
Desa
“Mas dan Syifa darimana saja?. Kenapa baru pulang, Mas?” tanya Dilla sesaat setelah Riza masuk ke dalam kamar.
Riza tampak diam membisu. Terlihat ia memikirkan sesuatu.
Flashback
Dua jam yang lalu.
Sehabis menyelesaikan makan siang, Riza dan Syifa bergegas berjalan menuju ke sebuah rumah dengan tujuan untuk menyelesaikan pinjaman ibu Dilla pada rentenir. Sesampainya di sana, betapa terkejutnya Riza saat menyadari bahwa rumah yang ditujunya adalah rumah Kia. Ternyata ayah Kia adalah seorang lintah darat yang terkenal kejam di desa. Saat Riza memasuki rumah, ayah Kia segera menyapa Riza dengan ramah. Membuat Syifa sedikit bingung.
Riza pun menyampaikan maksud kedatangannya ke sana. Ayah Kia sempat terkejut saat mengetahui bahwa Riza adalah suami Dilla. Begitu pun juga dengan Kia yang tampak kaget bukan kepalang saat Riza mengatakan dengan lantang bahwa Dilla adalah istrinya. Riza pun menanyakan perihal hutang- hutang ibu Dilla dan bermaksud untuk membicarakannya secara baik-baik pada ayah Kia.
Ayah Kia yang merasa sangat berhutang budi pada Riza pun akhirnya mengangguk setuju saat Riza bermaksud melunasi pinjaman pokok ibu Dilla tanpa harus membayar bunga. Riza dan Syifa sangat berterima kasih pada ayah Kia. Setelah pembicaraan mereka selesai, Riza pun bergegas pulang ke rumah bersama dengan Syifa. Namun, Kia menawarkan diri untuk mengantar Riza pulang sebab ada sesuatu yang ingin di tanyakannya. Akhirnya Riza dan Syifa pun berjalan bertiga bersama dengan Kia menuju rumah.
Di perjalanan pulang, Riza dan Kia berjalan bersisian sementara Syifa berjalan terlebih dulu di depan. Kia pun mulai bertanya ini dan itu mengenai hubungan Riza dan Dilla. Membuat Riza terlihat sangat risih.
“Maaf ya, Dokter. Saya hanya penasaran saja. Bagaimana ceritanya dokter bisa mengenal istri dokter lalu menikah. Padahal dokter kan tidak tau istri dokter itu sebenarnya seperti apa!” sinis Kia. Tak Sudi menyebutkan nama Dilla dari bibirnya.
“Maksud kamu?” Riza menautkan kedua alisnya.
“Dulu sebelum dokter, dia itu pernah punya hubungan sama beberapa lelaki. Ada yang namanya Fahmi, terus-”
“Fahmi?!” sambar Riza.
Kia mengangguk cepat.
Bak kompor gas lima tungku, Kia pun mulai menceritakan pasal Fahmi pada Riza dengan menggebu dan berapi-api. Riza menajamkan pendengarannya. Mendengarkan cerita Kia dengan seksama. Ternyata dugaan Riza selama ini benar, bahwa Fahmi memang pernah ada hubungan spesial dengan Dilla. Riza pun mulai terbakar cemburu.
Sesaat kemudian, Kia menyebutkan satu nama lagi.
“Raja!” ujarnya dengan suara bergetar.
“Raja?!. Siapa itu Raja?” tanya Riza penasaran.
Kia menghentikan langkahnya tepat di depan rumah Dilla, “Sepertinya istri dokter tidak menceritakan apapun pada dokter. Saya harap dokter dapat berhati-hati sebab istri dokter itu tidak seperti apa yang dokter lihat selama ini. Dia bukan gadis baik-baik. Istri Dokter itu gadis genit. Sama laki-laki mana aja dia mau. Dia itu rubah yang selalu berpura-pura baik untuk menarik perhatian laki-laki di sekitarnya.”
Riza mengepalkan tangannya. Rahangnya sudah mulai mengeras, “Dia itu istriku. Jadi tolong, jaga bicaramu!” geram Riza menunjuk tepat hidung Kia.
