ranjang.
"Sepertinya sudah baikan, Mas," jawab Dilla ragu.
Riza duduk di pinggiran ranjang dan mendekatkan wajahnya ke arah Dilla. Memindai pipi istrinya dengan seksama. Memastikan bahwa lebam di pipi Dilla memang sudah baikan.
"Syukurlah lebamnya sudah berkurang. Dengan begini aku bisa tidur dengan tenang sebab penyakit pasienku sepertinya sudah mulai membaik." Riza tersenyum.
Dilla memperhatikan senyum mempesona Riza yang sepertinya sukses membuat jantung Dilla berdegup kencang.
"Apa di rumah sakit mas selalu senyum seperti itu kepada pasien-pasien mas?" tanya Dilla tiba-tiba.
"Maksudnya?" tanya Riza tidak mengerti.
Dilla menggeleng cepat kemudian berkata, "Tidak ada. Ya sudah, mas keluar saja. Saya mau tidur!"
Dilla menarik selimutnya.
"Boleh aku tidur disini?" Riza menggoda Dilla kali ini.
Mata Dilla membulat seketika jantungnya kembali berdetak dengan irama yang lebih cepat.
Wahai jantung. Berdetaklah perlahan, batin Dilla.
Riza memperhatikan pipi Dilla yang terlihat mulai merona. Saat Riza ingin menyentuhnya. Terlihat Dilla memalingkan wajahnya. Riza terdiam seraya memandang wajah Dilla dengan tatapan sedih bercampur kecewa.
Setelah itu, tanpa berkata apapun lagi Riza segera beranjak pergi meninggalkan kamar Dilla. Dilla menolehkan wajahnya ke arah Riza, memandang sedih ke arah punggung runcing suaminya itu seraya berbisik lirih di dalam hati.
------
Sementara itu ditempat lain, Nana melirik jam di pergelangan tangannya yang tampak menunjukkan pukul 22.00 WIB. Nana memarkirkan mobilnya perlahan didepan rumah. Beberapa petugas yang berjaga memberi hormat padanya. Dengan gelisah bercampur takut, Nana memasuki rumah kemudian celingukan dengan langkah yang mengendap-endap persis seperti maling. Terlihat suasana rumah yang sedikit gelap.
Sesaat kemudian, lampu pun menyala. Langkah Nana terhenti. Matanya membulat.
"Nana!!"
Suara berat seseorang mengagetkan dirinya. Nana menoleh. Terlihat sang Jenderal telah berdiri tegak didepan mata Nana seraya melotot tajam kearahnya.
"A-a-ayah kok belum tidur?" sahut Nana terbata.
"Darimana kamu?. Kenapa jam segini baru pulang?"
Nana diam sejenak seraya memutar otaknya berusaha memikirkan jawaban apa yang akan diucapkan olehnya.
"Habis makan malam, Yah. Sama teman kantor." Nana menjawab dengan kepala yang tertunduk ketakutan.
"Jangan bohong!"
"Be-be-beneran kok, Yah. Nana nggak bohong."
"Besok-besok ayah mau kamu pulang tepat waktu. Tidak ada kelayapan. Sehabis pulang dari kantor segera pulang ke rumah!. Paham?!" Pras melotot tajam seraya berkacak pinggang.
Nana mengangguk dengan masih menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian, Pras pun pergi dari hadapan Nana. Begitulah Pras, ayah Nana yang sangat otoriter. Selalu memaksa Nana melaksanakan perintah darinya tanpa bertanya bagaimana dan apa yang dirasakan Nana. Bagi Pras perintahnya adalah titah yang tidak boleh dibantah oleh siapapun.
Nana mengangkat kepalanya, terlihat bulir bening menggenangi kelopak matanya. Nana mencoba menguatkan dirinya agar tidak menangis meskipun kini dadanya terasa sangat sesak. Nana berjalan gontai menuju pembaringannya malam itu lalu memejamkan matanya perlahan.
------
Keesokan harinya, pukul 05.30 WIB terlihat Aldrich tengah bersiap-siap mengenakan stelan pakaian olahraga lengkap dengan sepatu kets putih miliknya. Aldrich menuruni anak tangga dan disambut oleh Thomas yang sepertinya telah menunggunya sejak tadi di bawah.
"Pagi, Tuan."
"Pagi!" sahut Aldrich sembari terus berjalan meninggalkan Thomas.
Thomas menyalip Aldrich didepan. Seketika langkah Aldrich terhenti.
"Maaf, Tuan. Tuan tidak boleh pergi kemanapun," cegahnya.
Aldrich menghela nafas kesal, "Minggir!" ujarnya pada Thomas.
"Tapi Tuan, Tuan besar sudah memerintahkan saya untuk melarang Tuan pergi kemanapun mulai hari ini. Terkecuali jika Tuan setuju untuk pindah dari kawasan ini. Jika Tuan membantah, maka Tuan besar akan memaksa Tuan kembali ke Belanda," ujar Thomas penuh penekanan.
"Berisik. Aku tidak peduli. Itu urusanmu dengan Daddy. Jangan halangi jalanku!" Aldrich mendorong Thomas menjauh.
"Tapi, Tuan. Tuan!!" teriak Thomas.
Tanpa pikir panjang, Thomas segera menyusul Aldrich yang terlihat berlari dengan kencang menghindari kejaran Thomas.
"Tuan. Tuan. Berlarilah perlahan. Tuan!!" teriak Thomas kembali.
Aldrich terus saja mempercepat larinya tak menghiraukan teriakan Thomas yang masih terlihat mengejar Aldrich dibelakang.
Lima belas menit berlari, tibalah Aldrich didepan rumah Riza disusul oleh Thomas dari belakang. Mereka terlihat mengatur nafas perlahan karena aksi kejar-kejaran mereka barusan yang sukses membuat nafas mereka ngos-ngosan.
Aldrich membuka gerbang kemudian berjalan kearah pintu dengan masih disusul oleh Thomas dibelakangnya. Aldrich menekan bel.
Riza yang tengah menonton televisi di ruang tamu dikejutkan dengan suara bel pintu yang berbunyi nyaring. Dengan langkah malas, Riza membukakan pintu.
Mood Riza seketika anjlok saat melihat siapa yang tengah berdiri didepan pintu rumahnya. Aldrich tersenyum dengan ramahnya sementara Riza hanya menatap Aldrich dengan wajah datar.
"Selamat pagi. Dilla ada?"
Riza diam.
"Halo. Hei, aku sedang bertanya padamu. Apa kau tuli?" tanya Aldrich.
"Ada perlu apa mencari istriku?" jawab Riza datar.
Aldrich melotot kaget. Biji matanya hampir saja keluar dari sarangnya saat mendengar ucapan Riza barusan.
Oh My God. Ternyata gadis itu sudah menikah. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
Braak!!!
Riza menutup pintu tepat didepan wajah Aldrich. Membuat Aldrich terlonjak kaget memegangi dadanya.
Astaga, dia galak sekali.
"Tuan baik-baik saja?" tanya Thomas pada Aldrich khawatir.
Aldrich menoleh kearah Thomas dan menatap tajam kearahnya seolah berbicara "Tutup mulutmu!". Membuat Thomas menundukkan kepalanya seketika.
Aldrich menoleh kembali kearah pintu, "Hei, kenapa kau menutup pintunya. Aku hanya ingin bertemu dengan Dilla," ujar Aldrich seraya menggedor pintu rumah Riza berulang kali. Namun, Riza tidak bergeming sedikitpun.
Dengan santainya Riza terlihat menaiki anak tangga dan membiarkan Aldrich yang masih terus berteriak didepan pintu rumahnya.