My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/73



Setelah berjalan lumayan jauh, tibalah mereka di depan sebuah jembatan gantung. Jembatan yang membelah sungai dangkal dan berarus tenang di bawahnya.


"Apa kita harus melewati itu?" tunjuk Riza dari tempat ia berdiri, ke arah jembatan gantung yang ada didepannya. Riza mengerutkan keningnya ragu bercampur rasa takut.


"Iya," jawab Dilla santai tanpa memperhatikan seperti apa raut wajah Riza.


Dilla yang memang sudah terbiasa melihat bahkan menyeberangi sungai dengan menggunakan jembatan gantung tampak tenang dan biasa saja. Berbeda dengan Riza yang seumur-umur baru kali ini melihat jembatan gantung yang cukup panjang itu terpampang jelas didepannya. Seketika kepalanya berdenyut dan darahnya berdesir menahan rasa takut. Padahal kakinya masih menancap di tanah. Namun, pikirannya sudah berpetualang hingga ke kemana-mana.


"Ayo, Mas." Dilla segera menarik tangan suaminya dengan cepat. Menuntunnya menuju mulut jembatan.


Tiba-tiba Riza menghentikan langkahnya. Matanya membuka lebar saat melihat aliran sungai yang ada dibawahnya. Ia mematung. Mengerutkan dahinya dan menelan ludahnya berat. Mulai membayangkan hal-hal menakutkan saat melihat ketinggian jembatan yang ada didepannya.


Tanpa menunggu lama, Riza segera berbalik. Berjalan dengan cepat menjauhi mulut jembatan. Membuat Dilla bingung.


"Mas. Mas!" panggil Dilla. Namun, Riza terus saja melangkah lebih cepat dengan kaki panjangnya. Membuat Dilla sedikit kewalahan mengejar langkah Riza di belakang.


Setelah berbalik arah cukup jauh, Riza menoleh, "Apa tidak ada jalan lain?" tanya Riza dengan nafas tersengal akibat ulahnya yang berjalan cepat barusan.


Dilla mengatur nafasnya perlahan. Nafasnya memburu, karena mengejar langkah panjang Riza. Ia menjawab pertanyaan Riza dengan menggeleng, "Memangnya kenapa, Mas?" tanyanya kemudian. Merasa sedikit heran dengan pertanyaan Riza padanya.


"Ayo, kita pergi ke tempat lain saja. Ke danau, sawah, peternakan sapi atau perkebunan saja!" kilah Riza untuk menutupi ketakutannya. "Tidak usah ke sungai." tambahnya.


Dilla menatap Riza curiga. "Mas takut, ya?" tebaknya dengan seringai jahil khasnya.


Dan seperti biasa, Riza selalu saja mengelak mati-matian setiap kali Dilla menemukan kelemahan demi kelemahannya yang sekian lama ditutupinya dari semua orang. Termasuk keluarganya sendiri.


"Enak saja!. A-a-aku tidak takut!" elaknya meyakinkan Dilla. "Aku hanya berubah pikiran saja. Menurutku pergi ke sungai sangat membosankan. Hanya ada air dan batuan besar. Tidak ada hal yang menarik." Riza terus saja beralasan mencoba mengubah pemikiran Dilla agar mau mengajaknya berpindah ke lokasi lain.


"Tidak!" jawab Dilla cepat.


"Kenapa?. Ayolah!" ucap Riza dengan wajah memelas seolah minta dikasihani.


Dilla tertawa lebar menampilkan gigi putih kelinci miliknya. "Bilang saja kalau mas itu takut. Mas ini, benar-benar. Sama kucing takut. Sama kecoa takut. Nah, sekarang. Sama ketinggian takut."


Suamiku sungguh lucu sekali. Sangat menggemaskan.


Riza menatap tajam ke arah gadis yang sedang tertawa lirih didepannya itu. "Berhenti menertawakanku!. Dan hentikan juga pemikiran bodohmu itu!" gertaknya pada Dilla. "Aku ini seorang pria. Mana mungkin aku takut dengan hal-hal seperti itu," kilahnya dengan tersenyum paksa. Melemparkan pandangannya ke sembarang arah.


Dilla menarik lengan Riza untuk menyeretnya kembali menuju ke arah jembatan. Terlihat Riza mulai gelisah di belakang Dilla. Melihat ke arah jembatan dengan tatapan gusar. Sesampainya di mulut jembatan, Riza langsung membalikkan tubuhnya. Dengan cepat, Dilla mencekal lengan Riza. Menghentikan langkah Riza seketika.


"Eitts, mas mau kemana?. Mas tenang saja. Ada saya. Mas bisa pegang bahu saya." Dilla menaruh kedua tangan Riza di pundaknya. Kemudian melangkahkan kakinya perlahan ke atas jembatan. Sementara Riza memegang erat pundak Dilla seraya memejamkan mata.


"Bagaimana?. Masih takut, Mas?" tanyanya lagi.


"Jangan berlebihan. Bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak takut!" sahut Riza dari belakang dengan mata yang terpejam seraya menghembuskan nafasnya perlahan. Mulutnya komat-kamit merapalkan mantra andalannya untuk mengusir ketakutannya.


Didepan, Dilla tersenyum jahil saat sayup-sayup mendengar suara Riza yang sedang berkomat-kamit ria dibelakangnya. Tiba-tiba Dilla menghentikan langkahnya. Membuat langkah pria yang ada dibelakangnya terhenti seketika.


"Kenapa?. Ada apa?" tanya Riza panik. "Kenapa kamu berhenti?" tambah Riza dengan mata yang masih menutup rapat.


Dilla berbalik. "Kita sudah sampai, Mas!" ucapnya singkat. "Sekarang mas bisa membuka mata."