Kia bersedekap seraya menarik miring sudut bibirnya, “Saya hanya bicara sesuai dengan kenyataan. Dokter itu orang baik. Saya hanya tidak mau saja, kalau nantinya dokter dicampakkan oleh istri dokter itu gara-gara laki-laki lain. Dokter pantas untuk mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada dia.”
Kia segera berbalik meninggalkan Riza yang tampak masih berdiri meradang di belakangnya. Larut dalam kegalauan. Kata-kata Kia terus saja terngiang-ngiang di telinga Riza hingga Riza masuk ke dalam rumah.
Flashback End
Apa benar istriku seperti itu?, batinnya ragu.
Riza terus saja bergelut dengan pikirannya.
“Mas!!. Mas!!!” Dilla menggoyang-goyangkan lengan Riza.
Riza pun tersadar dari lamunannya.
“Mas kenapa?. Mas belum jawab pertanyaan saya. Sebenarnya mas sama Syifa dari mana tadi?” cecar Dilla memandang manik mata Riza lekat.
“Tidak dari mana-mana. Hanya berkeliling saja, mencari udara segar,” ujar Riza santai. Riza segera menghampiri Dilla yang sedari tadi duduk di tepi ranjang. Mensejajarkan duduknya dengan gadis yang masih menatap ke arahnya itu. Raut penasaran tercetak jelas di sana.
Untuk apa juga aku mendengarkan omongan tidak jelas dari gadis kurang ajar itu. Tidak penting sama sekali. Yang terpenting bagiku adalah gadis yang ada disebelahku saat ini. Istriku tersayang. Bagiku, tidak ada perempuan yang lebih baik daripada dia.
Riza menggeser posisi duduknya menghadap Dilla dan menatap lekat bola mata gadis yang ada didepannya dengan senyum manis andalannya. Sesaat kemudian, ia menarik kedua tangan mungil gadis itu lalu menggenggamnya erat.
“Aku mencintaimu,” ucapnya mantap, “Jangan pernah tinggalkan aku dan tetaplah di sisiku selamanya.” Riza mencium punggung tangan Dilla lama seraya memejamkan matanya. Membuat Dilla terpaku. Perlakuan Riza itu sungguh membuatnya berdebar.
Riza terlihat membuka matanya, “Kenapa?. Apa aku membuatmu berdebar?” tanyanya sambil menatap wajah gadis di depannya yang terlihat mulai merona.
“Aku pastikan kamu akan merasakan itu setiap harinya.” Riza tersenyum menggoda seraya mencolek dagu Dilla mesra.
Dilla segera menarik tangannya. Menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
Riza tertawa kecil. Melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
-------------------
Jakarta
Aldrich menempelkan gawai di telinganya. Berharap cemas agar panggilan suaranya dapat tersambung di ujung sana. Namun, sepertinya harapannya sia-sia. Entah sudah berapa kali ia mencoba tapi hasilnya selalu sama. Nihil. Aldrich pun segera melemparkan tubuhnya ke atas ranjang besar miliknya yang sudah diduduki olehnya sejak sepuluh menit yang lalu.
“Kemana perginya si Dilla Endul itu?. Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?”
gerutunya menatap langit-langit kamarnya.
Aldrich segera menoleh saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
“Masuk!” ujarnya.
Thomas memutar gagang pintu perlahan dan melangkah masuk. Berdiri tegak di muka pintu. Tak berani melangkahkan kakinya lebih jauh lagi ke dalam.
Dengan tubuh yang masih terbaring, Aldrich bertanya kesal. Entah mengapa ia selalu saja kesal setiap kali ia melihat pelayan setianya itu muncul di depan matanya.
“Ada apa?” tanyanya sinis.
“Begini, Tuan. Tiga hari lagi, Tuan ada undangan sebagai pengisi acara di kantor penerbitan milik Tuan Irfan. Baru saja Tuan Irfan memberikan kabar.”
Aldrich menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi sibuk memainkan gawainya, “Akhirnya, kau melakukan pekerjaanmu dengan benar.” Aldrich segera bangkit lalu menghampiri Thomas. Menepuk pundak pelayannya itu dengan pelan. Terlihat senyum bahagia di wajah keduanya.
