My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/115



~Aku akan menjagamu, hingga ujung nyawaku~


Belanda


Dilla POV


Aku menatap mas Riza dengan senyuman yang belum juga pudar di wajahku. Kulihat wajah yang tertunduk malu itu dengan seksama. Wajah yang merangsang perasaanku untuk terus membuncah dan meluap seketika. Wajah yang akan selalu menjadi penyemangat dalam hidupku.


Apa yang harus aku katakan untuk menggambarkan kebahagiaanku saat ini. Berduaan dengannya seperti ini sungguh membuat hatiku, ah, entahlah.


Dinginnya cuaca pagi ini tak menyurutkan semangat ku untuk menemani mas Riza menjalani perawatannya di rumah sakit. Bagaimanapun aku ingin mas Riza cepat sembuh.


Pandanganku tak teralihkan sedikitpun dari mas Riza. Kudengar mas Riza berteriak saat dokter mendekat ke arahnya sewaktu akan memulai terapi konselingnya.


Terapi konseling yang dijalani mas Riza pagi ini terlihat sangat menyiksa bagi suamiku itu. Seakan aku turut merasakan rasa sakit itu juga dalam diriku.


Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mas Riza di masa lalu dan apa saja hal yang dilaluinya hingga semua itu menggoreskan luka di jiwanya saat ini.


"Maafkan aku, Mas. Kamu harus kuat. Kamu harus sembuh," bisikku lirih untuk menguatkan semangat suamiku.


Aku mulai menangis.


Aku tidak peduli mas Riza akan berubah seperti apa nantinya setelah semua pengobatannya berakhir, yang terpenting bagiku mas Riza bisa sembuh seperti sediakala.


Kehilangan dirinya selama berbulan-bulan kemarin, sungguh membuat perasaanku hancur. Seakan nafasku tercabut dari ragaku yang lemah ini.


Dan aku masih tidak percaya akhirnya takdir kembali mempertemukan aku dengan pujaan hatiku di tempat ini. Sebuah negeri asing yang baru kali ini aku kunjungi.


Thomas memang penyelamat dalam hidupku. Sedetik aku bersyukur bisa mengenal orang sebaik Thomas. Dia memang orang yang baik dan sopan. Tidak seperti Henzhie, adiknya yang sangat kasar dan tidak tau malu.


Bagaimana bisa dia mencium mas Riza didepan mataku?. Apa semua gadis bule seperti dia?, umpatku dalam hati ketika mataku melihat apa yang dilakukannya pada mas Riza.


Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku terus bertengkar dengannya tiada henti. Setanku naik hingga ke ubun, kapanpun aku bertemu dengan gadis bule itu.


Seperti pagi tadi, aku bertengkar kembali dengan Henzhie.


Flashback


"Kamu jangan berani deket-deket sama mas Riza lagi. Kalau nggak, aku akan siram muka kamu pakai air panas. Ingat itu."


"Dasar gadis merepotkan. Kau tau, bukan aku yang mendekati Riza tapi Riza yang mendekati aku. Mau bagaimana lagi, aku memang lebih cantik dari pada dirimu," ucapnya sinis padaku.


Aku merapatkan gigiku dan menahan taringku sekuat tenaga agar tidak menggigit gadis tak tahu malu itu. Namun, lagi-lagi dia berhasil menghilangkan kesabaranku. Sekali lagi aku menarik rambutnya sekuat tenaga.


"Ada apa dengan kalian?. Setiap saat kalian selalu saja bertengkar."


Demikianlah ucapan mas Riza setiap kali melerai pertengkaran antara aku dan Henzhie.


Flashback End


Henzhie memang gadis menyebalkan yang mampu membuatku berubah menjadi gadis yang kasar. Baru kali ini aku bertengkar dan menarik rambut seseorang dengan begitu kuatnya. Aku tidak percaya ini.


Lupakan Henzhie, aku tidak mau mengingat wanita menyebalkan itu.


