
Di Belanda, Adam terlihat duduk di kursi sambil menghela nafas panjang. Sudah sebulan berlalu, sejak hilangnya Aldrich dan sampai sekarang Adam tidak tahu bagaimana keadaan puteranya itu.
Apakah masih hidup atau sudah tiada. Pikirannya terus bergelut disana. Seorang pengawal Adam kemudian masuk ke ruangan dengan terlebih dahulu mengetuk pintu.
Dengan isyarat Adam menyuruh Pengawalnya itu untuk masuk.
"Saya ada informasi penting, Tuan."
"Bicaralah."
"Saya sudah menemukan keberadaan Tuan Aldrich. Saat ini beliau tinggal bersama dengan Thomas di rumah peninggalan orang tua Thomas. Saya menunggu perintah selanjutnya, Tuan," jelas si pengawal.
"Apakah Aldrich baik-baik saja?"
"Dari yang saya tahu Tuan Aldrich dalam keadaan baik Tuan."
Akhirnya Adam bisa merasa tenang dan lega saat tahu keadaan puteranya.
"Ayo kita susul Aldrich sekarang. Kalian ikut aku."
"Baik, Tuan."
Tanpa menunggu lama, Adam pun dengan cepat meminta pengawal untuk mengantarkannya ke rumah Thomas yang ternyata letaknya memang sangat jauh dari kediaman Adam.
Hingga saat hari berganti senja, barulah mereka tiba di rumah Thomas.
Pengawal memencet bel sebelum memasuki rumah bergaya Eropa klasik itu. Sementara Adam menunggu dengan sabar di dalam mobil metalik hitam didekat sana.
Mendengar suara bel, Thomas segera melihat siapa yang datang melalui alat interkom yang terpasang di luar gerbang.
Thomas tampak terkejut saat tahu kalau yang sedang berdiri didepan rumahnya adalah salah satu pengawal Adam.
Bel berbunyi kembali.
Thomas masih tidak menanggapi, hingga membuat pengawal mulai tidak sabar. Karena masih tidak ada jawaban, pengawal itu kemudian memutar badan untuk menemui Adam di mobil.
"Sepertinya mereka sedang tidak ada di rumah Tuan."
"Hemmm, kalau begitu paksa mereka keluar."
"Baik Tuan."
Pengawal pun kembali ke rumah Adam, merusak gerbang yang ada didepannya kemudian menerobos masuk ke dalam dengan terlebih dahulu mendobrak paksa pintu utama rumah Thomas.
Pengawal Adam yang terdiri dari 5 orang itu pun menyisir tiap sudut ruangan yang ada disana. Sementara Thomas dan Aldrich kini sudah berada di lantai basemen rumah Thomas untuk bersembunyi.
Ruangan yang hampir mirip bunker itu sengaja dibuat oleh ayah Thomas untuk dijadikan sebagai tempat berlindung keluarganya saat terjadi badai besar di Belanda.
"Tidak ada yang tahu jalan menuju kesini selain keluarga saya," jelas Thomas tenang.
Aldrich pun mengagumi kecerdasan ayah Thomas yang bisa berpikir untuk membangun sebuah ruangan bawah tanah seperti ini.
Aldrich berkata, "Ngomong-ngomong, bagaimana ayahku bisa tahu aku ada disini?"
"Selagi Tuan masih di Belanda, saya rasa cepat atau lambat Tuan Adam akan tahu."
"Aku sudah bosan bermain kucing-kucingan seperti ini," keluh Aldrich.
Sesaat setelahnya, pandangan Aldrich teralihkan pada beberapa pigura foto dan lukisan yang ada di ruangan tersebut.
"Ini pasti ayahmu?" tanya Aldrich.
Thomas mengiyakan.
"Lalu siapa pria yang ada disebelahnya?. Dari wajahnya sepertinya dia bukan orang Belanda."
"Itu teman ayah saya," jelas Thomas.
Dari foto tersebut, terlihat ayah Thomas berfoto dengan ayah Dilla, Sastrawan Dirjo. Namun, Aldrich yang memang tidak mengenal pria tersebut tidak bertanya lebih jauh.
Selanjutnya, Aldrich mengalihkan pandangannya pada lukisan yang tergantung tepat di samping foto. Lukisan yang memiliki tanda sama persis dengan lukisan milik Nana dan Niko. Ya, lukisan yang dibuat oleh Bayu juga terlihat tergantung indah di ruangan tersebut.
