My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/59



Tepat pukul 19.30 WIB, Riza mendatangi Dilla di kamarnya. Terlihat Dilla sedang mempersiapkan barang-barang miliknya yang akan dibawa ke rumah Laras sekaligus mempersiapkan barang-barang keperluan Riza yang akan di bawa oleh Riza besok ke luar kota.


"Ada apa, Mas?" tanya Dilla seraya mengambil beberapa potong pakaian dari dalam lemari.


Riza bersandar di sisi pintu sambil melihat ke arah Dilla yang masih sibuk memasukkan beberapa helai pakaian miliknya ke dalam tas ransel di depannya padahal tas tersebut tampak sudah sangat penuh sesak.


Riza menautkan kedua alisnya, "Kamu hanya tinggal selama lima hari di rumah Laras, tapi kenapa kamu membawa banyak sekali pakaian?. Kamu tidak berniat kabur dariku, kan?" cecar Riza penuh selidik.


Dilla tertawa, "Wah, tebakan mas benar sekali. Saya memang berniat untuk kabur. Sejujurnya saya sudah tidak betah tinggal di sini," jawab Dilla santai sembari menarik resleting tas ranselnya hingga menutup sempurna tanpa menoleh sedikitpun ke arah Riza.


Riza mendekat ke arah Dilla,"Pergi saja kemanapun kamu mau. Tapi ingat, kemanapun kamu pergi aku akan selalu mengejarmu meskipun itu ke ujung dunia atau ke luar angkasa sekalipun," ujarnya datar.


Dilla terkekeh pelan, "Opo iyo, Mas?. Saya ndak percaya tuh."


"Coba saja kalau kamu tidak percaya!" ujar Riza lagi.


Dilla tidak menanggapi pernyataan Riza barusan. Sebenarnya kata-kata Riza tadi siang masih terus terngiang jelas di telinga Dilla. Namun, Dilla berusaha keras untuk mengendalikan dirinya dan melupakan hal tersebut.


Dilla bangkit dari duduknya, "Saya mau turun dulu, saya lapar. Mas mau makan apa?. Biar saya masak sekalian buat mas," tanya Dilla mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jangan terlalu baik padaku. Jika kamu tidak mau aku mencintaimu terlalu dalam nantinya."


"Tolong ya, Mas. Jangan mulai lagi!" ujar Dilla kesal.


Riza mencubit hidung Dilla geram. Membuat Dilla mengaduh kesakitan.


"Dasar cerewet. Aku sudah memesan makanan tadi. Aku datang ke sini untuk memanggilmu makan malam. Ayo!" Riza menarik tangan Dilla menuruni anak tangga.


Setibanya di meja makan Riza menarik kursi untuk Dilla. Membuat Dilla sedikit tersipu malu.


Riza duduk di kursinya, "Makanlah," ujarnya seraya menaruh nasi beserta lauknya ke dalam piring Dilla, membuat Dilla merasa sedikit canggung.


"Sini piringnya, Mas. Biar saya ambilkan juga buat Mas," Dilla menawarkan diri untuk melayani Riza.


"Tidak perlu!. Makanlah saja. Tidak perlu melayaniku," tolak Riza.


"Ya sudah kalau begitu," timpal Dilla.


Dilla tampak meraih botol saus yang ada di atas meja. Tanpa Dilla sadari, Riza memperhatikan tingkah Dilla yang terlihat menaruh saus terlalu berlebihan ke dalam piringnya. Alhasil, Riza pun mulai menceramahi Dilla.


"Saus itu tidak baik untuk kesehatan jika kamu mengkonsumsinya terlalu berlebihan. Perhatikanlah takaran setiap makanan yang kamu makan. Jangan sembarang memakan apapun tanpa tahu takaran yang sesuai untuk tubuhmu."


Dilla mengerucutkan bibirnya sebal.


Riza melanjutkan, "Dan satu lagi, biasakan dirimu untuk makan perlahan agar makanan yang masuk ke dalam tubuhmu dapat tercerna maksimal. Jangan lupa juga bersihkan sisa makanan yang ada di mulutmu setiap kali kamu selesai makan," ujar Riza sembari menyeka sudut bibir Dilla yang belepotan.


Dilla menghela nafas kasar, "Iya, Pak Dokter," sahut Dilla sedikit kesal.


Mas Riza selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil, bisik Dilla di dalam hati.


Setelah menyelesaikan makan malam, Riza segera menarik Dilla untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Mereka pun tampak duduk bersebelahan.


"Ada apa, Mas?" tanya Dilla membuka percakapan.


Riza memutar tubuhnya menghadap ke arah Dilla, Riza memandang wajah Dilla seraya tersenyum.


"Kamu tetaplah seperti itu sebentar saja. Aku hanya ingin memandang wajahmu sepuasnya."


Ucapan Riza barusan membuat Dilla menjadi sedikit salah tingkah.


