
"Riza...!!!"
"Riza...!!!"
Andyra terus menerus memanggil Riza. Akhirnya Riza pun berhenti dan menoleh.
"Telepon polisi dan Tim Penjinak Bom. Cepat!!!"
Andyra mengangguk mengerti.
Riza pun kembali menaiki anak tangga dengan langkah panjangnya.
"Sepertinya ada yang tidak beres disini!" gumamnya.
Flashback
Saat Riza berlari bersama Andyra melewati lorong. Riza sempat berpapasan dengan seorang pria mencurigakan yang mengenakan jaket hitam, topi dan masker di wajahnya. Riza sempat menoleh sekilas kearahnya dan menangkap gerak-gerik mencurigakan dari orang tersebut. Pasalnya ketika semua orang panik mencari pintu keluar, pria tersebut justru terlihat berjalan santai menuju ke ujung lorong.
Ketika Riza sudah tiba di depan pintu tangga darurat, pria asing tersebut tampak berbelok menuju ruangan arsip yang berada di sisi kanan lorong. Riza mengerutkan dahinya sejenak sebelum berjalan kembali memasuki pintu tangga darurat.
Flashback End
"Apa yang dilakukan pria itu di sana?" gumam Riza sambil terus berlari menaiki anak tangga.
Riza akhirnya tiba di ujung tangga darurat kemudian membuka pintu.
"Pak Riza?, apa yang anda lakukan disini?" tanya seorang pria berjas hitam dan berbadan tegap dengan ID-Card yang menggantung di lehernya.
Riza melirik sekilas ke arah ID-Card yang tergantung di leher pria tersebut.
"Ikut dengan saya."
Riza berlari menuju ruang arsip bersama dengan petugas keamanan yang ditemuinya. Setibanya di depan ruangan, Riza mencari-cari ID-Card nya. Ia pun baru ingat kalau ID-Card nya tertinggal di dalam ruang kantornya.
"Cepat dobrak pintunya!!!."
Petugas berbadan besar itu pun mendobrak pintu beberapa kali. Pintu pun terbuka.
Mereka berpencar menjelajahi seluruh isi ruangan. Tidak ditemukan siapapun di sana.
"Kumpulkan semua petugas keamanan ke ruang monitor CCTV. Sekarang!!!"
"Siap pak."
Riza langsung berlari menuju ruang monitor CCTV. Semua petugas keamanan pun segera menyusul Riza. Ruang monitor CCTV berada di gedung yang terpisah dengan gedung utama.
"Perlihatkan semua rekaman CCTV yang ada di seluruh area gedung utama!!" perintah Riza pada salah seorang petugas di sana.
"Siapa ketua tim keamanan di rumah sakit ini?"
"Sofian Pak," jawab salah satu petugas.
"Dimana dia?"
"Dia sedang cuti pak."
"Ceritakan pada saya apa yang terjadi?. Bagaimana bisa ada bom di rumah sakit ini?"
Salah seorang petugas berkulit hitam dan bertubuh kekar pun mulai bercerita.
Flashback
Saat itu tepat pukul 11.00 WIB petugas resepsionis mendapat sebuah panggilan telepon tidak dikenal yang mengatakan bahwa di dalam gedung utama telah dipasang sebuah bom.
Selanjutnya resepsionis segera menghubungi petugas keamanan untuk mencari keberadaan bom tersebut. Karena takut itu merupakan panggilan iseng maka petugas keamanan pun tidak segera menghubungi polisi. Semua petugas dikerahkan untuk melihat monitor CCTV dan mencari sesuatu yang mencurigakan di semua ruangan, baik gedung utama, gedung pelayanan maupun gedung monitor. Namun, hasilnya nihil.
Entah bagaimana tiba-tiba alarm berbunyi, sehingga membuat semua orang panik dan suasana menjadi tidak terkendali. Ditambah suara ledakan yang terdengar kuat sekali. Petugas juga sempat mencari asal muasal ledakan akan tetapi tidak ketemu. Hingga muncullah kepulan asap berasal dari pantry yang berada di lantai lima gedung utama dan menyebabkan sprinkle mengeluarkan air secara otomatis.
