
Thomas berjalan perlahan ke arah kamar Aldrich dengan membawa rasa kesal atas kebodohannya kali ini. Bagaimana tidak, jika saja ia lebih teliti lagi saat memberikan kartu kreditnya pada Dilla maka Adam pasti tidak akan tahu kalau ia dan Aldrich sedang ada di Belanda.
Namun, setidaknya Thomas dapat sedikit bernafas lega sebab ia berhasil menyembunyikan perihal kondisi kesehatan Aldrich pada Adam. Meskipun Thomas tahu, tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari Adam. Cepat atau lambat, Adam pasti akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aldrich.
Didalam kamar, Aldrich tengah berdiri menghadap jendela dengan tatapan menerawang yang tampak jelas dari sorot mata hazel pemuda itu.
Dari balik punggung bidang Aldrich, Thomas menatap kearah tuannya dengan tatapan penuh rasa bersalah sesaat setelah Thomas membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan besar yang memang diperuntukkan khusus untuk Aldrich itu.
Ingin rasanya Thomas menenangkan hati tuan mudanya itu dengan mengulangi kata-kata maaf yang sudah kesekian kalinya ia ucapkan saat Aldrich pingsan tidak sadarkan diri sejak tadi malam.
Namun, kali ini ia terlalu takut untuk melakukan hal itu lagi. Mengingat bagaimana buruknya suasana hati Aldrich saat ini.
Thomas mendekati Aldrich perlahan. Dengan suara yang terdengar ragu, Thomas menyapa Aldrich, "Tuan-" sapanya terjeda. "Apa Tuan baik-baik saja?" sambungnya masih dengan rasa takut-takut.
Aldrich langsung berbalik dan mulai meluapkan kembali kekesalannya pada Thomas.
"Apa aku terlihat baik-baik saja bagimu?. Hah?!" bentaknya.
Thomas terdiam.
"Kau dan Daddy sudah membuat hidupku seperti lelucon. Kenapa Daddy tidak membiarkan aku mati saja waktu itu. Kenapa dia harus melakukan hal gila ini pada orang lain!!!. Kenapa?!. Kenapaaaaa?!"
Suara Aldrich melengking tinggi, memekikkan amarah atas kekecewaan hatinya saat ini.
Melihat ekspresi Aldrich, seketika Thomas mengurungkan niatnya untuk memberitahu pasal ajakan Adam yang ingin bertemu dengan Aldrich.
Aldrich melanjutkan, "Apa yang harus aku lakukan saat aku bertemu dengan Dilla, apa aku bisa menatap wajah gadis lugu itu nantinya. Aku telah melakukan dosa besar. Bahkan nyawaku pun tidak akan bisa menggantikan nyawa pria itu. Aagghhhhh!!!!" teriaknya kali ini dengan suara bergetar parau.
Bahu Aldrich berguncang hebat. Air matanya tumpah ruah seirama dengan isak tangis kekecewaan yang meliputi laranya saat ini. Lagi-lagi Aldrich harus kecewa dengan sikap ayahnya yang selalu saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apapun yang ia kehendaki.
"Pantasnya aku mati saja. Aku tidak punya hak untuk hidup setelah membunuh orang lain!!!" geram Aldrich, mengutuk dirinya sendiri.
"Saya lah yang bertanggung jawab. Kalau ada orang yang pantas mati, orang itu adalah saya," ujar Thomas dengan kepala yang tertunduk dalam.
"Aaarrrrggggghhhh!!!!!" Aldrich berteriak frustasi.
Sementara itu, Thomas hanya diam menatap Aldrich tak berdaya.
Prang!!!
Sesaat kemudian suara gaduh terdengar dari dalam kamar Aldrich, sontak Henzhie yang tengah berada di dapur pun langsung menoleh ke arah suara.
Henzhie mengernyit bingung. Tanpa pikir lama, secepat kilat ia pun berlari ke arah kamar Aldrich.
Didalam kamar, terlihat Aldrich menarik kasar Thomas ke arah balkon lalu mencekiknya dan mendorong tubuh pemuda itu hingga merapat ke sisi terali besi yang ada dibelakangnya.
"Dengar brengsek. Aku sudah muak dengan orang-orang seperti kalian."
Aldrich mengencangkan cekikannya di leher Thomas hingga membuat Thomas sulit bernafas. Tiba-tiba Aldrich melepaskan cekikannya dari Thomas. Thomas terlihat menstabilkan deru nafasnya yang tersengal.
Sesaat kemudian, Thomas membulatkan matanya. Terlihat Aldrich sedang menodongkan sebuah pistol ke arah Thomas. Pistol yang didapatkan Aldrich dari balik saku jas hitam yang dikenakan Thomas saat ini.