“Terima kasih, Tuan.” Thomas menunduk hormat. “Kalau begitu, saya permisi.” Thomas segera berbalik lalu menutup pintu perlahan. Meninggalkan Tuan Mudanya seorang diri di dalam kamar.
Senyum Aldrich masih membekas di wajahnya seusai mendengar berita dari Thomas barusan. Akhirnya ia dapat mengisi acara sebagai seorang pianis di sana. Hal yang sangat membuatnya senang bukan kepalang.
Bagaimana tidak, dengan menjadi pengisi acara di sana maka ia akan memiliki kesempatan emas untuk melebarkan sayapnya di dunia musik. Mengenalkan bakat bermusiknya ke seluruh penjuru dunia sebab di acara tersebut pasti akan banyak sekali produser dan sutradara terkenal yang mungkin salah satu dari mereka akan menawarkan kerjasama dengannya.
Keputusannya untuk kabur dan jauh dari cengkraman ayahnya membuatnya cukup merasa bahagia dan tenang. Setidaknya ia tidak perlu mendengarkan ocehan ayahnya yang selalu melarangnya untuk bermain piano. Perasaaan yang sungguh menyenangkan.
Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Perasaan bahagianya itu pun seketika menghilang saat melihat nama sang ayah tertera di layar. Menjawab panggilan tersebut dengan berat hati.
“Hemm,” sahutnya malas.
“Aldrich!!!. Daddy ingatkan padamu agar jangan melakukan hal-hal yang tidak penting. Berhenti dari kegiatan bodohmu itu!”
Darimana Daddy bisa tahu kabar itu?
“Tapi Daddy-“
“Dan satu lagi! jangan pernah bermimpi untuk bisa menjadikan musik sebagai pekerjaanmu. Ingat!. Daddy akan melakukan apapun untuk membuatmu berhenti dari kegiatan tidak bermanfaat itu. Jangan pernah berpikir kalau Daddy tidak tahu apa yang terjadi di sana. Berhenti dari mimpi tidak masuk akalmu itu!” sarkas Adam penuh penekanan.
Aldrich menggenggam benda pipih yang sedari tadi menempel di telinganya dengan erat. Mencoba menahan amarahnya saat mendengarkan perkataan Adam yang terus saja menghina mimpinya. Tanpa menunggu Adam selesai berbicara Aldrich pun langsung memutus sambungan telepon. Membuat pria paruh baya yang ada di seberang telepon juga ikut meradang.
Aldrich mendesah kesal sesaat setelah panggilan terputus, “Thomaaaaaaasssssss!!!!!” teriaknya penuh amarah.
--------
Desa
Di sebuah ruangan, Kia tampak memandang ke arah sebuah bingkai foto yang ada di tangannya. Bingkai foto berisikan potret dirinya bersama dengan seorang pemuda. Wajah pemuda itu tampak begitu mirip dengannya. Dahi yang cukup lebar dengan rahang yang begitu tegas. Ditambah lagi, mata indah yang membulat sempurna dibingkai dengan alis yang berjajar rapi terlukis indah di wajah pemuda itu. Kia mengusap foto yang dilapisi kaca bening itu dengan tatapan penuh kerinduan. Dadanya serasa diremas dengan kuat. Sesak. Itulah yang dirasakan olehnya saat ini. Tanpa sadar bulir bening tampak mulai menggenang di bulatan matanya.
Kenangan indah seketika keluar dari kotak memori kenangan yang terpatri rapi dalam ingatannya. Kenangan sebelum sosok gadis yang sangat dibencinya itu memasuki kehidupan saudara kembarnya. Mengusik kedekatan mereka. Menjauhkan mereka satu sama lain. Entah darimana semuanya bermula. Namun, sejak gadis itu hadir. Tak ada lagi kehangatan diantara dua saudara kembar itu. Yang ada hanya pertengkaran dan perselisihan. Padahal dulunya mereka adalah dua bersaudara yang selalu menempel satu sama lain. Tak terpisahkan.
Kia menyeka air mata yang mulai jatuh luruh dan tak mampu dikendalikannya itu dengan perlahan. Menaruh bingkai foto kembali ketempatnya lalu berdiri dan menutup pintu kamar yang sedari tadi membuka lebar dengan perlahan.