Dan disini di kafe yang bergaya Eropa ini aku dapat sepuasnya memandang dan berdekatan dengan suamiku tanpa harus merasa sungkan pada Thomas dan tanpa adanya gadis perusak suasana itu.


"Mas, kita nggak usah pulang ke rumah Mas Thomas, ya?. Kita nginep di hotel aja."


"Kenapa?"


"Aku pengen berduaan aja sama mas. Tanpa gangguan orang lain."


"Aku nggak bisa. Aku sudah janji sama Henzhie untuk menemaninya makan malam di luar. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya?"


Aku mendengus kesal, "Mas sebenarnya kenapa sih sama Henzhie?. Mas selingkuh sama dia?"


"Kamu bicara apa, sih. Aku itu cuma temenan sama dia."


"Bohong!!!"


"Apa sebelumnya kamu memang selalu seperti ini?. Keras kepala dan selalu saja marah tanpa alasan. Aku jadi penasaran bagaimana aku bisa menikahi kamu dan seperti apa kehidupan pernikahan kita sebelumnya."


Aku terperangah saat mendengar kalimat panjang dari mas Riza yang baru pertama kali aku dengar dari mulutnya. Sepertinya konseling dengan dokter bule tadi cukup berdampak baik.


Aku menegakkan kembali posisi dudukku, "Oke. Saya akan cerita sama mas tapi ada syaratnya."


"Kenapa semua harus ada syaratnya, sih?" tanya pria bermata teduh didepanku itu.


Satu hal yang membuatku semakin mencintai suamiku ini. Akhir-akhir ini, dia sangat lucu dan manis sekali dengan ekspresi bingungnya itu, membuatku tak henti untuk terus menggoda dan menjahilinya.


Padahal sudah beberapa kali aku menjahili dan menggoda suamiku ini, tapi kulihat mas Riza tidak marah sedikitpun. Mas Riza hanya diam dengan ekspresi bingung yang menurutku sangat menggemaskan.


Aku mendekat lalu berbisik ditelinganya, "Saya akan ceritakan semuanya di hotel nanti. SEMUANYA," ucapku sesaat sebelum mengecup pipinya.


Mas Riza menautkan alisnya sambil tersenyum simpul.


"SEMUANYA?" ucapnya lirih.


Aku manggut-manggut, "Iya. SEMUANYA." jawabku sambil tersenyum manis ke arahnya.


Mas Riza kembali menundukkan kepalanya. Bergegas menyeruput kopi yang ada di depannya dengan sedikit tergesa. Aku tahu mas Riza pasti sedang malu. Aku tidak tahu kalau mas Riza punya sisi lain seperti ini sebelumnya.


"Kapan kita berangkat?" tanyanya tiba-tiba.


Aku melotot kaget dan menahan tawaku.


"Berangkat kemana?"


Aku membulatkan mulutku, "Oke. Tapi ada syaratnya."


Aku berniat mengajukan syarat konyol lagi kali ini.


"Syarat apa lagi, sih?"


Aku tersenyum jahil, "Lima menit, satu ciuman. Gimana?"


"Syarat macam apa itu?"


"Itu imbalan buat saya. Coba mas pikir, kita itu menikah hampir satu tahun. Mas bisa bayangin kan berapa lama saya harus bercerita sama mas. Bisa ndower mulut saya cerita terus tapi nggak dibayar. Bener nggak?"


Mas Riza tampak berpikir. Sementara aku tersenyum ke arahnya penuh arti.


"Baik. Tidak masalah. Tapi jangan salahkan aku kalau nantinya aku meminta lebih dari sekedar ciuman."


Kali ini aku yang melotot kaget dibuatnya. Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan pria didepanku ini. Ternyata suamiku yang satu ini masih sama saja seperti mas Riza yang dulu. Selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Dasar.


------


Kediaman Thomas


Author POV


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam sore waktu setempat. Henzhie telah bersiap menunggu kepulangan Riza untuk makan malam bersama dengannya.


