My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/103



Belanda


Di sebuah ruangan, Thomas sedang berbicara dengan seorang wanita muda. Wanita berambut blonde yang ditemui Dilla di bandara tadi pagi.


"Henzhie, apa semua foto-foto yang ada di rumah ini sudah kamu sembunyikan?"


Gadis itu mengangguk, "Tapi Thomas kenapa kita harus melakukan itu?. Aku sungguh tidak mengerti. Lalu, siapa gadis yang kau bawa tadi?. Apa yang terjadi padanya?. Apa dia kekasihmu?" cecar Henzhie.


"Jangan bicara sembarangan."


"Thomas, Thomas. Aku ini adikmu. Setidaknya berbicara jujurlah padaku. Kalau dia memang kekasihmu, aku tidak masalah. Lagipula gadis itu cukup cantik."


"Berhenti bicara omong kosong."


Henzhie menepuk bahu saudaranya itu sambil tertawa. "Kau sungguh lucu, Thomas."


"Tugasmu sekarang adalah menjaga gadis itu baik-baik selama tinggal di rumah ini. Aku akan kembali ke rumah sakit untuk memantau keadaan tuan Aldrich. Ingat. Jangan menceritakan apapun pada gadis itu, termasuk tentang tuan muda."


"Kenapa?. Apa dia juga mengenal Aldrich?"


"Lakukan saja perintahku. Jangan banyak bertanya."


"Baiklah."


Thomas pun segera beranjak dari duduknya. Berjalan tegap menuju keluar rumah kemudian segera masuk ke dalam mobil lalu mengemudikannya membelah jalanan bersalju didepannya.


"Dasar pria aneh." Henzhie menggeleng.


-----


"Bagaimana kondisi Riza, Dokter?"


"Apa hal ini sering terjadi?" tanya dokter Rey pada papi.


"Ayo, kita bicara di luar dokter."


Dokter mengangguk. Papi pun segera mengajak dokter keluar dari kamar Riza, meninggalkan mami yang masih duduk disebelah ranjang puteranya. Papi dan dokter menuju sofa yang ada di ruang tengah.


Papi menarik nafas dalam sebelum memulai kalimatnya, "Beberapa hari ini Riza memang sering menyebut nama Dilla. Entah sadar ataupun tidak, tapi Riza kerap memanggil nama itu."


"Kalau boleh saya tahu, Dilla itu siapa?"


"Dilla itu istrinya Riza."


Dokter mengangguk paham.


"Apa yang harus saya lakukan, Dok?"


"Saran saya, coba tuan datangkan gadis itu untuk menemui tuan Riza. Siapa tau dengan begitu tuan Riza dapat segera pulih."


"Apa dokter tidak punya cara lain?"


"Ada."


"Apa itu?"


"Biarkan tuan Riza tinggal untuk sementara waktu di ruang isolasi rumah sakit agar kami dapat lebih leluasa memantau keadaannya."


"Ruang isolasi?"


"Iya."


Papi meraup wajahnya dan memijat pelipisnya. Lagi-lagi ia bingung harus menentukan pilihan mana yang baik untuk mempercepat kesembuhan Riza.


------


Jakarta


Puteri seorang Jenderal dinyatakan hilang sejak dua hari yang lalu. Nafrianha Chalondra, seorang model iklan terkenal Indonesia dinyatakan hilang dan tidak diketahui dimana keberadaannya...


"What?!. Tuh cewek ilang?"


Niko sedikit kaget saat mendengar siaran berita televisi yang menayangkan perihal hilangnya Nana.


Polisi masih terus mencari keberadaan puteri Jenderal Panglima TNI itu sejak tadi malam. Disinyalir Puteri sang Jenderal diculik oleh orang yang tidak dikenal...


"Tapi, wajar aja sih dia ilang, secara tuh cewek kan Mak lampir. Bodo amatlah. Mending gue siap-siap ke rumah sakit. Kasihan karyawan yang lain pada nungguin gue di Bus."


Hari ini merupakan hari perayaan ulang tahun rumah sakit. Niko tampak sudah bersiap dengan tas ransel dipundaknya.


Sesuai hasil rapat tempo hari, perayaan ulang tahun kali ini akan diadakan di sebuah hotel yang ada di kota Surabaya. Niko pun bersemangat untuk mengikuti acara tersebut.


Di sela-sela langkah kakinya, Niko kembali mengingat perihal berita penculikan yang ia dengar barusan. Tiba-tiba ia teringat pada Dilla.


"Apa mungkin Dilla diculik di Belanda?" gumam Niko khawatir.


Niko pun langsung menghubungi kembali ponsel Dilla. Namun, ponsel tersebut masih tidak aktif hingga saat ini. Tak ayal hal itu semakin membuat Niko bertambah khawatir.


Selanjutnya, Niko beralih menelepon ayahnya untuk mencari tahu nomor ponsel Dirwan yang baru sebab sejak Dirwan dan Anita membawa Riza ke Belanda nomor mereka sudah tidak dapat dihubungi lagi oleh Niko.


Ayah Niko terus menolak permohonan puteranya. Niko yang sudah kesal langsung memberitahukan ayahnya pasal Dilla yang menyusul Riza ke Belanda dan sampai saat ini Dilla tidak bisa dihubungi.


Niko juga menambahkan kekhawatirannya tentang Dilla yang kemungkinan besar diculik saat tiba di Belanda mengingat hingga saat ini ponselnya yang tidak bisa dihubungi.


"Kamu tenang saja. Masalah itu biar ayah dan Om Dirwan yang uruskan. Lagipula ini semua juga gara-gara kamu. Kamu tidak becus menjaga istrinya Riza, makanya Dilla nekat menemui Riza di Belanda."


"Loh, kok jadi Niko yang salah?" elak Niko.