Flashback off
"Pak, ada seseorang yang mencurigakan tertangkap kamera CCTV."
Riza menoleh dan menatap layar monitor.
"Coba kamu putar rekamannya."
Rekaman pun di putar. Tampak seorang pria dengan ciri-ciri persis sama seperti yang dilihat Riza tadi sedang berjalan santai menuju pintu masuk gedung utama. Padahal sistem keamanan gedung sangat ketat. Tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam kecuali memiliki akses masuk berupa ID-Card. Namun, anehnya pria berjaket hitam itu dapat dengan leluasa masuk melewati sistem keamanan.
Rumah sakit memiliki tiga buah gedung yang memang sengaja dibangun terpisah. Gedung utama berdiri berdampingan dengan gedung pelayanan rumah sakit. Sementara gedung monitor CCTV berjarak sekitar 10 meter dari gedung utama.
Riza menatap layar monitor dengan serius dan fokus. Mencoba mencerna dan mengamati apa yang dilihatnya.
Hingga akhirnya Pria tersebut memasuki pintu tangga darurat dan hilang dari pengawasan kamera. Tangga darurat merupakan satu-satunya tempat yang tidak terpasang kamera CCTV.
Riza memperhatikan waktu yang ditunjukkan di layar monitor, tertera pukul.11.15. Hanya selisih lima belas menit dari jam masuknya telepon tak di kenal yang menghubungi petugas resepsionis.
"Putar rekaman yang ada di ruangan arsip!", perintah Riza kembali.
Pemadam kebakaran, polisi dan tim penjinak bom akhirnya tiba di lokasi. Riza langsung berlari keluar gedung monitor.
Seluruh polisi dan tim penjinak bom melakukan penyisiran ke dalam setiap gedung. Butuh waktu lama untuk mencari dimana keberadaan bom sebenarnya dikarenakan gedung yang terlalu besar dan memiliki banyak ruangan.
Tak berapa lama, petugas polisi dan tim penjinak bom keluar dengan membawa speaker berukuran besar. Riza berlari menghampiri mereka.
"Bagaimana pak?"
"Kami tidak menemukan bom apapun. Kami hanya menemukan speaker ini di atap gedung. Sepertinya ada orang yang sengaja menaruh speaker ini di sana.", jelas petugas polisi.
Riza menatap polisi bingung. Polisi lalu menyalakan speaker tersebut. Dan terdengarlah bunyi dentuman yang sangat besar mirip seperti suara ledakan bom. Akhirnya Riza pun mengerti.
"Pemicu kepulan asap yang ada di lantai lima, saya rasa itu berasal dari api yang sengaja di hidupkan dari kompor gas. Kami akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Saya harap agar bapak lebih waspada."
"Saya juga berharap bapak dapat datang ke kantor untuk memberikan keterangan."
Polisi pun berlalu pergi meninggalkan Riza yang masih tampak sibuk berkutat dengan pikirannya. Setelah suasana kondusif, semua pasien di bawa kembali masuk ke dalam gedung pelayanan rumah sakit. Sementara Riza masih tampak diam mematung mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ini sebuah kebetulan atau memang di sengaja?. Pertanyaan itu terus-menerus terbesit di pikirannya.
Pukul 14.00 WIB, Riza beserta beberapa staf rumah sakit pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan dan menceritakan semua yang dialami mereka secara detail. Termasuk Andyra yang terlihat ikut menemani Riza.
--------
Rumah Riza
Dilla dan Kiki tampak sedang asyik menonton televisi di ruang tamu. Mereka pun melihat tayangan berita yang meliput berita bom yang terjadi di rumah sakit Riza.
Mereka merasa bergidik ngeri saat membayangkan jikalau ada salah satu orang yang mereka kenal berada dalam peristiwa tersebut. Mereka pun sempat kaget saat melihat wajah Riza sekilas muncul dalam liputan berita tersebut.
"Loh, itukan mas Riza, Dil," ucap Kiki.
