
"Pagi!"
Dilla menatap Riza penuh keheranan, saat mendengar sapaan pagi yang tak biasanya itu.
Dilla memperhatikan Riza dari ujung kaki sampai ujung kepala. Terlihat Riza tersenyum cerah secerah mentari pagi.
"Ada apa dengan orang ini?" Dilla membatin sambil melihat ke arah Riza.
Riza pun duduk dan menyantap sarapannya.
Hening.
"Kamu kuliah hari ini?" tanya Riza tiba-tiba.
Seketika Dilla menghentikan gerakan tangannya saat hendak memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
"Mas, sehat?" tanyanya heran.
"Alhamdulillah. Aku sehat!" Riza tersenyum.
Senyuman Riza membuat Dilla terpaku.
Hening kembali.
Tak lama, Riza pun menyudahi sarapannya kemudian berdiri.
"Ambil tasmu sekarang. Aku akan mengantarmu ke kampus pagi ini!"
Dilla mengernyitkan dahinya.
"Aneh, ini benar-benar aneh!" gumam Dilla pelan.
"Kamu bilang apa?" tanya Riza kembali.
"Bu-bukan apa-apa mas!" Dilla terbata sambil menggelengkan kepalanya.
Riza menatap Dilla sekilas lalu berlalu meninggalkan Dilla yang masih mematung di meja makan.
"Cepat!"
Suara bariton Riza membuat Dilla seketika berlari kencang menaiki tangga. Ia memasuki kamar lalu menarik cepat tasnya dari atas meja.
Dilla tampak terengah-engah saat tiba di garasi mobil. Ia pun bergegas masuk ke mobil. Sesampainya di dalam, Dilla mengatur nafasnya perlahan. Saat hendak mengenakan sabuk pengaman, ia tiba-tiba mengingat sesuatu.
Dilla menepuk jidatnya pelan.
"Ya ampun, tas bekal makan siang nya ketinggalan di dapur!" ujar Dilla.
Dilla pun bergegas untuk turun akan tetapi Riza menarik cepat lengan Dilla. Membuat Dilla seketika menoleh ke arahnya.
"Tenanglah. Aku sudah membawanya!" ucap Riza lembut.
Dilla mengerjap-ngerjapkan matanya heran.
"Lekas pakai sabuk pengamanmu!" sambungnya.
Seketika Dilla mengenakan sabuk pengamannya.
Riza pun menginjak dalam pedal gasnya. Membuat mobil melaju dengan kencang.
Selama perjalanan, mereka tidak bersuara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Yang terdengar hanyalah ocehan penyiar radio yang bercuap-cuap tidak jelas sebagai pemecah keheningan.
Dilla menoleh ke arah Riza. Terlihat Riza bersiul, bersenandung bahkan tertawa saat mendengarkan cuitan penyiar radio yang terdengar garing itu.
"Sepertinya mas Riza sedang bahagia!" bisik Dilla dalam hati.
Dilla pun menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Ia ikut merasakan kebahagiaan Riza.
drrrttt.. drrrttt..
Dilla merasakan getaran ponsel dari dalam tasnya. Terlihat nama Fahmi di layar.
"Halo!" sapa Dilla.
Riza menoleh sekilas ke arah Dilla.
"Halo Dilla. Kamu dimana?" sahut Fahmi dari ujung telepon.
"Aku lagi di jalan mas, mau ke kampus. Ada apa ya?"
Riza menajamkan pendengarannya.
"Oh. Kiki bilang kamu butuh laptop buat ngerjain tugas ya?. Kalau kamu mau, kamu pakai laptop aku aja!" ujar Fahmi.
"Aduh Kiki. Kenapa toh bilang ke mas Fahmi segala?!" bisik Dilla dalam hati.
Dilla pun menjawab, "Ndak usah mas. Terima kasih banyak. Nanti aku pinjam laptop Kiki saja. Terima kasih loh mas sudah menawarkan."
Dilla pun menyudahi panggilan teleponnya. Kemudian memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Siapa?" tanya Riza penasaran.
Dilla tidak menjawab. Ia hanya melihat ke arah Riza heran. Dilla bertanya-tanya dalam hati.
Pagi ini, Riza tidak seperti Riza yang biasanya. Riza yang biasanya pendiam, kini terlihat banyak berbicara dan bertanya. Pikirannya menerawang.
"Apa mulutmu itu sudah tidak bisa berbicara?!" suara Riza memecah lamunan Dilla.
Dilla pun tersadar. Ia langsung menceritakan isi obrolannya tadi pada Riza. Riza pun memusatkan perhatian penuh pada cerita Dilla.
Tidak lama, akhirnya mereka pun tiba di kampus Dilla. Dilla mengucapkan terima kasih kepada Riza. Riza pun membalas ucapan terima kasih Dilla dengan sebuah senyuman.
Ketika Dilla hendak turun dari mobil, tiba-tiba Riza menggenggam jemari tangan Dilla. Membuat Dilla terlonjak kaget.
"Lepaskan sabuk pengamanmu!" ucap Riza singkat.
Dilla melirik ke arah tangan Riza. Riza pun seketika melepaskan genggaman tangannya.
Dilla kemudian melepaskan sabuk pengamannya dengan cepat. Tingkah aneh Riza sedari tadi benar-benar membuat Dilla kehilangan fokusnya pagi ini.
"Sebentar!" ucap Riza tiba-tiba.
Riza mengambil ponsel dari balik saku celananya kemudian menyodorkannya pada Dilla.
