My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/6



Riza tidak banyak berbicara setelah mendengar Dilla menyampaikan keputusannya untuk setuju menikah dengannya.


Sosok Riza yang seorang introvert membuatnya tidak tahu bagaimana mengekspresikan suasana hatinya saat ini.


Yang bisa ia lakukan hanya diam, diam dan diam.


Riza baru berbicara ketika Niko menanyakan kapan rencana Riza akan datang bersama keluarganya untuk melamar Dilla secara formal.


Riza akhirnya berbicara kepada Dilla seraya menatap Dilla singkat,


"Aku akan datang ke rumahmu bersama orang tua ku satu minggu lagi, aku harap selama menunggu kedatanganku, kamu tidak berubah pikiran."


Dilla pun hanya mengangguk mengiyakan.


Terlihat Dilla memperhatikan wajah Riza lama, Riza yang merasa diperhatikan oleh Dilla sedikit melirik ke arah Dilla namun seketika ia memalingkan wajahnya.


"Benarkah yang aku lakukan ini?" batin Dilla


"Kenapa dia menatapku seperti itu?" batin Riza


Laras kemudian mengajak Riza dan Niko untuk makan malam dirumahnya.


Riza sempat menolak ajakan Laras, namun Niko yang memang sedari tadi sudah menahan lapar langsung saja bergerak melangkahkan kakinya menuju meja makan sederhana yang ada di rumah Laras.


Riza hanya mendesah pelan melihat tingkah temannya itu.


Riza sedari tadi memang sudah ingin beranjak pulang dari rumah Laras, karena ia sudah merasa tidak nyaman duduk berlama-lama dan mengobrol dengan banyak orang.


Ia merasa harus merecharge kembali energi dan moodnya.


Itulah yang menyebabkan Riza sedari tadi hanya diam, diam dan diam dengan pikiran yang entah berada dimana.


Akhirnya Riza pun mengikuti Niko menuju meja makan, terlihat di atas meja telah tersaji masakan yang sangat menggugah selera, salah satunya adalah soto Semarang buatan Dilla.


Mereka kemudian duduk di kursi dan mulai memakan masakan yang telah tersaji itu dengan lahap tanpa ada yang bersuara .


Lalu Laras menyuruh Riza dan Niko mencicipi soto Semarang buatan Dilla.


"Bagaimana rasanya?, enak?" tanya Laras pada mereka.


"Wah, enak banget mbak. Baru kali ini aku makan soto Semarang seenak ini, pintar juga loe masak Dilla!" respon Niko.


Sementara Riza hanya diam saja menikmati makanan yang ada di piringnya, Niko kemudian menyikut lengan Riza seolah menyuruh Riza agar berbicara. Riza pun akhirnya bersuara.


"Enak!" jawabnya singkat.


Dilla tersenyum sambil melirik ke arah Riza.


Setelah selesai makan, Riza langsung mengajak Niko untuk pulang.


Akhirnya Riza dan Niko berpamitan kepada Laras dan Dilla.


"Dilla... seminggu lagi kita bakal dateng ke kampung loe yaa, jangan lupa!!" ucap Niko sedikit berteriak sebelum memasuki mobil.


Dilla menganggukkan kepalanya pelan.


Setelah mobil melaju, Dilla terus memandangi mobil tersebut, hingga hilang di kejauhan.


Dilla berjalan masuk ke dalam kamarnya, ia teringat kepada ibu dan adiknya di kampung.


Dilla memikirkan apa kira-kira tanggapan ibunya nanti sewaktu Riza dan keluarganya datang menemui ibunya untuk meminang Dilla, apakah ibunya akan setuju atau justru menolaknya.


Dilla merasa takut kalau-kalau ibunya itu nanti akan menolak pinangan Riza karena usia Dilla yang masih terlalu muda untuk menikah.


Membayangkan hal itu membuat Dilla menjadi merasa tidak tenang.


-------


Di mobil, Riza dan Niko berbincang mengenai rencana pinangan Riza nanti.


"Nggak nyangka gue, si Dilla mau nerima lamaran dari orang aneh kayak loe", Niko tertawa nyaring.


Riza hanya diam berkonsentrasi dibalik kemudinya, matanya menatap ke depan menelusuri jalan, ia tidak menanggapi lelucon receh Niko.


"Terus rencana loe apa, Za??" Niko menghentikan tawanya kemudian menatap ke arah Riza.


"Aku akan meminta kedua orang tua ku datang ke Jakarta untuk melamar Dilla," sahut Riza tanpa ekspresi.


"Apa orang tua loe mau loe suruh balik?" Niko bertanya penasaran.


"Tidak tahu, kita lihat saja nanti," sahut Riza singkat.


