
Setelah Thomas membawa Aldrich pulang ke rumah. Thomas segera menghubungi Adam - ayah Aldrich.
"Ada apa?"
"Maaf Tuan besar, baru saja Tuan muda bertemu dengan salah satu putri dari Sastrawan Dirjo."
"Apa?!. Apa maksudmu?. Bukankah mereka tinggal di Semarang?"
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak tahu hal ini sebelumnya. Ternyata salah satu putrinya tinggal di komplek perumahan yang sama dengan Tuan muda."
"Kenapa kamu tidak selidiki terlebih dahulu sebelum pindah ke kawasan itu?. Dasar tidak becus!. Segera ajak Aldrich untuk pindah dari sana secepatnya!"
"Baik, Tuan."
tut...
Thomas menghela nafas berat setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Adam. Ketika berbalik seketika matanya membulat saat mendapati Aldrich tengah berdiri tegak menatapnya penuh selidik.
Thomas memberi hormat.
"Tuan butuh sesuatu?"
Aldrich mendekat perlahan. Thomas menggerakkan bola matanya cemas.
"Cari tahu tentang gadis yang aku temui tadi pagi," perintahnya.
Mata Thomas membulat.
"Maaf, Tuan. Tugas saya hanya menjaga dan memastikan bahwa Tuan baik-baik saja di sini. Mencari tahu tentang seseorang bukanlah bagian dari tugas saya. Saya tidak bisa melaksanakan apa yang Tuan perintahkan barusan." Thomas menunduk.
Aldrich menarik miring sudut bibirnya, "Dasar Brengsek!. Beraninya menolak perintahku."
"Maafkan saya Tuan. Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan besar."
Aldrich berlalu pergi meninggalkan pelayan menyebalkannya itu.
Didalam kamar, Aldrich membaringkan tubuhnya di ranjang. Sekelebat bayangan wajah Dilla kembali muncul dipikirannya. Ia pun mulai bertanya didalam hati.
"Siapa gadis itu sebenarnya?. Kenapa aku merasa akrab dengan nama dan wajahnya?. Dia terlihat tidak asing bagiku."
Aldrich memegangi dadanya. Jantungnya terasa sedikit nyeri dan berdetak dengan cepat setiap kali ia mengingat Dilla.
"Dasar pelayan tidak berguna!. Baiklah. Aku akan mencari tahu sendiri tentang gadis itu. Aku tidak butuh bantuan darimu," racau Aldrich kesal.
-------
Dilla sudah berada di kampusnya. Ternyata Dilla pun memikirkan hal yang sama, dengan apa yang dipikirkan oleh Aldrich. Entah mengapa, ia juga merasa sangat akrab dan tidak asing dengan tatapan mata Aldrich. Dilla pun mulai menerka-nerka seraya berjalan menuju ke arah kantin.
Sesampainya di kantin, Dilla menghampiri Kiki yang duduk di salah satu meja. Kiki tampak cemberut dan menekuk wajahnya.
"Pagi!."
"Pagi!"
"Gimana?. Kamu jadi ikut les bahasa Inggris itu, Ki?" tanya Dilla.
Kiki menggeleng.
"Kenapa?"
"Kamu nggak jadi ikut, sih. Lagian mas Riza aneh deh, masa orang mau belajar dilarang!"
"Ya begitulah idola kamu. Aneh!" Dilla tertawa mengejek.
Kiki tertawa, "Kamu bisa aja!. Tapi, ngomong-ngomong kamu beneran belum pernah baca novel karya suami aneh kamu itu?"
Dilla menggeleng, "Aku ndak tertarik."
"Coba deh kamu baca dulu karyanya mas Riza. Aku jamin kamu pasti bakal suka dan ketagihan. Nggak nyesel deh."
Saat mereka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba Fahmi datang mendekat dari belakang.
"Hai!" sapa Fahmi.
Dilla dan Kiki sama-sama menoleh.
"Kok kamu tahu kita berdua disini?" tanya Kiki.
"Tahu dong. Namanya juga jodoh," ujar Fahmi penuh penekanan seraya menatap ke arah Dilla.
Fahmi segera menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Dilla.
"Hai, Dilla. Apa kabar?. Aku perhatikan, kamu semakin cantik saja," rayu Fahmi.
"Aduh. Udahlah Fahmi. Nggak usah gombalin Dilla mulu. Udah istri orang juga!" ujar Kiki.
Fahmi tidak mempedulikan Kiki dan terus saja melancarkan jurusnya pada Dilla.
"Oh, iya. Ini aku ada oleh-oleh buat kamu. Seminggu yang lalu aku ke Paris sama keluarga aku. Pas aku jalan-jalan disana, aku ngelihat ini, terus aku keinget sama kamu. Jadinya aku beli, deh." Fahmi menyodorkan sebuah paper bag kepada Dilla.
"Apa ini mas?"
"Bukanya nanti pas di rumah aja. Itu aku beli khusus buat kamu. Dipakai ya?" Fahmi tersenyum.
Dilla mengiyakan, "Terima kasih ya, Mas," jawab Dilla canggung.
"Punya aku mana?" tagih Kiki.
"Maaf ya. Aku cuma bawa oleh-oleh khusus buat Dilla aja. Bagasi aku kepenuhan. Jadi oleh-oleh buat kamu aku tinggal di bandara," jawab Fahmi.
"Dasar nggak setia kawan!" Kiki cemberut.
