
Riza tampak termenung bertemankan bias lampu kamar yang hanya memantulkan cahaya seadanya.
Ia bersandar di kursi sambil terus memikirkan perkataan Dilla.
Tarikan nafas frustasi dari bibirnya menandakan ada sesuatu yang mengganjal disana. Bagi Riza si introvert, mengutarakan apa yang ada dalam hati dan apa yang ia pikirkan adalah dua hal yang sangat sulit ia lakukan.
Suara-suara aneh yang entah datang darimana terus bergelut silih berganti dalam kepalanya.
Riza sempat berpikir, mungkin ini saat yang tepat baginya untuk melepaskan Dilla, tapi kalau itu ia lakukan apa ia sanggup menanggung konsekuensi kehilangan orang yang ia sayang untuk selamanya?. Namun, jika ia tidak melakukan itu, apa ia juga akan sanggup untuk terus dihantui oleh rasa curiga yang tidak berujung seumur hidup?.
Sekali lagi pemuda itu menghembuskan nafas panjang untuk membuang segala beban yang menyesakkan dada, meskipun mustahil beban itu akan terangkat hanya dengan menghembuskan nafas seperti itu. Konyol memang, tapi itulah yang terjadi pada dirinya saat ini.
Tidak mungkin ia terus menjalani hidup diatas keputusasaan seperti ini. Akhirnya setelah bergelut dengan rasa frustasinya, Riza pun memutuskan untuk menghubungi Niko, sepupu plus sahabatnya itu melalui sambungan telepon.
Perbedaan waktu antara Belanda dan Indonesia memaksa Niko bangkit sejenak dari mimpi indahnya untuk meraih ponselnya yang terus berdering.
Niko memicingkan mata dan sedikit menggerutu sesaat sebelum meraih ponsel yang ada tepat disebelahnya. Namun, ia pun langsung terkesiap saat melihat nama Riza terpampang di layar ponsel miliknya. Niko pun cepat-cepat mengangkat panggilan Riza.
"Halo," sahutnya.
"Halo, Nik. Ini aku Riza."
"Udah tau, ada apaan?. Tumben nelpon gue jam segini lo."
"Dilla hamil."
"Oke, selamet. Terus?!"
"Dilla minta pulang ke Indonesia."
"Bagus, terus?!"
"Dilla ingin pisah dariku."
"Oke, teru--" Niko pun tersentak dan seketika membelalakkan mata saat menyadari apa yang baru saja ia dengar, "A--apa lo bilang?!. Pisah?!" lanjutnya sedikit berteriak.
"Aku butuh saran," lanjut Riza sambil memijat dahinya.
"Lo beneran pengen pisah sama Dilla, bro?. Gara-gara Aldrich?!" tanya Niko penasaran.
Riza mengiyakan.
Niko melanjutkan, "Oke, saran gue, lo lebih baik dengerin apa kata hati lo, bro. Pastinya lo udah tau apa yang paling lo mau buat diri lo sendiri, apa yang ngebuat lo bahagia. Lo paham kan maksud gue?!"
Riza mencoba menelaah ucapan Niko.
"Aku bingung, Nik.
"Gue cuma nggak mau aja karena ego, lo jadi kehilangan orang yang penting di hidup lo. Hidup cuma sekali, men. Pertahanin kebahagiaan lo."
Tut..Tut..Tut.. (sambungan telepon terputus)
Riza pun langsung mengakhiri percakapan mereka tanpa ucapan kata penutup apapun.
"Dasar manusia aneh!!!" gerutu Niko sesaat sebelum melanjutkan mimpi indahnya yang sempat tertunda.
----------------
Ucapan Niko terus terngiang di telinga Riza tanpa henti. Ucapan yang membuatnya mantap untuk mengetuk pintu kamar Dilla, Dilla tidak menjawab sebab ia sudah terlelap sanking lelahnya.
Tanpa ragu, Riza pun segera membuka pintu lalu masuk dengan perlahan.
Pemuda itu memandangi tiap lekuk wajah Dilla dalam-dalam. Dipandanginya wajah cantik yang tengah terlelap itu dengan tatapan lembut yang menggetarkan hati.
Sekilas Riza mengingat kembali kenangannya bersama Dilla. Tak ada satupun hari dimana ia tidak menyisakan senyuman di wajahnya saat bersama dengan gadis itu.
Tanpa ia sadari, gadis itulah salah satu kebahagiaan yang ia miliki selama ini. Mengingat wajah sedih gadis itu akhir-akhir ini membuatnya turut merasakan apa yang dirasakan oleh gadis itu. Riza merasa bersalah telah memperlakukan isterinya seperti itu.