Bola mata Thomas semakin membulat saat sedetik kemudian Aldrich perlahan mengarahkan pistol tersebut tepat mengarah ke dada kiri tuannya itu.
Tepat saat itu, Henzhie masuk.
Henzhie terperanjat lalu berteriak, "Aldrich!!!!. Apa yang kau lakukan?"
Sementara Thomas hanya mampu diam mematung di hadapan Aldrich. Matanya terus menatap ke arah mulut pistol yang sudah menempel tepat di atas dada tuan mudanya itu.
Aldrich menarik pelatuk lalu memejamkan matanya perlahan.
Tiba-tiba...
Buughh!!!
Henzhie memukul belakang kepala Aldrich menggunakan pemukul bisbol. Dengan sekali pukulan Aldrich pun tersungkur tak sadarkan diri tepat sebelum Aldrich berhasil menarik tuas pistol di tangannya.
Sesaat kemudian, Thomas menghampiri Aldrich yang sudah tergolek lemah.
"Henzhie?!!. Apa yang kau lakukan?"
"Sorry, Thom. Aku refleks."
Thomas pun segera membopong tubuh jangkung Aldrich ke atas ranjang.
Tiga puluh menit berselang, Henzhie tampak duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Riza dan Dilla. Setelah sebelumnya ia memastikan bahwa kondisi Aldrich sudah baik-baik saja sesaat setelah pemuda itu menerima pukulan keras darinya beberapa waktu lalu.
"Sebenarnya mereka kemana?. Sudah jam berapa ini?" gerutu Henzhie lirih.
Henzhie terus menggumam seorang diri.
Kembali ke kamar Aldrich.
Terlihat Aldrich sudah siuman dari pingsannya. Aldrich tampak terduduk di atas ranjang. Sesekali ia memegang tengkuk kepalanya yang masih menyisakan rasa sakit disana.
Didepan Aldrich, tampak Thomas menatap Aldrich tidak berdaya. Rasa bersalah masih terus mengusik hati pria itu. Thomas yang biasanya kaku dan tidak pernah menunjukkan emosinya itu pun turut merasakan kekecewaan yang dirasakan oleh Aldrich saat ini.
"Mana Dilla?" tanya Aldrich tiba-tiba.
Thomas yang sepertinya sudah tahu arah pembicaraan Aldrich segera menjawab, "Apa yang akan Tuan lakukan lagi kali ini?. Anda tahu apa yang anda lakukan tadi itu sangat berbahaya."
Aldrich berdecih, "Hentikan sikap pura-pura mu itu. Aku muak."
Thomas diam.
Aldrich melanjutkan, "Satu hal lagi, aku akan menetap di Belanda. Jadi, kau sudah tidak perlu menjagaku. Mulai sekarang, kau, aku pecat!!"
"Tuan tidak punya wewenang untuk memecat saya, sebab saya bukan bekerja untuk Tuan. Saya rasa Tuan sudah tahu hal itu."
Aldrich meraup wajahnya kasar, "Keluar kau dari kamarku. Keluaaaaarrr!!!!!" emosi Aldrich pada Thomas.
Ditempat lain, Dilla dan Riza sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Thomas.
Sejak tadi, wajah Dilla tampak murung dan sedih. Entah hal apa yang terjadi padanya kali ini. Dilla terlihat memikirkan sesuatu.
"Mas?!"
"Hemm."
Dilla diam dengan pandangan kosong tanpa menoleh ke arah Riza yang duduk tepat disebelahnya.
"Kenapa?" tanya Riza dengan suara lembut.
Dilla tidak menjawab.
Riza menoleh, "Kamu sakit?!" tanyanya sambil memindai wajah murung istrinya.
Dilla menjawab pertanyaan Riza dengan desahan nafas berat.
Merasa ada sesuatu yang aneh dengan istrinya, dengan sigap Riza mendekap Dilla lalu menyandarkan kepala istrinya itu di bahu bidangnya seraya menggenggam jemari tangan gadis itu.
Perlahan Dilla memejamkan matanya dalam rangkulan hangat suaminya.
Bagaimana caraku menjelaskan semua ini sama mas Riza?. Aku bener-bener takut mas Riza menceraikan ku, batin Dilla.
Flashback
Satu jam yang lalu
Saat Dilla dan Riza tiba di rumah kediaman mami dan papi. Petugas keamanan memberitahu kalau mami sedang dirawat di rumah sakit. Mendengar hal itu, mereka pun langsung menemui mami disana.
Mami kaget bercampur bahagia saat melihat Riza ada di hadapannya. Dengan cucuran air mata, mami memeluk puteranya itu dengan rasa haru.
Setelah puas berpelukan, mami menanyakan bagaimana keadaan Riza tanpa menyapa Dilla sama sekali. Bahkan mami menarik tangannya saat Dilla hendak mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.
