My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/20



Dilla kembali menyibukkan dirinya di dapur untuk menyiapkan makan malam. Setelah selesai makan malam, Riza bergegas menaiki tangga menuju ke dalam ruang kerjanya.


Saat makan malam tadi, sebenarnya Dilla ingin bertanya kembali kepada Riza mengenai kata-kata apa yang diucapkan Riza tadi sore. Namun Dilla terlihat ragu. Alhasil Dilla berakhir dengan menerka-nerka sendiri di dalam benaknya.


Setelah membereskan dapur, Dilla langsung bergegas menuju kamar. Dilla menelefon Kiki untuk menanyakan tentang kuliah hari ini, apakah ada tugas atau tidak. Kiki pun memberitahu Dilla bahwa mata kuliah hari ini di bubarkan dan diganti hari lain karena dosen yang mengajar mata kuliah mereka sedang berhalangan hadir.


Dilla merasa bahagia, itu artinya ia tidak ada absen hari ini. Dilla pun kemudian menyudahi panggilan telefonnya.


"Mas Riza kemana ya?, kok ndak ada?" Dilla menggumam pelan.


Dilla pun akhirnya memilih mengulang pembahasan mata kuliahnya agar tidak lupa.


Sementara Riza, sedari tadi ia telah menunggu kedatangan Dilla di ruang kerjanya. Ia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Kemana dia?. Kenapa belum muncul juga?" Riza menggumam pelan.


Lalu Riza melangkahkan kakinya keluar kamar, ia memegangi terali tangga rumahnya sembari mendongakkan kepala melihat ke arah dapur.


Setelah yakin Dilla tidak ada di dapur, Riza kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Saat membuka pintu, ia melihat Dilla yang sedang duduk di dekat sofa tengah berkonsentrasi dengan pelajarannya.


Riza berdehem keras membuat Dilla seketika memalingkan wajahnya ke arah Riza.


"Ada apa mas?" tanya Dilla.


"Bukannya tadi sore aku sudah menyuruhmu datang ke ruang kerjaku sehabis makan malam?" sahut Riza datar.


Dilla mengernyitkan dahinya.


"Ya sudah. Tinggalkan pekerjaanmu, ikut denganku!" perintah Riza.


Dilla langsung bergegas menyusun buku-bukunya lalu berjalan mengikuti Riza dari belakang.


Saat Riza membuka pintu ruang kerjanya, seketika Dilla mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan tersebut. Tampak di depannya, sebuah ruangan bercat putih, berdesain minimalis dengan ornamen palet berwarna hijau dan biru yang dikelilingi oleh dinding kaca.


Tak lupa sebuah sofa panjang di sudut ruangan dan beberapa rak buku minimalis dengan buku-buku yang terlihat tertata rapi didalamnya.


"Masuklah!" Riza mempersilakan Dilla masuk.


Dilla berdecak kagum melihat ruang kerja Riza itu.


"Duduk!!" Riza kemudian menyuruh Dilla duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursinya.


Riza tampak membuka laptop di atas meja kerjanya. Bola mata Dilla mengikuti setiap gerakan Riza.


Riza terlihat telah siap, ia menatap mata Dilla lalu menarik nafas dalam, "Baik, ulurkan kedua tanganmu!"


Dilla kemudian mengulurkan kedua tangannya. Terlihat Riza menggenggam jari jemari lentik Dilla dengan lembut.


Dilla merasakan ada getaran dalam dirinya saat jari-jari lembut Riza menggenggam ujung tangannya. Ia membulatkan mata. Sentuhan demi sentuhan dari jemari lembut Riza bagaikan sengatan listrik di kulitnya.


Dilla juga dapat merasakan kehangatan dari tangan Riza saat menyentuh lembut jemarinya. Seketika ia merasakan jantungnya berdebar dan darahnya berdesir yang sukses membuat pipinya bersemu merah.


Terlihat Riza memejamkan mata, untuk membantunya berkonsentrasi. Sehingga dapat dipastikan Riza tidak melihat seperti apa meronanya wajah Dilla saat jemari lembutnya menggenggam jemari lentik milik Dilla.


"Ya Allah Gusti, ada apa denganku?" bisik Dilla dalam hati.


Riza merasakan ide dan inspirasi bermunculan di kepalanya, dengan secepat kilat ia langsung menuangkan ide-ide yang muncul di pikirannya itu ke dalam laptopnya.


Dilla akhirnya dapat bernafas lega saat Riza melepas genggaman tangannya karena sedari tadi Dilla berusaha menahan nafas agar suara jantungnya yang berdetak keras tidak didengar oleh Riza yang ada di sampingnya.