"Biarin!" balas Fahmi.
Dilla hanya diam saja mendengarkan perdebatan Kiki dan Fahmi sembari sesekali melirik ke arah Fahmi yang tertawa lepas. Saat Fahmi memandang ke arah Dilla, Dilla segera menundukkan kepalanya. Perasaan itu memang tidak bisa dibohongi tetapi bisa dihindari.
Sesaat kemudian, Dilla tiba-tiba berdiri lalu berkata, "Maaf, Mas. Saya dan Kiki masuk kedalam kelas dulu ya. Takut terlambat. Terima kasih atas hadiahnya, Mas."
Fahmi mengangguk dengan senyum manisnya.
Dilla segera menarik Kiki masuk ke dalam Fakultas mereka menuju ke arah kelas.
--------
Nana sedang berbaring di ranjang seraya mengutak-atik ponsel di tangannya mencari seluk-beluk pangeran tampannya di mesin pencarian internet dan semua media sosial yang ada. Ternyata setelah penolakan Riza dua hari yang lalu, Nana masih belum juga menyerah dan tetap dengan rasa penasarannya pada Riza.
Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kira-kira begitulah yang dialami Nana. Setelah berjuang hingga jemarinya keriting, akhirnya ia menemukan sebuah blog yang membahas tentang Riza. Blog tersebut adalah blog milik Kiki yang merupakan fans Riza dan sangat menyukai novel-novel karya Riza.
Nana pun akhirnya tahu bahwa Riza adalah seorang penulis novel. Bak stalker Nana terus mengobrak-abrik blog tersebut untuk mencari tahu tentang Riza.
"Apa-apaan ini?. Bagaimana bisa tidak ada informasi penting apapun dari orang ini?. Satupun kontak atau media sosial tidak ada?!. Apa orang tampan ini benar-benar hidup di goa?" gerutunya kesal.
Nana masih gencar mencari, "Hanya ada tulisan-tulisan novelnya saja. Tidak ada yang lain!"
Brakkk...!!!
Ponsel Nana seketika melompat dari tangannya. Terlihat seorang pria paruh baya berbadan tegap mengenakan seragam polisi, lengkap dengan segala atribut Kepolisian sedang berdiri tegak di ambang pintu kamar Nana. Ia tak lain adalah Pras Budiman, ayah Nana. Seorang Jenderal Polisi yang berusia 50 tahun. Meskipun telah berumur setengah abad tetapi Pras masih tampak sehat dan gagah.
Pras menatap tajam ke arah Nana. Seketika Nana bangkit dan berdiri tegak di hadapan ayahnya.
"Hormat gerak!" teriak Nana sigap.
Pras seketika mengangkat tangan tanda hormat seperti tentara atau polisi pada umumnya. Sesaat kemudian, ia menarik telinga Nana kemudian memutarnya geram. Seketika Nana mengaduh kesakitan.
"Ikut ayah ke ruang kerja!" perintahnya seraya melotot tajam ke arah Nana.
Nana menelan ludahnya kasar saat mendengar suara berat ayahnya. Ia bahkan tidak berani menatap wajah ayahnya saat berbicara. Melihat ekspresi ayahnya, ia sudah menduga hal buruk apa yang akan terjadi padanya.
"I-iya, a-a-yah." Nana terbata.
Pras segera berlalu pergi dengan diikuti oleh Nana dari belakang. Nana menunduk dalam sepanjang langkah kakinya mengikuti ayahnya yang berjalan tegap di depan. Nana tak henti-hentinya mengucapkan mantra di dalam hati sebab ia sangat takut pada kemurkaan ayahnya.
Sesampainya di ruangan, ayah Nana melemparkan beberapa lembar foto ke atas meja. Mata Nana membulat saat melihat foto-foto yang menampakkan dirinya sedang berjoget ria di diskotik mengenakan pakaian minim nan sexy.
Nana kembali menelan ludahnya kasar.
"Apa ini, hah?!. Sedang apa kamu di tempat seperti ini?" bentak ayahnya.
Nana terhenyak.
"Kamu itu anak seorang Jenderal. Sudah cukup kamu membuat ayah malu dengan profesi modelmu itu. Sekarang ditambah dengan kelakuan kamu seperti ini!!. Bukan itu saja, bahkan kamu diseret ke kantor polisi. Mau taruh dimana muka ayah?. Jawab?!" bentak ayah Nana penuh amarah seraya menggebrak meja.
Nana berlutut di depan ayahnya.
"A-ampun, Yah. Nana janji nggak bakal datengin tempat itu lagi. Nana kemarin cuma penasaran dan coba-coba. Nana nyesal, Yah."
"Simpan air mata buaya kamu itu!. Ayah tidak mau mendengarkan penjelasan kamu. Mulai besok kamu harus bekerja di kantor penerbitan Om Irfan. Berhenti dari pekerjaan bodoh itu dan mulailah bekerja sebagai karyawan di sana!. Paham?!" seru ayah Nana.
"Tapi, Yah?"
Gebrak!!!
"Tidak ada tapi-tapi!. Turuti perintah ayah!"
Pras berlalu pergi meninggalkan Nana yang masih berdiri mematung tak berkutik. Nana hanya dapat tertunduk lesu dan menghela nafas berat mencoba menerima nasibnya yang merupakan anak dari seorang Jenderal yang sangat otoriter. Kata Demokrasi hanyalah senandung lagu Nina Bobo belaka bagi Nana.