Sepertinya Thomas memang sengaja menyimpan semua kenangan keluarganya disana, termasuk foto Riza dan Henzhie yang juga tak luput dari perhatian Aldrich.
"Aku baru tau kalau Riza dan adikmu pernah sedekat ini," Aldrich menanggapi foto yang dilihatnya.
"Semua itu hanya masa lalu, Tuan."
"Yah, begitulah wanita. Selalu terjebak di masa lalu," ujar Aldrich, "Kau sendiri bagaimana?. Aku tidak melihat foto gadis manapun disini," sambungnya.
Thomas hanya tersenyum.
Begitulah Thomas, pria tampan berkebangsaan Belanda itu seumur hidupnya memang tidak pernah jatuh cinta.
Thomas menyadari pekerjaan berbahaya yang ia geluti, membuatnya tidak semudah itu untuk jatuh cinta apalagi berkencan.
Thomas merasa, menjaga adik semata wayangnya saja sudah kewalahan, apalagi jika ditambah ia harus menjaga kekasihnya nanti.
Oleh karena itu, Thomas memutuskan untuk tidak berkencan serius dengan wanita manapun. Namun, sama seperti pria bule kebanyakan, untuk melepas stress, Thomas yang notabene seorang pria tulen, juga pastinya suka jajan dan mencari hiburan dengan bergonta ganti teman kencan yang selalu berakhir dengan cinta satu malam khas kehidupan orang luar pada umumnya.
Berbanding terbalik dengan Aldrich yang memang seumur hidupnya, jangankan mengalami one night stand, berkencan saja ia belum pernah. Terdengar kolot memang, tapi begitulah kehidupan Aldrich. Aldrich ketinggalan jauh dibelakang Thomas dalam urusan wanita.
"Kau benar-benar pria sejati. Aku bangga padamu," ucap Aldrich pada Thomas, yang dibalas dengan senyum bangga dari Thomas.
"Mungkin setelah ini kau bisa mengenalkan ku pada gadis-gadis di klub yang biasa kau datangi. Bagaimana?" tanya Aldrich penuh harap.
"Tentu saja. Dengan senang hati, Tuan."
Mereka berdua pun sama-sama tertawa.
...****************...
Niko membawa Nana ke rumahnya.
"Kebetulan bokap sama nyokap gue lagi nggak di rumah. Mungkin lain kali, Lo bisa ketemu bokap gue. Lo tunggu disini, gue mau ambil sesuatu."
Nana menatap Niko, dalam hati Nana penasaran apa sebenarnya yang akan Niko lakukan.
Tak lama Niko kembali lalu menyerahkan sebuah koran usang pada Nana.
DOKTER BEDAH DAN ISTRINYA TEWAS TERBUNUH OLEH SEKELOMPOK ORANG TAK DIKENAL
Tulisan pada headline koran tersebut.
"Itu berita tewasnya orangtua Riza. Lo bisa baca, disitu ditulis Rizwan Rifky Pramudya. Itu nama ayahnya Riza."
Nana pun membaca isi artikel tersebut dengan seksama.
"Jadi maksudnya ayah Riza yang sekarang itu beneran bukan ayah kandungnya?"
"Gue masih ingat persis kejadiannya. Riza masih SMP waktu orangtuanya tewas, tepat di hari ulang tahunnya."
Niko menceritakan, setelah kejadian itu Riza sangat trauma, karena merasa iba, Dirwan dan Anita pun memutuskan untuk mengangkat Riza sebagai putera mereka.
Singkat cerita, Dirwan dan Anita membesarkan Riza penuh kasih sayang sampai mereka lupa kalau mereka juga punya anak kandung yang justru mereka abaikan.
Sejak kehadiran Riza, Bayu mulai berubah menjadi anak nakal dan pemberontak. Sampai akhirnya, Dirwan mengirim Bayu untuk tinggal bersama keluarga Niko di Indonesia.
Bayu sangat tidak terima dengan pengusiran ayahnya. Sejak saat itu, Bayu semakin membenci Riza. Hingga akhirnya Bayu pun memilih kabur dan tinggal seorang diri tanpa pengawasan dari ayah Niko.
"Gue rasa waktu itu Bayu cuma halusinasi pas bilang Om Dirwan yang bunuh ayahnya Riza, soalnya selama Bayu tinggal disini, Bayu udah bolak balik ke psikiater karena narkoba."
"Tapi, gue yakin kok kalau Bayu waktu itu nggak lagi halu, dia sadar. Sadar banget," tolak Nana dengan tegas.