-------


Hampir setiap hari Dilla selalu disibukkan dengan pekerjaannya di warung dan tugas-tugas kuliahnya.


Lelah memang, namun terlihat Dilla sangat menikmati kesehariannya itu.


Dilla pun telah menganggap Laras seperti kakak kandungnya sendiri dan Dito, anak Laras sudah seperti keponakannya sendiri.


Sesekali Dilla membantu Dito belajar dan mengerjakan pekerjaan sekolahnya.


Terlihat Dito sangat akrab dengan Laras, tinggal bersama mereka membuat Dilla merasa seperti tinggal bersama keluarganya sendiri.


---------


H-5


Niko mendatangi rumah Laras membawa sebuah paper bag di tangannya.


Kebetulan warung hari ini tutup, jadi Laras berada dirumah seharian.


Niko bermaksud memberikan paper bag itu untuk Dilla.


Akhirnya Niko menitipkannya pada Laras.


Sore hari, sepulangnya Dilla dari kampus, Laras langsung memberikan paper bag titipan Niko kepada Dilla.


"Apa ini mbak?" tanya Dilla.


"Itu titipan dari Niko, tadi siang dia ke sini, katanya dari Riza buat kamu," jelas Laras kemudian ia pun beranjak pergi meninggalkan Dilla.


Dilla bergegas membuka paper bag tersebut, setelah membukanya ia menemukan sebuah ponsel dan sebuah catatan kecil diatasnya bertuliskan,


"Terima Kasih"


Dilla tersenyum manis membaca tulisan singkat dari Riza itu.


-----------


H-3


tut..


tut..


tut..


Suara nada panggilan terdengar di ponsel Riza.


Tak lama terdengar suara seorang wanita di ujung telepon.


"Halo Riza sayang..."


"Halo, Mi."


"Ada apa sayang?, tumben telefon mami."


"Riza mau menikah, Mi. Riza minta mami dan papi datang ke Jakarta melamar seorang gadis untuk Riza."


Mami kaget mendengar perkataan anak lelakinya itu.


"Kamu ini apa-apaan sih sayang?, kamu mau menikahi siapa?. Kenapa tidak tanya dulu sama mami dan papi?"


Riza terlihat santai seolah ia sudah menduga seperti apa respon orang tuanya.


"Riza berjanji datang menemui orang tuanya tiga hari lagi. Riza harap mami dan papi ikut datang bersama Riza," sambungnya.


"Ya sudah kalau begitu, mami akan coba membujuk papi kamu, kamu baik-baik ya di Jakarta. Nanti mami kabari kamu lagi secepatnya."


"Bye, Mi."


"Bye, sayang."


Mami menyudahi panggilan teleponnya.


--------


Belanda


"Pi, tadi Riza telepon, dia nyuruh kita datang ke Jakarta, katanya dia mau nikah."


Papi sedikit berdehem, lalu menjawab,


"Mami saja yang pergi, papi sibuk," jawab papinya singkat.


Mami kemudian mencoba membujuk suaminya itu, "Ayo lah pi, kasihan Riza. Dia kan anak laki-laki kita satu-satunya, kita ini orang tua nya, dia tidak punya siapa-siapa selain kita, Pi."


Papi terlihat berpikir, "Kapan acaranya?"


"Tiga hari lagi. Papi bisa kan?"


Papi kembali berdehem pelan lalu menganggukkan kepalanya. Mami pun tersenyum sambil memeluk Papi yang juga ikut tersenyum.


Mami melepas pelukannya dan langsung beranjak pergi untuk memberi kabar kepada anaknya, Riza.


drrrttt....


drrrttt....


Terlihat ponsel Riza yang berada di atas nakas bergetar, Riza meraih ponselnya kemudian menggeser tanda berwarna hijau,


"Halo," sapa Riza.


"Halo sayang.. mami mau kasih tahu kalau papi kamu setuju untuk datang, sore ini kami akan berangkat dari Belanda. Kamu tunggu mami sama papi di bandara besok jam 9 pagi yaa, oke. Bye sayang."


"Bye, Mi"


Riza diam lalu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


-------


Jakarta


Sehabis menelepon Riza, mami dan papi langsung memesan tiket pesawat menuju Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 14 jam, mami dan papi pun akhirnya tiba di Jakarta.


Terlihat Riza sedang menunggu kedatangan mami dan papinya.


Saat melihat sosok kedua orang tuanya, Riza langsung memeluk mereka, entah mengapa Riza terlihat sangat canggung ketika memeluk papinya.


Begitupun sebaliknya.


Tanpa basa basi, Riza pun langsung mengajak kedua orang tuanya keluar dari bandara.