Selang beberapa waktu, Riza akhirnya membuka suaranya kembali,


"Oke. Selesai. Terima kasih istriku tersayang," ujar Riza tiba-tiba.


"Hah?" Dilla tercengang.


"Persediaanku untuk lima hari ke depan akhirnya telah penuh. Dengan begini aku bisa tenang selama berada di luar kota nantinya." Riza tersenyum cerah.


Dilla menautkan alisnya bingung.


Riza mendekat ke arah Dilla. Sesaat kemudian, Riza memeluk Dilla dengan hangat, "Jaga dirimu baik-baik di sini. Entah apa yang akan terjadi padaku selama lima hari ke depan tapi satu hal yang pasti, aku pasti akan sangat merindukanmu di sana." Riza membelai rambut Dilla lembut seolah tak mampu meninggalkan istri kesayangannya itu.


Riza pun melepaskan pelukannya.


"Tidurlah. Besok, pagi-pagi sekali aku akan mengantarmu ke rumah Laras terlebih dahulu." Riza beranjak dari sofa meninggalkan Dilla yang terlihat masih diam terpaku di tempat duduknya.


Keesokan paginya, Riza ternyata bangun terlebih dahulu daripada Dilla. Riza terlihat berdiri di depan pintu kamar Dilla mengenakan baju koko lengkap dengan peci serta sajadah di tangannya. Riza mengetuk pintu kamar Dilla berulang kali. Namun, tidak ada sahutan apapun dari dalam. Riza memberanikan diri memutar gagang pintu perlahan. Syukurnya Dilla ternyata tidak mengunci pintu kamarnya. Tanpa pikir panjang, Riza pun segera masuk dan berjalan perlahan menghampiri Dilla yang terlihat masih bergelut dengan selimut yang membalut tubuhnya.


Riza mendekatkan bibirnya ke telinga Dilla dan membisikkan sesuatu di sana.


"Selamat pagi istriku sayang. Bangunlah," bisik Riza pelan di telinga Dilla.


Dilla tampak menggeliat geli saat mendengar suara bisikan dan hembusan nafas Riza yang terasa menggelitik telinganya. Namun, Dilla masih juga urung untuk membuka matanya.


Riza kembali berbisik pelan, "Aku mencintaimu istriku sayang," ujarnya kemudian seraya tersenyum.


Mendengar kalimat Riza barusan, sontak Dilla membuka matanya lebar. Secepat kilat ia bangkit dari pembaringannya kemudian menatap ke arah Riza.


"Bagaimana mas bisa masuk?" tanya Dilla.


"Dengan membuka pintu," sahut Riza santai dan terkesan datar.


"Kok bisa?"


"Hentikan pertanyaan konyol itu. Bergegaslah bersiap. Kita akan Shalat Subuh berjamaah," ujar Riza tanpa basa-basi.


Dilla terdiam mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


"Cepat!!"


Mendengar suara bariton Riza, Dilla pun segera berlari kencang menuju kamar mandi untuk menyelesaikan ritual mandinya kemudian segera bersiap untuk menunaikan Shalat Subuh berjamaah yang diimami oleh Riza- suaminya. Perasaan keduanya saat ini tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Suara merdu Riza yang tengah melantunkan bacaan-bacaan Shalat dan ayat-ayat pendek dalam memimpin Shalat berjamaah bersama dengan Dilla, membuat Dilla mengucap pujian berulang kali dalam hatinya. Sementara Riza, mengingat dirinya yang kini sedang menjadi imam dalam memimpin Shalat berjamaah bersama dengan Dilla yang berdiri dibelakangnya sebagai makmum, membuat Riza tak henti-hentinya mengucap syukur dalam batinnya. Pemandangan indah yang mampu membuat hati siapa saja bergetar memandangnya.


Setelah menyelesaikan Shalat Subuh, Riza dan Dilla pun segera beranjak pergi menuju rumah Laras. Sesampainya di sana, Laras menyambut kedatangan mereka dengan penuh kebahagiaan. Riza meminta pada Laras untuk menjaga Dilla sebaik-baiknya hingga Riza kembali dari luar kota. Laras pun menyanggupi permintaan Riza. Tak lama berselang, Riza pun berpamitan pergi.


"Ingat pesanku. Jaga dirimu baik-baik," ujar Riza pada Dilla.


Dilla mengangguk pelan,"Hati-hati di jalan ya, Mas," sambut Dilla.


"Hemm."


Sesaat kemudian, Dilla terlihat membuka lebar tangannya bermaksud memeluk Riza. Namun, Riza justru berlalu pergi begitu saja meninggalkan Dilla yang tampak masih membuka lebar tangannya memeluk angin. Dilla tercenung seraya memonyongkan bibirnya kesal.


"Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam," sahut Dilla dan Laras bersamaan.


Dilla terus memandang ke arah mobil yang dinaiki oleh Riza hingga mobil tersebut berbelok dan akhirnya hilang di kejauhan.