Henzhie mondar-mandir di ruang tamu dengan hati gusar. Berulangkali ia mengintip ke luar jendela.


"Kau ada janji dengan siapa?" tanya Thomas mengejutkan Henzhie.


"Bukan urusanmu. Pergilah."


Thomas mendekat, "Jangan membuatku mengulangi kata-kata ku tempo hari."


Henzhie menatap kepergian Thomas dengan tatapan tajam penuh kekesalan.


Thomas memasuki kamar Aldrich. Ia sangat kaget saat tidak mendapati Tuan Mudanya itu disana.


"Henzhie!!!" Thomas berteriak-teriak memanggil nama Henzhie. "Apa kau melihat Tuan Aldrich?. Dia tidak ada di kamarnya." ujar Thomas sesaat setelah menghampiri Henzhie kembali di ruang tamu.


Henzhie mendesah malas, "Kau selalu mempedulikan dia. Seolah kau bisa mati jika tidak melihatnya. Apa kau menitipkan nyawamu pada orang itu?"


"Diamlah!"


Thomas segera berlari mencari Aldrich tanpa menanggapi ocehan Henzhie lebih lama lagi. Thomas berlari menuju ruangan rahasia milik Aldrich.


Sesuai dugaan Thomas, Aldrich benar berada disana.


Thomas menormalkan nafasnya yang terengah.


"Syukurlah, ternyata Tuan ada disini."


"Kemarilah!" perintah Aldrich pada Thomas dengan suara datar.


"Ada apa Tuan?"


"Ceritakan padaku apa yang terjadi pada Raja?"


Mata Thomas membulat, tak menyangka Tuannya itu akan bertanya tentang Raja padanya.


Thomas berpura-pura bingung, "Raja siapa maksud Tuan?. Saya tidak mengerti."


"Rajasha Hardiga. Pengawal pribadiku yang kau bilang tewas sewaktu menyelamatkan nyawaku. Ceritakan padaku tentang orang itu. Apa yang terjadi padanya?," jawab Aldrich datar.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan pada Tuan. Saya hanya tahu, Raja meninggal dunia saat menyelamatkan Tuan dari kecelakaan mobil lima tahun lalu. Selebihnya saya tidak tahu apapun, Tuan."


"Bohong!!!!" bentak Aldrich pada Thomas.


Bentakan keras yang mengaung kuat dan sukses membuat Thomas tersentak seketika.


Aldrich melemparkan amplop cokelat tepat mengenai wajah Thomas. Mata Thomas kembali membulat. Ia kaget bukan main.


"Bisa kau jelaskan isi amplop itu?" tanya Aldrich sambil mencengkeram kerah baju Thomas.


Amplop berisi medical record tindakan operasi pencangkokan jantung dengan nama pendonor RAJASHA HARDIGA dan penerima ALDRICH BARAYEV WIJAYA tercetak jelas di atas sebuah kertas dengan nama rumah sakit Emerald Hospital, tempat dimana operasi itu diadakan.


"Bicara Thomas!!!. Bicaraaaaaa!!!!!" Aldrich terlihat sangat marah saat menyadari bahwa selama ini Thomas sudah membohonginya mentah-mentah.


Thomas diam.


"Berani-beraninya kau membodohiku."


Buuukk!!!


Pukulan telak Aldrich menghantam kuat wajah Thomas.


"Pantas saja kau selalu mengelak setiap aku bertanya tentang makam orang yang mendonorkan jantungnya padaku. Ternyata itu Raja."


"Aku tidak menyangka kau bisa sekejam ini Thomas. Bukankah Raja itu temanmu?. Bagaimana bisa kau melakukan ini pada temanmu sendiri. Hah?!. Jawab aku!!!"


Buuukk!!!


Aldrich meluapkan amarahnya dengan kepalan tinju yang terus mengarah ke wajah dan perut Thomas. Namun, Thomas hanya diam saja, tidak melawan sedikitpun pukulan membabi-buta dari Aldrich itu.