"Berikan nomormu!" ucapnya.
Tanpa bertanya, Dilla pun meraih ponsel Riza.
"Mas pernah dengar tidak, katanya kalau orang berubah dalam semalam itu pertanda kalau hidupnya tidak lama lagi," ledek Dilla sambil mengetikkan nomornya di ponsel.
Riza tidak menanggapi ocehan Dilla.
"Pastikan ponselmu selalu aktif!" perintah Riza.
Dilla mengangguk cepat kemudian beranjak turun dari mobil dengan seribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
Dilla menatap mobil Riza yang melaju kencang hingga hilang di kejauhan.
--------
Tak berapa lama, akhirnya Riza pun tiba di parkiran rumah sakit. Riza beranjak turun dengan hoodie yang menutupi kepalanya. Kemudian ia berjalan meninggalkan parkiran sambil bersiul nyaring.
Riza berjalan santai menuju lift. Ia tidak menyadari keberadaan Andyra yang sedari tadi memperhatikan pola tingkahnya dari belakang.
Riza sudah berdiri di depan pintu lift. Andyra pun langsung menghampirinya.
"Pagi!" sapanya.
Riza menoleh ke arahnya, "Pagi!" jawabnya singkat.
"Sepertinya kamu bahagia sekali pagi ini?" Suara Andyra memecah keheningan.
"Ada apa?", ujar Andyra.
Riza tersenyum melihat ke arah Andyra.
"Entahlah. Entah kenapa, aku merasa bahagia saja pagi ini," sahut Riza.
Andyra tersenyum menatap Riza. Pria di sampingnya sungguh membuat jantungnya berdegup kencang.
"Jangan lupa pagi ini kita ada rapat," tegur Riza menyadarkan Andyra.
Ia pun terkesiap.
"Siap bos!" jawab Andyra cepat.
Andyra dan Riza sama-sama tersenyum.
"Kenapa kamu tidak menggunakan lift eksekutif saja?" lanjut Andyra.
Riza diam sejenak.
"Aku tidak ingin jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sini," ucap Riza singkat.
Andyra menatap Riza.
"Dia benar-benar tidak berubah!" batinnya.
Andyra melirik Riza sekilas. Terlihat olehnya Riza menenteng tas bekal makan siang di tangannya.
"Kamu bawa bekal lagi?" Andyra berbasa-basi.
Riza menyadari arah pembicaraan Andyra.
"Iya. Aku minta maaf tidak bisa mentraktirmu makan siang kali ini. Tapi mungkin, aku bisa mentraktirmu kopi atau teh," balas Riza.
"Oke, aku setuju. Nanti sore sehabis pulang kerja. Bagaimana?" tanya Andyra.
"Baik!" sahut Riza.
ting...
Pintu lift terbuka.
Mereka pun melangkah masuk.
Setelah tiba di ruangan, Riza langsung mengganti hoodie yang dikenakannya dengan jas putih miliknya. Ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju ruang rapat.
Sepanjang jalan, banyak pasang mata yang memandang Riza penuh kekaguman. Bagaimana tidak, jas putih yang kini membalut tubuhnya membuat Riza terlihat sangat tampan dan berwibawa.
Saat berpapasan dengannya, banyak orang berbisik-bisik memuji ketampanan Riza. Sebenarnya Riza merasa risih dan tidak nyaman dengan hal tersebut. Namun, Riza mencoba menutupinya dengan memasang wajahnya datar.
Riza pun memasuki ruangan dan mulai memimpin rapat dengan para kepala departemen rumah sakit.
--------
Dilla terlihat sedang membaca buku di perpustakaan.
drrrttt... drrrttt...
Ponsel Dilla bergetar. Ia meraih ponsel dari dalam tasnya.
"Nomor siapa ini?" gumam Dilla pelan saat melihat nomor tidak dikenal di layar.
Dilla pun kemudian menggeser tanda berwarna hijau di sana.
"Halo. Ini siapa?" sapa Dilla lembut.
"Halo, kak?. Ini Syifa."
"Syifa?!"
Suara Dilla sedikit meninggi, membuat orang-orang disekitarnya seketika melihat ke arahnya.
Karena sadar, Dilla pun menurunkan volume suaranya.
"Ada apa dik?. Kamu dan Ibu baik-baik saja kan?" tanya Dilla sedikit khawatir.
"Emm..., i-ibu sa-sakit kak!" jawab Syifa terbata.
"Masya Allah. Ibu sakit opo toh dik?"
"hiks..hiks.., Ibu kena gejala tipes kak. Kakak pulang ya, Syifa takut.. hiks..hiks." Syifa menangis sesenggukan.
"Ya sudah dik, kamu jangan menangis lagi. Sekarang kamu tenang, kamu jaga ibu baik-baik sebelum kakak datang. Besok kakak pulang."
"Iya kak."
tut
Syifa pun menyudahi panggilan teleponnya.
Dilla menggenggam ponselnya erat.
"Ya Allah, jagalah ibuku," gumamnya pelan.
Terlihat kekhawatiran mendalam di matanya. Ia pun langsung menutup buku yang di bacanya lalu memutuskan pulang ke rumah. Ia meninggalkan semua mata kuliahnya hari ini.
Kini Dilla sudah duduk manis di dalam taksi online yang dipesannya beberapa waktu lalu.
Sepanjang perjalanan pulang, Dilla berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Sosok ibunya memenuhi pikiran Dilla.