"Oh, ya?!" seru Riza gembira. "Akhirnya!" tambahnya dengan tersenyum lega.


Riza pun segera membuka mata seperti arahan Dilla. Namun, baru sedetik membuka mata, tiba-tiba Riza berteriak histeris. Bukannya terkejut, justru Dilla tampak tertawa terbahak sebab sukses menjahili suaminya.


Kaki Riza lemas dan gemetaran sanking takutnya. Sesaat kemudian ia meraih lengan gadis yang ada didepannya kemudian memeluk istrinya itu dengan erat seraya memejamkan mata. Seketika gadis yang ada didepannya menghentikan tingkah jahilnya dalam sekejap.


Dilla tersenyum tipis. Menikmati pelukan erat Riza. Perlahan ia menepuk pelan bahu kekar itu dengan lembut dan mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. Sebuah senyum tipis masih membekas di wajahnya sesaat setelah ia menyudahi pelukannya dengan Riza.


"Kalau mas takut. Bilang saja!. Tidak perlu berpura-pura kuat hanya untuk menutupi kelemahan itu," ujar Dilla bijak. "Tidak ada manusia yang sempurna. Yang ada hanya manusia bodoh yang terus saja berpura-pura kuat padahal jauh didalam hatinya, ia sangat lemah." Dilla mengucapkan kalimat yang persis menggambarkan tentang dirinya saat ini. Kelemahan yang berupa ketakutan, jauh tersembunyi dibalik pribadinya yang kuat dan tegas.


Sama halnya seperti aku, berpura-pura kuat padahal sesungguhnya aku sangat ketakutan. Aku memang bodoh.


"Jadi, kamu mengataiku bodoh?" ucap Riza kesal. Merasa tersindir dengan kata-kata Dilla barusan.


Dilla kembali tertawa. "Hemm. Bisa jadi!" jawabnya singkat.


Sejurus kemudian, ia pun berlalu pergi meninggalkan Riza di belakang. Membiarkan pria yang berjalan dibelakangnya memejamkan matanya ketakutan seraya memegang tali pegangan yang ada disisinya dengan erat.


Sementara itu, diujung jembatan Dilla memandang reaksi ketakutan pria didepannya dengan senyuman. Sebuah senyuman penuh rasa syukur sebab Tuhan telah menghadirkan pria yang ada didepannya itu untuk mengisi dan menemani hidupnya yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. Pria berhati lembut yang selalu bersembunyi dibalik kata-kata tajam dan sikapnya yang dingin.


"Cepat dong, Mas. Buka matanya. Jangan biarkan ketakutan menguasai pikiran mas. Mas pasti bisa." Dilla berteriak dari ujung jembatan. Menyemangati pria yang ada didepannya. Dengan perlahan tapi pasti, akhirnya Riza berhasil sampai hingga ke ujung jembatan.


Riza segera merebahkan tubuhnya di tanah sesaat setelah ia tiba di ujung jembatan. Nafasnya tersengal. Jantungnya memompa cepat mengalirkan oksigen ke seluruh tubuhnya.


"Dasar istri nakal. Bagaimana kalau tadi aku pingsan di sana?" ujarnya kesal.


Dilla menjawab santai, "Tapi, buktinya mas ndak pingsan, toh?" ujarnya cengengesan.


Dilla segera mengambil botol minuman dari dalam tas kecil yang sedari tadi disampirkan di bahunya kemudian menyodorkannya pada Riza. "Ini, Mas. Minum dulu."


Riza segera meneguk air dengan perlahan untuk menenangkan rasa takutnya barusan. Setelah cukup tenang, Riza pun mengajak Dilla kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sebab, sepertinya hari sudah mulai memasuki siang.


Tanpa mereka sadari, sepasang bola mata indah memperhatikan tingkah sepasang suami istri itu dari belakang. Dadanya sungguh memanas saat melihat kemesraan dan canda tawa dua insan didepannya itu.


Rasa benci, iri dan dengki terus merongrong hatinya terlebih lagi saat melihat gadis cantik yang selalu disebutnya sebagai seekor rubah licik itu terlihat tertawa bahagia didepan matanya. Membuat dirinya tidak mampu melihat satu kebenaran dibalik seribu prasangka buruknya. Kia tersenyum menyeringai saat mengawasi dua orang didepannya itu dengan seksama.


Kita lihat saja gadis tidak tahu diri. Sampai kapan senyumanmu itu bertahan di wajah palsumu itu.


Sesaat kemudian Kia segera melangkah kembali menyusul langkah Riza dan Dilla dari belakang.


-------


Jakarta


Andyra terlihat berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Sepasang sepatu stiletto miliknya berderap nyaring setiap kali ia melangkahkan kakinya kesana-kemari mengitari ruangan besar berdesain modern itu. Raut kegelisahan tercetak jelas di wajahnya.


Andyra menatap gelisah ke arah meja. Tangannya meraih sebuah foto yang teronggok di atasnya. Foto yang menyebabkan kegusarannya sejak tadi.


Andyra meletakkan kembali foto tersebut di atas meja kemudian ia pun menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya.


Wajah Riza dan Andyra terpampang jelas di foto-foto tersebut. Foto kenangan masa lalunya bersama Riza dahulu kini tergeletak di atas meja. Dan saat ini, foto pribadinya tersebut telah tersebar dan menjadi gosip hangat seantero rumah sakit.


"Foto ini selalu aku simpan dengan rapi. Bagaimana bisa foto ini sampai ke tangan para dewan direksi dan para karyawan di sini?. Aku tidak habis pikir!" seru Andyra lirih seraya menggelengkan kepalanya.


"Riza pasti akan marah besar, kalau dia sampai tahu perihal foto ini. Bagaimana ini?. Aku harus bagaimana?" Andyra mulai berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut masa lalunya itu.