Keesokan pagi, Riza pun kembali mendatangi kamar Dilla untuk memastikan kalau gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Riza berjalan sekaligus membawakan vitamin dan susu serta sarapan pagi untuk Dilla sebab sejak fajar gadis itu belum juga keluar dari kamar.
Kali ini Riza tidak mengetuk pintu, hingga membuat si empunya kamar kaget saat melihat siapa yang sedang berdiri didalam kamarnya kini.
"Makasih."
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Riza.kemudian.
"Ehm," jawab Dilla mengiyakan.
"Syukurlah," ujar Riza sambil mengusap kepala Dilla dengan lembut.
"Apa mas sudah nggak marah lagi?" tanya Dilla karena melihat perubahan sikap Riza padanya.
Riza kemudian menarik Dilla ke dalam pelukannya, pertanda kalau kemarahan Riza benar-benar sudah mereda. Sementara Dilla hanya mampu menangis tersedu sembari megeratkan lengan kecilnya untuk memeluk suaminya itu.
"Aku minta maaf, istriku. Aku salah. Seharusnya aku percaya sama kamu. Aku memang bukan suami yang baik."
"Nggak, Mas kamu itu suami terbaik bagi aku. Aku juga minta maaf kalau saat kita bertengkar aku meninggikan suara atau berbicara kasar sama kamu."
"Mulai sekarang kita lupain semua yang udah terjadi dan kita buka lembaran baru lagi."
"Aku nggak mau kehilangan kamu, Mas."
"Aku juga."
"Hari ini kamu siap-siap ya, aku mau ajak kamu ke suatu tempat," lanjut Riza menyudahi pelukan mereka.
"Kemana?"
"Ada, tempat yang pastinya kamu akan suka, tapi sebelum itu kamu makan dulu biar ada tenaga."
"Suapin..." ucap Dilla dengan nada manja.
Riza kemudian mencubit pipi tirus Dilla lembut sambil tersenyum manis.
----------------
Ditempat yang berbeda, papi tampak sedang gusar di ruang kerjanya. Ia mulai memikirkan cara bagaimana ia harus menutupi semua kejahatannya. Papi tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya Riza kalau sampai ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Suara decitan pintu membuyarkan lamunan papi, ia tampak kaget saat melihat siapa yang ada didepannya.
"Boleh Riza masuk,Om?"
"Masuklah Riza, kamu seperti orang lain saja. Ada apa?"
Riza menutup pintu lalu mendekat ke arah papi, "Begini Om, Riza mau minta tolong sama Om untuk pinjamkan Riza uang, nanti setelah Riza dapat pekerjaan Riza akan bayar."
"Coba kamu cerita sama Om, kenapa kamu tiba-tiba butuh uang?"
"Begini Om, Riza kan sudah merasa sehat dan stabil jadi Riza pikir sudah waktunya Riza mandiri, Riza tidak mau menyusahkan Om dan Tante lebih lama lagi. Nantinya uang itu akan Riza pakai untuk menyewa rumah dan mencari pekerjaan disini."
"Kenapa kamu tiba-tiba mau pindah?. Riza, kamu tidak pernah kok menyusahkan kami. Kamu itu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Sudahlah kamu tidak usah susah payah bekerja, kamu tinggal saja disini, Papi dan mami masih sanggup kok membiayai kehidupan kamu dan Dilla sampai kapanpun kamu mau."
"Nggak,Om. Riza rasa, sepantasnya Riza-lah yang membiayai hidup Om dan Tante, bukan sebaliknya. Apalagi Riza sebentar lagi akan jadi ayah, Riza malu kalau harus terus-terusan menyusahkan Om dan Tante."
"Apa ini gara-gara sikap Mami Anita ke Dilla?"
"Bukan Om, sama sekali bukan. Ini murni keinginan Riza sendiri. Riza cuma ingin mandiri, itu aja," tegas Riza meyakinkan papi.
"Baiklah, kalau memang keputusan kamu sudah bulat. Papi akan dukung. Papi akan transfer uangnya hari ini juga. Kapan rencananya kamu pindah?"
"Minggu depan,Om."
"Kalau begitu kamu harus secepatnya beritahu Mami kamu, takutnya nanti Mami kamu syok lagi kalau tau kamu pindah tiba-tiba."
"Baik,Om. Terima kasih."
Setelah mengakhiri obrolan, Riza pun bergegas pergi meninggalkan ruangan Papi.
Papi membatin, Kamu benar-benar mirip sekali dengan ayahmu, Riza.
Setelahnya Papi pun menitikkan air mata, saat ia mengingat kembali segala perbuatan jahatnya pada ayah Riza. Namun, apa mau dikata nasi kini telah menjadi bubur. Penyesalan Papi sudah tidak ada gunanya.