
Sehari setelahnya Riza sudah diizinkan untuk pulang. Meskipun lebam di wajahnya belum pulih sepenuhnya.
Dengan tertatih, Riza berjalan bersisian dengan Dilla, tampak Dilla berjalan sambil menopang tubuh lemah Riza. Sementara mami dan papi mengikuti langkah mereka dari belakang.
Sore harinya, mereka mendapat informasi dari polisi kalau tidak ada barang berharga yang hilang. Polisi menduga kalau perampokan ini tidak dilakukan semata untuk mencuri barang-barang berharga secara random. Seolah, perampokan ini memiliki motif lain. Tidak ada motif yang kuat, kurangnya bukti dan tidak ada barang yang hilang membuat polisi sedikit kebingungan dalam proses penyelidikan.
Dari pemeriksaan kamera CCTV, hanya menunjukkan kalau perampok tersebut terlihat menggeledah kamar yang ada disana seolah mencari sesuatu.
Dari interogasi Dilla, Dilla tidak bisa mengenali wajah pelaku karena saat itu sebagian wajah pelaku tertutup oleh masker hitam. Selanjutnya diketahui juga bahwa tidak ada barang berharga miliknya yang hilang.
Sepertinya Dilla tidak ingat kalau ia menyimpan ponsel milik Aldrich di dalam laci.
Sementara Dirwan mulai menerka apa yang sebenarnya ingin diambil oleh Adam darinya. Karena tidak puas dengan hasil penelusuran polisi, Dirwan pun menyewa seorang detektif swasta guna menyelidiki peristiwa di rumahnya sedetail mungkin.
...****************...
Di tempat lain, Aldrich memutar otaknya berusaha agar kejadian tempo hari tidak sampai terungkap oleh polisi.
Tiba-tiba, Aldrich teringat dengan sepupunya yang merupakan seorang anggota kepolisian di daerah tempat tinggal Riza. Aldrich pun segera menghubungi kerabatnya itu.
"Hai, Claire. Ini aku Aldrich."
"Halo Aldrich, tumben kau menghubungiku. Ada apa?"
"Begini aku mau minta bantuan darimu. Ini menyangkut hidup mati seseorang."
"Maksudmu?"
Aldrich pun menceritakan tentang hal yang ia alami. Sepupunya yang berada di ujung telepon sana tampak terkejut. Ternyata perampok yang selama ini ia cari tak lain dan tak bukan merupakan sepupunya sendiri.
Dengan sedikit mengancam, Aldrich mengatakan, "Aku tau kau masih sering menjual barang haram itu kan?. Jadi, bagaimana kalau kita berbagi informasi. Selama kau bisa menutup kasus itu, aku pun akan menutup mulutku agar seragammu tetap aman."
Tanpa perlawanan berarti, akhirnya Claire menyetujui kesepakatan yang ditawarkan oleh Aldrich.
Aldrich tersenyum penuh kemenangan. Claire pun menginformasikan semua informasi tentang perkembangan kasus di rumah Riza. Claire mengatakan kalau Aldrich hanya perlu diam ditempatnya. Sementara Claire akan mencoba untuk melenyapkan setiap barang bukti yang menunjuk pada Thomas.
"Baiklah. Aku mengandalkanmu Claire."
"Asal kau harus berjanji tidak akan membocorkan rahasiaku," ujar Claire.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah mengeluarkan kotoran dari mulutku."
Tut..Tut..Tut.
Panggilan berakhir
"Masalah beres. Akh, aku gerah sekali. Lebih baik aku mandi," ujar Aldrich sambil bersiul tanpa ia ketahui bahwa setelah ini akan ada bahaya yang mengancamnya didepan.
...****************...
Malam hari pun tiba. Terlihat Dilla baru selesai membersihkan tubuhnya setelah seharian mengurus kepulangan Riza dari rumah sakit.
Dilla menghampiri Riza yang terlihat sedang menonton acara TV kesukaannya. Perhatian Riza teralihkan saat mencium aroma semerbak dari tubuh istrinya.
"Mas mau makan apa, biar saya masakin," tanya Dilla seraya memijat bahu Riza lembut.
Bukannya menjawab, Riza justru menarik jemari Dilla, lalu mengecup punggung tangan istrinya.
Seketika Dilla menarik tangannya, saat Riza mengubah kecupannya menjadi sebuah cumbuan disana.
"Stop mas, inget kamu baru sehat. Lebih baik kamu istirahat," tegas Dilla.
Bukannya takut, Riza justru tersenyum sambil menatap Dilla penuh maksud terselubung. Dasar Riza.
Riza terus memandang istrinya. Dress selutut yang Dilla kenakan pun tak luput dari tatapan genit Riza. Dress yang menampilkan kaki jenjang gadis didepannya. Dress yang sukses menggoyahkan iman Riza saat itu juga.