Tak ayal hal itu membuat Dilla tampak sangat sedih. Dilla pun hanya mampu diam seribu bahasa atas perlakuan kasar ibu mertuanya tersebut.
Perasaan Dilla saat ini berbanding terbalik dengan perasaan Mami yang terlihat sangat bahagia saat melihat kondisi Riza yang sudah mulai membaik dari sebelumnya. Dilla pun hanya melihat dua orang didepannya dari sudut ruangan tempatnya berdiri dengan tatapan sedih bercampur kecewa.
Saat Riza keluar dari kamar untuk mengambil obat mami di apotek. Mami pun mulai mengintimidasi Dilla.
Mami menatap tajam ke arah menantunya itu, "Sepertinya Riza sudah sembuh. Jadi, sekarang sudah waktunya untuk kalian bercerai," ucap mami tanpa basa-basi.
Dilla berniat mendekati mami untuk membujuk ibu mertuanya, tapi mami justru mengisyaratkan Dilla agar tidak mendekat kearahnya.
"Tidak perlu berusaha membujukku. Ceraikan Riza. Tinggalkan dia!!!" cecar mami.
Dilla menjawab, "Dilla nggak mau cerai dari mas Riza."
"Mau sampai kapan kamu membohongi Riza, hah?!"
Dahi Dilla mengernyit, "Apa maksud mami?"
Mami menyodorkan ponsel miliknya pada Dilla. Dilla kemudian mendekat dan meraih ponsel tersebut.
Mata Dilla melebar saat mendapati foto-foto dirinya tampak sedang bersama dengan seorang pria.
"Aku sudah tahu, kelakuan burukmu. Aku akan menunjukkan foto ini pada Riza. Dengan begini, Riza pasti akan menceraikan kamu."
Dilla terlihat sangat bingung, bagaimana bisa foto-fotonya bersama Aldrich ada di ponsel mami.
Foto saat ia dan Aldrich sedang makan bersama di warung Laras, sewaktu Aldrich menjemput Dilla di kampus dan mengantarnya kembali ke kampus sewaktu mereka selesai makan siang bersama di sebuah restoran tergambar jelas disana.
Entah bagaimana ceritanya semua hal ini bisa terjadi.
"Apa ini?!" gumam Dilla bingung.
"Tega sekali kamu berselingkuh dibelakang puteraku!!!" bentak mami.
"Nggak, Mi. Ini salah. Demi Allah, Mi. Dilla nggak seperti ini. Sedikitpun Dilla nggak pernah selingkuh dari mas Riza. Mami dengerin penjelasan Dilla dulu, Mi. Dilla bisa jelasin."
"Keputusan ku membawa Riza ke Belanda memang benar. Bercerai lah dari Riza, tinggalkan dia."
Saat Riza masuk ke dalam kamar, dengan cepat mami berusaha menarik ponselnya dari tangan Dilla yang tampak masih berdiri mematung didepan mami.
Karena terburu-buru, mami tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Alhasil mami pun terjatuh dari atas ranjang tepat saat akan menarik ponsel dari tangan menantunya.
Melihat itu, Dilla pun terperanjat. Dengan cepat Dilla dan Riza memapah lalu mendudukkan mami kembali ke atas ranjang.
Riza memungut ponsel yang terjatuh di lantai. Sejenak Riza memperhatikan layar ponsel mami, tapi dengan secepat kilat Dilla menarik ponsel tersebut dari tangan Riza.
Mami terdengar mengaduh kesakitan sambil menggerutu, "Lihat isteri kamu tuh. Dia pasti sengaja buat mami jatuh tadi," rengek mami pada Riza.
"Dilla minta maaf, Mi. Dilla bener-bener nggak sengaja," sahut Dilla.
"Dia pasti sengaja bikin mami makin sakit. Dari dulu dia memang benci banget sama mami."
Dilla menggeleng cepat dan menatap Riza memelas, mengisyaratkan supaya Riza jangan marah padanya.
Riza menyahut, "Tante, tenang ya. Dilla kan udah minta maaf," ucapnya menenangkan mami.
Riza melanjutkan, "Lagian kamu itu gimana, sih. Baru disuruh jagain sebentar aja nggak bisa!" bentak Riza seraya menoleh ke arah Dilla dengan tatapan tajam.
Dilla tersentak kaget. Sementara mami tersenyum penuh kemenangan.
Setelah membaringkan mami di atas ranjang, Riza berbisik di telinga Dilla, "Maaf, ya. Kamu nggak pa-pa, kan?" ujarnya lembut.
Dilla menggeleng pelan sambil menatap Riza heran. Riza membalas tatapan aneh itu dengan senyum tipis di wajahnya.
Flashback End