"Ya sudah. Urus saja rumah sakit kakek kamu dengan baik. Jangan macam-macam."


"Tapi, Yah--"


Panggilan terputus. Niko tampak menggerutu di balik setirnya.


-----


Ibu Dilla sedang duduk termenung di depan teras rumah. Sudah beberapa hari belakangan, perasaannya tidak menentu. Ia terus memikirkan puteri sulungnya.


"Ini tehnya, Bu. Ibu minum obat dulu, ya."


"Bagaimana, Nak?. Apa kamu sudah menghubungi kakakmu?. Perasaan ibu benar-benar tidak enak."


Bagaimana ini?. Aku harus jawab apa.


Sama halnya dengan Niko, Syifa pun kesulitan untuk menghubungi Dilla sejak kemarin.


"Mungkin kakak masih di pesawat, Bu. Ibu kan tau sendiri kalau perjalanan ke Belanda itu jauh. Lebih baik ibu doain kakak saja, biar kuliah kakak di Belanda lancar dan kakak baik-baik saja di sana."


"Bagaimana dengan nak Riza?. Apa ponselnya juga ndak bisa dihubungi?"


"Ibu kan denger sendiri kemarin apa kata kakak. Mas Riza juga ikut sama kakak ke Belanda. Sudahlah, Bu. Lagian kan ada mas Riza yang bisa jagain kakak di sana. Lebih baik ibu minum obat, ya. Ibu tenang saja, besok Syifa akan coba telepon kakak lagi."


Ibu hanya diam dengan pikiran menerawang. Sementara Syifa hanya menatap wajah renta ibunya itu dengan perasaan sedih.


-------


Belanda


Dilla mengerang sepintas sebelum membuka kedua matanya. Henzhie yang sedang duduk di sudut kamar segera berjalan menghampiri ranjang saat mendengar rintihan lirih terdengar di sana.


"Are you okay?" tanyanya.


Dilla melihat ke arah Henzhie dengan raut wajah bingung. Rasa sakit masih dirasakan Dilla terutama di bagian wajahnya yang tampak lebam.


Tiba-tiba Dilla berteriak saat ia kembali mengingat kejadian buruk yang di alaminya tadi pagi.


"Siapa kamu?.Tolong. Tolong." Dilla beranjak dari ranjang kemudian berlari keluar kamar sambil berteriak dengan diikuti langkah Henzhie dari belakang.


"Tenang. Tenang," sahut Henzhie dengan bahasa Indonesia yang sedikit terbata.


Untungnya Henzhie sedikit paham mengenai bahasa Indonesia. Meskipun ia masih belum fasih menguasai bahasa itu sepenuhnya.


"Aku Henzhie. Aku tidak jahat."


Dilla memutar tubuhnya. "Kenapa aku ada di sini?" cecar Dilla kemudian.


Henzhie diam sesaat mencoba mencerna kalimat Dilla dan berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan Dilla sebisa mungkin dengan bahasa Indonesia seadanya.


"Thomas bawa ke sini. Aku jaga kamu. Aku tidak jahat."


"Thomas siapa?"


"Thomas abang. Iya, My brother."


Lagi-lagi Henzhie menjelaskan dengan semampunya.


Bagaimana aku bisa menjaga gadis ini?. Sedangkan aku sulit berkomunikasi dengannya. Dia tidak bisa berbahasa Inggris sementara aku tidak bisa berbahasa Indonesia. Bisa gila aku kalau seperti ini. Awas kau, Thomas. Kau sudah membuatku repot. Dasar Thomas menyebalkan, batin Henzhie.


"Kamu nama siapa?" tanya Henzhie.


Dilla diam.


Apa Thomas adalah nama supir taksi itu?. Dasar bodoh, kenapa aku pingsan?. Apa jangan-jangan laki-laki itu sudah... Tidak-tidak. Tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Tidak, aku pasti cuma bermimpi, batin Dilla gusar saat kembali mengingat kejadian buruk yang menimpanya.


Dilla meraung sejadi-jadinya sambil mendekap erat tubuhnya. Melihat Dilla yang menangis, membuat Henzhie bertambah kalut.


"Tenang. Aku tidak jahat."


Dengan langkah sedikit terseok, Dilla pun bergegas berlari meninggalkan Henzhie yang masih melongo bingung.


"Hei, stop!. Stop!. Stay here. Don't affraid!" teriak Henzhie dari belakang.


[Hei, berhenti. Berhenti. Tetaplah disini. Jangan takut.]


"Jangan ikuti aku."


Dilla menyeka jejak air matanya sambil melangkah dengan menyeret kaki kanannya. Tubuhnya tampak gontai dengan langkah sedikit terhuyung. Tiba-tiba pandangan matanya buram dan kepalanya terasa sangat pusing.


Dilla berhenti tepat sebelum menarik gagang pintu utama didepannya.


Bruuk..!!


Dilla kembali jatuh pingsan tak sadarkan diri.


"Oh, damn!" Henzhie menggerutu kesal saat itu juga.


-------


Papi berjalan menghampiri mami di kamar Riza. Tampak mami termenung sambil terus menatap wajah lelap puteranya.


"Ayo kita bawa Riza ke rumah sakit sekarang juga, Mi."


"Kenapa sekarang, Pi?. Bukannya jadwal konseling Riza itu lusa," jawab mami lemah.


"Kita membawa Riza ke sana bukan untuk konseling. Tapi, untuk dirawat."


Mami menoleh, "Maksud papi?"


"Papi sudah memutuskan untuk membawa Riza menjalani isolasi di rumah sakit rujukan dari dokter Rey."


"Maksud papi, rumah sakit jiwa?"


Papi mengangguk pelan, sementara mami menatap wajah papi penuh ketidaksetujuan.