"Iya, benar. Mas Riza ngapain di rumah sakit itu?" sahutnya.
Wajah Riza muncul saat kepala humas rumah sakit memberikan keterangan perihal kejadian yang menimpa mereka hari ini. Sebenarnya Dilla penasaran perihal apa yang terjadi pada Riza, akan tetapi berhubung masih marah, Dilla pun mencoba tidak peduli.
Malam harinya, Riza belum kunjung pulang ke rumah padahal jam telah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Dilla sempat khawatir memikirkan Riza. Dilla mondar-mandir di dalam kamarnya.
Hujan turun dengan derasnya ditambah kilatan petir yang disusul dengan suara guruh yang menggelegar, membuat Dilla berteriak histeris. Dilla melompat keatas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Ia menangis ketakutan dibalik selimut yang membalutnya.
Sejak kecil Dilla memang memiliki phobia terhadap petir dan kilat yang membuatnya gemetar ketakutan setiap kali hujan turun dengan derasnya.
Cetarrrrrrrrr......
Petir kembali bergemuruh kuat dan saling bersahutan. Sesaat kemudian tiba-tiba lampu pun padam. Dilla bertambah histeris dan gemetar ketakutan. Air mata tak henti-hentinya mengalir di pipinya. Seketika ia mengingat Riza.
--------
Kantor polisi
Bukan hanya Dilla, Riza pun merasakan hal yang sama. Riza melihat hujan yang turun dengan derasnya ditambah dengan suara petir yang menggelar hebat seketika membuatnya khawatir dan cemas pada Dilla yang sedang sendirian di rumah. Riza mencoba menghubungi Dilla berulang kali. Namun, ponsel Dilla tidak aktif.
Akhirnya Riza pun berpamitan pulang kepada polisi dan berjanji akan memberikan keterangan lanjutan keesokan harinya. Untungnya polisi menyetujui permintaan Riza.
Andyra sempat menawarkan tumpangan pada Riza. Namun, Riza menolak tawaran Andyra. Riza pun pulang dengan mengendarai motor. Riza melajukan motornya dengan sedikit kencang agar tiba lebih cepat di rumah.
--------
Rumah Riza
Dilla masih meringkuk ketakutan di dalam kamar dengan suasana gelap gulita disebabkan lampu yang belum juga menyala.
"Hiks..hiks. Ibu..., Dilla takut." Dilla menangis pilu memanggil ibunya.
"Mas Riza..., hiks..hiks." Rengeknya.
Petir dan kilat tak henti-hentinya sambung menyambung membuat Dilla bertambah takut dan gemetar.
Ciiiiittttttttt...
Riza pun menghentikan motornya tepat di depan rumah yang sudah terlihat gelap gulita. Cepat-cepat Riza mengambil kunci duplikat dari dalam sakunya kemudian masuk ke dalam.
Riza menyalakan cahaya senter ponselnya, kemudian berjalan menaiki tangga sambil memanggil-manggil nama Dilla. Dilla yang ketakutan hebat, sama sekali tidak mendengarkan suara Riza yang memanggil namanya.
Riza berjalan kemudian membuka pintu kamar tamu. Riza mengarahkan cahaya senter ke seisi ruangan, terlihat Dilla duduk meringkuk di atas ranjang dengan gemetaran di balik selimut yang menutupi tubuhnya.
Sekilas Dilla mendengar suara derap langkah kaki mendekat.
"Siapa itu?" batinnya gemetar ketakutan.
Dilla memejamkan matanya ketakutan. Riza menyibak selimut yang menutupi tubuh Dilla.
Dilla mendongak.
"Mas Riza...!!" Matanya membulat.
Refleks Dilla menarik Riza ke dalam pelukannya. Membuat Riza limbung dan jatuh ke atas ranjang. Dilla memeluk Riza erat sambil menangis sesenggukan di atas dada bidang Riza. Riza pun tak kuasa menahan detak jantungnya yang berdebar kencang mengimbangi derasnya suara hujan yang turun malam itu.