Tidak lama Riza kembali menggenggam tangan Dilla.


Riza berulang kali menyentuh, membelai dan mengusap lembut jari jemari lentik milik Dilla sambil memejamkan matanya hingga membuat Dilla tidak mampu mengendalikan pikirannya kali ini.


Riza terkejut dan langsung membuka matanya. Riza menautkan alisnya dan menatap Dilla yang kini tengah berdiri dari duduknya.


"Saya haus mas, saya mau ke dapur dulu!" ucap Dilla singkat.


Dilla beranjak keluar dari ruangan kemudian menutup pintu. Terlihat Dilla bersandar di balik pintu sembari memegangi dadanya.


"Ya Allah Gusti, jantungku rasanya mau copot!" gumamnya.


Dilla langsung bergegas menuruni anak tangga menuju dapur, ia menuangkan air mineral yang ada di teko ke dalam sebuah gelas kaca. Ia meneguk cepat air di gelas tersebut.


Dilla memukul-mukul kepalanya pelan, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh dari kepalanya.


Dilla kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya hingga berulang kali untuk mengembalikan ketenangan pikiran dan jiwanya.


"Apa yang dia lakukan di dapur, kenapa lama sekali?" gumam Riza dari balik ruang kerjanya.


Selanjutnya Riza melangkahkan kakinya keluar, ia melihat Dilla sedang berdiri di dekat dapur.


Riza mengerutkan dahinya saat memperhatikan tingkah aneh istrinya itu dari atas, terlihat olehnya Dilla sedang memukul-mukul kepalanya pelan.


Riza berdehem keras.


Seketika Dilla langsung beranjak dari dapur kemudian berlari menaiki anak tangga. Ia langsung masuk kembali ke dalam ruang kerja Riza sambil menundukkan kepalanya.


"Ayo, kita lanjutkan kembali!" ucap Riza.


Ingin rasanya Dilla menolak, akan tetapi ia tidak memiliki alasan apapun. Ia terdiam. Seketika Dilla memikirkan sebuah ide di kepalanya.


"Hoammm." Dilla menepuk-nepuk pelan mulutnya.


"Mas, saya sudah mengantuk. Bisa dilanjutkan besok saja tidak mas?" Dilla berpura-pura membuat matanya terlihat sayu seperti orang yang sedang mengantuk berat.


Riza tampak berpikir sambil menatap Dilla.


"Tidak bisa. Kalau kamu mengantuk, kamu bisa menyandarkan kepalamu di meja ini!" Riza mengarahkan telunjuknya ke meja.


Dilla hanya bisa diam dan pasrah. Tanpa perlawanan berarti, akhirnya Dilla menuruti Riza.


Riza kembali menyentuh jari jemari lentik milik Dilla. Dilla pun juga kembali merasakan sengatan di kulitnya. Riza terlihat berulang kali menuangkan ide-ide yang bermunculan di kepalanya ke dalam laptop miliknya.


Tidak berapa lama, Dilla benar-benar merasakan kantuk yang tidak tertahankan di pelupuk matanya. Akhirnya ia menidurkan kepalanya di meja lalu perlahan ia memejamkan mata.


Samar-samar ia melihat wajah tampan Riza yang sedang serius menatap ke arah layar laptop di depannya. Tidak berapa lama Dilla pun akhirnya terlelap.


Sekilas Riza melihat ke arah Dilla yang sedang tertidur. Hingga akhirnya Riza pun perlahan merasakan kantuk yang tidak tertahankan di pelupuk matanya.


Riza menidurkan kepalanya di atas meja dengan posisi wajahnya menghadap ke wajah Dilla dan tangannya yang masih menggenggam jari jemari Dilla.


Riza dan Dilla kemudian terlelap dalam tidur mereka dengan posisi jari jemari mereka masih saling bertautan erat.


Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Dilla membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan untuk mengembalikan kesadarannya.


Seketika Dilla membulatkan matanya saat melihat Riza sedang terlelap di depannya dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat. Dilla memperhatikan setiap jengkal wajah suaminya yang tengah tertidur didepannya itu.


Dilla dapat dengan jelas melihat deretan bulu mata panjang dan tebal yang membingkai kedua mata Riza.


Dilla kemudian beranjak dari duduknya, ia keluar dari ruang kerja Riza. Tak lama, ia pun kembali lagi dengan membawa selimut untuk menutupi tubuh suaminya itu.


"Selamat tidur mas. Hooaaammm."


Dilla kembali merasakan kantuk menerpa matanya. Ia pun beranjak ke luar dari ruang kerja Riza, lalu menutup pintu dengan perlahan.