Entah kenapa, sejak Dilla mengandung, istrinya itu terlihat sangat cantik dan seksi terlebih lagi ketika Dilla baru selesai mandi seperti sekarang, membuat Riza merasa tergoda setiap kali menatapnya. Kalau saja Dilla tidak hamil, mungkin Riza akan menerkam gadis itu setiap malam seperti singa kelaparan.
...****************...
Setelah kejadian di club tempo hari, Niko mendatangi rumah Nana kembali untuk mengajaknya ke suatu tempat. Kali ini Niko ingin memastikan sesuatu.
"Lo mau bawa gue kemana?" ujar Nana sesaat setelah duduk di mobil.
"Lo nggak mau nyulik gue kan?"
"Berisik."
Niko melesatkan mobilnya menuju ke sebuah tempat. Nana yang menyadari arah tujuan mereka, segera meminta Niko untuk menghentikan mobil.
Namun, Niko tetap bersikeras menyuruh Nana untuk diam karena sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tujuan mereka.
Tak lama, mobil pun berhenti di sebuah pemakaman umum. Niko menyuruh Nana keluar dari mobil.
"Ikut gue."
Nana pun membuntuti langkah Niko dari belakang.
Terlihat pusara Bayu disana.
"Maksud Lo apa bawa gue kesini?"
"Hai, Bay. Sorry kali ini gue nggak dateng bareng Riza, tapi gue bawa seseorang yang pastinya udah Lo kenal."
Niko menjelaskan pada Nana kalau saat ia di rumah Nana tempo hari, ia melihat sebuah lukisan.
Niko langsung menyadari kalau itu adalah lukisan Bayu, karena dulu Bayu juga pernah memberikannya lukisan dengan tanda yang sama persis dengan yang ada dalam lukisan tersebut. Namun, saat itu Niko belum sempat bertanya pada Nana tentang hal itu.
Akhirnya Niko dan Nana pun menziarahi makam Bayu hari itu. Di depan pusara Bayu, Nana menceritakan semuanya.
Flashback
Hari ini genap Anniversary hari jadi ke tiga tahun Nana dan Bayu. Nana terlihat menunggu kedatangan Bayu di taman. Tak lama, Bayu pun datang.
Melihat Bayu yang lemas seperti tak bertenaga, membuat Nana sedikit khawatir.
"Kamu baik-baik aja sayang?" tanya Nana.
Bayu tidak menjawab, ia masih diam dan memeluk Nana.
Tak lama Bayu pun bersuara, "Ayahku udah bunuh Om Rizwan. Sayang, aku nggak bisa terima kenyataan ini. "
"Maksud kamu apa?. Om Rizwan siapa?!"
Bayu tidak menjawab, ia hanya memeluk Nana dan menangis sesenggukan. Hati Bayu tampak sangat amat terluka.
Nana pun mencoba menenangkan Bayu dan bertanya padanya apa yang terjadi. Namun, lagi-lagi Bayu hanya diam. Pandangan mata pemuda itu tampak kosong.
Keesokan harinya, Nana mendapat telepon dari teman Bayu kalau Bayu mengamuk di rumahnya seperti orang stress. Teman Bayu pun meminta Nana untuk datang.
Mendengar itu Nana pun langsung menemui kekasihnya. Benar saja apa yang dilihatnya. Bayu tampak seperti orang kehilangan akal, ia tertawa, berteriak bahkan menangis dalam waktu yang bersamaan.
Bahkan kehadiran Nana didepannya, tidak bisa menenangkan pemuda itu. Hal itu membuat Nana bertambah sedih. Ia tak henti-hentinya menangis saat melihat keadaan Bayu.
Flashback end
"Setahun lamanya Bayu menjalani perawatan dari psikiater, tapi selama itu gue nggak pernah sekalipun lihat orang tua atau saudaranya yang lain dateng jenguk dia. Satu-satunya kerabat Bayu yang gue tau, cuma Om Dendi," jelas Nana.
"Sampai suatu hari, gue dapat kabar, Bayu bunuh diri," ujar Nana seraya mengusap air matanya. Sementara Niko, terlihat diam memikirkan sesuatu.
"Dokter bilang, Bayu stress berat hingga akhirnya dia nekat ngelakuin itu."
Niko menarik nafas panjang, "Om Dendi yang lo bilang itu bokap gue, Na. Dan--", jeda Niko.
Nana tampak terkejut. Ia menyeka air matanya dan menatap Niko, menunggu ucapan Niko selanjutnya.
"--Om Rizwan yang dimaksud Bayu adalah bokap nya Riza."
"What?!" Nana kaget bukan main.
"Ta--tapi bukannya bokap Riza masih hidup?"
"Ceritanya panjang, nanti gue ceritain," ucap Niko, tenang.